LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MENYERANG GUIJI


__ADS_3

Komandan itu berkata dengan sedikit ragu,


"Baiklah tapi ini tidak ada kaitannya dengan tugas ya."


"Tugas tetap adalah tugas, kamu tidak boleh minta saya melonggarkan apalagi sampai melanggar peraturan.."


ucap komandan itu mengingatkan dengan sedikit ragu.


Kapten kapal itu menggandeng tangan komandan pasukan harimau hitam itu dan berkata,


"Tuan besar tenang saja, ini adalah undangan persahabatan tulus, tidak ada embel embel lainnya.."


"Mari lewat sini.."


ucap kapten kapal itu dengan sikap ramah menarik tangan komandan pasukan harimau hitam untuk duduk menghadap sajian beraneka ragam masakan yang lezat lezat.


"Ayo silahkan tuan besar, ini memang di siapkan khusus untuk mu.."


"Mari kita nikmati, anggap saja rumah sendiri.."


"Jangan sungkan.."


ucap kapten kapal itu sambil membantu mengambilkan lauk kedalam mangkuk, milik komandan pasukan harimau hitam itu.


Dia juga dengan sigap melayani mengisi cawan komandan itu dengan minuman anggur merah.


Komandan itu awalnya sedikit sungkan, tapi beberapa saat dia mulai terbiasa tidak bersungkan lagi.


Sikap kapten kapal yang sangat ramah itu, membuat dia merasa sangat nyaman.


Mulai terbawa suasana yang di ciptakan oleh kapten kapal itu.


Beberapa saat kemudian di mana perutnya sudah terpuaskan, dia dan kapten kapal, kini hanya sedang mengobrol santai, sambil menikmati minuman anggur merah yang manis.


Dari arah pintu terlihat seorang prajurit bawahan si komandan melangkah masuk kedalam ruangan tersebut dan berkata,


"Lapor komandan kami sudah periksa kapal hanya berisi kain arak dan ransum makanan."


"Hanya bagian bawah lambung kapal, yang kami tidak bisa masuk melakukan pemeriksaan.."


"Karena tertutup oleh tumpukan ransum makanan.."


Komandan itu menoleh kearah kapten kapal dan berkata,


"Teman, bisakah minta anak buah mu, untuk pindahkan ransum agar mereka bisa masuk memeriksanya..?"


Kapten kapal itu tersenyum canggung dan berkata,


"Sebenarnya ini sulit, bila ransum yang sudah tersusun rapi, di pindah pindahkan.."


"Ransum itu sendiri akan tercecer, isinya jadi berkurang.."


"Para pembeli dan pedagang tentu akan protes menyalahkan kami.."

__ADS_1


"Tapi baiklah demi kenyamanan tuan besar dalam jalankan tugas, kami hanya bisa mengikuti saja.."


"Mari kita lihat kesana saja.."


ucap kapten kapal itu sambil bangkit berdiri, lalu dia melangkah keluar dari bilik kapal.


Kapten kapal langsung menghampiri lokasi tumpukan ransum.


"Kalian pindahkan ransum kesebelah sini, agar jalan menuju lambung kapal bisa di buka.."


ucap kapten kapal memberi perintah kepada anak buah kapal nya.


Tanpa banyak membantah anak buah kapal langsung bekerja memindahkan satu persatu karung berisi ransum makanan itu, kesisi lain.


Setelah pintu yang terletak di lantai kapal terlihat, mereka pun membuka nya.


Setelah terbuka lebar, kapten kapal yang turun duluan kebawah sana dan berkata,


"Tuan lihatlah, di bawah sini kotor dan bau, di sini tidak ada apa apa, selain tumpukan arak simpanan.."


"Ini buat tuan saja untuk di bawa dan di nikmati di pos sana.."


ucap kapten kapal sambil mengeluarkan puluhan guci arak berukuran besar.


Komandan pasukan harimau hitam dan anak buahnya saling pandang.


Mereka benar benar tergiur melihat guci guci arak tua itu.


Di lubuk hati tentu saja mereka sangatlah tertarik, tapi mereka ragu ragu menerimanya.


Dia pun berkata,


"Mana bisa kita membuat teman jadi rugi, ini kan barang dagangan.."


"Bagaimana bila aku bayar saja..?"


Kapten kapal kembali melompat keluar dari lambung kapal dan berkata,


"Tuan jangan khawatir, ini hanya bonus dari pedagang arak yang meminta kami mengirimkan barang untuk mereka.."


"Arak bagus tentu sangat cocok untuk mendampingi tuan tuan yang gagah perkasa ini.."


"Bawalah jangan menolaknya lagi.."


ucap kapten kapal ramah.


"Baiklah..kalau begitu Kami tidak akan bersungkan lagi terimakasih banyak.."


ucap komandan pasukan itu cepat.


Lalu dia memberi kode ke bawahannya untuk membawa guci guci arak itu pergi dari tempat itu.


Dia sendiri menyusul di belakang meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Rombongan itu langsung meninggalkan kapal besar itu, kembali ke dermaga di mana pos jaga mereka berada.


Seandainya mereka tidak tergoda oleh arak, mau turun kebawah lambung kapal untuk melakukan pemeriksaan yang lebih teliti.


Tentu saja cerita akan menjadi lain, mereka pasti akan menemukan ribuan pasukan Qin, yang bersembunyi di sana dengan senjata lengkap.


Mungkin saja mereka tidak akan selamat, tapi rekan rekan mereka di dermaga dan ibukota, tentu akan bersiaga dan berdatangan memberikan bantuan.


Strategi Wang Jian dan Wang Ben tentu akan gagal total.


Di dermaga Wu Jun juga terjadi hal yang sama, mereka juga berhasil mengelabui petugas pemeriksa.


Menjelang tengah malam pasukan Qin mulai bergerak keluar dari lambung kapal.


Mereka dengan gerakan cepat menyerang pos pos jaga di dermaga.


Para pasukan penjaga di dermaga yang habis pesta arak, mereka pada teler dan tertidur pulas malang melintang di dalam maupun diluar pos jaga.


Dengan mudah di habisi oleh pasukan Qin yang bergerak cepat mengamankan pos pos penting di kedua dermaga itu.


Setelah berhasil mengamankan pos pos jaga di dermaga, mereka melepaskan kembang api ke udara.


Sebagai sinyal bagi pasukan besar Wang Jian dan Wang Ben untuk merapat ke dermaga.


Menjelang subuh seluruh pasukan Qin yang berjumlah 400.000 personil, di bawah pimpinan Wang Jian dan Wang Ben sudah membentuk pertahanan di dermaga.


Mereka sudah menguasai dermaga sepenuhnya bersiap siap bergerak untuk menyerang ibukota Guiji dari dua arah pintu gerbang.


Mereka menarget pintu gerbang timur dan Utara yang terdekat dengan posisi mereka.


Sebelum pasukan besar bergerak, terlihat ratusan orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup kain hitam.


Mereka bergerak lincah, berkelebatan di tengah suasana gelap dan sunyi di malam itu.


Kelompok manusia berpakaian hitam itu bergerak mengikuti 3 orang pimpinan mereka, yang bergerak di bagian paling depan.


Dengan gerakan ringan mereka melompati dinding tembok kota Guiji.


Begitu tiba di atas benteng kota, dengan pedang terhunus dengan gerakan seperti kilat mereka membantai pasukan jaga di atas benteng kota.


Pasukan penjaga yang tidak siap dan sedang tidur melengut bersandar di dinding dengan mudah mereka habisi tanpa perlawanan.


Baru saat mereka berhadapan dengan petugas patroli, mereka sempat terhenti langkahnya.


Sempat terjadi bentrokan kecil, tapi karena mereka rata rata memilki ilmu pedang yang sangat baik.


Dalam sekejab saja, pasukan patroli yang berjumlah 20 personil, tewas mereka bantai dengan sangat cepat.


Kejadian berlangsung begitu cepat hingga pasukan patroli belum sempat memukul Kentungan bahaya.


Mereka sudah tewas terbantai semua.


Tiga pemimpin kelompok pasukan pakaian hitam itu, memimpin anak buah mereka bergerak menuruni tangga sebelah dalam tembok benteng kota.

__ADS_1


Mereka dengan cepat bergerak menuju pos jaga di balik pintu gerbang kota.


__ADS_2