
"Ada perintah yang lainnya, Yang Mulia.."
ucap pejabat itu hati hati.
"Tidak ada, hanya itu saja.."
ucap Guo Yun dingin sambil memberi kode agar mereka bubar.
Pejabat itu tanpa berani berkata apapun, dia segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Setelah pejabat itu dan petugas keamanan bawahan nya pergi.
Guo menoleh ke arah beberapa pelayan pria yang mengeroyoknya.
"Kalian cepat ringkus, ikat orang orang ini, lempar mereka ke gudang.."
"Kedua mayat itu segera bawa pergi untuk di kubur, mereka berdua ini ikat, lempar juga ke gudang.."
ucap Guo Yun dingin.
Para pelayan sudah dengar indentitas asli Guo Yun, mereka tanpa berani banyak membantah.
Langsung menjalankan apa yang Guo Yun perintahkan.
Setelah memberi pesan Guo Yun langsung masuk kedalam rumah untuk mengecek keadaan Ibu tua yang sakit sakitan itu.
Kedatangan Guo Yun langsung di sambut dengan sikap ketakutan Akuang.
"Tuan muda Guo, bagaimana nasib istri saya..?"
tanya Akuang dengan sikap takut takut.
"Dia sangat baik, ada di dapur, kamu boleh pergi menjenguknya."
"Tapi ingat berani kami melepaskannya, kamu dan dia akan menjalani hukuman yang sama ."
ucap Guo Yun dingin.
Akuang buru buru mengangguk dengan wajah ketakutan.
Setelah Akuang pergi, Guo Yun maju untuk memeriksa keadaan nyonya tua itu.
Sesaat kemudian Guo Yun menuliskan beberapa macam obat dan cara pengolahannya di secarik kertas.
Lalu dia berikan ke pasangan suami istri Afen dan Agong.
"Kalian tebus obat ini, uangnya ambil saja dari rumah ini.."
"Lakukan sesuai petunjuk resep itu, ibu kalian akan pulih dalam seminggu."
ucap Guo Yun sambil tersenyum.
Afen dengan bercucuran air mata langsung hendak menjatuhkan diri berlutut.
Tapi Guo Yun menahan bahunya dan berkata,
"Tak perlu seperti itu, aku hanya melakukan yang aku bisa.."
"Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih ku atas jamuan makan di rumah kalian.."
"Kasus ini juga akan menjadi perhatian ku, agar masalah seperti ini, tidak terulang di seluruh wilayah kekuasaan ku.."
"Kalian silahkan saja, aku permisi dulu.."
ucap Guo Yun sambil menepuk bahu Afen dan Agong lembut.
Setelah itu dia membelai kepala kedua anak Agong dengan lembut.
Lalu Guo Yun pun langsung keluar dari kamar tersebut.
Guo Yun menunggu 2 hari di kediaman tersebut hingga Han Wei tiba.
Pagi itu akhirnya Han Wei datang secara pribadi menemui Guo Yun.
"Yang Mulia terimalah salam hormat dari hamba..semoga Yang Mulia sehat selalu dan panjang umur "
ucap Han Wei begitu tiba dia langsung berlutut dan menyembah di hadapan Guo Yun.
"Han Wei kamu sudah tiba, ayo bangunlah saudara ku.."
"Jangan banyak peradatan, duduklah mari kita minum sambil mengobrol.."
ucap Guo Yun santai.
Han Wei mengangguk lalu duduk di hadapan Guo Yun.
Menunggu apa yang akan di sampaikan oleh tuan nya yang sulit di tebak ini.
"Han Wei bagaimana kabar mu..?"
tanya Guo Yun sambil mempersilahkan Han Wei minum teh.
Han Wei memberi hormat kemudian minum sedikit dan berkata,
"Terimakasih Yang Mulia, kabar ku cukup baik.."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Han Wei aku tahu sebagai pimpinan militer, kini harus memimpin pejabat sipil, yang seperti ular bermuka dua, itu bukan merupakan pekerjaan mudah.."
"Tapi aku harap kamu bisa mengawasi mereka dengan baik agar tidak berbuat korupsi dan kolusi, membantu yang salah menekan yang benar..'
"Kasus di kediaman ini merupakan salah satu contohnya.."
"Pejabat kota ini dan petugas keamanan kota ini bekerjasama dengan penjahat pengusaha rumah judi dan rumah bordir.."
"Untuk menindas dan menekan rakyat tak berdosa.."
"Aku harap kamu bisa memeriksa dan menanganinya langsung dengan teliti.."
"Tolong urus hingga tuntas, kalau perlu ganti pejabat ganti saja, jangan ragu.."
"Surat ini tolong kirimkan ke Zhongshan, aku tidak ingin ada lagi kasus tidak berbakti ini, kembali terjadi di daerah wilayah kekuasaan ku.."
"Kamu juga harus awasi dan perintahkan bawahan mu untuk mengawasinya.."
"Bagi yang melanggar langsung tindak berikan peradilan seadil adilnya, buat orang tua mereka yang di tinggalkan.."
"Berikan juga hak dan kompensasi bagi putra atau putrinya yang berbakti mengurus orang tua dengan tulus.."
"Kamu mengertikan maksud ku.."
ucap Guo Yun tenang.
Han Wei mengangguk dan berkata,
"Yang Mulia jangan khawatir, Han Wei pasti akan mengurusnya dengan tuntas dan seadil adilnya.."
"Bagus Han Wei terimakasih banyak.."
"Sisanya berarti aku titipkan pada mu, aku sendiri masih harus lanjutkan perjalanan ku ke Pai Yun San.."
ucap Guo Yun sambil menepuk pundak bawahan nya.
"Siap Yang Mulia.."
jawab Han Wei cepat.
Guo Yun mengangguk puas, sesaat kemudian dia sudah menghilang dari hadapan Han Wei dan kediaman keluarga Akuang.
Setelah Guo Yun pergi, Han Wei lah yang langsung menggantikan nya, mengusut langsung kasus itu hingga tuntas.
Di pengadilan yang di selenggarakan oleh Han Wei, pejabat bawahannya di kenai hukuman rajam pantat 100 kali di depan umum.
Seluruh pihak keamanan kota yang terlibat menerima 50 kali hukuman rajam pantat.
Sedangkan Akuang dan istrinya serta mertuanya, mereka di haruskan pindah kerumah lama adiknya.
Semua harta dan aset mereka di sita oleh Han Wei kemudian di serahkan ke adik Akuang Afen dan suaminya Agong sebagai hak mereka untuk di kelola.
Sebagai kewajiban mereka menerima tanggung jawab menjaga dan merawat ibu Akuang dan Afen yang sudah tua dan sakit sakitan.
Setelah pengadilan memutuskan, Afen yang kasihan dengan kakaknya, dia memutuskan memberikan dua buah perahu dan sejumlah uang, agar kakaknya bisa menggunakan dengan baik untuk melanjutkan kehidupan nya.
Sementara urusan di kota kecil itu diselesaikan dengan baik dan damai oleh Han Wei sendiri.
Di tempat lain Zhongshan yang menerima surat perintah dari Guo Yun.
Dia juga langsung mengumpulkan semua pejabatnya, untuk mengurus titah Guo Yun dengan benar.
Guo Yun sendiri bersama perahu yang di sewa nya, sudah melanjutkan perjalanan nya.
Menyeberangi sungai Yang Tze, lalu melanjutkan perjalanan dengan berlari cepat menuju Pai Yun San.
Tidak sampai 3 hari Guo Yun sudah sampai di kota kecil di kaki gunung Pai Yun San.
__ADS_1
Guo Yun menginap semalam di kota kecil.itu, keesokan paginya, sebelum matahari terbit.
Guo Yun sudah melanjutkan perjalanan nya mendaki gunung Pai Yun San.
Saat matahari terbit Guo Yun akhirnya tiba di bagian pos pertama menuju puncak gunung Pai Yun San.
Di mana di sanalah letak Ling Yun Pai berada.
Saat tiba di pos pertama, Guo Yun langsung di hadang oleh 4 orang murid tingkatan terendah Ling Yun Pai.
"Berhenti..siapa anda ? laporkan diri anda, ada keperluan apa anda kemari..?"
tanya salah satu penjaga di sana dengan tegas.
Guo Yun tidak banyak bicara dengan mereka, dia langsung mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya.
Lalu dia berikan kepada mereka.
Petugas jaga itu, baru melihat segel di kop surat.
Mereka buru buru membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
Mereka dengan sikap penuh hormat mengembalikan surat itu, ke Guo Yun dan berkata,
"Tuan silahkan kamu antar keatas.."
Guo Yun mengangguk kecil, lalu dia mengikuti salah seorang murid penjaga pos itu.
Murid dari tingkatan paling rendah di Ling Yun Pai itu, mengantar Guo Yun menyusuri undakan tangga terus bergerak naik keatas.
Hingga mereka tiba di pos kedua, setelah memberikan laporan pada murid yang berjaga di sana dengan tingkatan lebih tinggi dari nya.
Murid penjaga dari pos pertama, segera menuruni tangga kembali ke pos nya.
Sedangkan Guo Yun di lanjutkan dengan cara estafet di antar terus keatas.
Setelah melalui 4 pos, akhirnya Guo Yun tiba di sebuah Ting peristirahatan.
Di mana di Ting itu terlihat ada seorang pemuda tampan yang berpakaian putih bersih.
Pemuda tampan itu terlihat sedang bermain kecapi dengan delapan jarinya.
Karena dua jari lainnya sudah tiada.
Melihat pemuda itu pengantar Guo Yun buru buru menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Salam hormat, kakak seperguruan pertama."
"Murid datang membawa tamu undangan guru besar.."
"Harap kakak seperguruan pertama sudi membantu mengantarnya keatas.."
ucap penjaga pos keempat itu dengan sikap penuh hormat.
Pemuda itu yang bukan lain adalah Ling Thian,.dia menghentikan permainan kecapinya dan berkata,
"Baiklah kamu boleh kembali ke pos mu.."
Penjaga pos keempat sekali lagi memberi hormat kearah Ling Thian, lalu bergegas menuruni tangga kembali ke pos nya.
"Kamu bernyali juga berani datang kemari..?"
Ucap Ling Thian dengan gaya angkuh.
Guo Yun tersenyum dingin dan berkata,
"Aku sebelumnya bukan tidak berani, tapi tidak punya waktu mengurusi hal receh.."
"Kini kebetulan ada waktu jadi saya sempatkan datang untuk menyelesaikan masalah receh ini.."
"Kau...!"
ucap Ling Thian sambil menunjuk kesal kearah Guo Yun.
Guo Yun tetap bersikap santai, tidak menanggapi kemarahan dan ketersinggungan Ling Thian atas kata katanya.
Meski kesal, Ling Thian hanya bisa menahannya.
Ada beberapa hal yang membuatnya tidak berani sembarangan melampiaskan emosi nya.
Pertama Guo Yun adalah tamu istimewa undangan guru besarnya sendiri.
Kedua kemampuannya masih di bawah Guo Yun.
Ketiga sebagai orang bijak, berbicara lewat mulut, bukan lewat kepalan tangan.
Dia harus bisa menerima kekalahan, atau dia akan membuat nama baik perguruannya jatuh.
Dengan berbagai pertimbangan ini, Ling Thian sambil mendengus kesal.
Dia berjalan duluan mengantar Guo Yun naik menyusuri anak tangga, yang terletak di belakang bangunan Ting nya berada.
Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang muncul dari mulut mereka berdua.
Akhirnya mereka berdua tiba di sebuah Ting lainnya, di mana di dalam bangunan Ting, terlihat dua orang kakek tua sedang bermain catur cina kuno, Wei Qi.
Guo Yun mengenali mereka berdua adalah Tzu Zi Tao Cang dan Thian Yi Tao Cang.
"Salam tetua berdua, maaf menganggu waktu ketenangan tetua berdua.."
"Murid datang menghantar tamu undangan maha guru Ling Yun."
ucap Ling Thian dengan sikap penuh hormat.
"Terimakasih Ling Thian, kamu boleh kembali ketempat mu, sisanya biar kami urus."
ucap Tzu Zi Tao Cang pelan.
Setelah memberi hormat Ling Thian pun langsung berlalu dari tempat itu.
"Anak muda akhirnya kamu Sudi datang juga ketempat sederhana kami.."
ucap Tzu Zi Tao Cang merendah sekaligus menyindir.
Guo Yun tentu mengerti maksud arah pembicaraan salah satu dari tetua Ling Yun Pai itu.
Sambil tersenyum Guo Yun berkata,
"Yang muda mana berani tidak datang, setelah di undang langsung oleh maha guru besar."
"Maha guru besar yang memimpin partai sederhana, tapi menjadi aliran nomor satu di kolong langit.."
ucap Guo Yun balas menyindir.
Karena Ling Yun Lao Jen pernah terima tawaran kerja sama dari Ying Zheng.
Di mana dia di janjikan akan menjadi aliran nomor satu, bila bersedia membantunya.
Tapi setelah berhasil, Ying Zheng dengan alasan Ling Yun Pai ada di selatan daerahnya kerajaan Yue.
Dia tidak bisa membantu banyak, kecuali ketua Ling Yun Pai, membantunya menahlukkan Kerajaan Yue.
Ling Yun Lao Jen yang merasa di tipu, akhirnya dengan sikap uring uringan meninggalkan Ying Zheng kembali ke Pai Yun San melanjutkan pertapaan nya.
Semua ini Guo Yun tahu dengan sangat jelas, dari laporan mata matanya yang bekerja di Xian Yang.
Kini sindiran itu langsung membuat kedua tetua itu wajahnya merah padam.
Menahan malu juga kesal, sama seperti Ling Thian mereka juga tidak berani maju mengerubuti Guo Yun.
Bila bersendiri mereka sudah mencicipi kelihaian Guo Yun.
Jadi kini mereka selain hanya bisa menahan kesal, buru buru membawa Guo Yun pergi menghadap kakak seperguruan mereka.
Mereka sudah tidak punya pilihan lain.
Guo Yun pura pura tidak tahu kedua orang tua itu sedang kesal padanya.
Dia dengan sikap santai, sambil bersiul mengikuti mereka naik ke atas.
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah kolam hijau yang lumayan lebar.
Ling Yun Lao Jen terlihat sedang duduk bermeditasi di tengah tengah sebuah halaman luas, berbentuk lingkaran, dengan bagian tengah di beri lukisan Pat Kwa Im Yang.
"Kakak tamu undangan mu sudah tiba.."
"Kami permisi dulu.."
ucap Tzu Zi Tao Cang sambil memberi hormat.
Ling Yun Lao Jen mengulapkan tangannya, memberi kode agar kedua adik seperguruannya boleh pergi tinggalkan tempat itu.
Guo Yun tanpa menunggu diri nya di undang, dia langsung melayang ringan.
Meniti diatas air kolam hijau itu, dengan tiga kali gerakan muncul menghilang seperti kilat.
__ADS_1
Tahu tahu dia sudah berdiri di hadapan Ling Yun Lao Jen.
Gui Yun memberi hormat dan berkata,
"Senior Guo Yun telah memenuhi undangan mu.."
"Apa yang senior inginkan katakan saja..?"
ucap Guo Yun langsung ke pokok sasaran.
Ling Yun Lao Jen bangkit dari posisi bersila nya dan berkata,
"Permasalahan di antara kita telah berkembang sejauh ini, sudah tidak dapat di selesaikan lagi, lewat kata kata.."
"Mari kita langsung mulai saja.."
ucap Ling Yun Lao Jen, sambil menghunus sebatang pedang di tangannya.
Guo Yun juga tidak mau kalah, dia langsung menghunus sepasang pedang nya.
Pedang Hung Sie Cien di tangan kanan bersinar garang dengan energi panas nya.
Sedangkan Han Kuang Cien, bersinar dingin membeku ditangan kirinya.
Ling Yun Lao Jen tidak berani menganggap remeh Guo Yun yang telah berulang kali mengalahkan jagoan pilih tanding.
Bahkan terakhir ini Dewa Naga Gurun Pasir pun terjungkal ditangan pemuda di hadapannya ini.
Jadi tiada alasan baginya untuk tidak langsung mengerahkan ilmu puncaknya.
Dari pada nanti sebelum sempat di mainkan dia sudah terlanjur terjungkal, tidak ada kesempatan lagi.
Begitu Ling Yun Lao Jen mengerahkan kekuatan puncaknya.
Terlihat 5 batu permata berwarna hijau kuning merah biru putih bergerak berputar-putar di sekitar tubuhnya.
Hampir mirip dengan Tzu Zi Tao Cang, tapi Tzu Zi Tao Cang hanya memilki 3 batu, sedangkan Ling Yun Tao Cang sekaligus memilki 5.
Setelah kekuatan terhimpun, Ling Yun Lao Jen langsung menghilang dari tempat nya.
Saat muncul lagi pedang nya sudah meluncurkan bagaikan hujan, menerjang bagian depan tubuh Guo Yun.
Melihat serangan begitu cepat sudah muncul di hadapannya.
Guo Yun langsung memutar sepasang pedang nya membentuk pusaran cahaya keemasan, berbentuk bulan dan matahari kecil.
Menahan sekaligus menangkis semua bayangan pedang yang menerjang kearah nya
"Tranggg..! Tranggg..! Tranggg..!"
"Tranggg..! Tranggg..! Tranggg..!"
"Tranggg..! Tranggg..! Tranggg..!"
"Tranggg..! Tranggg..! Tranggg..!"
Terdengar suara benda keras beradu di udara, bunga api terlihat berpijar, memenuhi arena kedua senjata keras beradu.
Akibat benturan tersebut, Guo Yun terpental mundur, tidak kuat menahan kekuatan Ling Yun Lao Jen yang luar biasa kuat.
Guo Yun memperkirakan kekuatan kakek tua ini, tidak di bawah Dewa Naga Gurun Pasir.
Kekuatan mereka berkisar di 12 ribu lingkaran mungkin lebih.
Guo Yun memutar otak, tidak melakukan keras lawan keras, karena kekuatannya masih di bawah lawan nya.
Bila dia menggunakan kekerasan dia akan konyol, dia juga tidak mau sembarangan menggunakan Shi Chi Hua Ming bila tidak yakin.
Adik seperguruan lawannya ini Thian Yi Tao Cang mampu mematahkan ilmu hisapnya dengan totokan satu jari.
Kakek tua ini bukan mustahil juga mampu, malah mungkin lebih mengerikan.
Sebelum yakin atau kepepet, Guo Yun tidak mau menggunakan ilmu rahasia itu sembarangan.
Setelah otaknya berputar, Guo Yun sementara waktu hanya bisa mematahkan kekuatan itu dengan bergerak mundur, atau menangkisnya dari samping.
Melencengkan serangan nya, setiap ada kesempatan, Guo Yun akan menggunakan kegesitan dan keunikan ilmu pedang Rembulan dan Mentari untuk membalas mendesak lawan untuk bergerak kembali ke posisinya semula.
Dengan cara ini, Guo Yun berhasil mengatasi masalah kekurangan nya dari segi.kekuatan, saat dia terpaksa harus menerima serangan dari Ling Yun Lao Jen.
Ling Yun Lao Jen yang merasa di atas angin dia tidak mau menyia nyia kan kesempatan.
Tubuhnya dan pedang ditangannya, bergerak dengan sangat cepat muncul dan hilang menyerang semua titik berbahaya di tubuh Guo Yun.
Guo Yun juga ikut muncul dan hilang dengan Wu Ying Ru Tian dan 72 langkah ajaib.
Untuk mematahkan serangan serangan ganas yang tidak kunjung berhenti mengincarnya.
"Tranggg..! Tranggg..! Tranggg..!"
Sesekali terdengar bunyi benda keras berbenturan di udara.
Saat dalam keadaan berbahaya, Guo Yun akan menggunakan sepasang pedangnya menangkis dari samping.
Dia tidak mementalkan kembali, melainkan meminjam kekuatan serangan lawan untuk di seleweng kan kearah lain.
Cara inilah yang paling tepat untuk menggagalkan serangan Ling Yun Lao Jen yang kuat.
Ling Yun Lao Jen yang melihat serangan nya masih selalu berhasil di patahkan oleh Guo Yun.
Dia mulai mempercepat gerakan ya, hingga tubuhnya berubah menjadi 8 bayangan terus mengurung Guo Yun dari segala arah.
Pergerakan ini seketika mengunci gerak langkah Guo Yun, Guo Yun mulai terlihat kesulitan hebat, di bawah tekanan Ling Yun Lao Jen, yang datang dari 8 penjuru mata angin.
Guo Yun juga menguasai ilmu ini, tapi di tangan Ling Yun Lao Jen.
Ilmu ini berubah menjelma jadi ilmu silat tingkat tinggi yang sangat berbahaya.
Cukup angin tebasan serangan nya, sudah lebih dari cukup, untuk memotong lawan lawannya menjadi potongan kecil kecil.
Guo Yun terlihat menghilang kesana kemari di bawah kejaran pedang kakek tua itu.
Guo Yun yang terus berhasil menghindar dengan mengandalkan langkah ajaib dan ilmu ringan tubuhnya Wu Ying Ru Tian.
Membuat Ling Yun Lao Jen menjadi kesal, dia seperti sedang di ledek oleh pemuda yang pantas menjadi cicitnya itu.
Dalam kesal nya dia semakin bersemangat melakukan pengejaran kearah Guo Yun.
Guo Yun terus membawanya berputar-putar bertanding, sambil bergerak muncul menghilang kesana kemari.
Bagi Guo Yun yang masih muda, hal itu tentu bukan masalah, tapi bagi kakek tua itu hal itu sangat menguras tenaga.
Kakek tua itu mulai terlihat bermandi keringat, nafasnya juga terlihat mulai terganggu.
Melihat hal tersebut Guo Yun di dalam hati tersenyum girang, rencananya mulai berjalan lancar.
Ini sesuai prediksi Guo Yun, secara kekuatan dan kematangan ilmu silatnya, dia tidak mungkin bisa unggul dari Ling Yun Lao Jen.
Tapi bila yang di adu adalah fisik, pertempuran reli dalam jangka waktu panjang, Guo Yun yakin dia masih jauh lebih baik dari Ling Yun Lao Jen yang sudah sangat renta usianya.
Ling Yun Lao Jen juga tidak bodoh, dia segera menangkap akal bulus Guo Yun.
Dia segera mengganti tehnik penyerangan, kini dia justru bergerak dengan sangat lambat.
Tapi setiap serangan yang di lancarkan nya, angin serangannya, selalu memaksa Guo Yun tertekan hingga sulit bergerak dengan lincah.
Angin serangan Ling Yun Lao Jen yang berpusaran mempermak porandakan keadaan sekitar.
Membuat Guo Yun terseret kesana kemari sulit menghindar.
Dia di paksa harus menyambut serangan penuh tenaga kakek Ling Yun Lao Jen yang menerjang kearah nya.
"Blaaaarrr...!"
Guo Yun terpental hingga menabrak patung batu di belakangnya.
"Brakkkk...!"
Patung batu gunung hiasan yang tertabrak tubuh Guo Yun langsung hancur berkeping-keping.
Guo Yun setelah terjatuh terduduk diatas tanah, dia bangkit kembali dengan menopang tubuhnya menggunakan Hung Sie Cien.
Sedangkan tangannya yang lain yang memegang Han Kuang Cien terlihat menekan dadanya, yang terasa nyeri.
Belum juga Guo Yun berdiri stabil, Ling Yun Lao Jen kembali memberikan serangan, yang meledakkan lantai batu di arena hingga beterbangan kearah Guo Yun.
Diri nya sendiri juga terlihat bergerak menyusul dengan pedangnya.
Dengan bersembunyi di balik batu batu besar yang semuanya menimpa kearah Guo Yun.
Guo Yun terpaksa menggunakan sepasang pedangnya, untuk membelah batu batu besar, yang berterbangan kearah nya.
"Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!"
Tiba tiba dari balik batu muncul seberkas cahaya putih pedang Ling Yun Lau Jen.
__ADS_1
Saat batu di hadapannya terbelah oleh Guo Yun.
"Creebbbb..!"