LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PEMBERSIHAN


__ADS_3

Kini seluruh pasukan Gongsun Li, fokus menghujani Meng Thian dengan gelondongan kayu, dari atas tebing.


Tapi tidak semua mencapai sasaran, karena sifat tebing yang tidak rata, banyak tonjolan yang menjorok keluar.


Sehingga gelondongan kayu banyak yang berbelok arah, setelah membentur tonjolan tebing dinding, yang menjorok keluar dari sisi tebing.


Meng Thian bersama rombongan bawahan nya, yang tidak mau jadi korban hantaman balok kayu.


Dia segera memberi perintah,


"Bergerak menepi, berlindung di sisi tebing, terus bergerak, tinggalkan tempat ini..!"


Meng Thian sendiri sambil berucap, dia memberi contoh dengan bergerak, berlarian di sisi tebing dinding dengan tubuh miring.


Dia berlompatan ringan meninggalkan tempat itu melewati barisan pasukan nya yang semrawut, saling dorong dan saling injak.


Sudah tidak bisa di arahkan lagi.


Meng Thian berlarian miring, saat kehilangan keseimbangan,.dia akan turun sejenak keatas tanah, ataupun menjejak bahu atau kepala pasukan nya.


Setelah itu dia kembali berlompatan dan berlarian miring di tepi dinding tebing.


Bagi para komandan bawahan nya, yang memiliki kemampuan ringan tubuh yang cukup mumpuni.


Mereka akan langsung mengikuti gaya pergerakan Meng Thian.


Tapi bagi yang ilmu ringan tubuhnya pas pasan, mereka akan mengandalkan tenaga Wai Kung.


Membuka jalan mendorong siapapun yang menghadang jalan mereka di tepi tebing sambil berteriak.


"Minggir..! Minggir..! Minggir..!"


"Ayo cepat minggir..!"


"Jangan menghadang jalan..!"


Tubuh pasukan yang menghalangi jalan mereka, terlempar kesana kemari.


Tindakan ini agak brutal dan sadis terhadap bawahan mereka sendiri.


Tapi mereka memang tidak punya pilihan lain, dalam keadaan situasi semrawut kacau balau itu.


"Ahhhh..!" "Ahhhh..!" "Ahhhh..!"


"Ahhhh..!" "Ahhhh..!" "Ahhhh..!"


"Ahhhh..!" "Ahhhh..!" "Ahhhh..!"


Terdengar suara jerit kaget saat tubuh mereka tiba tiba terlempar, melayang kearah jalan bagian tengah celah sempit.


Sesekali balok kayu yang sampai kearah Meng Thian dia hancurkan dengan pukulan jarak jauh, sambil terus bergerak menjauhi tempat itu.


Melihat situasi itu, Gongsun Li pun mengubah instruksi nya,


"Sebagian tetap dorong balok kayu ke bawah..!"


"Sebagian lagi gunakan anak panah dan senjata rahasia hujani dia..!"


"Jangan sampai pria berjubah hitam itu lolos..!"


teriak Gongsun Li mengubah komando.


"Siap Yang Mulia..!"


Jawab para komandan regu.


Sebagian dari pasukan harimau hitam langsung beralih penggunaan senjata menyerang Meng Thian.


Sesuai arahan komando pasukan masing masing.


"Serrrr..!" Serrrr..!" Serrrr..!" Serr..!"

__ADS_1


"Serrrr..!" Serrrr..!" Serrrr..!" Serr..!"


"Serrrr..!" Serrrr..!" Serrrr..!" Serr..!"


"Serrrr..!" Serrrr..!" Serrrr..!" Serr..!"


Anak panah crosbow yang sangat mudah penggunaannya dan memiliki tingkat akurasi tinggi.


Segera di lepaskan berhamburan kearah Meng Thian.


Meng Thian Menggunakan jubah hitamnya untuk di kebut kebut kan, menghalau anak panah anak panah itu runtuh kebawah.


Belum juga Meng Thian keluar dari situasi hujan anak panah yang mengepungnya.


Tiba tiba terdengar suara letusan kuat dari atas tebing.


"Doorrrr..!" "Doorrrr..!" "Doorrrr..!"


"Doorrrr..!" "Doorrrr..!" "Doorrrr..!"


"Doorrrr..!" "Doorrrr..!" "Doorrrr..!"


"Doorrrr..!" "Doorrrr..!" "Doorrrr..!"


"Ahhh,..!"


Desis Meng Thian menahan nyeri di pundaknya yang tertembus oleh senjata rahasia pasukan harimau hitam.


Sambil menggunakan tangan kirinya menutupi luka berdarah di pundaknya.


Meng Thian terus melanjutkan berlari cepat, diantara desingan senjata rahasia yang di tembakkan kearah nya.


"Keparat, kalian ingin memaksa ku ke jalan buntu..!"


Bentak Meng Thian kesal.


Setelah beberapa waktu berlari, senjata senjata itu masih terus di lepaskan kearahnya.


Meng Thian terpaksa berlindung di dalam keramaian, jubah kebesaran nya sudah dia lepaskan.


Sehingga para penyerang diatas tebing kini kesulitan menentukan target.


Mereka merubah sasaran kearah para komandan, yang menjadi bawahan kepercayaan Meng Thian.


"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"


"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"


"Arggghhh..!" "Arggghhh..!"


Terdengar suara jerit ngeri dari para komandan pasukan itu.


Satu persatu mereka mulai bertumbangan kehilangan nyawa, ataupun terluka parah, tidak sanggup melarikan diri lagi.


Pada akhirnya mereka menyerah di bawah hujan anak panah.


Gongsun Li dari atas sana yang melihat Meng Thian terus menyelinap kesana kemari.


Sulit di target, dia kembali merubah komando..


"Tebak orang yang menggunakan hiasan pengikat rambut batu Kumala, dan bola bulu merah itu..'


Mendengar instruksi dari Gongsun Li, para komandan pasukan segera mengatur bawahan mereka merubah target sesuai perintah Gongsun Li.


Anak panah dan senjata rahasia kembali berdesingan mengincar Meng Thian yang hilang timbul diantara kerumunan pasukan nya.


"Cesss...!"


"Creebbbb..!" "Creebbbb..!"


"Ahhh.!"

__ADS_1


Desis Meng Thian menahan nyeri, bahu dan lengan nya tertembus senjata rahasia dan dua batang anak panah.


Meng Thian adalah seorang ksatria berhati keras, terluka begitu dia pantang menyerah.


Dia mematahkan ujung anak panah, kemudian kembali menyelinap melarikan diri.


Meng Thian kini melepaskan hiasan pengikat rambut nya.


Lalu kembali melanjutkan larinya berbaur di antara pasukan nya.


Kini Gongsun Li benar benar kehilangan target yang diincarnya.


Meng Thian sudah menghilang di antara lautan manusia.


Gongsun Li kembali merubah komandonya.


"Habisi sebanyak banyaknya orang orang yang berpakaian seragam berbeda dari prajurit biasa.!"


"Semakin banyak semakin baik..!"


"Gelondongan kayu jangan berhenti..!"


Mendapatkan instruksi baru, komando pasukan kembali merubah perintah mereka ke bawahan mereka.


Kini korban komandan pasukan mulai bertambah dengan signifikan.


Satu persatu komandan pasukan yang sial jatuh bergelimpangan.


Semua komandan bawahan kepercayaan Meng Thian sudah habis tak bersisa.


Kini hanya tersisa komandan pleton kecil kecil yang juga terus di buru tanpa henti.


Anak panah, senjata rahasia, berdesingan mengincar ke bawah dengan target khusus.


Sedangkan gelondongan kayu terus di lempar kebawah, mengincar kerumunan pasukan, yang mulai sedikit demi sedikit, bergerak menjauh batas wilayah pos kedua.


Saat mereka berhasil keluar dari wilayah pos kedua, Gongsun Li pun mengangkat tangannya dan berkata,


"Hentikan serangan..!"


"Tahan semuanya..!"


Para komando pasukan segera menyampaikan kebawah, bergerak kesana kemari memberitahu bawahan mereka.


Agar menahan serangan mereka.


Kini yang tersisa hanya mayat mayat pasukan Qin yang menjadi korban bergelimpangan di sana.


Sebagian yang masih hidup tapi tidak mampu bergerak meninggalkan tempat itu.


Mereka merintih rintih kesakitan di bawah sana.


"Incar dan habisi dengan anak panah, jangan ada sisa..!"


perintah Gongsun Li dingin.


Panah panah kembali di lepaskan menembus leher pasukan Qin yang terluka tapi masih hidup.


Mereka di habisi hingga tanpa sisa.


Keadaan ini, membuat sebagian pasukan Qin, mencoba menyelamatkan diri, dengan pura pura mati, lalu mereka menutupi tubuh mereka sendiri, dengan mayat teman teman mereka yang sudah tewas.


Dengan cara ini, mereka berharap bisa menyisakan nyawa kecil mereka dari kebinasaan.


Tapi usaha ini sia sia, setelah pasukan mata mata Gongsun Li datang melapor.


Meng Thian dan sisa pasukan sudah meninggalkan wilayah pos pertama.


Sepenuhnya meninggalkan celah sempit.


Gongsun Li segera memimpin pasukannya menuruni tebing, masuk ke jalan celah sempit.

__ADS_1


Untuk melakukan pembersihan total tanpa sisa.


__ADS_2