LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MENUNGGU KEDATANGAN HAN WEI


__ADS_3

Guo Yun tersenyum,lalu dia menoleh kearah Akuang dan berkata dengan tatapan mata dingin.


"Akuang katakanlah, bagaimana menurut mu pengaturan ku ini..?"


"Tandu kamu yang cari kamu yang sewa, kamu pula yang bayar,


jadi paling cocok kamulah yang berbicara.."


ucap Guo Yun dengan wajah dingin.


Melihat tatapan mata dan ekspresi Guo Yun, sadarlah Akuang, meski Guo Yun bertanya meminta pendapatnya.


Itu cuma basa basi, begitu dia berani menurut habislah dia.


Guo Yun tidak akan sungkan sungkan memutilasi dirinya, bahkan mungkin sama keluarganya.


Dengan wajah pucat dan senyum terpaksa, dia berkata,


"Afen kakak mohon, ajaklah mertua dan suami mu ikut.."


"Ikuti saja pengaturan tuan Guo, itu adalah yang terbaik.."


Mendengar ucapan kakaknya, Afen pun berunding dengan ibu mertua dan suami nya.


Setelah saling berunding dengan suara berbisik bisik pelan.


Akhirnya di temukan kesepakatan.


Ibu mertua Afen pun masuk kedalam tandu kedua, Agong membawa ketiga anaknya masuk kedalam tandu ketiga.


Sedangkan Akuang dan Afen terlihat menghampiri ibunya.


"Ibu kakak Kuang, menyewa tandu khusus untuk mengundang ibu kembali kerumahnya.."


"Mari kami bantu ibu ke naik kedalam tandu.."


ucap Afen lembut sambil tersenyum bahagia.


Ibu tua, mamanya Afen dan Akuang, yang tadinya sepasang matanya tertutup rapat.


Tiba tiba langsung terbuka, dia menatap kearah A Kuang dengan tatapan mata penuh haru dan bahagia.


"Anak ku, putra kesayangan ku,.. akhirnya kamu datang juga menjemput ibu pulang ."


"Uhukk..Uhukkk..Uhukk..!"


"Ibu hari ini benar benar sangat bahagia nak.."


"Termasuk tidak sia sia lah ibu paling menyayangi mu selama ini.."


"Ibu sangat yakin,..Uhukk..Uhukk..Uhukk..!"


"Kamu adalah anak...anak..ibu yang paling baik,..dan paling bisa ibu andalkan.."


ucap Wanita tua itu gembira dan penuh semangat.


Afen juga tersenyum penuh haru menatap kakaknya.


Hanya A Kuang yang terlihat tersenyum canggung tidak enak hati dan malu..


Bila bukan karena paksaan dari Guo Yun, mana mungkin dia melakukan hal ini.


Bahkan saat ini pun dia sebenarnya sedang khawatir, bagaimana cara dia menjelaskan pada istri macan betinanya itu.


Bagaimana dia akan meminta istrinya membayar biaya tandu ini, karena dia sendiri tidak punya uang sepeserpun.


Setiap hari berangkat pagi pulang malam semua uang nya harus selalu di setorkan ke istri macan betinanya itu.


Belum lagi dia nanti harus menghadapi ibu mertuanya yang kini ikut tinggal di rumahnya.


Ibu mertuanya ini bahkan lebih parah dari istrinya, bila sudah buka mulut.


Suaranya keras melebihi geledek, menyakiti hati melebihi tajamnya sembilu.


Di samping itu masih ada dua orang adik istrinya, yang satu berusaha di bidang rumah perjudian yang satu lagi berusaha di bidang rumah prostitusi.


Mereka ini terkenal ganas galak dan ringan tangan, selain itu kedua adik iparnya itu juga memelihara banyak tukang pukul dan memilki koneksi dengan pejabat daerah setempat.


Berpikir sampai di situ, Akuang bergidik sendiri, senyumnya terlihat semakin kecut.


Ibu Akuang justru terlihat sangat bersemangat, dia yang biasanya sulit berjalan hingga harus di gendong oleh Agong.


Atau minimal di papah oleh ibu mertua Afen dan Afen sendiri, bila dia hendak ke kamar mandi, ataupun kembali ke kamar tidurnya.


Kini nenek tua itu, dengan penuh semangat memaksakan diri untuk berdiri sendiri.


Lalu dengan penuh semangat, cukup dengan di tuntun di kanan kiri oleh Afen dan Akuang.


Dia berjalan sendiri hingga bisa duduk di dalam tandunya tanpa harus di papah.


Setelah Afen dan ibu tuanya naik keatas tandu, Guo Yun dan Akuang si tukang perahu itu.


Menyusul masuk kedalam tandu keempat, saat tandu mulai bergerak di tandu orang.


A Kuang dengan sikap takut takut mulai menjelaskan semua ketakutan dan permasalahan, yang akan di hadapinya nanti saat tiba di rumah kediamannya.


Guo Yun mendengarnya dengan cuek, seolah olah angin lalu, dia tidak mau menanggapi ucapan Akuang, yang seperti sedang menakut nakutinya, dengan koneksi dan kekuasaan, yang di miliki oleh kedua adik iparnya.


Akuang yang merasa percuma bicara, akhirnya dia memilih duduk diam.


Menunggu tandu tandu itu sampai kerumahnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya keempat tandu itu sampai juga ke depan halaman rumah Akuang.


Saat turun dari kereta melihat keadaan rumah Akuang yang lumayan besar dan boleh di bilang terhitung mewah di kota kecil tersebut.


Guo Yun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bahkan Guo Yun juga melihat di depan halaman ada seorang pelayan pria dan wanita sedang bekerja.


Yang pria terlihat sedang merawat kebun, sedangkan yang wanita sedang menyapu daun daun kering.


Melihat kedatangan 4 tandu itu, mereka sempat menghentikan pekerjaan mereka.


Tapi saat mereka melihat yang turun dari salah satu tandu adalah Akuang.


Mereka buru buru berlari menghampirinya dan berkata,


"Tuan anda sudah pulang.."


"Silahkan tuan, ada pesan apa yang bisa kami bantu..?"


tanya kedua pelayan itu penuh hormat.


Akuang belum sempat menjawab, Guo Yun yang sedang turun dari tandu menyusul Akuang langsung berkata,


"Di tandu pertama ada Ibu kandung tuan kalian, bantu dan papah dia kedalam rumah.."


Mendengar ucapan Guo Yun, kedua pelayan itu terlihat ragu menjalankan perintah tersebut.


Mereka menatap kearah Akuang ingin mencari tahu pendapat Akuang.


Akuang dengan wajah terpaksa menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Ikuti saja permintaan tuan Guo.."


Kedua pelayan itu tidak berani membantah, mereka segera pergi menjalankan perintah dari tuan besar mereka.


Di pimpin oleh Akuang yang di dampingi Guo Yun, mereka semua masuki halaman dalam kediaman Akuang.


Saat memasuki halaman tengah ingin menuju bangunan induk.


Tiba tiba seorang wanita bertubuh kecil pendek, dengan rambut keriting, mata sipit, tulang pipi agak menonjol, rahang sedikit lebar, untuk ukuran wajah seorang wanita.


Wanita yang bertubuh kecil tapi lincah dan cekatan itu adalah istri Akuang si macan betina itu.


Dia tahu tahu sudah keluar dari dalam rumah dan langsung menghardik Akuang.


"Akuang,..! Kamu kenapa berani membawa mereka kemari..!?"


"Apa kulit mu sudah gatal minta di hajar ya..!?"


"Akuang terlihat dengan gugup cepat cepat menghampiri istrinya, untuk menjelaskan segala sesuatu dengan wajah takut takut.


Afen dan suaminya saling pandang, suaminya memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.


Begitu pula dengan mertuanya, dia juga memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.


Hanya wanita tua ibu dari Afen dan Akuang yang melihat situasi di hadapannya.


Wanita itu terus menghela nafas sedih dengan sepasang mata berkaca kaca menatap kearah rumah kediaman Akuang.


Seolah olah dia ingin melihat untuk terakhir kalinya, rumah yang penuh kenangan dia bersama suaminya.


Di mana dulu dia bersama almarhum suaminya bersusah payah membangun rumah ini, buat membesarkan anak anaknya.


Tapi setelah anaknya sudah besar dan menikah, dia justru harus angkat kaki dan terusir dari rumah jerih payah darah keringat dia bersama suaminya.


Guo Yun yang melihat kesedihan ibu tua yang tertindas itu sudah tidak bisa menahan diri dan berkata.


"Sudah cukup Akuang kamu berunding nya, kenapa begitu bertele tele..?!"


Akuang menoleh kearah Guo Yun dan menatapnya dengan tidak berdaya.


"Akuang siapa sebenarnya kepala rumah tangga di sini, mengapa kamu begitu bertele tele, seperti bukan pria saja..!?"


bentak Guo Yun yang hampir habis kesabaran nya.


"Aku disini yang berkuasa,..! kamu siapa berani datang kerumah ku, untuk berbicara sembarang..!?"


bentak wanita kecil itu galak.


Akuang buru buru memegang tangan istrinya dan menariknya,


"An Na, bersabarlah.. kamu jangan membuatnya marah..kita semua bisa celaka.."

__ADS_1


ucap Akuang berusaha mengingatkan istrinya.


Tapi An Na malah mengibaskan tangan suaminya dan berkata,


"Kamu tahu apa,..!? mundur sana jangan menghalangi ku..!"


Melihat istrinya melotot marah, Akuang mendadak ciut, mundur dua langkah kebelakang.


Guo Yun melihat sikap A Kuang,dia pun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak akan mukul wanita, juga berdebat dengan wanita.."


"Tapi jaga sikap bicara mu, jangan memancing ku melanggarnya.."


"Untuk mewakili ibu mertua dan lelaki mu menghajar mu.."


ucap Guo Yun dingin.


"Kamu berani datang kerumah orang dan mengancam ku, kamu pikir kamu siapa ? raja kah..? hah..!?"


Hardik wanita pendek kriting itu marah, hingga tubuhnya mengigil menahan amarah.


Sepasang rahangnya terlihat semakin mengeras, saat sepasang gigi geraham nya beradu menahan geram.


"Pelayan...!!!"


"Seret dan lempar mereka semua keluar dari sini..!!!"


bentak wanita pendek keriting itu emosi.


Guo Yun tersenyum dingin, saat melihat beberapa pelayan pria membawa tongkat mengepungnya.


Afen suami istri dan mertuanya terlihat ketakutan, anak anak mereka juga mulai ikut menangis ketakutan.


Melihat keadaan jadi seperti itu, akhirnya sambil menahan Isak ibu tua itu berkata,


"Agen ayo kita pulang,..Akuang anggap saja ibu tidak pernah melahirkan mu..!'


"Uhukkk..Uhukkk..!"


Bentak wanita tua itu sedih hingga terbatuk batuk.


Afen dan suaminya buru buru maju merangkul ibu tuanya yang hampir terjatuh terduduk di atas tanah.


Sedangkan anak anak di jaga oleh ibu.mertua Afen.


Akuang sendiri terlihat tertunduk, tidak berani bersuara.


"Kalian tunggu apa,..!?"


"Cepat hajar dia,..dan seret mereka keluar dari sini..!"


Bentak wanita bertubuh kecil berambut keriting itu marah.


Mendengar bentakan nya, para pelayan itu langsung maju menghajar Guo Yun dengan tongkat di dalam genggaman tangan mereka.


"Wutttt..!" "Wutttt..!" "Wutttt..!"


"Wutttt..!" "Wutttt..!" "Wutttt..!"


"Wutttt..!" "Wutttt..!" "Wutttt..!"


Tongkat terlihat berseliweran menghajar kearah Guo Yun tanpa ampun.


Guo Yun bersikap tenang dan tersenyum dingin.


"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"


"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"


"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"


Semua tongkat patah hancur berkeping-keping di terjang oleh kekuatan telapak tangan Guo Yun yang mengandung hawa Thian Ti Sen Kung.


Sebelum para pelayan yang kaget itu sempat berbuat sesuatu.


Tubuh mereka satu persatu sudah di cengkram oleh Guo Yun, satu persatu di lempar bertumpuk tumpuk di sudut ruangan.


Melihat kejadian tersebut pucat lah wajah Akuang.


Istri Akuang juga terlihat kaget.


Tapi dia gengsi untuk mundur, dengan mencoba memberanikan diri.


Dia melangkah maju dan berkata,


"Kamu mau apa bajingan, berani berbuat onar di..!"


Belum selesai kata katanya,


Tubuhnya terlihat melambung di udara, saat pipinya, tidak tahu bagaimana caranya sudah terkena tamparan Guo Yun.


Sebelum tubuhnya mendarat kembali terdengar suara


"Plakkkk..!"


Tubuhnya kembali terlontar kearah lain.


Terdengar suara tamparan keras berulang kali, hingga tubuhnya yang kecil pendek tidak sempat mendarat sudah terpental ke sana kemari.


"Plakkkk...!!!"


"Brakkk..!"


Tubuh wanita kecil itu akhirnya terpental menabrak pot bunga besar hiasan di halaman tengah.


Dia terlihat berusaha merangkak untuk duduk sambil memegangi kedua pipinya yang bengkak seperti bakpao berwarna merah kehitaman.


Wanita itu saat meludah terlihat puluhan gigi di mulutnya rontok berceceran penuh darah di hadapannya.


Melihat hal itu dia langsung menangis dan meraung raung histeris.


Sesaat kemudian dari dalam rumah mendengar suara ribut ribut teriakan histeris putrinya.


Seorang nenek berpenampilan menor berpakaian mewah, tubuhnya penuh di hiasi emas.


Dia berjalan terburu buru keluar dari dalam rumah, saat melihat keadaan putri nya.


Dia langsung berteriak marah menggunakan tongkat di tangannya untuk memukuli Akuang.


"Dasar lelaki tak berguna, kamu dan keluarga mu memang tak berguna..!"


"Lihat istri mu di tindas orang, bukannya maju membantu kamu malah berdiri diam di sini..!"


"Bakk,..bukk..Bakk..bukkk...!"


"Aduh..ampun ibu..jangan sakit..aduh .!"


keluh Akuang sambil berusaha menangkis tongkat mertuanya yang datang menghajarnya tanpa ampun.


"Dasar tak berguna,..! aku sungguh menyesal dulu menikahkan dia pada mu..!"


bentak mertua Akuang yang bertubuh pendek gendut itu dengan marah.


"Hentikan,..!"


Bentak ibu Akuang marah, tidak tega melihat putranya di siksa orang.


Wanita tua itu tiba tiba terlihat garang dan berkata,


"Tutup mulut mu Siau Po,..!"


"Kalau bukan kami menerima putri mu menjadi menantu, kamu kira keluarga kalian bisa seperti ini..!?"


"Kamu mungkin masih jadi mucikari, kedua putra mu mungkin masih jadi begajulan di jalanan.."


"Kalian semua manusia tidak tahu balas Budi, dulu kami menerima kalian baik baik..!"


"Kalian numpang makan numpang hidup semua gratis, kami tidak berkata apapun.."


"Lalu kalian mentang mentang suami ku meninggal, kalian mengusir aku yang sudah tua sakit sakitan ke rumah anak perempuan ku.."


"Aku terima, karena aku tidak mau ribut ribut dan menyusahkan putra ku.."


"Tapi kalian semakin kelewatan, hari ini biar aku kehilangan nyawa, aku juga tetap akan bicara agar dunia tahu.."


"Kalian keluarga Khek adalah keluarga macam apa..!?


"Uhukkk..Uhukkk..uhukkk..!"


Setelah berkata penuh emosi , nenek tua itu terbatuk batuk hingga akhirnya pingsan dalam pelukan putri dan menantunya.


Melihat dan mendengar semua itu, Guo Yun semakin marah, setelah membantu mengurut dan menyadarkan nenek tua itu.


Dia kini melangkah dengan wajah dingin dan berkata,


"Kau sudah tua, kalau ada nyali panggil kedua putra mu yang hebat kemari.."


"Aku bukan marga Guo kalau hari ini tidak ikut campur ketidakadilan ini..!"


bentak Guo Yun menahan amarahnya.


"Bagus siapa takut..!?"


bentak nenek kecil itu nekad.


"Pelayan cepat panggil tuan muda kalian kembali, bila g pada mereka bawa orang..!"


"Rumah ada pengacau, yang datang menindas ku..!"


bentak nenek itu marah ke pelayan wanita yang bertugas menjaganya.


Pelayan wanita itu mengangguk cepat, kemudian berlari pergi meninggalkan tempat itu.


Guo Yun menarik kursi duduk santai di sana dan berkata,

__ADS_1


"Kakak Afen Kakak Agong, kalian papah ibu kalian kedalam untuk istirahat.."


"Masalah di sini aku akan mengurusnya."


Afen dan suaminya saling pandang mereka terlihat ragu.


Nenek pendek gemuk, ibunya An Na langsung berteriak dengan suara geledeknya.


"Kalian berani membawa masuk dia kedalam rumah ku, setelah putra ku pulang.!"


"Akan ku suruh mereka patahkan kaki tangan kalian..!"


Bentak wanita kecil gemuk itu galak.


Afen dan suaminya terlihat semakin ragu.


Guo Yun yang melihat gal itu pun berkata,


"Nenek tua, bila kamu tidak duduk diam, percayalah bukan hal sulit bagi ku untuk membuat mu menyusul nasib putri mu itu.."


"Kalian jangan takut bawa ibu kalian kedalam.."


"Akuang cepat bantu mereka..!"


bentak Guo Yun penuh ancaman.


Akuang buru buru maju untuk ikut membantu.


Tapi tangannya langsung di tepis dengan kasar oleh ibunya dan adiknya.


Mereka kini sadar, semua perbuatan A Kuang bukan timbul dari hati nuraninya yang tergugah


Melainkan karena A Kuang sepenuhnya di bawah kendali Guo Yun.


Akuang takut dengan Guo Yun makanya dia baru datang kerumah, menggunakan tandu untuk menjemput ibunya.


Semua ini bukan niat akuang, melainkan karena dia takut dengan Guo Yun.


Nenek gemuk pendek ibunya An Na sekarang tidak berkutik, dia tidak berani bersuara lagi.


Selain menatap dengan marah kearah Akuang dan keluarganya, yang sedang memapah ibunya masuk kedalam rumah.


Dia tidak bisa melakukan apa-apa, guna mencegah mereka masuk.


Sesaat kemudian kedua putra ibu pendek kecil itu sudah pulang membawa puluhan orang bertubuh tinggi besar dan kekar.


Dari bentuk penampilan mereka dengan mudah bisa di tebak, mereka ini adalah tukang pukul tukang pukul peliharaan kedua kakak beradik, yang penampilannya hampir mirip dengan istri Akuang An Na dan ibunya yang gendut pendek itu.


Mereka sama sama miliki rambut ikal, tubuh kecil pendek tulang pipi menonjol dengan rahang lebar dan tegas.


Melihat kedatangan putranya, nyali nenek kecil pendek menjadi besar.


Dia segera berteriak,


"Putra ku, bagus kalian datang..!"


"Cepat berikan pelajaran ke bangsat ini, lihat kakakmu di tindas sampai begitu oleh mereka."


"Keparat berani kau membuat onar di sini cari mati..!"


"Kalian maju semua tangkap dan hajar dia hingga mampus..!"


bentak salah satu dari kedua pria bertubuh pendek kekar itu.


Rombongan tukang pukul bertubuh besar itu mengangguk cepat.


Mereka segera maju mendekati Guo Yun secara bergantian mereka melepaskan tinju mereka yang besar besar kearah wajah perut dan dada Guo Yun.


"Wutttt,..!" "Wutttt,..!" "Wutttt,..!"


Tapi serangan mereka lewat begitu saja, pukulan mereka tidak menemui sasaran.


Karena Guo Yun sudah menghilang dari sana.


"Krakk,.. Kreekk.. Krakk.. Kreekk!"


Saat tinju mereka berhasil di hindari oleh Guo Yun dengan langkah ajaib.


Orang pertama sambungan sikunya diremukkan oleh cakar Guo Yun.


Orang kedua sambungan bahunya yang di remukkan oleh cakar tangan Guo Yun.


Orang ketiga sambungan di belakang lututnya di tendang dengan keras oleh Guo Yun.


Hingga dia terjatuh berlutut dengan tulang tempurung lutut menghantam lantai.


Hingga tulang tempurung lututnya pecah.


"Arggghh..!"


Dengan kompak tiga orang tukang pukul itu jatuh merintih rintih sambil berguling guling diatas lantai.


Mereka tidak ada yang sanggup berdiri kembali untuk melakukan perlawanan.


Melihat hal itu, sisa ke 7 orang lainnya, tidak mau tanggung tanggung.


Mereka segera mencabut golok yang di sisipkan di pinggang mereka masing masing.


Lalu mereka mulai berteriak keras, kemudian menerjang Guo Yun dengan Sambaran golok di tangan mereka, yang terlihat berseliweran di udara.


"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"


"Singggg..!" Singggg..!" Singggg..!"


Cahaya golok terlihat berseliweran di sekitar tubuh Guo Yun.


Tapi dengan langkah ajaib, golok golok itu selalu menemui tempat kosong.


"Krakk,.. Krekkk.. Krakk..Kreekk..!"


"Krakk,.. Krekkk.. Krakk..Kreekk..!"


Seperti sebelumnya, dalam sekejab mata, tujuh orang tukang pukul itu pun terkapar bergulingan dengan bagian tulang di tubuh mereka pada remuk dan patah patah.


Melihat hal itu kedua kakak beradik bertubuh pendek kekar itu, masing masing mencabut sebilah belati dari balik pakaian mereka.


Lalu mereka dengan beringas sambil berteriak marah, . menyarangkan puluhan tikaman kearah Guo Yun.


"Arggghhh..!"


Kedua kakak beradik itu berteriak kesakitan, bukan Guo Yun yang mereka tikam.


Melainkan mereka berdua yang saling tikam.


Saat tikaman mereka mendekati Guo Yun, Guo Yun sudah menghilang dari posisinya.


Dengan memberikan masing masing sedikit dorongan dan sentilan di siku dan pergelangan tangan kedua orang itu.


Mereka masing masing langsung tidak sanggup mengontrol belati di tangan mereka untuk bergerak melenceng.


Sehingga malah merasa berdua saling tikam, dengan kesudahan kedua orang itu masing masing jatuh terjengkang kehilangan nyawa.


Sesaat kejadian berlangsung, petugas keamanan berwenang, dan seorang pejabat yang berpakaian mentereng ala pejabat sipil.


Langsung hadir di sana dengan sikap penuh ancaman.


Mereka semua adalah petugas keamanan kota, yang di pimpin pejabat kota itu.


Mereka biasanya bekerja sama dengan kedua kakak beradik yang baru saja tewas saling tikam itu.


Tentu saja kedatangan mereka untuk membela kedua pemuda begajulan itu.


Tapi sayangnya mereka sedikit terlambat, kedua rekan kerjasama mereka terlanjur tewas.


Jadi sebagai sandiwara, mencari kambing hitam, pejabat itu langsung berteriak


"Tangkap pemuda itu.."


"Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang.."


tapi ucapan nya terhenti ditengah jalan, saat melihat wajah Guo Yun yang baru saja menoleh kearahnya.


Pejabat itu tentu mengenali Guo Yun, karena Guo Yun adalah raja Yue, junjungannya.


Belum juga selesai kata katanya, pejabat itu langsung menjatuhkan diri berlutut dan menyembah diatas tanah.


"Ampun Yang Mulia, hamba pantas mati, hamba tidak tahu,


Yang Mulia sedang berkunjung dan di ganggu oleh manusia manusia tidak tahu di untung ini."


ucap pejabat itu panik ketakutan.


Para petugas keamanan yang tadinya bingung, kini mendengar ucapan junjungan mereka.


Mereka dengan cepat menangkap arah angin, mereka semua juga buru buru ikut berlutut dengan penuh ketakutan, menyembah kearah Guo Yun.


An Na dan ibunya yang sedang meratapi kematian kedua adiknya.


Saat mendengar ucapan pejabat berwenang di kota itu, wajah mereka langsung pias seperti kertas.


Mereka sampai mati pun bila pejabat itu tidak berbicara sendiri di depan mereka.


Mereka tetap akan sulit percaya, di mana mereka telah berani mati ribut dengan Raja Yue, penguasa seluruh wilayah selatan.


Guo Yun menatap bawahan nya dengan senyum sedingin es dan berkata,


"Panggilkan Han Wei kemari.."


"Ada yang perlu aku bicarakan dengan nya.."


ucap Guo Yun dingin.


"Ba..baik, Yang Mulia..hamba akan segera menjalankan nya.."


ucap pejabat itu dengan suara gemetar ketakutan.

__ADS_1


Han Wei adalah gubernur yang memimpin 10 kota perbatasan Utara Qi.


kota ini termasuk salah satu kota, yang di pimpin oleh Han Wei.


__ADS_2