LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MELAWAN HUNG GEI


__ADS_3

Pedang Han Kuang Cien yang tiba, di sambut oleh gigitan gigi Guo Yun yang sedikit berjongkok kebawah dalam posisi tubuhnya sedikit menyamping.


"Tabbb,..!"


Pedang Han Kuang Cien terkunci di antara jepitan gigi Guo Yun.


Energi yang terkandung dalam pedang tersebut.


Semuanya di serap oleh Guo Yun, lalu dibalik kan kearah Tzu Zi Tao Cang, melalui tekanan energi bulan, energi Yin, yang datang dari sebelah kiri Tzu Zi Tao Cang.


Tzu Zi Tao Cang sedikit terkejut oleh dua tekanan kuat, yang datang dari arah kiri dan kanan nya.


Dua bola matahari dan bulan yang membawa hawa dingin dan panas menjepit Tzu Zi Tao Cang dari dua arah.


Membuat Tzu Zi Tao Cang, merasa seperti sedang meriang hebat.


Hawa panas dan dingin silih berganti menyerang tubuhnya, hingga wajahnya sebentar pucat sebentar merah padam.


Tzu Zi Tao Cang terlihat amat tersiksa oleh dua tekanan serangan tersebut.


Guo Yun yang melihat keadaan lawannya yang keteteran melawannya.


Guo Yun malah menambah serangan dengan melepaskan Han Kuang Cien menyusul dari kiri.


Hung Sie Cien bergerak dari arah kanan, menyusul bola matahari yang bergerak di depan nya.


Melihat hal ini, Tzu Zi Tao Cang segera mengalirkan batu pipih yang mengeluarkan cahaya Biru bergerak menuju tangan kanannya.


Sedangkan batu pipih merah, mengalir kearah tangan kirinya.


Sedangkan batu kuning berputar-putar di atas kepalanya.


Dengan cara tersebut tekanan kuat dua arah dari Guo Yun pun tertahan di sana.


Perlahan-lahan terdorong mundur kembali kearah Guo Yun.


Termasuk kedua pedang yang dia lepaskan untuk menyerang Tzu Zi Tao Cang, perlahan lahan ikut terdesak mundur.


"Hiaaahh..!"


Teriak Guo Yun dengan suara keras, dia menarik mundur sedikit kedua tangannya.


Lalu dia menambahkan dorongan yang jauh lebih kuat, dengan bantuan penyerapan energi langit dan bumi kedalam tubuhnya.


Kedua telapak tangan Tzu Zi Tao Cang, terlihat terdorong mundur kebelakang dan sedikit gemetar.


Tapi saat batu kuning di atas ubun-ubun kepala nya, mengeluarkan cahaya terang.


Keadaan Tzu Zi Tao Cang kembali terlihat stabil.


Secara bergantian kini dia, yang melakukan bentakan keras.


"Haiiittt..!"


"Blaaaarrr,..!" "Blaaaarrr,..!"


Kedua bola matahari dan bulan kini meledak hancur tak berbekas.


Kedua bilah pedang juga meluncur balik dengan kecepatan tinggi menerjang balik kearah Guo Yun.


Tapi Guo Yun yang sedang terpental mundur, dengan tenang, melakukan putaran tangan di udara, sehingga kedua pedang itu terhisap balik kedalam genggaman tangan nya.


Tzu Zi Tao Cang dari jauh melihat hal itu, dia langsung melesat kedepan dengan sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya putih berkilauan.


Menusuk kearah dada kiri Guo Yun.


Guo Yun sendiri, setelah menyimpan kedua pedang pusaka nya.


Dia menggunakan kedua telapak tangannya yang di tangkupkan di depan dada.


Untuk menyambut kedatangan ujung mata pedang Tzu Zi Tao Cang, yang diarahkan kedada kiri Guo Yun.


"Tabbb...!"


Pedang tertahan tidak bergerak di sana, maju tidak bisa, mundur pun tidak.


Tzu Zi dengan penasaran mencoba mendorongnya dengan pengerahan tenaga sakti nya.


Tapi dia segera terbelalak pucat dan berteriak


"Ilmu iblis..!"


Dia lalu menotok lengannya sendiri, menghentikan beberapa titik aliran Meridian di tangan nya.


Pedangnya dia lepaskan, lalu melayang mundur menjauh.


Dengan cara ini, dia berhasil mencegah, ilmu hisap dari Guo Yun, meski dia harus kehilangan pedang di tangannya.


Tapi dia berhasil selamat dari jurus hisap Guo Yun.


Thian Yi Tao Cang yang sedari tadi diam tiba tiba dia melesat maju menyerang Guo Yun dengan sebatang pedang di tangannya.


Guo Yun tidak berusaha menghindarinya, sambil melepaskan pedang Tzu Zi Tao Cang jatuh menancap di depannya.


Guo Yun bergerak maju dengan gerakan cengkraman naga langit.


Dia menangkap badan pedang Thian Yi Tao Cang, kemudian dia kembali mengerahkan ilmu Shi Chi Hua Ming.


Sehingga serangan pedang Thian Yi Tao Cang energinya tersedot kedalam tubuh Guo Yun.


Tapi berbeda dengan Tzu Zi Tao Cang yang panik dan menotok dirinya sendiri.


Agar bisa melepaskan diri dari data hisap tenaga, yang di lakukan oleh Guo Yun.


Thian Yi Tao Cang justru memberikan serangan dengan totokkan jari tunggal yang mengeluarkan sinar ungu.


Ke beberapa titik Meridian di lengan Guo Yun yang sedang melakukan hisapan energi.


Guo Yun yang tidak menyadari bahaya dan keunikan dari ilmu totok jari tunggal, yang bernama jari Ilahi.


Dia membiarkan saja, berpikir akan menghisap energi jari tersebut.


Tapi hasilnya sungguh mengejutkan Guo Yun.


Begitu beberapa titik di lengannya terkena cahaya tersebut.


Otomatis daya hisap terkunci, bahkan daya mengalirkan energi juga terkunci


Sehingga kini hari Guo Yun yang sedang mencengkram pedang terancam.


Untung Guo Yun bergerak sedikit lebih cepat, cengkraman pedang dia lepaskan tangannya yang mati rasa dia paksa tarik kembali.


Terlambat sedikit saja, Guo Yun pasti akan kehilangan seluruh jari tangannya.


Begitu berhasil lolos dari babatan pedang pada jarinya, kaki Guo Yun menotol.tanah di bawahnya.


Sehingga tubuhnya bergerak mundur menjauhi Thian Yi Tao Cang.


Tapi Thian Yi Tao Cang masih bergerak cepat kedepan, memberikan puluhan tusukan pedang, yang mengeluarkan cahaya biru mengurung bagian depan tubuh Guo Yun.


Tanpa berani berayal lagi, Guo Yun kini kembali mengeluarkan sepasang pedang nya, untuk menangkis sambil bergerak mundur.


Guo Yun yang sadar ilmu Shi Chi Hua Ming, sudah kehilangan fungsi di hadapan lawannya.


Karena rahasia ilmu itu, sudah dipecahkan oleh paman guru Ling Thian.


Guo Yun langsung segera merubah tehnik bersilat nya.


Kini Guo Yun memainkan tarian pedang Je Ye Sen Cien yang jarang dia mainkan.


Karena selain dia dulu tidak memilki sepasang pedang, yang cocok untuk memainkan kedua ilmu itu.


Dia juga tidak pernah merasa perlu untuk memainkan jurus rahasia itu.


Tapi sekali ini Thian Yi Tao Cang, benar benar berat, apalagi di sana masih ada Tzu Zi Tao Cang.


Dimana setiap saat bisa saja dia maju mengeroyoknya, tanpa pilihan Guo Yun pun memainkan jurus pedang Je Ye sen Cien.


Untuk mengimbangi permainan pedang tingkat tinggi Thian Yi Tao Cang.


Permainan pedang Guo Yun yang menimbulkan perubahan suhu panas dingin mulai mempengaruhi arena pertarungan.


Di mana daerah sekitar ada yang beku ada yang hangus saat di lewati sinar pedang Guo Yun.


Selain itu variasi serangan gerak tipu dan perubahannya yang begitu cepat.


Mulai membuat Thian Yi Tao Cang terdesak tidak mampu menyerang hanya bisa menangkis.


Perubahan suhu panas dingin juga mempengaruhi kecepatan pergerakan Thian Yi Tao Cang.


Selain itu, permainan pedang itu sebentar bergerak kasar ganas dan kuat, lalu berubah lembut ringan dan cepat.


Ini juga membawa dampak yang memusingkan bagi Thian Yi Tao Cang.


Dia serasa sedang menghadapi dua orang Guo Yun sekaligus dalam satu pertempuran.


Pergerakan pedang Thian Yi Tao Cang mulai kacau, langkahnya juga selalu terlihat terhuyung-huyung kebelakang.


"Tranggg,..!" "Tranggg,..!"


"Sreeettt..!"


"Tranggg,..!" "Tranggg,..!"


"Sreeettt..!"


"Tranggg,..!" "Tranggg,..!"


"Sreeettt..!"


"Tranggg,..!" "Tranggg,..!"


"Sreeettt..!"


Dalam satu kesempatan pedang Han Kuang Cien yang menyerang bahu dan leher.


Saat tertangkis, langsung menusuk kebawah berhasil melukai paha Thian Yi Tao Cang.


Di saat bersamaan pedang Hung Sie Cien yang bergerak menusuk dada dan ulu hati.


Saat tertangkis juga melejit menyerang sambungan kaki di belakang lutut Thian Yi Tao Cang.

__ADS_1


Tidak berhenti disana, di saat pergerakan Thian Yi Tao Cang limbung.


Han Kuang Cien kembali menyerang kearah tiga titik di lengan nya Thian Yi Tao Cang.


Tapi begitu tertangkis, lagi lagi melejit menyerempet bahu, dan hampir saja menyambar leher, bila Thian Yi Tao Cang tidak cepat cepat membuang diri kebelakang.


Tzu Zi Tao Cang yang melihat saudara tuanya sedang dalam bahaya besar.


Tanpa memperdulikan gengsi tata Krama dan peraturan dunia persilatan.


Dia langsung maju menangkis dua serangan berikutnya Guo Yun.


Di mana kini Hung Sie Cien yang bergerak lincah dengan hawa panas mengincar leher dan dada Thian Yi Tao Cang.


Tangkisan pedang Tzu Zi Tao Cang seketika membuat Hung Sie Cien melejit menyambar kearah pergelangan tangan, tahu tahu menyambar kearah leher.


Dalam keadaan panik lagi lagi lagi Tzu Zi Tao Cang melompat mundur menjauh melepaskan pedangnya.


Dia lalu bergerak cepat menyambar lengan Thian Yi Tao Cang.


Melesat meninggalkan tempat itu dan berteriak keras dari kejauhan,


"Kamu bagus anak muda,..! kami hari ini mengaku kalah .!"


"Tapi urusan mu dengan Ling Yun Pai kami belum selesai...!"


"Kamu tunggu saja.!"


Guo Yun tidak mengejarnya, dia menyimpan kedua pedangnya, berikut pedang milik Tzu Zi Tao Cang, kedalam cincinnya.


Setelah itu dia menghela nafas panjang, mengambil posisi duduk bersila.


Menghimpun hawa intisari langit dan bumi, untuk memulihkan kondisinya yang kelelahan.


Setelah melalui pertarungan melelahkan melawan Tzu Zi Tao Cang dan Thian Yi Tao Cang.


Dua jagoan dari Ling Yun Pai, Guo Yun di dalam hati menebak nebak kira kira siapa lagi lawan berikutnya nanti.


Akibat perebutan kitab ini, dia tidak akan pernah bisa tenang.


Silih berganti semua jagoan lembah persilatan akan muncul mengejar dirinya.


Tapi dia memang tidak punya pilihan lain selain menghadapi nya satu persatu.


Tanpa Guo Yun sadari di dunia persilatan namanya mulai berkibar dengan julukan Pangeran Negara Yue.


Dia menjadi incaran nomor satu, di seluruh dunia persilatan, selain kitab pusaka lembah hantu.


Selagi Guo Yun sedang berlatih Thian Ti Sen Kung guna mengembalikan kekuatan nya.


Dari kejauhan terlihat dua titik kecil bergerak dengan sangat cepat mendekat kearah Guo Yun.


Mereka berdua adalah dua orang kakek berambut putih, dari rambutnya mereka jelas sudah cukup tua.


Tapi dari wajah mereka, justru menunjuk kan mereka masih muda, karena tidak ada keriput sedikitpun di wajah mereka berdua.


Meski tidak bisa di katakan tampan seperti Guo Yun dan Li Kui, ataupun gagah seperti Li Ba.


Tapi wajah mereka berdua termasuk cukup enak di lihat.


Kedua kakek itu wajahnya sangat mirip mereka adalah saudara kembar identik.


Kedua kakek itu mengenakan pakaian serba hitam ringkas, sambil menggendong dua batang pedang berkait di belakang punggung mereka masing masing.


Di dunia persilatan kedua kakek ini terkenal dengan julukan.


Cui Ming Suang Kou ( Sepasang Kou pengejar nyawa ).


Kedua kakek itu terlihat bergerak dengan sangat cepat, hingga sepasang kaki mereka terlihat tidak menyentuh tanah.


Mereka seperti sedang melayang diatas rumput.


Dalam waktu singkat mereka berdua sudah tiba di hadapan Guo Yun.


Begitu tiba, salah satu diantara mereka langsung berkata,


"Anak muda,..kami sudah mencari mu kemana mana,.."


"Rupanya kamu ada di sini, ini sungguh jodoh.."


"Ayo berikan kitab lembah hantu itu ke kami, bila tidak hari ini kamu jangan harap bisa keluar hidup hidup dari sini.."


Guo Yun sebenarnya menyadari kehadiran mereka, cuma dia pura pura tidak tahu.


Tidak mau membuang energi tidak perlu.


Tapi melihat mereka sudah mengenalinya, dia tahu, dia sudah tidak bisa menghindar lagi.


Guo Yun akhirnya membuka sepasang matanya yang bersinar tajam dan berkata,


"Siapa yang bisa keluar hidup hidup masih belum tahu.."


"Aku sarankan kalian tahu diri lah, sebelum nanti mampus tanpa kubur di usia senja."


"Bocah besar juga mulut mu, semoga kemampuan dan nyali mu sebesar mulut mu..'


ucap salah satu kakek kembar yang ada tahi lalat di dagunya


Guo Yun dengan santai bangkit berdiri dan berkata,


"Baiklah, bila itu yang kalian inginkan majulah.."


"Singggg...!"


"Singggg...!"


Ma Kun dan Ma Kim sama sama mencabut sepasang pedang berkait, dari balik punggung mereka masing masing.


Mereka berdua dengan kompak membolang balingkan sepasang pedang berkait di tangan mereka.


Hingga mengeluarkan suara,


"Wunggg..! Wunggg..! Wunggg.! "


"Wunggg..! Wunggg..! Wunggg.! "


"Wunggg..! Wunggg..! Wunggg.! "


Gulungan sinar putih berkilauan mengelilingi seluruh tubuh mereka berdua.


Sebelum mereka berdua dengan gerakan cepat dan kompak menerjang kearah Guo Yun.


Guo Yun menggunakan 72 langkah ajaib, mengawasi pergerakan mereka.


Sambil memperhitungkan sejauh mana kemampuan kedua lawannya itu.


Beberapa saat kemudian Guo Yun mendapatkan kenyataan, kedua orang ini meski cukup hebat.


Tapi mereka jelas bukan lawannya, dengan gerakan cepat.


Guo Yun maju menyambut serangan mereka, sebelum pedang berkait mereka beraksi.


Guo Yun sudah muncul di hadapan mereka,


"Plakkkk..!" Plakkkk..!"


Plakkkk..!" Plakkkk..!"


Terdengar 4 kali tamparan nyaring, meledak di wajah mereka.


Sebelum mereka sempat menghindar menangkis ataupun melakukan sesuatu.


Kedua kakek sial itu terpelanting jatuh keatas tanah, saking kerasnya mereka menerima tamparan dari Guo Yun.


Saat mereka meludah sebagian dari gigi tua mereka copot dari tempatnya, tergeletak di hadapan mereka, bercampur darah di mulut mereka


Masih belum mau enyah,..!"


Bentak Guo Yun sambil pura pura mengangkat tangannya.


Kedua kakek itu otomatis mengangkat tangannya untuk melindungi wajah dan kepala mereka.


Sesaat kemudian , mereka berdua dengan sikap buru buru, langsung melarikan diri terbirit-birit dari tempat tersebut.


Guo Yun tersenyum sendiri, ini adalah musuh pertamanya yang paling konyol lucu dan tak tahu diri..


Kemampuan cuma segitu, udah bau tanah pula, berani keluar petentang petenteng.


Akibat nya mencari penyakit buat diri sendiri.


Sambil menahan senyum, akhirnya Guo Yun melesat meninggalkan tempat tersebut.


Melanjutkan perjalanan cepatnya menuju Dan Yang.


Tapi dia ingin cepat, belum tentu bisa sesuai harapan nya, saat tiba di depan celah dua buah tebing tinggi.


Lagi lagi langka Guo Yun terhenti oleh seorang pria berusia 40 an memegang sebatang tombak Hua Ci di tangannya.


Hua Ci nya yang di hiasi dengan ronce emas, membuat nya terlihat keren angker dan mewah.


Hua Ci pria itu terlihat tertancap diatas tanah, di samping nya.


Sedangkan pria itu sendiri terlihat menggendong sepasang tangannya sendiri di depan dada.


Dia menatap kearah Guo Yun dengan tajam dan berkata dengan suara lantang,


"Anak muda, apakah kamu adalah dia..?"


Pria itu mengeluarkan selembar kertas yang ada sketsa wajah Guo Yun disana.


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Benar sekali, itu memang aku."


"Maaf, kalau boleh tahu, ada keperluan apa kakak mencari ku .?"


"Serahkan kitab lembah hantu, maka kamu boleh pergi dengan aman..!"


ucap pria itu lantang.


Guo Yun menggeleng gelengkan kepalanya sendiri dan berkata seorang diri.

__ADS_1


"Lagi lagi itu,.."


Guo Yun menatap tajam kearah pria di hadapannya dan berkata pelan..


"Siapa nama kakak, ? apa kakak yakin ingin bertaruh nyawa untuk mendapatkan kitab itu..?"


"Nama ku Hung Gei, aku berani ada di sini tentu aku siap untuk itu.."


"Marilah..!"


"Wunggg...!"


"Wunggg...!"


"Wunggg...!"


"Wunggg...!"


Tombak Hua Ci di tangan Hung Gei menimbulkan syara angin berdengung saat di putarkan olehnya


Melihat angin bergulung-gulung yang timbul dari putaran tombak Hung Gei.


Guo Yun menebak Hung Gei ini memilikinya kemampuan di bidangnya.


Dia tidak akan berakhir konyol seperti kedua kakek bermarga Ma, yang terjadi sebelumnya.


Tanpa banyak bicara lagi, Hung Gei memutar tombaknya Hua Ci nya berubah menjadi sebuah gulungan sinar putih yang membentuk bayangan kepala seekor naga putih.


Guo Yun bergerak melayang mundur dengan ringan.


Saat tombak Hung Gei bergerak mengejar kearah lehernya.


Hung Gei menendang tanah di bawah kakinya beberapa kali, tubuhnya langsung melesat bagaikan terbang kearah Guo Yun.


Dengan ujung tombak yang berubah menjadi bayangan Naga Putih, melesat tetap mengejar kearah leher Guo Yun.


Saat Guo Yun merunduk menghindari serangan tersebut sambil bergerak maju dengan sepasang cakar naga langit nya ingin mengincar perut Hung Gei.


Hung Gei dengan sigap mengubah serangannya.


Tombak dia tarik kembali, ujung tombak di tangan nya, di ubah menjadi Sontekan dengan ujung belakang tombak nya


Menyambut serangan sepasang cakar Guo Yun dengan bagian ujung belakang tombak lebih dulu menghantam wajah Guo Yun.


Sebelum Guo Yun berhasil mencengkram bagian perutnya.


"Plakkkk..!"


Terdengar suara benturan nyaring ujung belakang tombak di sambut oleh tangkisan sepasang cakar Guo Yun.


Guo Yun terdorong mundur, saat terjadi bentrokan.


Sepasang kakinya menyeret diatas tanah hingga menimbulkan bekas di atas tanah.


"Wuttt...!"


Hung Gei memutar tubuhnya, lalu melepaskan tebasan tombak dari bawah keatas membelah tanah menerjang kearah Guo Yun seberkas sinar putih.


"Blaaaarrr..!"


"Blaaaarrr..!"


"Blaaaarrr..!"


"Blaaaarrr..!"


Sinar putih yang meledakkan tanah di bawahnya, bergerak dengan sangat cepat menerjang kearah Guo Yun.


Untuk menghindari serangan tersebut, tubuh Guo Yun melejit terbang keatas


Dari atas sana Guo Yun menggunakan Hung Sie Cien, melepaskan Tebasan Pedang Sapu Jagad yang merupakan jurus ke 3 dari tebasan pedang pemusnah.


"Singgg...!"


Seberkas sinar merah melengkung melesat cepat dari atas kebawah.


Menerjang kearah Hung Gei


Hung Gei terlihat mengangkat tombaknya untuk menahan serangan tersebut.


"Blaaaarrr...!"


Hung Gei terlihat terpental mundur hingga sepasang kuda kuda nya menyeret menimbulkan garis memanjang diatas tanah.


Pergerakan nya baru berhenti, saat Hung Gei menancapkan ujung bagian belakang tombaknya keatas tanah.


"Crasssh...!"


Debu pasir batu beterbangan saat ujung tongkat di tangan Hung Gei dia tancapkan dengan keras hingga melesat sepuluh Cun masuk menembus kedalam tanah.


Melihat lawannya mampu menahan tebasan pemusnah nya, keras lawan keras diam diam Guo Yun kagum dengan kemampuan lawan nya tersebut.


Setelah berhasil mempertahankan posisinya, Hung Gei langsung melesat ke udara, melepaskan ratusan bayangan tombak menyerang dan menutup semua jalan mudur Guo Yun.


"Wussss...!"


"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


Guo Yun yang terkepung, langsung memainkan Thian Ti Sen Kung Hu Ti.


Sehingga terbentuk sebuah kubah perisai cahaya emas.


Menyambut serangan bayangan mata tombak yang mengejar kearah nya


"Trangggg..!" Trangggg..!"


Trangggg..!" Trangggg..!"


Trangggg..!" Trangggg..!"


Semua serangan bayangan mata tombak Hung Gei tertahan di udara.


Percikan bunga api menghiasi angkasa.


Guo Yun menggunakan satu tangan menahan serangan, satu tangannya yang lain nya memberikan Tebasan Hung Sie Cien.


Untuk membalas dan memukul mundur Hung Gei.


"Singggg..!"


"Wussss..!"


Sebuah cahaya merah melesat menerjang kearah Hung Gei, menghancurkan semua bayangan mata tombak yang menghalau jalannya.


"Trangggg..!"


Hung Gei terpaksa mutar tombak di tangan nya untuk melakukan tangkisan terhadap serangan Tebasan Pedang Sapu Jagad yang di lancarkan oleh Guo Yun.


"Brakkk..!"


Tubuh Hung Gei terpental jatuh menabrak keatas tanah.


Tapi Hung Gei tidak sampai terbanting, karena dengan lihai dan gerakan indah.


Hung Gei menggunakan ujung belakang tombak nya di tusukkan keatas tanah sebagai penahan tubuhnya, agar tidak sampai jatuh terbanting


Lalu dengan gerakan indah, dia sudah bersalto mendarat mulus dengan sepasang kakinya di atas tanah.


Sebelum Hung Gei sempat memberikan serangan balik, Guo Yun yang sudah berhasil mematahkan serangan Hung Gei dengan perisai pelindung nya


Dia langsung melepaskan pukulan cahaya matahari nya.


"Wutttt..!"


Sebuah bola matahari merah melesat deras kearah Hung Gei.


Di sertai empat tebasan di empat penjuru, yang menutupi jalan mundur Hung Gei.


"Singggg..! Singggg..!"


"Singggg..! Singggg..!"


Hung Gei mengulurkan tangan kanan nya kedepan menyambut bola matahari yang datang.


Sedangkan tangannya yang lain memutar tombak Hua Ci nya seperti baling baling melindungi diri nya dari serangan tebasan pedang Hung Sie Cien.


"Blaaaarrr...!"


"Trangggg..! Trangggg..!"


Trangggg..! Trangggg..!"


Tubuh Hung Gei terbenam sebatas lutut kedalam tanah, akibat serangan yang Guo Yun lepaskan barusan.


Sebelum Hung Gei sempat keluar dari posisinya, Hung Sie Cien kembali melesat terbang kearah Hung Gei .


Sedangkan di belakangnya, Guo Yun menyusulnya dengan pukulan Bola matahari dan bulan melesat kearah Hung Gei.


"Singggg..!"


"Wusss..!"


"Wusss..!"


"Trangggg...!"


"Blaarrr...!"


"Blaarrr...!"


Hung Sie Cien terlihat terpental kembali ke udara balik lagi kearah Guo Yun.


Dimana Guo Yun yang sedang melayang turun kebawah langsung menyambutnya kembali.


Sedangkan benturan Bola matahari bulan dengan sepasang telapak tangan kosong Hung Gei, yang mengeluarkan cahaya putih.


Menimbulkan ledakan dahsyat yang mengguncang seluruh area di mana Hung Gei berada.

__ADS_1


__ADS_2