
Gongsun Li yang sedang berbaring di atas ranjang, terlihat sedang menatap tusuk konde yang di berikan oleh Guo Yun.
Dia terlihat tersenyum bahagia, menatap hiasan cantik, yang ada ditangan nya itu.
Dia sedang terbayang suasana kebersamaannya dengan Guo Yun, yang meski terhitung pendek dan singkat.
Tapi sangat penuh warna, sangat menyenangkan, selain itu dia juga merasa sangat bahagia dan nyaman.
Hanya dengan cara ini, dia bisa menghibur kerinduan hatinya terhadap Guo Yun.
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
Ketukan di pintu seketika membuyarkan lamunan nya, dengan sedikit malas malasan.
Gongsun Li menjawab dari dalam,
"Ya..siapa ..?"
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
Pintu kembali di gedor dengan lebih keras lagi.
"Nona cepat buka pintunya..ada kabar buruk..!"
teriak suara panik Xiao Tie dari luar.
Lalu dia kembali melanjutkan menggedor pintu kamar secara keras.
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"
"Ya,..ya,.. ada apa sih malam malam begini,..!?"
jawab Gongsun Li sedikit kesal, lalu dia buru buru membuka palang pintu, yang mengunci dari dalam.
Begitu pintu terbuka terlihat wajah pucat Xiao Tie dan Xiao Li.
Xiao Li dengan wajah panik langsung berkata,
"Nyonya besar,.. pangeran Ying Zheng sedang memaksa menerobos masuk kemari.."
"Kini ayah sedang menghalanginya, Nyonya besar harus segera lari dari sini.."
"Dia terlihat mabuk, menurut ayah dia sepertinya punya niat tidak baik terhadap nyonya.."
ucap Xiao Li yang terlihat pucat dan panik ketakutan.
"Nyonya,..nyonya harus cepat cepat tinggalkan tempat ini.."
ucap Xiao Tie serius.
Gongsun Li menatap Siao tie dan berkata,
"Percuma saja, bila tidak menemukan ku, dia pasti akan mempersulit kalian.."
__ADS_1
"Lebih baik biarkan aku bertemu dan berbicara baik baik dengan nya.."
ucap Gongsun Li berusaha bersikap setenang mungkin.
Padahal dia sebenarnya juga gugup, dan tidak tahu bagaimana caranya, menghadapi pangeran yang nekad itu.
Tanpa ada Guo Yun di sisinya, bila Ying Zheng nekad, dia juga tidak tahu cara apa yang terbaik untuk menghadapi nya.
Satu satunya jalan yang kepikiran adalah menukar kesucian dirinya dengan nyawanya.
Itu adalah suatu pilihan yang bukan pilihan, karena dengan cara itu. Guo Yun pasti akan menyesal dan bersedih seumur hidup.
Tapi selain cara itu, dia sudah tidak punya cara lain.
Gongsun Li melangkah keluar dari dalam kamar nya, dengan pikiran kacau.
Melihat hal ini, Xiao Tie dengan cepat mengambil palang pintu kamar, dengan sekuat tenaga.
Dia memberikan satu pukulan sekuat tenaga kearah tengkuk Gongsun Li, yang sedang memungunginya.
"Blukkkk..."
Pukulan keras itu mendarat dengan tepat di sasaran, Gongsun Li yang kaget sempat menoleh dan berkata,
"Xiao Tie kau...!"
Tapi sebelum menyelesaikan kata-katanya, sepasang matanya langsung terbalik keatas.
Gongsun Li hampir saja jatuh tergeletak di lantai, bila tubuhnya tidak cepat cepat di sambut oleh Xiao Li dan di bantu oleh Xiao Tie.
Bila Gongsun Li tidak sedang dalam keadaan kusut pikirannya sehingga kewaspadaannya menurun.
Sekalipun di lakukan secara diam diam dari arah belakang.
Jelek jelek Gongsun Li yang berada pada tahap pendekar besi, dia masih mampu merobohkan 10 lawan pria dewasa biasa.
Dalam kasus ini, selain Gongsun Li tidak waspada, dia juga tidak menduga Xiao Tie akan menyerangnya.
Selain itu faktor keberuntungan juga membantu Xiao Tie, yang memukul sekuat tenaga sambil memejamkan matanya.
Bisa tepat mengenai sasaran dan tepat mengenai pusat syaraf di tengkuk Gongsun Li.
Hal inilah yang membuat Gongsun Li langsung pingsan, begitu terkena pukulan Xuao Tie.
Xiao Tie dengan gerakan cepat melepaskan pakaian luar Gongsun Li.
Lalu dia bertukar pakaian luar dengan Gongsun Li.
Setelah itu dia berkata, kepada adiknya,
"Xiao Li, kamu cepat bawa nyonya besar tinggalkan tempat ini.."
"Kakak tidak ikut..?"
tanya Xiao Li ragu.
"Tidak,.. kamu saja dan nyonya besar..Xiao Li anak pintar,.. jaga diri mu.."
Setelah berpesan dan membelai kepala adiknya, Xiao Tie buru buru mematikan semua lampu penerangan di sana.
Lalu dia masuk kedalam kamar Gongsun Li dan menutup pintu kamar.
__ADS_1
Xiao Li tidak berani membantah, anak itu buru buru memapah Gongsun Li, yang sedang tidak sadarkan diri, lalu mereka langsung bergerak meninggalkan tempat itu.
Xiao Li terbiasa melakukan pekerjaan kasar, jadi tenaganya cukup besar dan kuat.
Meski agak sempoyongan, dia pelan pelan berhasil membawa Gongsun Li meninggalkan tempat itu melalui pintu samping.
Keluar dari pintu samping, Xiao Li langsung menggunakan kereta kuda, yang memang sengaja di siapkan oleh Guo Yun, buat jaga jaga.
Bila ada terjadi keadaan darurat, dimana kereta itu bisa langsung di gunakan untuk menyelamatkan diri.
Xiao Li langsung membawa Gongsun Li yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di dalam kereta, malam itu juga mereka meninggalkan kota Xian Yang..
Malam gelap gulita, Xiao Li yang tidak tahu jalan, dia hanya sembarangan melarikan keretanya tanpa arah tujuan pasti.
Kereta kuda tersebut tanpa kesulitan berhasil keluar dari pintu gerbang kota.
Pasukan penjaga pintu gerbang, tidak ada yang berani memeriksa atau menghadang kereta kuda itu.
Karena kereta kuda itu ada lambang kebesaran Lu Bu Wei, yang tergantung di pintu kereta yang tertutup tirai.
Sedangkan di kediaman Guo Yun, di halaman bagian depan.
Di sana terlihat Kakek Lai Fu, yang terus mencoba berusaha mati matian, menahan gerak langkah pangeran Ying Zheng.
Dengan satu bentakan kesal, Ying Zheng yang merasa terganggu, langsung mencabut pedang dari sarungnya.
"Dasar tua Bangka, sudah bosan hidup kamu, berani menghalangi ku..!"
"Rasakan ini..!"
"Singgg...!"
"Crebbb,..!"
"Dessss...!"
Dengan satu tusukan pedang langsung menembus dada hingga ke punggung.
Lalu dengan satu tendangan susulan, Ying Zheng langsung menjatuhkan kakek Lai Fu sambil mencabut pedangnya.
Kakek Lai Fu yang malang langsung jatuh tergeletak di atas lantai bermandikan darah tak berkutik lagi.
Gongsun Yan yang berada di sana menyaksikan semua kejadian itu, dia langsung berteriak histeris ketakutan.
Ying Zheng yang panik mendengar suara teriakan itu, memecah keheningan malam.
Takut mendatangkan banyak masalah dan kecurigaan orang.
Dia segera berkelebat maju dengan pedangnya.
"Sreettt...!"
"Ahhhh,...!"
Seberkas cahaya putih berkeredep melewati tenggorokan Gongsun Yan.
Gongsun Yan hanya bisa menjerit ngeri tertahan, sebelum tubuhnya jatuh terkapar bersimbah darah di lantai.
Ying Zheng yang sudah gelap mata, melangkahi mayat itu dengan santai.
Seolah olah tidak pernah terjadi apa apa, dengan tenang dia berjalan memasuki ruangan dalam gedung.
__ADS_1
Langsung menuju kearah kamar kamar yang berderet deret di dalam gedung.
Dengan langkah lebar seperti orang kesurupan, dia menendang pintu kamar satu persatu, hingga terbuka lebar.