
Mendengar jumlah yang begitu besar, Guo Yun diam diam cukup kaget dan terkejut.
"Berapa orang jumlah pimpinan kalian..?"
Si tompel, menunjukkan 3 jarinya sebagai jawaban.
Guo Yun mengangguk paham, tidak banyak bertanya lagi.
Sisa nya sebentar lagi, dia akan tahu dengan sendirinya, tanpa perlu harus sibuk mencari tahu, nanti tiba di sana, dia juga akan tahu dengan sendirinya..
Guo Yun sedang berpikir dalam hati, bagaimana cara dia menahlukkan kelompok ini.
Lalu bagaimana dia latih mereka semua, menggunakan tehnik pelatihan militer yang dia kuasai.
Setelah ini kelompok ini akan menjadi pasukan elite pertama nya, untuk melawan pasukan negara Chu.
Memang jumlah nya tidak banyak, tapi dalam berbagai buku strategi militer yang di bacanya.
Jelas di katakan, kemenangan dalam pertempuran, bukan tergantung pada jumlah, tapi tergantung pada strategi dan siasat militer.
Memang di atas kertas, bila menang jumlah sudah pasti akan menang, tapi kenyataan di lapangan masih banyak faktor lainnya yang menentukan kalah dan menang.
Guo Yun sendiri sebelum dirinya sampai di.lembah sungai Huai,.dia sudah merancang beberapa strategi, yang di sesuaikan dengan situasi yang ada nantinya.
Semua sudah tersusun rapi di otak nya, tinggal di terapkan saja, bila tiba waktunya.
Di tengah tengah hutan yang di apit oleh dua tebing tinggi, terlihat di bangun sebuah gerbang pintu kayu tinggi, di lengkapi beberapa menara pengintai.
Melihat cara tata letak bentuk pertahanan dan kedisiplinan, serta pasukan penjaga di gerbang dan di menara pengintai.
Guo Yun yakin pimpinan kelompok perampok itu, tentu bukan orang biasa, mereka kemungkinan adalah mantan petinggi militer.
Kedatangan kelompok Guo Yun langsung di sambut dengan anak panah, oleh para penjaga di puncak menara.
Anak panah yang mereka lepaskan berderet rapi di depan kaki Guo Yun dan seorang perampok yang di tunjuk sebagai penunjuk jalan.
"Cepat laporkan siapa nama pimpinan kalian !?,.. kalian dari kelompok mana..!?"
teriak salah seorang penjaga yang berada di puncak menara.
Guo Yun diam diam semakin kagum dengan kerapian, pengaturan dan kedisiplinan para perampok gunung ini.
Pantas saja mereka bisa mengendalikan anggota sebanyak itu, rupanya mereka sangat terorganisir.
Guo Yun tak punya cara lain, selain menarik mundur si penunjuk jalan.
Lalu sambil berdiri di depan gerbang, Guo Yun menyalurkan Chi nya kedalam suara.
Sehingga saat berbicara suaranya berkumandang jelas, hingga ke balik pintu gerbang dan menara pengawas.
"Aku Guo Yun,!..aku kemari ingin berbicara dengan pimpinan kalian, suruh mereka keluar temui aku..!"
Guo Yun memberi tanda, agar si kumis tebal dan si juling yang dalam kondisi terikat.
__ADS_1
Di bawa maju kedepan, kedua orang itu di paksa berlutut menghadap kearah gerbang.
Sambil menatap kearah puncak menara, Guo Yun berkata,
"Katakan kepada pimpinan kalian, bila ingin kedua orang ini selamat,. segeralah keluar temui aku..!"
Sesaat penjaga menara menjadi ragu, dari pakaian para perampok itu dan kedua orang yang sedang berlutut.
Dia jelas mengenali mereka adalah anggota kelompok mereka.
Tapi mereka tidak berani pastikan, karena mereka tidak mengenali si kumis tebal dan si mata juling, dari tempat mereka berdiri.
Wajah kedua orang itu tidak terlihat jelas.
"Hei Kalian berdua cepat sebutkan nama dan asal kelompok kalian..!?"
teriak penjaga menara untuk mendapatkan kepastian.
Si kumis tebal dan si juling segera buka suara, setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari Guo Yun.
"Nama ku Atong, dari kelompok harimau putih..!"
teriak si kumis tebal lantang.
Si juling menyusulnya berteriak dengan suaranya yang melengking.
"Aku Ayong dari kelompok naga merah..!"
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pintu gerbang raksasa terbuka.
Terlihat dua orang pria berusia 40 an berjalan keluar dari dalam gerbang pintu raksasa tersebut.
Mereka berdua berjalan gagah menghampiri Guo Yun, tanpa membawa pengawal satu orang pun menyertai mereka.
Ini hanya menunjukkan mereka selain punya keberanian juga punya rasa percaya diri yang tinggi.
Setelah berdiri di hadapan Guo Yun, mereka pun berkata,
"Anak muda, nama mu Guo Yun betul ? ada apa kamu mencari kami..?"
Tanya salah satu pria berwajah brewokan, yang terlihat sangar dan bengis.
Guo Yun memberi hormat dan berkata,
"Maaf aku sedang berbicara dengan siapa ya..? apakah kamu pimpinan di sini..?"
"Aku dan adikku hanya pimpinan kedua dan ketiga tempat ini, kakak Kamilah pimpinan tertinggi di tempat ini.."
"Nama ku Zhou Tai dan dia adik ku Ling Tong.."
"Sekarang katakanlah apa kehendak mu anak muda..?"
ucap Zhou Tai tenang.
__ADS_1
Dia tahu Atong dari Ayong, kemampuannya tidak jelek, semua anak buah mereka juga cukup terdidik dengan baik.
Bila Guo Yun mampu menahlukkan mereka, berarti kemampuan nya, pasti tidak bisa di pandang enteng.
Guo Yun masih begitu muda, sudah memilki kemampuan tinggi, latar belakangnya tentu tidak mudah.
Sebelum tahu apa kehendak Guo Yun dari mereka, dia tidak ingin menimbulkan permusuhan tidak perlu.
Guo Yun menatap kedua orang itu dengan serius dan berkata,
"Aku ingin menantang kakak berdua, bila kakak Zhou dan kakak Ling mampu menang dari ku.."
"Aku akan bekerja dan mengabdi pada kakak berdua."
"Tapi bila aku beruntung dan menang dari kakak berdua, kakak berdua boleh pilih mengabdi dan mendengarkan perintah ku.."
"Atau kakak berdua boleh pergi dari sini.."
Mendengar ucapan Guo Yun, meski hati mereka panas dan tidak puas.
Tapi mereka berdua mencoba bersikap tenang, sesuai dengan pesan kakak pertama mereka.
"Baiklah adik Yun, bila itu keinginan mu, kami siap menerima tantangan mu.."
"Tapi adik Yun harus ingat, kaki tangan dan senjata tidak punya mata, bila terluka bahkan mati.."
"Kami harap tidak ada tuntutan di belakang hari.."
ucap Zhou Tai sambil tersenyum.
"Ohh itu tentu saja, bila kakak berdua punya draft perjanjiannya, itu akan lebih baik."
Zhou Tai menoleh kearah pintu gerbang dan berkata,
"Pengawal,..! cepat bawakan alat tulis kemari..!"
Sesaat kemudian seorang penjaga gerbang, terlihat berlarian menghampiri mereka, sambil membawa seperangkat kertas dan alat tulis.
"Adik Yun silahkan saja kamu tulis, nanti kakak berdua tinggal bubuhkan cap jempol di sana.."
ucap Zhou Tai tenang.
Sedangkan Ling Tong tidak berkata apa-apa, selain diam menonton di samping kakaknya.
Guo Yun menulis surat perjanjian hidup mati bebas tuntutan di kemudian hari, lalu dia bubuhkan cap jempolnya di sana.
Setelah itu dia mempersilahkan Zhou Tai dan Ling Tong untuk melakukan nya.
Zhou Tai membaca sebentar isi surat perjanjian, setelah itu dia langsung membubuhkan cap jempolnya, di susul dengan adiknya Ling Tong.
"Kakak biar aku maju duluan,..kakak mundurlah dulu"
ucap Ling Tong sambil bersiap dengan sepasang pedang di tangan..
__ADS_1