LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MEMISAHKAN DIRI


__ADS_3

Di arena pertarungan Guo Yun melawan Lao Hu dan Lao Lung, mereka berdua baru sadar saat melihat asap tebal mengepul di arah kota Xian Yang.


Tapi melihat keadaan Guo Yun yang bersimbah darah dan sempoyongan.


Mereka merasa sayang untuk meninggalkan nya begitu saja.


Setelah mereka berdua saling pandang dan mengangguk, mereka berdua sepakat.


Mereka harus menangkap Guo Yun, untuk memaksa pasukan harimau hitam menyerah.


Mereka berpikir menangkap bandit harus di mulai dari rajanya, bila rajanya tertangkap.


Meski Xian Yang jatuh sekalipun, mereka tetap bisa membalikkan situasi dari kalah menjadi menang, asalkan Guo Yun ada di tangan mereka.


Mereka berdua terlalu meremehkan Guo Yun yang lihai dan penuh perhitungan.


Bila Guo Yun tidak punya perhitungan jelas, tidak mungkin dia berani memancing dan menghadapi mereka seorang diri.


Mereka tidak pernah menyangka, warna merah yang membasahi sekujur tubuh Guo Yun bukanlah darahnya.


Melainkan bungkusan cairan merah pewarna, yang sengaja di ikat di beberapa bagian rawan di tubuh Guo Yun.


Saat terkena serangan pembungkus pecah, otomatis merah lah seluruh tubuh Guo Yun.


Seperti mengalami pendarahan di sekujur tubuhnya.


Padahal aslinya Guo Yun baik baik saja,.langkah terhuyung-huyung pun sebagian karena terpengaruh sihir, sebagian lagi memang dia sengaja.


Guo Yun hanya sedang menunggu kesempatan.


Setelah sepakat Lao Lung dan Lao Hu hampir berbarengan membentak dan menatap tajam kearah mata Guo Yun.


"Robohlah, tangan dan kaki mu sudah terlalu lelah..!"


"Kini terasa kaku, tidak bisa di gerakkan..!"


Bentakan tersebut membuat Guo Yun seperti tersengat listrik, tubuhnya gemetaran.


Kemudian roboh kebelakang seperti sebatang pohon pisang ambruk.


Sepasang matanya mendelik keatas dan terpejam rapat.


Lao Hu dan Lao Lung tersenyum senang, mereka segera melesat mendekat ingin meringkus Guo Yun, yang sudah roboh diam tak bergerak.


Tapi baru saja tangan Lao Lung hendak menotok pundak Guo Yun, sedangkan Lao Hu bersiap dengan tali ingin mengikat Guo Yun.


Di luar dugaan dua berkas sinar merah biru melesat melewati kearah leher Lao Hu dan Lao Lung.


Sepasang ujung kaki Guo Yun juga dari arah samping, secara tak terduga menotok titik meridian Ji Quan yang terletak tepat di bagian ketiak mereka yang sedang terbuka.


"Deesss...!"


"Deesss...!"


"Crasssh...!"


"Crasssh...!"


Sebelum mereka berdua sadari, kepala Lao Hu dan Lao Lung langsung jatuh menggelinding di atas tanah.


Area bawah ketiak mereka, yang merupakan titik meridian Ji Quan tertotok.


Secara otomatis seluruh tubuh mereka kaku, karena titik Meridian jantung mereka berdua tergetar hebat.


Di saat kekakuan menyerang cahaya merah biru lewat di leher mereka.


Tanpa bisa melakukan apa apa karena semua terjadi di luar dugaan dan terlalu cepat.


Sepasang Naga dan harimau Xian Yang yang gagah perkasa, harus tewas mengenaskan di tangan Guo Yun.


Sebelum mereka menyadari kekeliruan mereka, yang terlalu antusias, sehingga masuk dalam jebakan Guo Yun.


Strategi militer adalah sesuatu yang tanpa ampun, tidak kamu mati aku binasa.


Jadi begitu di terapkan, tujuannya hanya satu kemenangan mutlak.


Kini kedua pemuda yang sebenarnya secara kemampuan mereka masih sedikit diatas Guo Yun, mereka harus merasakan pahit getirnya jebakan yang Guo Yun siapkan untuk mereka.


Guo Yun hanya pura pura terpengaruh, padahal tidak karena tiga titik di telinganya, titik Tian You, Yi Feng, Chi Mai sudah dia kunci.


Sehingga Guo Yun sudah tuli, sebelum mereka membentaknya, sedangkan dengan sepasang mata mendelik keatas dan terpejam.


Guo Yun juga tidak melihat sana sekali mata mereka yang memilki kekuatan magis.


Sedangkan pergerakan Guo Yun, sepenuhnya hanya mengandalkan naluri, Indra mata batinnya saja.


Hasil.latihan Guo Yun semalam suntuk di dalam kemahnya, sebelum datang menantang Lao Hu dan Lao Lung.


Semua ini ada tercantum dan dijelaskan di dalam kitab pusaka rahasia alam semesta peninggalan gurunya Kui Zi Sian Seng.


Setelah berhasil membunuh Lao Hu dan Lao Lung, Guo Yun menggunakan Wu Ying Ru Tian melesat kearah kota Xian Yang.


Sambil menenteng sepasang kepala Lao Hu dan Lao Lung di tangannya.


Sesampainya di kota Xian Yang, di mana terlihat pasukan harimau hitam, sedang mengurus pasukan Qin yang sudah menyerah.


Guo Yun langsung meneruskan langkahnya, melesat menuju istana kerajaan Qin.


Sampai di sini Guo Yun juga melihat pintu benteng istana porak poranda.


Guo Yun pun tersenyum, dia bisa menduga itu pasti perbuatan adik keduanya yang garang.


Tidak mau ribet maunya cepat cepat selesai, agar bisa bebas minum arak.kegemarannya.


Guo Yun kembali melanjutkan dengan melesat kearah istana, di halaman depan sana saat Guo Yun tiba.


Dia melihat seorang Jendral yang berpakaian bangsawan mentereng.


Memimpin 5000 ribu pasukan elite penjaga istana, menghadang di depan anak tangga, yang menuju langsung ke pintu utama bangunan istana kerajaan Qin.


Guo Yun beberapa kali memasuki istana ini, jadi dia sudah tidak asing lagi.


Sedangkan di halaman depan istana terlihat Li Ba memimpin 8 jendral yang membawahi ratusan ribu pasukan harimau hitam.


Memenuhi halaman depan istana yang sangat luas dan memanjang.


Guo Yun mendarat ringan di samping Li Ba dengan kondisi badan bersimbah darah.


Mengagetkan Li Ba juga kedelapan jendral di belakang Li Ba.


Mereka semua menatap cemas kearah Guo Yun.


"Kakak kamu tidak apa apa kan..?"


tanya Li Ba cemas.


Guo Yun tersenyum lebar dan berkata,


"Aku tidak apa apa ini cuma pewarna kain saja.."


Mendengar Jawaban Guo Yun, Li Ba dan ke 8 jendral nya langsung menghembuskan nafas lega.


Sebaliknya Jendral yang berpakaian mewah, mirip bangsawan itu terlihat pucat dan tangannya yang memegang sebatang pedang bertahtakan berlian di gagang emasnya.


Dia terlihat gemetaran, menatap kearah sepasang tangannya, yang sedang menenteng dua kepala.


Di mana dia langsung mengenali, itu adalah kepalanya dua jendral andalannya, juga merupakan dua adik termudanya.


Melihat keadaan dua orang andalan nya telah bernasib seperti itu, seketika semangat dan nyalinya langsung terbang ke awang awang.


Guo Yun melempar dua kepala di tangan nya, menggelinding kedepan kaki pria berpakaian mentereng.


Guo Yun menduga inilah orang bernama Lao Ai, manusia berpistol.panjang, kuat gagah perkasa.


Hingga seorang Ibunda ratu bisa tergila gila di bawah pengaruhnya, hingga memberikan begitu banyak anugerah.


Bahkan melengserkan putra kandungnya yang menjadi pewaris tahta yang sah.


Pria berbaju mentereng itu benar adalah Lao Ai adanya.


Melihat kepala kedua adiknya di jadikan mainan di lempar begitu saja.


Dia buru buru memeluk kedua kepala tersebut dan berteriak marah,


"Serang habisi mereka semuanya..!"


"Hadiah ribuan Tael menanti..!"


Bentak Lao Ai memberi semangat.


Tapi pasukan elite istana melihat kearah pasukan harimau hitam dan para pemimpinnya dengan wajah tegang.


Mereka terlihat ragu ragu untuk bertindak.


Mereka sedang menimbang nimbang untuk menyerah atau mati konyol.


Akhirnya beberapa komandan pasukan melempar senjata mereka kedepan dan berkata,


"Tranggg,..,! Klontanggg....!"


"Kami menyerah..!"


Gerakan para komandan itu dengan cepat di ikuti oleh pasukan penjaga istana lainnya.


Akhirnya semua pasukan itu melemparkan senjata mereka kedepan.


Mereka memilih menyerah, dari pada mati konyol.demi burungnya, Ibunda ratu yang bejad .

__ADS_1


Setelah melihat pasukan pengawal istana Qin sudah menyerah.


Guo Yun tanpa menoleh berkata,


"Ringkus dia dan kirim Ibunda ratu Zhao Ji juga ikut dengan nya."


"Masukkan kedalam penjara bawah tanah, di istana ini.."


Perintah sudah turun, pasukan harimau hitam segera bergerak maju dengan tameng dan tombak teracung kedepan.


Lao Ai yang terkepung, tanpa memberikan perlawanan, langsung melemparkan pedang mewah, hadiah dari Ibunda ratu untuk nya.


Pedang yang sangat indah itu, langsung jatuh berkerontangan di atas lantai halaman istana.


Guo Yun yang merasa sayang memberi kode ke pengawal nya, untuk di bawakan kepadanya.


Salah satu pengawal yang bergerak menahan Lao Ai, langsung mengambil pedang itu.


Lalu dengan penuh hormat dia menyerahkan kepada Guo Yun, dalam posisi berlutut.


Sedangkan kedua tangannya mengangkat pedang itu diatas kepalanya, untuk di serahkan ke Guo Yun.


Guo Yun hanya mengibaskan pelan tangannya, pedang itu langsung masuk kedalam cincin penyimpanan nya.


Barisan pasukan harimau hitam yang terbagi dalam beberapa kelompok langsung bergerak.


Sebagian mengurus pasukan pengawal.istana yang menyerah.


Sebagian lagi langsung menerobos masuk kedalam istana.


Guo Yun tidak terlalu memperhatikan istana itu, dia terlalu tertarik untuk masuk kedalam untuk memeriksa hasil penahlukkan nya itu.


Dia dengan tenang menoleh kearah Li Ba dan kedelapan Jendral nya.


"Kirimkan berita ke Guiji, Agar segera mengirim orang untuk menjalankan tugas di sini.."


"Kita sendiri segera melakukan persiapan menuju Hua Rong Tao.."


"Begitu terima kabar pergerakan dari pasukan Lu Bu Wei, kita segera berangkat.."


ucap Guo Yun memberi perintah


'Siap yang mulia..!"


jawab ke 8 Jendral itu kompak.


Sedangkan Li Ba hanya menganggukkan kepalanya saja.


Setelah ke 8 jendral itu mundur pergi menjalankan tugas dan memimpin pasukan mundur dari sana.


Li Ba sambil.tersenyum lebar berkata,


"Kak,.. kakak tahu tidak lokasi penyimpanan arak istana...?"


Guo Yun sambil menahan senyum menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak tahu, tapi beberapa banci itu pasti tahu.."


"Kamu tanya aja ke mereka,. mereka pasti akan mengantar mu menemukannya.."


ucap Guo Yun sambil menunjuk kearah beberapa orang tahanan yang bergaya kemayu.


Li Ba sambil tertawa gembira, dengan langkah kaki lebar, dia menghampiri beberapa Kasim yang terlihat ketakutan.


"Hei kalian siapa yang tahu, dimana letak tempat penyimpanan gudang arak istana..!*


Suara bentakan Li Ba yang terdengar menggelegar membuat 2 diantaranya langsung semaput.


3 lainnya langsung basah celana mereka, hingga lantai tempat mereka berdiri jadi basah dan becek.


Hanya sisa satu orang yang terlihat tenang, dia berkata cepat.


"Aku tahu tuan besar, biar hamba antarkan kesana.."


Li Ba sambil tertawa gembira, langsung mengikuti Kasim itu mengantarnya menuju ruangan spesial penyimpanan arak.


Sementara Guo Yun dengan gerakan santai membalikkan badannya, hendak meninggalkan tempat tersebut.


"Yang Mulia tunggu..!"


Teriak salah satu komandan pasukan harimau hitam, berlari menghampiri Guo Yun dan berkata,


"Maaf Yang Mulia, para gadis di istana belakang itu, apa kami seleksi yang terbaik di kirim ke kemah Yang Mulia..?"


"Sisanya di bagikan kepada para anggota kita..?"


Mendengar pertanyaan tersebut, Guo Yun seketika menghentikan langkahnya.


Sepasang matanya berkilat penuh amarah.


Guo Yun langsung teringat dengan kematian Xiao Tie yang malang.


Begitu melihat ekspresi wajah tuan nya, komandan itu langsung tahu dirinya salah bertanya.


Dia langsung menjatuhkan diri berlutut dengan dahi menempel tanah bersujud di hadapan Guo Yun.


Dia adalah komandan mantan pasukan Qin, yang menyerah saat kota mereka di tahlukkan.


Dia bukan asli pasukan yang sudah lama ikut dengan Guo Yun, jadi dia belum paham dengan sifat Guo Yun.


Akibat terlalu bernafsu, menjarah istana bagian belakang yang biasanya di jaga ketat dan terlarang.


Karena area itu selain Ying Zheng dan para Kasim khusus, tidak ada yang boleh kesana.


Area itu adalah pusat wanita cantik di seluruh wilayah tahlukkan Qin, tentu saja menyimpan segudang wanita cantik di sana.


Itu adalah tempat yang sangat menarik selain gudang harta kerajaan.


Tapi membahas hal itu ke Guo Yun, dia telah salah alamat.


Melihat sikap yang di tunjukkan oleh komandan itu, Guo Yun pun sadar akan kekeliruannya.


Dia akhirnya menghela nafas dan berkata pelan,


"Istana belakang wanita di sana, satupun tidak boleh di sentuh.."


"Di larang keras memasuki wilayah istana belakang, kecuali yang bertugas menangkap Ibunda ratu Zhao Ji."


"Sisanya tunggu di luar..!"


"Mengerti..?"


"Hamba mengerti yang mulia.."


jawab komandan itu ketakutan.


"Satu lagi tolong sampaikan ke yang lain gudang harta juga terlarang, harus menunggu pejabat dari Guiji datang mendata hingga selesai.."


"Baru bisa diputuskan harta itu mau di alokasikan ke mana.."


ucap Guo Yun tegas.


"Siap Yang Mulia.."


jawab komandan itu cepat.


"Siapa nama mu ?"


"Kamu di bawah jendral siapa ?"


tanya Guo Yun.


"Nama ku Kho Cung Cung,.aku di bawah Jendral Lim.."


jawab komandan itu cepat


"Baik kamu bertanggung jawab atas kedua hal.diatas.."


"Bila ada kesalahan hati hati dengan kepala mu.."


ucap Guo Yun dingin.


"Siap laksanakan Yang Mulia.."


ucap komandan itu, yang diam diam mengutuk kesialan dirinya.


Gara gara terlalu kepo, kini dia jadi ada di posisi rawan.


Sedikit saja ada kesalahan di kedua tempat itu mampuslah dia.


"Pergilah jalankan tugas mu.."


ucap Guo Yun dingin.


Komandan itu langsung buru buru meninggalkan tempat itu memberi perintah sambil menunjuk kesana kemari.


Memberikan delegasi wewenang kepada para anggotanya, untuk berpencar menjalankan tugas.


Sedangkan dirinya sendiri terburu buru berlari kearah istana belakang, untuk melakukan pengawasan dan penertiban.


Guo Yun sendiri terlihat melangkah pelan meninggalkan kompleks istana.


Dia terus bergerak menuju kediaman lama nya, di mana di sana ada makam Pangeran Ji Ao, Gongsun Yan dan Xiao Tie.


Guo Yun saat melewati kota yang terlihat sepi, dia menggedor pintu toko, yang menjual peralatan sembahyang.


Beberapa saat menggedor, akhirnya pintu itu terbuka sedikit dari dalam.

__ADS_1


Sesosok wajah pemilik toko yang terlihat penuh ketakutan muncul di sana.


Dia menatap kearah Guo Yun dengan sikap takut takut.


Guo Yun mengeluarkan sekantung uang dan berkata,


"Jangan khawatir, aku kemari hanya ingin membeli perlengkapan sembahyang untuk 3 orang.."


"Bila ada personil kami yang melakukan gangguan, boleh langsung laporkan pada ku.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum ramah dan menyerahkan sekantung uang itu kepada pemilik toko itu.


Pemilik toko menerima dan memeriksa isi nya, dengan tatapan mata kaget.


Dia kembali menatap Fei Yang dan berkata,


"Ini terlalu banyak, aku tidak bisa menerimanya.."


"Aku akan bantu ambilkan dulu peralatannya, tuan harap tunggu sebentar.."


ucap pemilik toko buru buru menutup pintu.


Lalu dia mulai menyiapkan 3 paket besar buat Guo Yun.


Setelah selesai semuanya, dia baru membuka pintu toko, agar bisa mengeluarkan barang barang nya.


Di letakkan di hadapan Guo Yun, dan berkata,


"Semuanya 5 Tael perak.."


Guo Yun sambil tersenyum menaruh kantung di tangan nya kebalik pintu dan berkata,


"Ambillah itu, anggap saja ganti rugi tidak bisa membuka toko."


Setelah itu Guo Yun langsung berjalan pergi dari sana, sambil membawa tiga keranjang yang berisi 3 paket alat sembahyang.


Pemilik toko langsung berlutut menyembah kearah Guo Yun dan berkata,


"Terimakasih banyak tuan..!"


"Terimakasih, biarlah Thian yang akan membalas kebaikan anda ."


Guo Yun tidak menanggapinya, dia hanya terus berjalan menuju kediaman lama nya.


Akhirnya Guo Yun tiba di sebuah gedung besar yang sepi dan kurang terawat.


Guo Yun langsung mendorong pintu utama gedung yang tidak terkunci.


Dia kemudian dengan sikap tenang melangkah masuk kedalam.


Melihat keadaan di dalam sana yang kotor dan tak terurus.


Guo Yun hanya menghela nafas panjang dan terus melangkahkan kakinya hingga tiba di halaman samping yang terlihat penuh dengan rumput liar setinggi dada manusia.


Guo Yun meletakkan peralatan sembahyang, menyingsingkan lengan bajunya keatas.


Lalu dia mulai membabat rumput dan membersihkan area di samping taman itu.


Beberapa waktu berlalu akhirnya tempat itu terlihat bersih kembali.


Tumpukan rumput liar yang tidak jauh dari sana, terlihat di bakar oleh Guo Yun.


Ai dan asap membumbung ke udara dari halaman samping.


Membiarkan tumpukan rumput dan tanaman liar terbakar, Guo Yun sendiri mulai menyiapkan peralatan sembahyang di depan dua makam.


Makam pertama adalah makam Gongsun Yan da pangeran Ji Ao yang di jadikan menjadi satu makam.


Makam kedua adalah makam Siau Tie dan makam ayahnya.


Setelah menyiapkan 3 paket alat sembahyang Guo Yun pun berlutut di sana menyembahyangi 3 makam itu.


"Pangeran Ji Ao, maafkan Yun er yang tidak bisa memenuhi janji menjaga kerajaan Lu tetap berdiri.."


"Harap pangeran Ji Ao bisa beristirahat dengan tenang di sana."


"Guo Yun sudah membantu membalaskan dendam pangeran pada kerajaan Chu, juga pada beberapa orang suruhan kerajaan Chu itu.."


Selesai berkata, Guo Yun memberi hormat dengan membenturkan dahinya diatas tanah.


Setelah itu Guo Yun kembali berkata,


"Kakak ipar Yan, aku bersumpah akan menjaga dan melindungi Li er dengan baik, kakak tenanglah di sana.'


"Aku juga sudah merampas Xian Yang dari Yin Zheng, sayangnya dia telah menghilang.."


"Tapi aku berjanji akan segera mencarinya untuk membalaskan dendam kakak.."


ucap Guo Yun lalu dia kembali memberi hormat dengan membenturkan dahinya keatas tanah.


Guo Yun kini berpindah ke makam Siau Tie dan ayahnya.


"Siau Tie paman terimakasih atas pengorbanan kalian untuk keselamatan istri ku.."


"Budi ini seumur hidup Guo Yun tidak akan pernah lupa.."


"Kalian beristirahat lah dengan tenang, Guo Yun berjanji pasti akan membalaskan dendam kalian, pada si bangsat Yin Zheng.."


Setelah berkata, Guo Yun kembali memberi hormat dengan membenturkan dahinya keatas tanah.


Guo Yun kemudian mulai membakar kertas sembahyang di ketiga makam sederhana itu.


Selesai dari sana, Guo Yun memilih membersihkan kamar yang pernah menjadi kamar pengantinnya bersama Gongsun Li.


Lalu Guo Yun tidur dengan tenang melepaskan seluruh rasa lelah yang menghinggapi jiwa dan raganya.


Saling asyiknya Guo Yun tidur saat matahari naik tinggi, di mana pintu kamar tersebut di ketuk dari luar.


Guo Yun baru bangun dari tempat tidurnya, mengenakan jubah luarnya.


Baru membuka pintu, melihat siapa di luar sana.


"kakak lihat, ini informasi dari mata mata garis depan kita di Hua Rong Tao.."


"Target terlihat mulai bergerak, meninggalkan kota Da Liang, sedang menuju Hua Rong Tao."


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Baiklah, mari kita bersiap berangkat kesana.. memberikan sambutan meriah untuk nya.."


"Usahakan jangan sampai kabar kejatuhan kota Xian Yang terdengar olehnya.."


"Isolasi kota Xian Yang, regu pemanah harus perhatikan, bila ada burung merpati, yang hendak terbang keluar dari Xian Yang.."


Kita bawa berapa personil ? jendral siapa saja yang kita bawa..?"


tanya Li Ba ke Guo Yun untuk memastikannya.


"300.000 pasukan mu, yang di pimpin oleh Lim, Guan, Xing, Fu. lebih dari cukup.."


"Sisanya, biarkan mengamankan kota Xian Yang.."


ucap Guo Yun.


"Baik kak.."


"Kalau begitu aku pergi dulu.."


ucap Li Ba memberi hormat kemudian mengundurkan diri dari sana.


Setelah Li Ba pergi tak lama kemudian Guo Yun juga pergi dari kediaman lamanya.


Dia bergerak menuju gerbang timur, untuk berkumpul dengan pasukannya.


Menjelang sore, ratusan kapal layar terlihat berlayar meninggalkan kota Sian Yang.


Mereka bergerak menyusuri sungai Huai, bergerak kearah timur.


Guo Yun dan Li Ba terlihat hadir di salah satu kapal yang berlayar di paling depan di ikuti oleh ratusan kapal layar lainnya.


Beberapa hari menyusuri sungai Huai, pagi itu di sebuah belokan tajam.


Persimpangan antara sebuah aliran anak sungai kecil.dengan jalur utama induk aliran sungai Utama.


Guo Yun yang berdiri di anjungan kapal melihat tempat yang familiar itu.


Dia langsung memberi kode agar kapal berhenti bergerak.


Secara berantai kode di berikan hingga ke kapal bagian paling belakang.


Agar menghindari tabrakan sendiri, kapal berhenti di mulai dari barisan paling belakang, perlahan-lahan barisan depan mengikuti nya.


Setelah kapal berhenti dengan teratur hingga barisan terdepan di mana Guo Yun berada.


Di kapal Guo Yun berada, di dalam sebuah ruangan terlihat Guo baru saja selesai memberikan pengarahan kepada Li Ba dan keempat Jendral nya.


Sesaat kemudian terlihat kapal besar kembali melanjutkan perjalanan.


Dari kapal terdepan, terlihat sebuah perahu kecil bergerak memisahkan diri.


Memasuki lintasan aliran sungai kecil.


Di dalam perahu kecil itu yang mengendalikan pergerakannya adalah Guo Yun sendiri.


Guo Yun tidak mengatakan dia ingin kemana, dan mau apa..


Bahkan Li Ba pun tidak mengetahuinya dan tidak berani bertanya banyak pada kakak pertama nya.

__ADS_1


Dimana terkadang memang suka berlaku misterius.


__ADS_2