LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MENCARI INFORMASI


__ADS_3

"Kak Zhang , Yang mulia, ayo kita jalan.."


ucap Guo Yun sambil menjalankan kuda nya menuruni bukit.


Kedua orang itu juga menarik tali kekang kuda mereka masing-masing.


Lalu bergerak mengikuti Guo Yun dari belakang menuruni bukit pohon Pinus.


Sementara yang lainnya, segera bergerak mundur kedalam hutan pohon Pinus, membuat perkemahan di tengah tengah hutan Pinus.


Di puncak bukit itu, hanya tersisa dua orang prajurit yang secara bergantian mengawasi situasi di benteng kota Song sana.


Guo Yun pangeran Ji Ao dan Zhang Yi, setelah mendekati pintu gerbang kota.


Mereka melompat dari atas punggung kuda mereka.


Mereka lebih memilih berjalan mengikuti antrian pemeriksaan, sambil menuntun kuda tunggangan mereka.


Tanpa mendapat halangan berarti, dari pasukan penjaga pintu gerbang, yang melakukan pemeriksaan.


Guo Yun dan kedua temannya, dengan mudah berhasil masuk kedalam ibukota negara Song Shang Qiu.


Guo Yun dan pangeran Ji yang hapal seluk beluk kota tersebut.


Mereka langsung menuju salah satu restoran merangkap penginapan terbesar di kota itu.


Guo Yun melihat segala sesuatu nya tidak ada perubahan.


Hanya saja wajah takut takut dan tegang, terlihat jelas di wajah rakyat kota itu.


Guo Yun dan kedua rekannya, menyerahkan kuda mereka, untuk di urus oleh pelayan restoran tersebut.


Sedangkan mereka bertiga, langsung melangkah masuk kedalam restoran.


Melewati restoran, Guo Yun dan kedua rekannya, langsung menghampiri meja kasir.


"Paman apa masih ada kamar kosong .?"


tanya Guo Yun ke seorang pria berusia 50 tahunan, yang bertugas sebagai kasir di tempat itu.


Pria itu sambil tersenyum ramah berkata,


"Ada,.. ada.. tentu saja ada,..tuan mau jenis kamar seperti apa ? dan berapa kamar..?"


"Kamar kelas satu, yang luas dan bisa muat 3 orang ada..?"


"Ada,.. ada,.. tuan.."


"Tunggu sebentar.."


"Asam,..! Asam,..! "


"Kemarilah..!"


ucap kasir paruh baya itu, sambil melambaikan tangannya kearah anak buahnya, yang berdiri menganggur, tidak jauh dari sana.


"Ya tuan..,"

__ADS_1


jawab pelayan penginapan itu, yang tergesa-gesa menghampiri bos nya.


"Kamu tolong antar tamu ke kamar mereka, ini kuncinya.."


ucap pemilik penginapan, yang sekaligus merangkap sebagai kasir itu.


"Baik tuan.."


jawab pelayan yang bernama Asam itu cepat.


"Mari tuan tuan.. silahkan lewat sini.."


ucap Si Asam ramah, dengan tubuh sedikit membungkuk.


Dia bertindak sebagai penunjuk jalan, bagi Guo Yun dan kedua temannya.


Dia mengajak rombongan Guo Yun menuju halaman belakang restoran, setelah melewati sederetan kamar, yang menghadap kearah taman.


Guo Yun bersama kedua temannya di bawah menuju sebuah bangunan, yang letaknya terpisah dari kamar kamar lain.


Kamar itu di bangun di atas sebuah danau buatan, yang cukup luas.


Untuk menuju kamar tersebut, di sediakan sebuah jembatan kayu penghubung.


Di atas danau buatan itu, ada sekitar lima bangunan kamar yang di buat seperti itu.


Tapi masing masing bangunan kamar, di buat agak berjauhan.


Tempat tersebut benar benar sangat privasi, Guo Yun cukup menyukai arsitektur bangunan unik tersebut.


Di bandingkan dengan negara Han, negara Song ini jelas jauh lebih maju dan besar.


Penyebab runtuhnya kerajaan ini, yang paling utama adalah kalahnya raja Huan, dalam pertempuran dengan kerajaan Lu, yang di bantu oleh Guo Yun beberapa tahun yang lalu.


Setelah kematian raja Huan, negara Song yang sempat menjadi negara bagian Lu.


Mengalami kemerosotan dalam sektor militer mereka, sehingga saat Chu datang, mereka hanya bisa pasrah, tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti.


Guo Yun dan kedua temannya, setelah meletakkan bungkusan pakaian mereka di dalam kamar.


Mereka bertiga kemudian bergerak secara terpisah meninggalkan penginapan tersebut, mereka masing-masing bergerak pergi mencari informasi.


Guo Yun berjalan kearah Utara, sedangkan Zhang Yi berjalan kearah barat, pangeran Ji berjalan kearah Timur.


Guo Yun yang mengambil jalan ke sebelah Utara, menemukan sebuah restoran, yang sangat ramai pengunjungnya.


Guo Yun pun memutuskan masuk kedalam sana mencari informasi.


Guo Yun dan kedua temannya tidak ada yang memilih mencari informasi di restoran penginapan mereka.


Karena restoran itu meski terlihat sangat besar dan mewah, tapi restoran itu sangat sepi pengunjungnya.


Tidak tahu karena masakannya tidak enak atau karena harganya terlalu mahal.


Duduk di suatu pojok yang memunggungi tembok, Guo Yun masang telinga nya mendengar pembicaraan orang yang sedang makan.


Tapi hingga makanan yang di pesan Guo Yun selesai di santap, Guo Yun tidak mendengar informasi apapun yang terkait keluarga kerajaan Song.

__ADS_1


Juga tidak mendengar informasi tentang siapa penguasa Chu, yang di tempat kan di kota itu.


Guo Yun akhirnya menyelesaikan tagihan makanan nya.


Kemudian dia berjalan meninggalkan restoran tersebut.


Dia terus berjalan dan melihat lihat, tanpa terasa, dia sudah sampai di bangunan tembok istana sebelah Utara.


Tidak jauh dari gerbang pintu istana sebelah Utara, Guo Yun melihat ada sebuah kedai arak sederhana, yang sepi pengunjung berdiri di seberang sana.


Dia segera membelokkan langkahnya menghampiri kedai arak tersebut.


Kedai arak itu benar benar benar sepi, bahkan pemiliknya pun tidak terlihat ada di dalam kedai


"Ada orang kah..!?"


teriak Guo Yun sambil mengambil tempat duduk, yang tepat menghadap kearah pintu gerbang tersebut.


"Siapa,..?! arak habis..! tinggal teh..!"


balas suara serak seperti orang baru habis bangun tidur.


Suara itu berasal dari dalam bilik kamar, yang terletak di belakang lemari botol arak.


"Teh juga gak papa..!"


balas Guo Yun.


Di dalam hati Guo Yun memaki pemilik kedai yang pemalas, siang siang bolong lebih memilih tidur.


Kalau arak kosong, ya pergi pesan lah ke gudang arak, masa di biarkan kosong dan lebih memilih tidur.


Pantas saja kedainya sepi seperti kuburan, batin Guo Yun dalam hati.


Setelah terdengar suara grasa grusu di balik ruangan, tak lama kemudian muncullah seorang pria berwajah brewokan.


Dengan muka tidak senang, karena merasa terganggu tidurnya, dia menenteng sebuah ceret.


Lalu dengan kasar membanting nya diatas meja, tepat di hadapan Guo Yun.


"Silahkan.."


ucap nya dengan nada seenak perutnya sendiri.


Guo Yun hanya tersenyum tipis, menanggapi sikap si brewok bermata merah itu.


Guo Yun tanpa menghiraukan mejanya yang sedikit basah, oleh tumpahan teh yang tercecer, akibat ceret di banting tadi.


Dengan gaya santai dan tenang, Guo Yun mengisi mangkuk kosong dengan teh dingin tersebut.


Lalu dia minum sedikit dengan santai, sambil memperhatikan pintu gerbang Utara itu.


Baru saja Guo Yun minum seteguk teh di tangan nya, Guo Yun melihat seorang pria lain, yang berpakaian lusuh, dengan topi caping jerami, sengaja di tarik kebawah menutupi wajahnya.


Pria itu datang sambil menggendong tumpukan ranting kering di punggungnya.


Pria itu menoleh kearah Guo Yun sekilas, lalu dia menurunkan tumpukan ranting kering, yang sedang di pikulnya.

__ADS_1


__ADS_2