
Li Ba sambil memangku Sian Sian, dia mencoba bernyanyi untuk menenangkan Sian Sian.
Ternyata saat bernyanyi, Li Ba sama sekali tidak gagap.
Kakek Sian Sian merasa sedikit terharu, dengan kebaikan dan perhatian Li Ba, pada cucu satu satunya itu.
Cucunya, kelihatannya juga sangat nyaman berada di dekat Li Ba.
Tadi dia sempat beradu kekuatan dengan Li Ba, meski bila benar berhadapan, Li Ba pasti bukan lawan nya.
Tapi dia yakin, akan jarang ada orang yang sanggup melawan kekuatan Li Ba.
Jadi dia bisa bertenang hati, bila Sian Sian di jaga oleh Li Ba.
Guo Yun sendiri tidak heran, karena dia tahu dengan jelas, Li Ba aslinya memiliki hati yang sangat baik dan polos.
Li Ba adalah jenis orang yang tidak bisa berpura-pura, dan paling bisa di percaya di dunia ini.
Beberapa waktu berlalu, angin dan hujan mulai mereda, meski pun suara gemuruh di langit sesekali masih terdengar.
Tapi cuaca sedikit demi sedikit mulai terang, arus sungai pun sudah tidak terlalu deras lagi.
Hanya tinggal kabut tebal, yang muncul menyelimuti sungai di depan sana.
Kabut ini menghalangi jarak pandang, sehingga terasa cukup mengganggu.
Tapi hal itu bagi si tukang perahu adalah hal biasa, apalagi setelah habis hujan.
Fenomena seperti ini sering terjadi, tidak ada yang perlu di heran kan.
Si tukang perahu di belakang sana, memutuskan untuk sedikit bersantai melepas lelah.
Laju perahu tinggal mengikuti aliran sungai, yang mengalir tenang menuju ke hilir sungai.
Tukang perahu yang sedang melengut sedikit mengantuk, tiba tiba di kagetkan dengan bunyi suara di depan perahunya.
"Brakkkk,...!!"
Perahu terguncang hebat seperti menabrak benda keras.
Si tukang perahu buru buru melompat bangun, dan berlari menuju anjungan perahu, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Saat tiba di anjungan perahu, si tukang perahu berdiri terbelalak kaget.
Dia sangat terkejut, saat melihat bagian depan perahu nya ternyata secara tidak sengaja telah menabrak badan sebuah kapal besar, yang sedang berhenti melintang di sana.
Dari bendera yang berkibar kibar di bagian paling tinggi dari perahu.
Si tukang perahu langsung tahu, dia sedang dalam masalah besar.
Karena secara tidak sengaja perahunya telah menabrak kapal perompak Cucut Merah, salah satu penguasa di sungai Yang Tze ini.
Kapal ini tadi berada di balik kabut, sehingga si pemilik perahu tidak melihat keberadaannya disana.
Baru setelah terjadi benturan keras, dia sangat kaget.dan buru buru melihat nya, tapi kini semua sudah terlambat.
Pemilik perahu hanya bisa berdiri dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.
Guo Yun dan kakek Sian Sian langsung keluar dari dalam bilik perahu.
__ADS_1
Guo Yun menatap kearah pemilik perahu yang terlihat ketakutan disana dengan heran.
"Apa yang terjadi paman..?"
Si tukang perahu menatap Guo Yun dengan gugup berkata,
"Kita dalam masalah tuan.."
"Perahu kita telah menabrak.."
Belum selesai si tukang perahu berucap, seberkas sinar merah lewat.
Kepala si tukang perahu pun, sudah menggelinding di atas lantai perahu.
Tubuhnya tumbang jatuh kedalam sungai.
Semua kejadian itu terjadi begitu cepat, sebelum Guo Yun dan kakek Sian Sian sempat bereaksi.
Guo Yun menatap marah kearah orang yang berada di atas kapal besar tersebut.
"Ada masalah bisa di bicarakan, mengapa kalian begitu ringan tangan ? langsung menurunkan tangan keji padanya..?"
ucap Guo Yun menegur orang yang berada di atas kapal sana.
Orang yang telah menurunkan tangan keji, adalah seorang pria pesolek berjubah merah, dan membawa sebatang cambuk merah di tangannya.
Dia adalah si Surai kanan Kwa Sin, sambil tertawa mengejek Kwa Sin berkata dengan suara dingin,
"Tahu diri, ingin selamat cepat tinggalkan harta benda, orangnya segera lompat keluar dari perahu.."
Guo Yun sadar berbicara dengan orang seperti ini tidak akan ada manfaatnya.
Dengan ringan Guo Yun melayang naik keatas kapal perompak itu.
"Ba er tolong jaga Sian Sian, aku mau lihat Yun er keatas."
Li Ba mengangguk tanpa banyak bicara.
Setelah memberi pesan, dengan ringan tubuh Kakek Sian Sian ikut terbang menyusul keatas.
Kakek Sian Sian mendarat ringan di sebelah Guo Yun.
Dia menyapukan tatapan matanya yang tajam kearah lima orang di hadapannya, dan melirik kearah bendera kapal yang berkibar kibar di bagian atas kapal.
"Yun er hati hati, mereka berlima adalah pimpinan kelompok bajak sungai cucut merah.."
ucap Kakek Sian Sian berbisik pelan.
Guo Yun mengangguk kecil, sepasang matanya terus menatap kearah lawan dengan sikap waspada.
Si Surai kanan melangkah kedepan dengan gaya kemayu dan suara di buat buat berkata,
"Anak tampan, kamu jangan di suguhi arak kehormatan tidak mau, malah meminta arak hukuman..'
Keempat saudaranya yang lain memilih diam, mereka memandang remeh Guo Yun, yang mereka anggap masih bocah tanggung.
Mereka yakin saudara mereka Kwa Sin sudah lebih dari cukup hadapi Guo Yun.
Mereka lebih baik berjaga jaga mengawasi kakek yang memiliki sepasang mata bersinar tajam itu.
__ADS_1
Guo Yun mencabut pedang walet emasnya, sambil melangkah maju menghampiri Kwa Sin,.
Guo Yun berkata,
"Laporkan nama mu, keluarkan senjata mu..!"
Kwa Sin tertawa terkekeh melihat sikap Guo Yun,
"Bocah sombong, dengar baik baik nama ku Kwa Sin.."
"Jangan lupa sampai di akherat sana.."
ucap Kwa Sin sambil menggerakkan senjata cambuk merahnya.
"Cetar..! Cetar..! Cetar..! Cetar..! "
Guo Yun tidak berani menganggap enteng lawannya, sambil mengerahkan ilmu ringan tubuh berjalan diatas rumput, di padu dengan ilmu pedang pengejar iblis, dan pukulan geledeknya.
Guo Yun mulai bergerak menyerang Kwa Sin.
Tubuh Guo Yun lenyap menjadi sebuah bayangan, beterbangan mengelilingi Kwa Sin
Guo Yun menggunakan tapak kirinya, yang mengeluarkan suara mengelegar, mencoba menyerang kearah wajah Kwa Sin.
Bersamaan dengan itu pedangnya juga berkelebat menusuk tiga titik ditubuh Kwa Sin, tenggorokan dada dan ulu hati.
Melihat kecepatan serangan Guo Yun, Kwa Sin pun terkejut, dia buru buru menggerakkan cambuknya menangkis sambil menyerang.
"Plakkk,..!"
Tringgg,..! Tringgg,..! Tringgg,..!"
"Tar,..! Tar..! Tar,..!"
Tapak di tangkis dengan tapak, pedang di tangkis dengan cambuk.
Baik Kwa Sin maupun Guo Yun, sama sama terpental mundur kebelakang.
Mereka sama sama memeriksa kondisi senjata mereka masing-masing.
Benturan itu cukup keras, masing masing merasa tangan mereka bergetar hebat, saat benturan terjadi.
Setelah memastikan senjata mereka masing masing baik saja,
mereka berdua kembali maju saling serang.
Cambuk berputaran mengelilingi tubuh Kwa Sin, membentuk tembok pelindung, sesekali akan bergerak menyerang titik titik berbahaya di tubuh Guo Yun.
Guo Yun sendiri lenyap menjadi gulungan sinar putih, mengelilingi sekitar tubuh Kwa Sin.
Dia berusaha mencecar Kwa Sin dengan jurus pedangnya, yang cepat dan ganas.
Sesekali dia akan membarenginya, dengan serangan tapak tangan yang menimbulkan suara bergemuruh saat di mainkan.
Puluhan jurus berlalu, Kwa Sin mulai kuwalahan, pedang Guo Yun berulang kali menembus pertahannya.
Pedang Guo Yun berhasil menorehkan luka gores, yang membuat darah nya mulai bercucuran membasahi pakaiannya.
Dia juga terlihat terhuyung-huyung, setiap menangkis serangan tapak geledek Guo Yun.
__ADS_1
Melihat keadaan Kwa Sin, saudara Kwa Sin yang berjuluk Surai kiri Kwa Tek.
Bergerak masuk kedalam arena membantu adiknya.