LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
TIBA DI KOTA CAI


__ADS_3

Sekali ini begitu serangan datang bahkan tidak ada suara mencicit.


Juga tidak terlihat, tahu tahu Guo Yun merasa dadanya dingin dan perih.


Dengan agak terburu-buru, Guo Yun menghilang dari sana dengan Wu Ying Ru Tian.


Tapi Guo Yun terperanjat, melihat Hei Hua Kui Mu ternyata mampu mengimbangi kecepatan nya.


Seragam hawa pedangnya masih terus mengikutinya dalam posisi jarak yang belum berubah.


Secara reflek, Guo Yun menggunakan kedua telapak tangannya menjepit serangan yang tidak terlihat itu.


"Tabbbb...!"


Pergerakan serangan jurus rahasia Hei Hua Kui Mu, tertahan di sana.


Maju sulit mundur tidak bisa, dia merasa tubuhnya sebentar seperti di celupkan kedalam lautan api.


Sebentar kemudian di celupkan kedalam Es, siksaan hebat ini membuat Hei Hua Kui Mu sangat tersiksa.


Sambil mengeluarkan suara jerit melengking, seperti suara jeritan iblis marah.


"Hiiiiiiiiiii...!"


Hei Hua Kui Mu melepaskan tendangan beruntun, kearah bagian pangkal paha Guo Yun.


Bila sampai terkena, Guo Yun akan tewas dengan benda rahasianya hancur.


"Dessss..!"


Dessss..!"


Dessss..!"


Tiga kali tendangan beruntun sepasang kaki Hei Hua Kui Mu yang seperti ledakan petir.


Tertahan oleh betis dan paha Guo Yun.


Meski merasa kakinya yang terkena tendangan kram hingga mati rasa terkena tendangan tersebut.


Tapi Guo Yun masih sempat memutar kedua telapak tangannya yang menjepit hawa pedang yang menempel di dadanya.


Begitu berhasil di putar posisinya, dari posisi tegak menjadi posisi mendatar.


Dengan memiringkan badannya, hawa pedang, yang di jepit oleh sepasang telapak tangan Guo Yun.


Langsung lewat di samping, begitu Guo Yun meringankan jepitan telapak tangannya.


Tubuh Hei Hua Kui Mu meluncur kedepan, di saat itu pula, Guo Yun melepaskan Tapak kanan yang terisi pukulan matahari.


Di susul dengan tapak kiri yang terisi pukulan bulan.


"Blukkkk..!"


"Blukkkk..!"


Dengan tepat tangan kanan bersarang di dada Hei Hua Kui Mu, sedangkan tangan kiri berhasil bersarang di perut Hei Hua Kui Mu.


"Aihhhh..!"

__ADS_1


Terdengar suara jeritan melengking, di susul dengan tubuh Hei Hua Kui Mu.


Terhempas terbang melayang kebelakang.


Hei Hua Kui Mu terlihat menyemburkan darah segar dari mulutnya.


Tubuhnya melayang jauh,.tapi melayang jauhnya terlalu berlebihan dan tidak wajar, menurut Guo Yun.


Tapi apa mau di kata, dia sudah tidak sempat menyusulnya, karena tubuh Hei Hua Kui Mu terbayang melayang mundur.


Sebentar hilang sebentar muncul.


Tapi yang pasti posisinya terus semakin menjauh, hingga akhirnya lenyap tak berbekas.


"Dasar licik..!"


ucap Guo Yun kesal, karena begitu nenek berbahaya itu lepas.


Hari hari dia berikutnya akan semakin sulit tenang.


Bisa jadi Nenek Hei Hua Kui Mu, akan kembali dengan bala bantuan yang lebih banyak untuk mengeroyok dirinya.


Tapi semua sudah terjadi, mau di sesalkan pun tiada gunanya.


Beberapa waktu kemudian pasukan besar Guo Yun sudah menyusul datang, untuk membuat kemah di bukit tersebut.


Pasukan itu kini sudah di atur dengan pimpinan mereka masing-masing.


Semua tertata dalam barisan yang rapi.


Pasukan tahlukkan yang baru pun kini sudah bergabung dengan pasukan Jendral Wen dan Jendral Nan.


Kebetulan memang kedua jendral ini yang pasukannya paling dikit dan paling banyak gugurnya dalam dua pertempuran terakhir ini.


Tapi suntikan pasukan ini, membuat mereka menjadi lebih repot untuk melatihnya.


"Untung nya ada Li Ba dan Li Kui yang membantu mereka melatih dan mengawasi pasukan baru itu.


"Kini rombongan besar pasukan Guo Yun yang sudah melipat hingga hampir 500.000 personil berkemah sementara di puncak bukit itu.


Guo Yun sendiri di dalam tendanya kembali larut dalam peta wilayah, agar bisa menyusun strategi kedepannya.


Keesokan paginya, saat Guo Yun dan pasukan besarnya tiba di kota Cai.


Kota tersebut terlihat sepi dengan gerbang tertutup rapat, jembatan kayu penyeberangan juga terlihat di tarik keatas.


Kota itu di kelilingi oleh parit lebar, parit pertahanan ini adalah parit yang baru di buat, atas perintah dari perdana menteri Lu Bu Wei.


Dulu semasa pemerintahan kerajaan Chu, parit ini tidak ada.


Hingga jatuh ketangan Kerajaan Wu Yue juga tidak menggunakan parit.


Baru setelah berhasil di rebut oleh Qin, parit ini langsung di buat.


Kota Cai di jadikan kota pertahanan kedua setelah Shoucun, untuk menahan invasi yang terus menerus di lakukan oleh Gongsun Li dan kawan kawan nya.


Kota Cai menjadi penting karena setelah melewati kota Cai.


Pasukan Wu Yue bisa mencapai Dan Yang kota yang berbatasan langsung dengan Xian Yang, ibukota Qin.

__ADS_1


Selain itu lewat kota Cai pasukan Wu Yue juga bisa merebut kota Chen, yang berbatasan dengan kota Sin Cheng kota Shangqiu, kota Da Liang.


Tiga kota ini adalah 3 kota penting, yang kini menjadi pembatas kekuasaan Qin.


Karena 3 kota ini adalah ibukota kerajaan Han, Song, dan Wei.. yang pernah di tahlukkan Guo Yun untuk Qin.


Karena kota Cai di kelilingi oleh parit, ini menjadi kesulitan tersendiri buat Guo Yun, dan pasukannya.


Bila ingin menguasai kota ini.


Melihat keadaan kota yang di luar prediksinya,


Guo Yun pun berkata,


"Mundur 1 Li, buat kemah.."


Li Kui dan Li Ba mengangguk, lalu mereka bergerak kebelakang, memberi instruksi kepada ke 6 jendral mereka.


Untuk melaksanakan perintah Guo Yun.


Guo Yun sudah berkeliling melakukan pengamatan, parit begitu lebar.


Mirip mirip ibukota Wei Da Liang yang dia tahlukkan bersama Wang Ben dulu.


Cuma bedanya, Da Liang adalah parit alam dan di kelilingi oleh sungai sungai.


Sedangkan Cai berbeda, dia tidak di kelilingi oleh sungai, parit arit itu adalah parit buatan, jadi agak sedikit mirip waduk buatan manusia.


Strategi membanjiri kota tersebut dengan air sungai jelas tidak berjalan.


Melakukan serangan frontal menggunakan tangga, menyeberangi parit.


Itu terlalu beresiko, korban di pihaknya akan sangat banyak.


Guo Yun pantang memenangkan perang dengan mengorbankan nyawa pasukan nya dalam jumlah banyak.


Makanya keputusannya saat ini adalah Pasukan nya diam tidak bergerak.


Sambil menunggu musuh bergerak, mencari strategi jitu, baru boleh bergerak.


Menjelang sore saat Guo Yun di temani oleh Li Ba dan Li Kui melakukan pengamatan.


Mereka bertiga terus menatap kearah tembok kota Cai yang tinggi dan kokoh, di kelilingi parit pula.


"Apa kalian punya pikiran, bagaimana menahlukkan kota ini"


tanya Guo Yun tanpa menoleh kearah kedua saudaranya.


"Selain melakukan serangan paksa, merebut pintu gerbang, lalu menurunkan jembatan itu."


"Aku rasa tidak ada cara lain.."


ucap Li Kui.


Li Ba mengangguk menyetujui pendapat Li Kui.


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Tapi bagaimana cara agar bisa masuk dan merebut gerbang itu..?"

__ADS_1


"Kita bertiga mungkin bisa, tapi bagaimana dengan mereka..?"


tanya Guo Yun pelan.


__ADS_2