
Sambil terus menatap kearah teman temannya, Li Kui berkata,
"Adik Cu boleh tidak aku pergi bantu mereka besok pagi.."
"Aku.."
Belum selesai ucapan Li Kui, Cu Cu langsung berkata,
"Kenapa harus tunggu besok, ? kalau kakak mau kesana, sekarang juga bisa.."
ucap Cu Cu sambil tersenyum.
Li Kui menoleh kearah Cu Cu dengan tatapan tak percaya.
"Adik Cu kamu serius ?"
tanya Li Kui sedikit kurang percaya.
Cu Cu sambil tersenyum mengamit tangan Li Kui, dia menganggukkan kepalanya.
Li Kui tersenyum gembira, ingin maju memeluk Cu Cu, tapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak jadi lah, Lupakan saja.."
"Lebih baik kita pulang saja,."
ucap Li Kui sambil membalikkan badannya.
"Ehh kenapa ?"
tanya Cu Cu kaget melihat reaksi Li Kui yang tiba-tiba berubah pikiran.
"Bukannya kakak Kui sangat ingin kesana.?"
tanya kembali Cu Cu heran.
Li Kui menghela nafas panjang, sambil memaksa diri tersenyum,
Li Kui berkata, sambil menatap Cu Cu dengan serius.
"Hal seperti ini sebaiknya kita ijin dulu ke kakek mu, aku tidak mau melihat mu kena marah karena aku.."
"Apalagi sampai di hukum oleh kakek mu.."
Mendengar alasan Li Kui, Cu Cu pun tersenyum lembut dan berkata,
"Bila untuk itu, kakak tidak perlu khawatir.."
"Kakek tidak akan marah, apalagi menyalahkan ku.."
ucap Cu Cu yakin.
"Tidak lah sekarang juga sudah sore, sebentar lagi juga gelap, tidak banyak yang bisa ku bantu ."
"Lebih baik sekarang kita pulang, bicarakan dulu dengan kakek.."
"Bila di ijinkan, besok kita baru kesana juga tidak telat.."
ucap Li Kui sambil membelai kepala Cu Cu.
Cu Cu mengangguk dan berkata,
"Baiklah terserah kakak saja, ayo kita pulang dan temui kakek.."
__ADS_1
Cu Cu sangat gembira, Li Kui sangat mempertimbangkan dirinya, meski sebenarnya dia sangat ingin pergi berkumpul dengan temannya.
Cu Cu membawa Li Kui melayang turun kembali kepantai dengan ringan.
Li Kui diam diam sangat kagum dengan kemampuan Cu Cu,.di dalam hati dia menebak nebak.
Siapa yang lebih unggul, istrinya atau Guo Yun bila mereka berdua berhadapan.
Cu Cu membawa Li Kui kembali masuk kedalam mulut gua, tapi mereka tidak lah kembali keruangan sebelumnya.
Melainkan mereka muncul di sebuah ruangan yang remang remang agak gelap.
Di dalam ruangan tersebut ada belasan peti mati berjejer, dan ada sebuah kuburan.
Melihat pemandangan menyeramkan ini, bulu kuduk Li Kui pada berdiri di buatnya.
"Kakek,..! Kakek...!"
teriak Cu Cu santai.
Tiba tiba kuburan yang dilihat Li Kui sebelumnya tanahnya terlihat bergerak gerak.
Sebelum akhirnya merekah, lalu, terlihat Kakek Cu Cu Ji.Sun, Cui Ming Koai Jen.
Melompat keluar dari dalam tanah kuburan tersebut, dengan gerakan ringan.
"Bocah nakal,.. kamu datang kemari, menganggu kakek berlatih,
katakan cepat apa yang kamu inginkan..?"
ucap Ji Sun sambil menatap tajam kearah Cu Cu dan Li Kui.
"Ini kek, kakak Kui mau minta ijin pergi ke pantai membantu teman temannya memperbaiki kapal.."
ucap Ji Sun sambil tersenyum, tapi karena wajahnya menyeramkan mirip mayat hidup.
Sehingga saat tersenyum, dia malah terlihat seperti sedang menyeringai seram.
Cu Cu tersenyum canggung dan berkata,
"Ini mau nya kakak Kui, dia ngotot ingin dapat ijin dari kakek dulu.."
"Makanya aku membawanya kemari.."
Kakek Cu Cu menatap Li Kui dan berkata,
"Kamu sekarang adalah suaminya, ada urusan apa kalian rundingkan saja berdua.."
"Bila sama sama setuju jalankan saja, kakek akan dukung kalian."
"Pergilah,. bila tidak ada hal penting. jangan kemari lagi menganggu latihan ku, ."
"Mengerti..?"
"Terimakasih kek, Li Kui mengerti.."
ucap Li Kui cepat.
Tanpa menunggu lama, begitu mendengar ucapan Li Kui.
Kakek Ji Sun, langsung melayang mundur, masuk kembali kedalam liang kuburannya.
Sesaat kemudian tanah di pinggir liang lahat, kembali bergetar.
__ADS_1
Lalu menutup kembali lubang kuburan yang sempat terbuka barusan.
Tubuh kakek Ji Sun kembali terkubur di dalam liang kuburan nya sendiri.
Melihat hal itu, Cu Cu pun mengamit tangan Li Kui, memberi kode agar mengikutinya meninggalkan tempat tersebut.
Li Kui mengerti, dia segera mengikuti Cu Cu meninggalkan tempat tersebut.
Mereka berdua kembali lagi keruangan kamar Cu Cu.
Cu Cu dan Li Kui duduk dalam posisi saling diam di atas ranjang batu tempat tidur Cu Cu.
Di dalam gua tersebut selain ranjang batu sederhana ini sudah tidak ada benda lainnya.
Baik Cu Cu maupun Li Kui mereka sama-sama merasa grogi dan sungkan.
Mereka sama-sama tidak tahu mau bicara apa.
Akhirnya Li Kui yang buka suara,
"Adik Cu Cu, ayo kita beristirahat lebih awal, agar esok pagi kita bisa bangun lebih awal dan pergi ke pantai sama sama."
Cu Cu mengangguk, dengan wajah merah padam dan senyum malu malu.
Dia ikut berbaring di sebelah Li Kui.
Untuk menutupi rasa canggung dan malunya, Cu Cu mengibaskan tangannya kearah api obor di sudut ruangan.
Api obor langsung padam, saat terkena kibasan angin pukulan yang di lepaskan oleh Cu Cu.
Setelah ruangan menjadi gelap gulita, bahkan telapak tangan sendiri pun tidak terlihat.
Keadaan ruangan menjadi hening, selain nafas dan degup jantung kedua orang itu, yang berpacu kencang.
Tidak terdengar lagi ada suara lainnya.
"Kakak Kui kenapa diam saja ? apa kakak menyesal harus tidur seranjang dengan istri jelek seperti aku..?"
tanya Cu Cu pelan.
Belum sempat Cu Cu berucap lebih lanjut,
"Mmmphh,..!"
Dia sudah tidak bisa berbicara, karena bibirnya telah di selimuti dengan lembut oleh bibir Li Kui.
Keesokan paginya saat ruangan goa sedikit lebih terang, karena ada sedikit cahaya yang masuk lewat sela sela langit langit gua.
Li Kui bangun lebih dulu, dalam cuaca remang remang, Li Kui kini bisa melihat Cu Cu, yang sedang tertidur pulas menghadap kearahnya.
Melihat Cu Cu masih tertidur pulas, Li Kui pun bangun duluan, membereskan pakaian mereka berdua yang berserakan di lantai gua.
Li Kui menggunakan jubah luarnya, untuk menyelimuti tubuh istrinya, yang sedang tidur miring dalam keadaan polos.
Cu Cu hanya bergumam kecil, saat diselimuti oleh suaminya.
Kemudian dia kembali melanjutkan tidur pulas nya.
Li Kui meletakkan tumpukan pakaian istrinya, yang sudah dia rapikan di samping istrinya.
Setelah itu, dengan hati-hati Li kui mencoba keluar dari dalam ruangan gua itu seorang diri.
Dengan mengikuti penerangan obor yang berjejer di dinding gua, akhirnya Li Kui berhasil keluar dari dalam gua, untuk sekedar menghirup udara segar.
__ADS_1