
Mereka berempat tiba-tiba menarik mundur Pasukannya, mereka malah bergerak mundur menjauh.
Guo Yun yang berada di tengah tengah kepungan barisan pasukan Tameng hanya tersenyum pahit.
Dari pergerakan mereka, Guo Yun sadar, dia telah di khianati oleh keempat Jendral yang pura pura tahluk padanya itu.
Mungkin dari ke 7 Jendral yang menyerah kepada nya hanya 2 yang bisa di percaya, 4 sudah berkhianat.
Sisa satu Jendral Yong, Guo Yun masih belum bisa menebak apa orang itu juga adalah pengkhianat, atau memang benar tulus mengabdi padanya.
Sebelum terbukti, Guo Yun tidak akan mencurigai nya.
Seperti keempat orang ini, meski Guo Yun sudah curiga, tapi dia masih memberi mereka kesempatan.
Fan Kuai dari tengah tengah barisannya berteriak lantang,
"Jendral Nan Jendral Wen, sebaiknya menyerahlah jangan bandel lagi..!"
"Ikuti saja jejak keempat rekan mu yang lainnya..!"
"Atau kalian semua akan binasa di sini secara sia sia..!"
"Mimpi kamu ! kami lebih baik mati daripada mengkhianati si Topeng Emas yang berjasa pada kami..!"
balas Jendral Nan dan Wen sambil terus memutar tombak di tangan mereka.
Menghabisi para pengepung yang berada di sekitarnya.
"Ha...ha..ha..ha..ha..!"
"Dasar dungu..! kalau begitu mampuslah kalian..!"
teriak Fan Kuai sambil tertawa.
Tapi suara tertawanya, tiba tiba hilang, saat melihat kepala Jendral Sia Yan Zhang dan Meng jatuh menggelinding di atas tanah.
Di penggal oleh ajudan mereka sendiri.
Setelah memenggal kepala keempat Jendral itu, ajudan mereka berteriak keras.
"Hidup Topeng Emas,.. hidup topeng emas..!"
"Hidup.Yang Mulia Raja Yue...!"
"Serbu...!"
Selesai berteriak mereka memimpin seluruh pasukan harimau hitam yang tersisa bergerak maju menyerang pasukan Qin.
Fan Kuai sedikit pucat melihat hasil yang di luar dugaan ini.
Soalnya dia mendapat informasi dari Lu Bu Wei.
Bahwa selain Jendral Nan Wen dan Yong, sisanya adalah orang yang emang sengaja di susupkan nya, untuk menjebak Guo Yun.
Guo Yun sambil melepaskan tebasan sapu jagad membuka kepungan untuk mendekati Fan Kuai, dia berkata.
"Lu Bu Wei terlalu meremehkan ku, sejak di dermaga Shoucun, aku sudah mengawasi mereka berempat.."
"Aku hanya tidak mau menegur dan membongkar kedok mereka saja."
"Aku ingin menunggu tindakan nyata mereka baru menghukumnya.."
"Nah sekarang bersiap siap lah kamu menyusul mereka..!"
__ADS_1
bentak Guo Yun keras.
"Wussss...!"
"Singggg,..!"
Seberkas sinar merah yang mengandung hawa langit dan bumi.
Melintasi para pengepungnya.
"Brakkkk,..!"
"Cresss..!"
"Arggghh..!"
Teriak para pengepung itu sebelum tumbang dengan tubuh terbelah dua.
Cahaya itu belum berhenti, masih terus bergerak hingga menerjang kearah Fan Kuai.
Fan Kuai buru buru menggunakan golok Naga nya untuk menangkis hawa pedang Guo Yun yang datang.
"Kreekk..!"
"Ceeesss..!"
Fan Kuai berdiri terdiam di tempat, golok Naga di tangan nya telah potong menjadi dua.
Sesaat kemudian dari bagian lehernya menyemburkan darah segar.
Sebelum akhirnya kepala Fan Kuai menggelinding miring ke bawah, jatuh tergeletak di atas tanah.
Baru disusul dengan tubuh nya yang ambruk keatas tanah, seperti sebatang pohon pisang yang di tebang.
Dengan tewasnya Fan Kuai, perlawanan pasukan Qin menjadi kacau balau.
Bentak Guo Yun dengan suara menggelegar, seperti suara geledek menyambar.
Sehingga semua pihak sesaat sama sama menahan senjata.
"Dengarlah,.. aku berikan kesempatan bagi yang menyerah lemparkan senjata kalian..!'
"Bagi yang ingin bertahan, aku akan pastikan kalian menyusulnya..!"
ucap Guo Yun sambil menghentakkan kakinya keatas tanah.
Kepala Fan Kuai tiba tiba mencelat keudara, melayang di sana.
Bisa di lihat semua orang, sebelum akhirnya meledak di udara hancur berkeping-keping.
Ancaman Guo Yun membuat sebagian besar pasukan Qin melemparkan senjata mereka.
Sisanya melarikan diri kearah kota Cai, untuk meneruskan perlawanan dengan bertahan di sana.
"Jendral Wen tolong urus mereka yang menyerah, mereka akan membantu kita merebut kota Cai."
ucap Guo Yun memberi arahan.
"Siap Yang Mulia.."
jawab Jendral Wen penuh hormat.
Setelah itu Guo Yun menoleh kearah keempat ajudan Jenderal pengkhianat Sia Yan Zhang dan Meng.
__ADS_1
"Ajudan Lim, Guan, Xing, Fu. atas jasa besar dan kesetiaan kalian.."
"Mulai saat ini juga, kalian berempat ku angkat menjadi Jendral, menggantikan posisi atasan kalian."
"Terimakasih Yang Mulia.."
ucap keempat Jendral baru itu, sambil berlutut memberi hormat kearah Guo Yun.
"Bangunlah kalian semuanya, aku memerlukan kalian memimpin mereka.."
ucap Guo Yun sambil membantu mereka berempat bangun satu persatu.
"Siap Yang Mulia.."
jawab mereka berempat kompak.
Lalu mereka berempat langsung bergerak mundur untuk memimpin barisan pasukan mereka masing masing.
"Aduk kui adik Ba, semua pasukan tahlukkan itu kalian bantu latih, setelah itu serahkan ke Jendral Nan dan Wen, biar mereka menjadi pimpinan nya."
ucap Guo Yun sambil menatap kearah Li Ba dan Li Kui secara bergantian.
"Siap kak.."
jawab Li Ba dan Li Kui kompak.
"Sekarang kita bikin kemah di bukit sana, besok pagi kita baru memasuki mencoba mengambil alih kota Cai."
ucap Guo Yun sambil menunjuk kearah sebuah dataran yang agak tinggi di depan sana.
"Siap kak.."
jawab Li Kui dan Li Ba kompak.
Setelah berpesan, Guo Yun melompat keatas punggung kudanya.
Lalu menggerakkan kudanya langsung menuju kearah bukit.
Menyerahkan urusan di tempat itu di atur oleh Li Kui dan Li Ba.
Guo Yun sendiri setelah sampai di atas bukit, dia mengambil posisi duduk di bawah sebatang pohon yang besar dan rindang.
Guo Yun menggelar sebuah peta diatas tanah, memperhatikan beberapa kota yang akan menjadi target nya nanti.
Kota Cai di lewatkan Guo Yun, karena kekuatan kota itu sudah dia patahkan.
Kini yang dia tuju adalah kota Chen dan kota Dan Yang, kota terdekat yang berbatasan langsung dengan Xuan Yang, hanya di pisahkan oleh sungai Huai.
Asal menyeberangi sungai itu dari pelabuhan kota Dan Yang, pasukan Guo Yun akan langsung mendarat di ibukota Xian Yang.
Ibukota kerajaan Qin, di mana Ying Zheng bertahta.
Selagi Guo Yun sedang larut memperhatikan peta di hadapannya.
Seorang nenek melayang turun dari udara,.mendarat ringan seperti sehelai bulu di atas tanah.
"Aku mencari mu kemana mana, akhirnya malah bertemu di sini.."
ucap Nenek itu dengan suara yang mirip iblis dan hantu menjerit.
Guo Yun mengangkat kepalanya dengan sikap tenang, dia menatap kearah nenek itu dan berkata,
"Senior siapa, ? kita tidak saling kenal, buat apa senior mencari ku..?"
__ADS_1
"Apa yang senior inginkan dari ku..?"
tanya Guo Yun sambil bangkit berdiri, menatap nenek yang berpakaian serba hitam, dengan sebuah hiasan bunga hitam menempel di kepalanya, yang rambutnya mulai banyak putihnya.