
Guo Yun saat sudah setengah badan terendam dalam air laut, di mana posisinya tidak terlalu jauh dari bangkai kapal mereka.
Dia mulai membuat gerakan di air, dengan memukul mukul kan kedua tangannya di permukaan air.
Tidak perlu menunggu lama, pergerakan Guo Yun langsung mengundang 4 ekor ikan pemangsa menghampirinya.
Guo Yun pura pura tidak tahu dan terus membuat pergerakan memukul air disana.
Keempat ekor ikan pemangsa bergerak dengan sangat cepat, hal ini terlihat dari sirip bagian permukaan punggungnya, yang menyembul keluar dari dalam air.
Saat mulai mendekat, satu persatu ikan pemangsa itu mulai menyelam ke bawah.
Untung air laut sangat bening, hal ini memudahkan Guo mendeteksi pergerakan mereka.
Saat jaraknya tinggal dua meter, Guo Yun segera menghentakkan kedua tangannya yang di selimuti sambaran listrik kedalam air.
4 ekor ikan pemangsa, yang tersengat listrik tegangan tinggi, langsung pingsan mengambang keatas permukaan Air.
Guo Yun dengan cepat maju menyambar bagian ekor salah satu ikan pemangsa itu.
Lalu dia lempar kearah pinggir pantai.
Setelah itu Guo Yun baru kembali kearah pantai.
Li Kui dan Sian Sian terlihat berbaring santai di atas pasir putih yang lembut dan sejuk.
Melihat mereka berdua aman aman saja, Guo Yun pun menggunakan sebuah belati kecil untuk memotong kepala ikan pemangsa itu.
Membedel perut ikan tersebut, membuang isi nya, lalu mulai memotong ikan itu menjadi potongan potongan daging, yang di tusuk tusuk ke kayu kayu kecil, yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Setelah itu Guo Yun membawanya ke api unggun untuk di bakar.
Ikan yang panjangnya hampir 2 meteran itu dagingnya sangat banyak.
Supaya tidak mubajir, bila tidak habis di makan, Guo Yun mengasapi nya semua.
Dengan cara itu daging bisa awet untuk makan beberapa hari.
Memang agak sibuk, tapi itu hanya sekali jalan, berikutnya mereka tidak akan terlalu sibuk lagi.
Dengan di bantu Li Kui dan Sian Sian, pekerjaan itu menjadi lebih cepat.
Sambil membakar ikan, Guo Yun berkata.
"Saudara Kui, kapan kita akan mulai menambal kapal yang bocor..?"
Li Kui menatap kearah Guo Yun dan berkata,
"Hari ini sebaiknya kita mengumpulkan bahan, untuk menambal nya.."
"Besok pagi saat laut surut, kita bisa mulai mengerjakan nya "
ucap Li Kui mengemukakan pendapat nya.
"Baik kalau begitu sebentar lagi habis makan, kita bisa mulai mengambil kayu buat menambal kapal."
"Sian er kamu tunggu di sini saja ya, sambil menjaga potongan ikan asap kita.."
__ADS_1
ucap Guo Yun.
Di dalam hutan ini, Guo Yun tidak tahu ada bahaya apa yang menanti, jadi bila Sian Sian tidak ikut, itu akan jauh lebih baik, hatinya bisa lebih tenang. pikir Guo Yun dalam hati.
Sian Sian mengangguk setuju tanpa banyak membantah.
Dia tahu Guo Yun hanya bermaksud baik ingin menjaga keselamatannya.
Sehabis makan Guo Yun dan Li Kui pun mencoba masuk kedalam hutan di belakang pantai.
Untuk mendapatkan kayu yang sesuai dan bisa di gunakan untuk menambal lambung kapal, Guo Yun dan Li Kui harus masuk kebagian hutan yang lebih dalam.
Karena bagian pinggir, lebih banyak di tumbuhi oleh akar rotan hutan bakau dan semak belukar.
Baru setelah masuk kebagian yang lebih dalam sana, mereka baru menemukan pohon yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pulau neraka benar seperti namanya, baru saja memasuki hutan.
Guo Yun dan Li Kui sudah melihat banyak sekali binatang berbisa, seperti lipan dan kalajengking.
Semakin mereka masuk kedalam, berbagai macam jenis serangga beracun, hingga ular beracun mulai terlihat.
Untungnya mahluk mahluk itu tidak menganggu ataupun menyerang, bila mereka tidak di usik.
"Saudara Kui pohon yang mana ? yang harus kita tebang."
ucap Guo Yun tanpa menoleh.
"Itu di sebelah kanan, pohon kayu besi itu paling cocok.."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Baiklah saudara Kui kamu menjauhlah sedikit.."
"Aku akan coba merobohkan nya .."
ucap Guo Yun yang mulai mengambil ancang-ancang siap melepaskan pukulannya, untuk merobohkan pohon besar itu.
"Brakkkk..."
Guo Yun menghantamkan telapak tangannya yang penuh energi 9 langit.
Pohon itu berderak derak sebentar, sebelum akhirnya roboh menimbulkan hiruk pikuk.
Begitu pohon itu roboh, seekor ular hijau raksasa jatuh dari atas pohon.
Begitu terjatuh keatas tanah, ular hijau itu langsung mengangkat kepalanya tinggi tinggi, sambil mendesis marah.
Guo Yun yang memang tak pernah lengah sedikitpun, sejak masuk kedalam hutan ini.
Begitu ular itu menyemburkan kabut asap hijau, Guo Yun langsung terbang mundur menjauh.
Dia bergerak seperti seekor burung besar yang sedang membentangkan sepasang sayap nya untuk terbang mundur menjauh.
Guo Yun berhasil mundur ketempat aman, tapi pepohonan dan segala jenis semak belukar, bercampur tanaman yang ada di posisi sebelumnya.
Kini semua mati, saat dilewati oleh kabut asap beracun dari ular hijau raksasa itu.
__ADS_1
Sambil mendesis marah, ular hijau itu terus mengejar kearah Guo Yun, dengan semburan bisanya, yang sangat beracun dan mematikan.
Tapi Guo Yun selalu berhasil menghindari serangan nya.
Pada suatu ketika ular besar itu tiba-tiba menyabetkan bagian ekornya kearah Guo Yun.
Guo Yun sambil terbang menghindar, dia menggerakkan tangannya untuk mencengkram bagian ekor ular tersebut.
Begitu tertangkap oleh cakar Guo Yun, tanpa ampun ular raksasa itu.
Langsung di banting oleh Guo Yun menghantam keatas tanah.
"Boooom,..! Boommm..!"
"Boooom,..! Boommm..!"
"Boooom,..! Boommm..!"
"Boooom,..! Boommm..!"
Kepala ular itu dibanting bolak balik oleh Guo Yun keatas tanah.
Dalam sekejab mata, ular itu telah terkulai lemas tidak berdaya.
Setelah berhasil menjinakkan ular tersebut, Guo Yun pun melempar tubuh ular hijau raksasa itu, menjauh dari tempat tersebut.
Setelah itu dengan mengikuti petunjuk dari Li Kui, Guo Yun mulai menebang pohon yang roboh menjadi gelondongan kayu, sesuai dengan kebutuhan mereka.
Karena tidak membawa Kampak, pekerjaan itu terpaksa di selesaikan dengan cara kasar.
Guo Yun menghantam batang pohon kayu itu hingga patah menjadi 3 potong, baru kemudian di panggul oleh Guo Yun kembali ketepi pantai.
"Kakak Yun aku rasanya pernah lihat ada Kampak, di simpan dalam gudang kapal kita."
ucap Li Kui sambil mengikuti langkah Guo Yun meninggalkan hutan.
"Benarkah, kalau gitu nanti saya akan cari kesana.."
"Tanpa alat itu, akan sulit bagi kita untuk mendapatkan potongan kayu yang cocok, untuk menambal kapal kita."
ucap Guo Yun sambil terus melangkah kedepan.
Akhirnya mereka berdua kembali ketepi pantai.
Tapi alangkah terkejutnya Guo Yun, saat melihat Sian Sian tidak terlihat di sana.
Tempat itu hanya ada api unggun dan potongan daging ikan asap saja.
Dengan panik, Guo Yun pun berteriak sekuat tenaga,
"Sian er...!!"
Sian er...!!"
Sian er...!!"
Sian er...!!"
__ADS_1