LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEMBALINYA MENG YU


__ADS_3

Sama seperti yang di alami oleh Meng Sia, setelah beberapa kali terjadi benturan senjata di udara.


Akhir nya tongkat bermata Kampak milik Meng Liang, terlepas dari pegangan tangan nya.


Jatuh tergeletak di atas tanah.


Sedangkan Meng Liang sendiri tubuhnya sudah terangkat di udara, meninggalkan punggung kudanya.


Kedua tangannya terlihat di gunakan untuk memegangi Tombak Agahai, yang menembus dada hingga kepunggung.


Sebelum akhirnya kepalanya terkulai kebawah, saat nyawanya telah terbang melayang meninggalkan raga.


Pegangan tangannya pada tombak Agahai juga ikut terlepas, dengan satu hentakan kuat tubuh Meng Liang terlepas dari tombak nya.


Jatuh bergulingan diatas tanah, hingga diam tak bergerak, dia berubah menjadi seonggok mayat, dengan darah berceceran membasahi rumput hijau di sekitar nya.


Agahai tidak berhenti di sana, dia masing terus memutar tombaknya menjatuhkan satu persatu barisan pasukan Qin, yang menghadang setiap langkahnya.


Kedatangan Agahai, memberikan peluang bagi Mangga memimpin pasukan nya menghadang Meng Yu dan pasukannya yang sedang berusaha menerjang balik.


Pasukan Meng Yu yang tertahan oleh anak panah yang datangnya bagaikan hujan, tidak mampu mendekat sama sekali.


Meng Yu sendiri juga tidak terkecuali, karena dia selalu diincar oleh panah panah, yang di lepaskan oleh Mangga, dengan daya luncur sangat cepat dan kuat.


Sementara itu di tempat Tuli sendiri, terlihat pertempuran satu lawan dua, dari atas punggung kuda.


Kini sudah berpindah keatas tanah, Tuli menghadapi keroyokan Meng Huan dan Meng Han dengan sepasang Gada Labu besar.


Setiap serangannya selalu mendatangkan angin menderu deru.


Meng Han dan Meng Huan meski bekerjasama sekalipun, mereka tetap tidak berhasil memetik keuntungan apapun.


Setiap kali tombak mereka berbenturan dengan Gada Labu Tuli.


Tombak mereka selalu terpental, tidak sanggup menahan kekuatan serangan Tuli, yang memilki tenaga besar dan kuat.


Tapi berkat menang lincah dan kerjasama apik, mereka masih termasuk bisa mengimbangi Tuli.


Agahai yang terus di tahan oleh pasukan Qin, melihat Tuli di kejauhan sana sedang kerepotan.


Dia segera mengeluarkan dua senjata Cakra bergerigi di pinggiran nya.


Agahai melesat meninggalkan punggung kudanya, dari posisi ketinggian di udara.


Dia melepaskan sepasang Cakra bergerigi nya, menyerang Meng Huan dan Meng Han dari jarak jauh.


Sambil masih terbang di Udara, dia mengontrol kedua Cakra nya dengan tenaga dalam.


Agar bergerak mengejar kemanapun Meng Huan dan Meng Han menghindar.


Agahai dengan melayang di udara, dia bisa hindari penghadangan pasukan Qin.

__ADS_1


Meng Han yang paling duluan menjadi korban Cakra itu.


Tombaknya terbelah dua, saat di gunakan menangkis senjata Cakra Agahai.


Sebelum kemudian di susul dengan kepalanya, yang jatuh menggelinding di atas tanah.


"Adik Yu cepat pergi ,! laporkan keadaan di sini ke panglima..!"


teriak Meng Huan di detik detik terakhirnya.


"Trangggg,..!"


"Trangggg,..!"


"Krekkk,..!"


"Buukkk,..!"


Terdengar senjata Gada Labu beradu keras dua kali dengan Tombak Meng Huan.


Kemudian di susul dengan suara patahnya tombak Meng Huan, di hantam Gada Labu.


Kemudian Gada Labu dengan ganas menghujam dada Meng Huan, hingga dadanya melesak kedalam.


Tubuhnya terkapar di atas tanah diam tidak bergerak, dengan mulut terbuka berlumuran darah, dan sepasang mata melotot lebar lebar.


Sebelum tubuhnya kemudian mengejang dan nyawanya pun meregang meninggalkan tubuhnya.


Akhirnya membawa sisa pasukan nya, yang tidak sampai 5000 orang melarikan diri kembali ke benteng Yong.


Mangga yang ingin melakukan pengejaran, melihat kode dari Agahai.


Dia pun mengurungkan niatnya, membiarkan Meng Yu pergi begitu saja.


Agahai setelah menyimpan kedua Cakra ajaibnya, yang bisa membesar dan mengecil sesuka hati.


Dia menghampiri Mangga dan Tuli, lalu berkata,


"Biarkan dia dengan keadaannya yang menyedihkan pulang melapor."


"Dengan keadaan nya yang seperti itu, sisa pasukan Qin yang di kota Yong pasti akan pecah nyalinya."


"Ini akan memudahkan kita merebut kota itu, lalu bergerak ke selatan mencari daerah surga buat rakyat kita.."


ucap Agahai penuh semangat.


Mangga dan Tuli mengangguk kagum, menatap Agahai yang memilki kemampuan berpikir jauh kedepan.


Sekali ini mereka berhasil menang gemilang, juga tak terlepas dari peran Agahai, yang sengaja menempatkan pasukan lemah di bagian ujung belakang.


Untuk memancing pasukan Qin, yang seperti pasukan dari selatan umumnya, mereka hobby melakukan serangan membokong.

__ADS_1


Agahai sengaja membiarkan nya puas membokong, karena yang di tempat kan disana, bukanlah pasukan murni yang terlatih.


Tapi mereka adalah budak dan tahanan, yang di kenakan seragam pasukan Xiongnu.


Jadi kematian mereka sama sekali tidak berharga di mata Agahai.


Di mana bagi Agahai yang paling penting adalah bisa menghancurkan pasukan Qin, yang ingin membokong pasukan nya.


Begitu pertempuran pecah, Agahai sengaja mengutus Tuli dan Mangga, untuk memancing lebih banyak serigala menunjukkan dirinya.


Begitu semua nya keluar, dia baru datang bagaikan gelombang badai pasir, menyapu habis mereka semua nya.


Sementara itu Meng Yu dan sisa pasukan nya saat kembali ke benteng dalam kondisi menyedihkan.


Benar saja langsung membuat mental.pasulan Qin terganggu.


Apalagi saat tersebar kabar berita, bahwa 5 Jendral keluarga Meng yang berangkat, hanya tersisa satu yang pulang.


Kondisi mental pasukan Qin menjadi terombang ambing, tidak punya kepastian.


Mereka telah kehilangan fokus dan semangat bertempur.


Di tambah lagi dari awal mereka sudah tahu, mereka kalah sepuluh kali lipat dalam hal jumlah, ketimbang pasukan Xiongnu.


Hal ini semakin menambah nambah rasa jerih dan gentar di hati setiap pasukan Qin.


Meng Thian saja terduduk lemas dan lesu di kursi kebesaran nya, saat mendapat informasi kepulangan adik kandungnya, dalam kondisi babak belur.


Dia hanya bisa menatap sedih kearah adiknya, yang sedang berlutut sambil menceritakan kondisi kekalahan total mereka.


Guo Yun dan ketiga ajudannya yang hadir di sana, juga ikutan terenyuh melihat kondisi dan keadaan Meng Yu yang mengenaskan.


Rasa menyesal, bersalah, putus asa, patah semangat, terlihat jelas di sepasang mata Meng Yu yang kuyu.


Dia mirip seekor ayam aduan yang habis kalah adu di arena sabung ayam.


Bukan hanya fisiknya saja, yang babak belur, kondisi batinnya pun kini tidak kalah babak belurnya di banding kondisi fisik.


Guo Yun akhirnya maju membantu Meng Yu berdiri dan berkata,


"Menang kalah dalam pertempuran adalah hal biasa.."


"Yang paling penting adalah semangat untuk berperang mu tidak boleh kalah.."


"Bila kamu kalah sebelum bertanding, bagaimana kamu akan menghadapi keempat saudara mu, yang telah berkorban nyawa."


"Demi agar kamu bisa kembali,


untuk menyampaikan informasi kekuatan lawan kepada kita kita disini.."


"Kamu tidak boleh kecewakan harapan mereka pada mu.."

__ADS_1


"Kamu harus kuat, kondisi mu saat ini adalah kondisi yang paling ingin di lihat oleh Agahai.."


__ADS_2