LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEMBALI KE RUTINITAS ISTANA


__ADS_3

Baru saja Guo Yun berdiri, Lu Bu Wei sudah kembali datang menyerang, dengan sepasang telapak tangan nya, yang mengeluarkan sinar biru dan merah.


Tidak sempat menghindar, Guo Yun langsung mengeluarkan sepasang pedang, Hung Sie Cien dan Han Kuang Cien.


Untuk di Palang kan di depan dada, menyambut serangan yang datang.


"Trangggg,..!"


Sepasang tangan Lu Bu Wei yang keras melebihi senjata pusaka.


Berbenturan keras dengan sepasang pedang Guo Yun.


Guo Yun kembali terpental mundur, hingga tanah yang di lewatinya memunculkan sebuah parit kecil memanjang kebelakang.


Guo Yun tahu Lu Bu Wei kekuatannya di dapat dengan obat.


Itu meski kuat tidak akan bisa bertahan lama, jadi saat ini dia hanya bisa melawannya dengan mengulur waktu.


Sedangkan ilmu pamungkas nya Shi Chi Hua Ming, setelah berkali kali mengalami kegagalan melawan musuh berpengalaman.


Guo Yun sedikit ragu, akan efektif di gunakan pada Lu Bu Wei yang cerdik lihai, apalagi saat ini kekuatannya sedang di puncak.


Bila dia menggunakan nya sekarang lalu gagal, jurus rahasia pamungkas itu, akan berubah menjadi jurus tak berguna yang kehilangan kejutan nya lagi.


Bahkan dirinya bisa celaka, karena kegagalan ilmu itu.


Makanya sampai saat ini Guo Yun masih tetap menyimpannya dengan rapi.


Baru akan di gunakan bila waktu sudah tepat.


Saat ini dia menilai waktunya belum tepat.


Saat ini paling aman adalah menggunakan ilmu Je Ye Sen Cien untuk mengatasi keganasan ilmu Lu Bu Wei.


Berharap ilmu ini yang banyak perubahan dan sulit di tebak, bisa mencegah serangan Lu Bu Wei berkembang.


Baru saja Guo Yun terpental mundur, kuda kuda belum stabil, tahu tahu Lu Bu Wei sudah kembali muncul di belakang Guo Yun.


Dia melepaskan pukulan dahsyat matahari bulan kearah punggung Guo Yun.


Untungnya Guo Yun bergerak cepat merunduk kebawah, sambil melakukan gerakan berputar kebelakang.


Sepasang pedang nya mengancam dua titik dibawah ketiak Lu Bu Wei.


Bila dua titik itu tertusuk, kekuatan Lu Bu Wei akan lenyap, jantungnya tergetar.


Dia pastinya akan terluka parah, Lu Bu Wei terpaksa menarik kembali serangannya.


Dia alihkan untuk memapak kedua pedang yang sedang menyerang titik berbahayanya.


"Tringg..! Tringg..!"


kedua pedang yang di papak nya menyerong kesamping, tapi kedua pedang itu mengikuti tenaga sentilan berputar arah, kini malah mengancam titik di pergelangan tangan Lu Bu Wei.


Bila titik ini terkena sabetan pedang Guo Yun, niscaya darah akan menyembur tanpa henti.


Orang yang terluka di bagian ini, bisa mati kehabisan darah.


Tentu saja Lu Bu Wei tidak ingin mengalami hal itu.


Dia segera melompat mundur menjauh, sambil menarik kembali kedua telapak tangannya.


Sehingga ada jeda bagi Guo Yun buat mengatur nafas.


Sebelum Lu Bu Wei kembali datang menyerang nya, tapi sekarang serangan Lu Bu Wei selalu menemui jalan buntu.


Karna setiap serangannya belum sampai, titik titik penting di tubuhnya yang lemah.


Selalu menjadi ancaman sepasang pedang bergerak gerak cepat dan aneh itu.


Lu Bu Wei sampai frustasi dan kesal di buat ilmu pedang matahari rembulan yang Guo Yun main kan.


Berulangkali, Lu Bu Wei selalu mencoba kembali menekan Guo Yun.


Tapi dia selalu terbentur dengan pedang Guo Yun yang terus mengancam titik lemahnya.


Dari menyerang posisi Lu Bu Wei perlahan lahan berubah menjadi posisi bertahan.


Dia di kelilingi oleh sepasang pedang Guo Yun yang terus bergerak mencecarnya.


Lu Bu Wei yang terus terdesak, akhirnya berteriak keras.


"Hiaaahh..!"


Dia melepaskan energi dahsyat nya, meledak kesegala arah.


Guo Yun terpaksa melayang mundur menjauhinya.


Bila tidak ingin terkena ledakan kekuatan dahsyat nya.


Begitu Guo Yun menjauh, Lu Bu Wei, buru buru mengeluarkan botol porselin nya, dia langsung minum obat yang tersisa beberapa butir di dalam dengan sekali tegak.


"Bangggg..! Bangggg..! Banggg..!"


"Bangggg..! Bangggg..! Banggg..!"


Kembali terdengar ledakan dahsyat di tubuh Lu Bu Wei, kabut kuning keemasan, kini semakin pekat melindungi diri nya.


Setelah mendapat tambahan tenaga baru, dia dengan gerakan cepat hingga tidak terikuti.


Tahu tahu sudah muncul dari 5 arah menyerang Guo Yun dengan telapak tangan nya memancarkan cahaya keemasan.


Guo Yun langsung memutar sepasang pedang nya, melakukan serangkaian serangan balasan untuk mencegah serangan itu tiba.


"Tringgg,..! Tranggg,..! Tringgg..!"


"Tringgg,..! Tranggg,..! Tringgg..!"


"Tringgg,..! Tranggg,..! Tringgg..!"


Seluruh serangkaian serangan Guo Yun tidak ada satupun yang berhasil menembus pertahanan pelindung tubuh Lu Bu Wei.


Seluruh serangan pencegahan Guo Yun seperti membentur dinding baja yang keras.


Sebelum Guo Yun sempat melakukan sesuatu, serangan telapak tangan Lu Bu Wei yang mengeluarkan cahaya emas sudah tiba.


Seluruh tubuh Guo Yun menjadi bulan bulanan pukulan Lu Bu Wei. dua terpental kesana kemari menerima hantaman telapak tangan Lu Bu Wei.


Sebelum tubuhnya akhirnya terbanting diatas tanah.


Meski terlindungi oleh Thian Ti Sen Kung bagian organ dalamnya.


Tapi bagian luarnya tetap saja babak belur.


Kedua pipi lebam, bengkak, sehingga membuat nya terlihat gemuk.


Matanya menyipit karena bengkak, pelipisnya sobek berdarah, begitupula dengan bibirnya.


Wajah Guo Yun yang tampan kini sudah jadi aneh, belum.lagi bajunya yang compang camping, dengan luka lebam di mana mana.


Saat Guo Yun mencoba bertahan ingin bangkit berdiri, dia menyemburkan darah segar dari mulutnya.


"Criit..!"


Melihat hal itu Lu Bu Wei sambil tersenyum puas berkata,


"Mampuslah..!"


Sebelum selesai kata katanya, dia sudah menghilang dari posisinya.


Muncul lagi dia sudah berdiri di hadapan Guo Yun, menendang kearah dada Guo Yun, dengan ujung sepatunya.


Guo Yun mengangkat kedua pedangnya untuk melindungi dadanya dari tendangan keras tersebut.


"Trangggg..!"


Tubuh Guo Yun kembali terlempar hingga puluhan meter, sambil memuntahkan darah segar sekali lagi dari mulutnya.


Melihat keadaan saudara tuanya yang di siksa seperti itu, Li Ba sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Dia segera melesat kedepan, menggantikan Guo Yun menyambut serangan Lu Bu Wei.


"Wutttt...!"


"Duaarrr..!"


Tinju petir langit tingkat 9 bertemu dengan telapak tangan cahaya emas


"Brakkkk..!"


Tubuh Li Ba langsung terpental bagaikan layang layang putus, lalu jatuh terbanting di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri


Selisih perbedaan mereka terlalu jauh, Li Ba tidak sanggup menahan pertemuan adu tenaga keras lawan keras tadi.


Selain kedua tangannya remuk tulang tulangnya, dia juga mengalami luka dalam serius.


Sehingga langsung pingsan, tidak sanggup.lagi melanjutkan perlawanan lebih lanjut.


Setelah menumbangkan Li Ba, Lu Bu Wei kembali menghadap kearah Guo Yun.


Dia ingin melanjutkan menyiksa Guo Yun.

__ADS_1


Untuk melampiaskan rasa kesalnya selama ini terhadap Guo Yun.


Di mana Guo Yun tidak pernah sekalipun berhenti menganggunya setelah ingatannya pulih.


Guo Yun yang khawatir dengan keadaan Li Ba, dia memberi kode kepada pasukannya.


Agar mengurus Li Ba, Lalu dia sendiri dengan sepasang pedang di tangan kembali maju menghadang serangan dari Lu Bu Wei.


Sekarang Guo Yun tidak lagi berusaha menyerang Lu Bu Wei, dia memilih bertahan, sebisa mungkin menghindari konfrontasi langsung.


Kalaupun terpaksa menangkis Guo Yun akan menangkis dari samping, membelokkan arah serangan Lu Bu Wei.


Hanya dengan cara ini, Guo Yun baru bisa mengulur waktu, Guo Yun juga sering memanfaatkan benturan tenaga untuk melayang mundur menjauh.


Semakin lama mereka berdua bergerak semakin menjauh menuju kolam rawa rawa.


Dengan bertempur sambil bergerak mundur menjauh, Guo Yun mempercepat proses Lu Bu Wei kehilangan kekuatannya yang tidak normal..


Lu Bu Wei juga cerdik, dia tahu Guo Yun sedang menunggu khasiat obatnya hilang.


Tapi Lu Bu Wei tidak khawatir, dia masih punya obat cadangan.


Dengan sikap tenang, dia melayani permainan pedang Guo Yun, dengan sepasang telapak tangan nya, yang mengeluarkan cahaya keemasan.


Guo Yun meski berhasil menghalau serangan dari Lu Bu Wei yang keras dan kuat.


Tubuhnya selalu terpental kesana kemari, di jadikan bulan bulanan oleh Lu Bu Wei yang bisa bergerak sangat cepat, muncul dan menghilang bagaikan kabut asap.


Guo Yun yang memilki Wu Ying Ru Tian sekalipun masih selalu kalah cepat di bandingkan dengan kecepatan yang di tunjukkan oleh Lu Bu Wei


Lu Bu Wei dengan gembira terus mempermainkan Guo Yun, seperti sebuah bola yang dua lempar kesana kemari.


Tapi selalu dirinya yang muncul menyambut dan melemparnya lagi.


Guo Yun hanya bisa menggunakan Thian Ti Sen Kung sebisanya mempertahankan diri.


Sesekali dia akan membalas menyerang dengan sepasang pedang nya.


Meski hasilnya selalu gagal karena terbentur oleh tenaga pelindung dari Lu Bu Wei.


Tapi Guo Yun tidak berputus asa, dia selalu mencobanya setiap ada kesempatan.


Hingga suatu ketika pedang Guo Yun meski tidak berhasil menembusnya.


Tapi setidaknya dia mulai berhasil membuat bagian leher Lu Bu Wei terluka berdarah.


Lu Bu Wei sendiri sangat kaget, saat menyadari serangan Guo Yun berhasil melukai lehernya.


Ini menandakan khasiat obatnya mulai menurun, dia harus segera mengkonsumsi obat lagi.


Dia langsung menghilang menjauh dari Guo Yun, hendak meminum obatnya.


Tapi wajahnya sedikit berubah, saat dia meraba kantong di dadanya kini kosong.


"Tidak usah cari lagi, ada di sini..!"


ucap Guo Yun sambil tersenyum.


Tai karena wajahnya bonyok babak belur, dia malah terlihat seperti orang meringis.


"Prakkk...!"


Sebelum Lu Bu Wei sempat mencegahnya, beberapa botol porselin kecil ditangan Guo Yun sudah dia banting keatas tanah.


Lalu dia injak injak hingga obatnya hancur menyatu dengan tanah.


"Kau...! bocah laknat...!"


"Ku bunuh kau..!"


bentak Lu Bu Wei emosi.


Dia langsung menghilang dari posisinya, mengejar kearah Guo Yun.


Sekejab kemudian dia sudah muncul di hadapan Guo Yun dengan sepasang telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya biru merah.


Dia tidak mampu lagi mengerahkan pukulan cahaya emas.


Karena kekuatannya anjlok drastis, dia kini bahkan merasakan dadanya sedikit sesak.


Melihat kesempatan muncul di depan mata, Guo Yun tidak lagi menyia nyiakan kesempatan.


Sepasang pedang bergerak dengan cepat mengincar titik titik nadi dan Meridian di tubuh Lu Bu Wei.


"Tasss,..!" Tasss,..!" Tasss,..!"


"Tasss,..!" Tasss,..!" Tasss,..!"


"Tasss,..!" Tasss,..!" Tasss,..!"


Mahkota kecil dan tusuk sanggulnya terbelah, terkena pedang Guo Yun.


Sehingga Ikatan rambut di kepalanya terlepas, rambutnya terurai lepas, berkibaran tertiup angin menutupi sebagian wajahnya.


Beberapa titik di kepalanya juga ikut tertusuk oleh pedang Guo Yun, hingga darah bercucuran membasahi rambut dan wajahnya.


Guo Yun sebenarnya bisa saja menghabisinya saat ini, tapi tiba-tiba dia teringat janjinya dengan Min Min.


Dia pun membatalkan niatnya itu, tapi orang ini terlalu berbahaya di biarkan lepas begitu saja.


Untuk itu Guo Yun segera memainkan ilmu pamungkas nya Shi Chi Hua Ming.


Begitu sepasang cakar Guo Yun diarahkan ke Lu Bu Wei, Lu Bu Wei yang ada di posisi belasan meter jauhnya dari dia.


Tiba tiba tubuhnya terhisap kearah Guo Yun, Lu Bu Wei sangat kaget tapi dia tidak berdaya menolaknya.


Tubuhnya dengan cepat terhisap kearah Guo Yun.


"Ilmu iblis..!"


teriak Lu Bu Wei sambil menatap kearah Guo Yun dengan kaget.


Saat sepasang pundaknya kini di cengkram erat oleh Guo Yun.


Sisa tenaga saktinya yang terus mengalami penurunan kini terhisap berpindah ke Guo Yun.


"Arggghh.. !"


Teriak Lu Bu Wei menjerit ngeri sekaligus merasa sangat tersiksa dan kesakitan hebat.


Guo Yun tidak memperdulikannya, dia hanya berjanji mengampuni jiwanya.


Bukan melepaskan mahluk keji ini pergi sesuka hati, untuk kelak kembali mencelakainya.


Tanpa memperdulikan umpatan dan teriakan kesakitan Lu Bu Wei.


Guo Yun menutup pekerjaan dengan.


"Krakk,..! Kreekkk..! Krakkkk..!"


"Arggghh...!"


"Krakk,..! Kreekkk..! Krakkkk..!"


"Bajingan...kau..!"


"Krakk,..! Kreekkk..! Krakkkk..!"


"Arggghh,..aduh...sakit...!"


"Arggghh..!"


jerit Lu Bu Wei dengan wajah pias dan keringat membasahi wajahnya.


Dia terlihat sangat kesakitan.


Guo Yun telah menghancurkan tulang belikat dan sambungan pundak, lengan, dan kedua mata kakinya.


Dengan cara ini, setelah sembuh pun, dia tidak akan bisa bersilat lagi.


Dia telah menjadi orang cacat, sama seperti orang tua biasa saja, yang lemah.


"Keparat kau keji sekali..!"


teriak Lu Bu Wei dengan bibir gemetar, sebelum akhirnya terkapar pingsan di sana.


Guo Yun tanpa memperdulikan Lu Bu Wei yang tergeletak di sana.


Dia menyimpan sepasang pedang nya, yang dia tancapkan keatas tanah.


Setelah itu dia memberi kode agar pasukan nya, membantu membawa Li Ba yang masih pingsan.


Mengikutinya meninggalkan tempat itu.


Saat melewati Hua Rong Tao, Guo Yun hanya bisa menghela nafas sedih.


Melihat begitu banyak mayat yang bergelimpangan tak terurus di sana.


Mereka adalah pasukan Qin yang mengikuti Lu Bu Wei, mereka sebagian besar tewas.


Yang selamat hanya Awei dan puluhan anggotanya saja.

__ADS_1


Sisanya semuanya tewas di dalam jebakan maut, yang di persiapkan oleh Guo Yun Li Ba dan pasukan harimau hitam, untuk menyambut kedatangan mereka.


Saat keluar dari Hua Rong Tao, Guo Yun segera memberi perintah kepada Jendral Lim Guan Xing Fu, yang datang menjemputnya.


"Atur barisan, kita segera bergerak kembali ke Guiji, ibukota kerajaan kita.."


ucap Guo Yun cepat.


Setelah berpesan, dia sendiri langsung melompat keatas punggung kudanya.


Lalu memacunya menuju perkemahan untuk menjemput anak dan istrinya.


Saat kembali ke kedalam kemah, Min Min yang baru saja menidurkan putranya, yang terus sibuk mencari ayahnya sebelum tertidur.


Kini baru saja putranya tertidur, dia sangat kaget melihat suaminya pulang dengan wajah babak belur seperti itu.


Min Min langsung berlari menghampiri suaminya dan berkata sambil menahan suara jeritan kagetnya.


"Ahhh,..! Yun ke ke..kenapa wajah mu..?!"


ucap Min Min panik sambil mengulurkan tangannya menyentuh wajah suaminya.


Saat lukanya disentuh istrinya, Guo Yun sedikit meringis.


"Maaf.. maaf.. aku menyakiti mu ya..?"


"Sebentar aku bantu obati.."


ucap Min Min panik dan cemas.


Sementara Guo Yun sedang mendapatkan perawatan mesra dan penuh kasih dari Min Min.


Ditempat lain Lu Bu Wei yang dalam keadaan menyedihkan, tergeletak tengkurap di atas tanah .


Dia terlihat tidak bergerak sama sekali, cuaca mulai gelap bintang bintang mulai muncul di langit.


Hanya ada suara hembusan angin dari tebing Hua Rong Tao, yang memecah kesunyian tempat tersebut.


Beberapa waktu berlalu, awan tebal mulai berkumpul, menghalangi cahaya bintang dan bulan yang menerangi area di bawah sana.


"Duaarr..!"


Terlihat kilat menyambar di angkasa, di susul dengan suara ledakan dahsyat yang mengelegar di angkasa.


Beberapa saat kemudian, hujan mulai turun mengguyur bumi.


Semakin lama semakin deras.


Lu Bu Wei yang wajahnya tertelungkup miring kesamping kanan.


Wajahnya mulai tertimpa air yang jatuh dari langit.


Perlahan-lahan sepasang matanya yang tertutup rapat kembali terbuka.


Sambil meringis menahan rasa nyeri hebat di sekujur tubuhnya.


Lu Bu Wei dengan susah payah merayap menuju sebuah pohon besar.


Saat tiba di bawah pohon besar tersebut, di mana dia bisa berteduh dari lebatnya hujan.


Lu Bu Wei akhirnya terkapar menghadap kearah rerimbunan daun dan dahan dahan pohon besar.


Dengan nafas memburu Senin Kemis, Lu Bu Wei berkata dengan geram.


"Guo Yun kamu tunggu saja kamu.."


"Akan ada suatu hari nanti, aku akan membuat mu membayarnya 10 kali lipat dari ini.."


Setelah itu dia dengan susah payah mencoba untuk bangun duduk, bersandarkan batang pohon di belakangnya.


Lu Bu Wei mencoba untuk duduk bersila mengatur pernafasan.


Setelah beberapa saat, Lu Bu Wei menghela nafas kecewa.


Dia menemukan seluruh tenaga saktinya kini sudah hilang sirna tak bersisa sedikitpun.


Saat mencoba di himpun kembali, hawa yang terkumpul selalu buyar kembali.


Lu Bu Wei pun sadar, Dan Tian nya pun sudah rusak, di sana mengalami kebocoran, tidak bisa menyimpan hawa yang baru di terimanya.


Sambil menghela nafas kecewa, Lu Bu Wei pun berkata pelan,


"Guo Yun kamu cukup keji,..bagus.."


"Kamu tunggu saja,..selama aku masih bernafas.."


'Aku pasti akan balas penghinaan mu hari ini.."


"Apa yang tidak berhasil ku dapatkan, kamu juga jangan berharap, bisa mendapatkan nya."


ucap Lu Bu Wei geram.


Sebelum akhirnya, dia kembali memejamkan matanya, mencoba untuk istirahat.


Setelah hujan semalam suntuk hingga pagi saat fajar menyingsing.


Lu Bu Wei terlihat tertatih tatih dengan dua tongkat menopang di ketiak nya.


Bergerak meninggalkan tempat itu, dengan mengandalkan dua batang tongkat kayu itu.


Dia terus bergerak mengambil jalan menuju arah selatan.


Tujuan nya adalah pergi ke Pai Yun San, mengunjungi Ling Yun Pai.


Mengundang Ling Yun Lao Jen, untuk turun gunung, membantunya untuk bangkit kembali.


Selain mencari Ling Yun Lao Jen, Lu Bu Wei juga berencana mencari dan mengunjungi Istana Naga gurun pasir.


Tapi tanpa bantuan dari Ling Yun Lao Jen, Lu Bu Wei yang dalam keadaan seperti ini.


Tentu tidak akan berani pergi ke gurun Gobi yang ganas dan berbahaya tempatnya.


Dengan kondisinya saat ini, dia tidak mungkin berhasil sampai di istana Naga gurun pasir, bila tidak mengandalkan bantuan orang.


Bila dia sampai di istana, dia baru akan menggunakan 3 Cun lidahnya, untuk membujuk Dewa Naga Gurun Pasir turun gunung.


Sementara Lu Bu Wei dengan segudang rencananya untuk membalas dendam.


Di tempat lain nya, rombongan Ying Zheng yang di pimpin oleh Wang Jian telah tiba di Da Liang.


Di sana mereka bertemu dengan putra Wang Jian, Wang Ben yang baru saja sukses menahlukkan kerajaan Qi dan merebut ibukota Lin Zi.


Dari kota Da Liang yang strategis, susah di serang dan mudah menyerang, karena di kelilingi oleh dua anak sungai alami.


Ying Zheng mencoba untuk menata ulang pasukannya yang masih cukup banyak.


Selain itu dia juga tidak kekurangan jendral Jendral setia akan membantunya, untuk kembali bangkit lagi.


Ying Zheng tidak mau mengulang kejadian, kota tersebut terendam banjir, begitu kanal di kerjai oleh Guo Yun.


Jadi dia langsung meminta rakyat Da Liang dan pasukan Qin bekerjasama, membuat saluran saluran air bawah tanah, secara rahasia.


Sehingga saat situasi darurat, saluran itu bisa di buka, di gunakan untuk menyalurkan debit air berlebih, kembali kearah sungai.


Sehingga kota Da Liang akan bebas banjir, tak perlu takut lagi dengan strategi mengalirkan aliran sungai, untuk menenggelamkan kota tersebut.


Sementara Ying Zheng dan Lu Bu Wei masing masing masih terus berusaha untuk mewujudkan impian mereka masing-masing.


Di tempat lain nya, rombongan Guo Yun akhirnya kembali ke ibu kota Guiji, ibukota kerajaan Yue.


Melihat keadaan kota pusatnya yang maju rakyat hidup tentram dan gembira.


Hati Guo Yun yang penat, memikirkan bagaimana mengatur dan mengawasi semua wilayah yang kini menjadi wilayah kerajaan Yue.


Sedikit terobati dengan melihat ekspresi gembira dan bahagia rakyat Yue menyambut kedatangan mereka.


Guo Yun saat tiba di istana, di halaman depan istana, dia disambut langsung oleh Gongsun Li dan Si Si di ikuti oleh seluruh pejabat istana.


Melihat Guo Yun kembali dengan Min Min yang menggandeng tangan seorang anak kecil.


Baik Gongsun Li maupun Si Si sangat kaget dan penasaran.


Tapi didepan para abdi istana, tentu mereka tidak leluasa bertanya.


Selain memberikan senyum gembira dan memberi hormat dan mengucapkan salam atas kembali nya raja kerajaan Yue.


Tidak ada hal lainnya yang bisa mereka lakukan saat itu.


Guo Yun yang mengerti hal itu, setelah berbasa basi sejenak, dia membiarkan Min Min ikut dengan Si Si menuju istana belakang.


Sedangkan dirinya sendiri bersama Gongsun Li melanjutkan memimpin dan mendengarkan laporan sidang istana


Di mana hampir seluruh pejabat sipil dan militer maju memberikan laporan situasi terkini.


Setelah mendengarkan dan memutuskan solusinya atas semua masalah dan laporan pejabatnya.


Guo Yun pun membubarkan sidang istana, dia di temani Gongsun Li langsung menuju kamar kerjanya.


Disana hanya di temani Gongsun Li seorang Guo Yun yang terlihat sangat sibuk, dengan sangat serius.


Mengerjakan semua tugas laporan yang bertumpuk tumpuk di atas meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2