LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
BERBICARA BERDUA


__ADS_3

Li Ba tidak tahu, juga tak banyak bertanya, apalagi yang lain.


Mereka lebih lebih tidak berani.


Semua pasukan harimau hitam juga tahu, Guo Yun adalah pimpinan yang paling sulit di tebak keinginannya.


Paling mudah di tebak adalah Li Ba, tapi paling pemarah dan berbahaya juga Li Ba.


Paling nyaman adalah ikut dengan Li Kui, sayang nya mereka semua sudah tidak bisa bekerja lagi di bawah Jendral yang paling, welas asih, sabar dan pengertian itu.


Karena dia sudah mengundurkan diri untuk selamanya dari karir militernya.


Sebenarnya kemana Guo Yun pergi dengan sebuah perahu kecil, seorang diri tanpa pengawalan sana sekali.


Semua ini adalah karena kebetulan aliran sungai itu melewati jalur penuh kenangan Guo Yun dan Min Min.


Jalur sungai kecil ini adalah jalur menuju sebuah tempat terpencil yang berair jernih dan indah.


Tempat itu adalah tempat Guo Yun dan Min Min membuat pondok kenangan mereka.


Sekaligus jasad Min Min di tinggalkan di sana, sesuai dengan wasiat terakhir darinya.


Mumpung sekalian lewat Guo Yun langsung memutuskan untuk sekalian mampir dan melihat lihat kesana.


Sedangkan urusan di Hua Rong Tao, Guo Yun sudah memperhitungkan.


Setelah pasukan nya sampe di lokasi mereka masih punya waktu 2 hari menyiapkan jebakan.


Setelah itu mereka masih harus menunggu 3 hari kemudian pasukan Lu Bu Wei baru akan tiba di sana.


Berdasarkan perkiraan waktu inilah, Guo Yun akhirnya mutuskan untuk mampir dan melihat lihat keadaan pondok kenangannya.


Sekalian menjenguk kondisi jasad Min Min setelah di tinggalkan sekian lama di sana.


Bila sudah rusak, Guo Yun bermaksud membakarnya, kemudian abunya akan dia bawa menyertai nya kemanapun dia pergi.


Dengan berbagai pertimbangan inilah Guo Yun bergerak seorang diri.


Menyusuri anak sungai tersebut, hingga akhirnya tiba di tempat tujuan.


Tapi Guo Yun saat meminggirkan perahunya, melihat ada beberapa perahu yang berukuran lebih besar dan mewah teronggok di tepi sungai kecil itu.


Guo Yun langsung memandang kearah pondok kenangannya dengan curiga.


Apalagi keadaan di luar pondok terlihat ada beberapa prajurit berseragam Qin berjaga jaga di sana.


Kecurigaan Guo Yun menjadi semakin besar, dengan alis berkerut, Guo Yun berpikir keras menebak, siapa yang bisa datang ketempat yang begitu terpencil itu.


Saat mendengar suara tertawa anak kecil dari dalam pondok kenangannya.


Guo Yun menjadi bertambah penasaran.


Guo Yun yakin dengan kemampuan nya, jadi dengan tenang dia melangkah dari tepi sungai menghampiri pondok kenangannya.


"Siapa disana..?!"


bentak beberapa pasukan Qin, dengan senjata panah di tangan mengancam kearah Guo Yun.


Guo Yun dengan langkah tenang berjalan menghampiri mereka dan bertanya,


"Aku yang seharusnya bertanya kenapa kalian ada di sini..?"


"Berhenti..!"


bentak salah satu pimpinan pasukan yang menghadang di depan pondok.


Tapi melihat Guo Yun tidak berniat untuk berhenti.


Dia langsung memberi kode agar panah dilepaskan.


"Lepaskan panah..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


Panah langsung berhamburan di lepaskan kearah Guo Yun, oleh pasukan Qin yang menghadang langkahnya.


Tapi panah panah itu saat mendekati Guo Yun, semua tertahan melayang di udara.


Seluruh tubuh Guo Yun terlindungi hawa sakti Thian Ti Sen Kung, tidak ada anak panah yang bisa mendekatinya, apalagi melukainya.


Dengan satu hentakan, mengembangkan kedua tangannya kearah kiri kanan.


"Hiaaahh..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


Panah panah yang tertahan melayang di udara, bergerak membalik kearah pasukan Qin.


Seketika terdengar suara jerit kesakitan di depan sana.


"Ahhhh..!" Ahhhh..!"


Ahhhh..!" Ahhhh..!"


Pasukan Qin yang menghadang langkahnya, seketika merintih rintih kesakitan diatas tanah terkena panah mereka sendiri, yang membalik.


Tidak ada satupun di antara mereka yang sanggup bangkit berdiri, termasuk komandan pasukan juga ikut jatuh terduduk diatas tanah.


Dengan 3 batang anak panah menancap di pundak lengan dan pahanya.


"Zhang Han apa yang terjadi ?!"


bentak sebuah suara dari dalam pondok.


Sesaat kemudian di depan pintu pondok berdiri Wang Jian menatap kaget dan gentar kearah Guo Yun.


"Adik..! bagaimana kamu bisa ada disini..?"


tanya Wang Jian canggung, suaranya juga terdengar sedikit gemetar.


"Kakak justru aku yang harus bertanya, pada mu di mana Ying Zheng si bangsat rendah itu..!?"


"Jaga ucapan mu adik, ! dia adalah Junjungan ku, aku melarang mu berbicara seperti itu terhadap junjungan ku..!"


bentak Wang Jian dengan alis berkerut.


Guo Yun tersenyum dingin dan berkata,


"Kakak,..,! aku menghargai mu sebagai kakak,! itu bukan berarti aku harus tunduk pada Junjungan mu, yang merupakan musuh yang sedang ku cari.."


"Mengingat hubungan persaudaraan kita, aku minta kakak menyingkirlah jangan ikut campur ."


"Jangan membela manusia laknat yang ajal nya sudah dekat, itu akan sia sia.."


Wang Jian menggelengkan kepalanya dengan penuh tekad, dia malah mencabut keluar pedangnya dan berkata,


"Aku siap berkorban demi Qin.."


"Raja Ying Zheng adalah Qin, dia ada Qin ada dia tiada Qin pun tiada.."


"Aku tidak boleh berdosa pada raja ZhuangXiang yang telah berbudi pada ku.."


"Silahkan maju adikku, aku tidak akan mundur.."


"Kami juga..!"


bentak Meng Thian dan Meng Yu, sambil ikutan mencabut pedang.


berusaha menghadang di depan pondok.


Guo Yun tersenyum dingin dan berkata,


"Jendral Meng bersaudara juga hadir, baiklah.."


"Hari ini biar aku penuhi keinginan kalian menjadi pahlawan pembela manusia laknat itu..!"


Guo Yun sudah mengeluarkan sepasang pedangnya di tangan.


Satu Tebasan pemusnah akan cukup melenyapkan ketiga Jendral terkenal dari Qin tersebut.


Guo Yun sebenarnya tidak ingin, tapi situasi tidak memberinya pilihan.


Saat dia siap melepaskan serangan nya tiba tiba terdengar sebuah suara lembut yang langsung membuat sepasang pedang ditangan Guo Yun gemetar.


"Yun ke ke tahan..!"


Sesaat kemudian dari dalam pondok melangkah keluar seorang wanita cantik, yang berjalan anggun sambil menggendong seorang anak kecil yang berumur sekitar 1,5 tahun.


Di belakangnya terlihat Ying Zheng yang wajahnya terlihat pucat dan kuyu.


Ying Zheng di kawal oleh Fan Sui, Li Si, Zhao Gao, dan tabib Xu Fu.


Guo Yun hanya mengenali Fan Sui, yang lainnya dia tidak kenal.


Tapi Guo Yun saat ini terlalu kaget, tidak ada waktu untuk memperhatikan mereka semua.


Dia terus menatap kearah Min Min dan bocah di dalam gendongannya secara berganti gantian.


"Min Min kamu kah itu ? aku tidak sedang bermimpi kah..?"


ucap Guo Yun dengan suara gemetar.


Wanita itu mengangguk pelan, airmatanya langsung runtuh membasahi pipinya.


Anak kecil di dalam gendongannya, langsung membantu menghapusnya dengan jari tangan nya yang mungil.


"Ibu,.. kenapa ibu menangis..!?"

__ADS_1


"Apa ada yang menjahati ibu..?!"


"Katakan pada Yun er, biar Yun er menghadapinya.."


ucap anak kecil itu berani.


"Apa paman jahat itu, yang membuat ibu menangis..!?"


"Turunkan Yun er, biar Yun er menghadapinya..!"


ucap Anak itu sambil menunjuk kearah Guo Yun.


Di luar dugaan sebelum ibunya sempat mengendalikan perasaannya,. menjelaskan pada anak itu.


Anak itu sudah meronta lepas dari gendongannya ibunya.


Anak kecil itu dengan nekat menggunakan sebilah pedang kayu mainan berlari kearah Guo Yun.


Dia ingin menyerang Guo Yun dengan pedang mainan di tangan nya.


"Yun er jangan..!"


teriak wanita itu kaget.


Wang Jian Meng Yu dan Meng Thian juga terkejut, mereka ingin bergerak tapi ragu.


Takut Guo Yun salah sangka, berpikir mereka ingin menyerang nya, masalah jadi tambah runyam.


Akhirnya mereka bertiga mematung disana.


Wanita itu yang berlari menuruni tangga, karena tidak sempat mencegah putranya, akhirnya dia berteriak,


"Yun Ke ke tahan...!dia Meng Yun putra kita..!"


Teriakkan nya membuat kaget semua yang hadir di sana.


Ying Zheng juga terlihat kaget dan tidak menyangka, ternyata keponakan kecilnya, yang selama ini oleh adiknya, selalu di rahasiakan ayah biologisnya darinya.


Ternyata adalah Guo Yun, Guo Yun yang sangat membenci dan ingin menghabisinya, karena dosa masa lalu nya itu.


Guo Yun juga sesaat berdiri mematung di sana, saat sadar dia segera menyimpan sepasang pedang nya.


Lalu berlutut menyambut anak kecil, yang membawa pedang kayu menghambur kearah nya.


"Takkkkk...!"


Guo Yun yang tidak siap pedang kayu itu tepat menghantam keningnya hingga darah pun mengucur.


"Aihhh Yun Er, jangan...! dia ayah mu nak..!"


teriak Min Min kaget, lalu dia berlari maju menghambur kearah Guo Yun.


Guo Yun sendiri tanpa menghiraukan luka di keningnya yang berdarah.


Dia sudah memeluk anak yang terlihat bingung itu kedalam pelukannya.


Dengan airmata bercucuran Guo Yun berkata,


"Terimakasih Thian,..! terimakasih,..! kamu telah memberikan kesempatan sekali lagi pada ku, untuk memperbaikinya.."


"Kamu malah menambahkan bonusnya terimakasih.."


ucap Guo Yun gembira.


Sambil menciumi pipi anaknya, yang terlihat masih bingung, setelah tadi mendengar ucapan ibunya.


Wanita itu setelah tiba di dekat Guo Yun, dia buru-buru ikut berlutut di sana.


Membantu menghapus darah yang mengalir dari kening hingga menetes netes di dagu.


Dengan menggunakan sapu tangannya, dia juga dengan cepat membantu menaburkan obat luka di kening Guo Yun.


Untuk membantu menghentikan pendarahan.


Guo Yun menangkap tangan nya yang sedang mengobatinya dan berkata,


"Biarkan saja, aku suami yang jahat, ayah yang buruk dan tidak bertanggung jawab, aku pantas menerimanya.."


"Kalian maafkan lah aku.."


ucap Guo Yun sambil menarik Wanita itu yang bukan lain adalah Min Min kedalam pelukannya.


Mereka bertiga berpelukan jadi satu dengan gembira.


Melihat hal itu, Li Si dan Gan Sui saling memberi kode dengan mata mereka.


Guo Yun sedang berada dalam titik kewaspadaan terendah, mereka berdua sependapat.


Saat ini adalah waktu paling tepat untuk menghabisi Guo Yun.


Demi keberhasilan, mereka terpaksa harus korban kan Min Min dan putranya.


Kedua orang itu mengeluarkan sepucuk benda, yang pernah Fan Sui dapatkan dari pasukan harimau hitam yang di bunuh nya.


Kini kedua menteri itu diam diam dari balik punggung Meng Thian dan Meng Yu, mereka siap melepaskan senjata rahasia maut itu menyerang Guo Yun.


Tapi untungnya di detik detik terakhir sebelum mereka sempat melakukan sesuatu.


Ying Zheng mendorong moncong kedua senjata itu kebawah.


"Doooorr..!"


"Doooorr..!"


Saat suara letusan keras terdengar, hanya lantai kayu pondok itu yang berlubang.


"Bodoh apa yang telah kalian lakukan..!"


bentak Ying Zheng marah.


Fan Sui dan Li Si sangat kaget mendengar suara teguran marah Ying Zheng.


Mereka langsung menjatuhkan diri berlutut ketakutan.


"Berani kalian bertindak sembarangan tanpa perintah dari ku lagi.."


"Awas hati hati dengan kepala dan otak kalian..!"


bentak Ying Zheng marah.


Guo Yun menatap kearah Ying Zheng dengan tatapan mata serba salah.


Bagaimana pun Ying Zheng termasuk berjasa besar menyelamatkan dia Min Min dan putranya.


Bila tidak ada Ying Zheng, pasti anak istrinya akan tewas, di tempat.


Dia sendiri mungkin selamat, karena di tubuhnya ada Thian Ti Sen Kung yang melindungi.


Dia akan kembali kehilangan kesempatan kedua untuk hidup berbahagia bersama keluarganya.


Dalam hal ini, Ying Zheng termasuk berjasa padanya.


Tapi di sisi lain, dia juga tidak mungkin membiarkan Gongsun Yan Siau Ti dan ayahnya tewas sia sia mati penasaran.


Di saat Guo Yun sedang bingung dan dalam dilema.


Terdengar suara lembut Min Min berkata,


"Terimakasih kak Ying Zheng,.. untung ada kakak.."


Ying Zheng tersenyum kearah Min Min dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian dia dengan langkah pelan berjalan menghampiri kearah Guo Yun.


Wang Jian Meng Yu dan Meng Thian ingin mencegahnya.


Tapi Ying Zheng memberi kode pada mereka untuk mundur.


Mereka bertiga terpaksa melangkah mundur, memberi jalan pada Ying Zheng.


Ying Zheng berjalan mendekat kearah Guo Yun, Min Min dan putra mereka Meng Yun.


Hanya Xu Fu tabib dewa istana dan Zhao Gao Kasim kepercayaan Ying Zheng, yang menemaninya dari belakang.


Setelah tiba di hadapan Guo Yun, Ying Zheng berkata,


"Aku tahu kamu pasti serba salah sekarang."


"Kamu tak perlu ragu aku sudah siap untuk itu.."


"Dosa ku di masa lalu itu memang terlalu besar dan pantas mati.."


"Asalkan kamu berjanji untuk menjadi kaisar yang baik, menyayangi rakyat seperti kamu menyayangi keluarga mu..'


"Menyayangi adik ku dan keponakan kecil ku ini, seperti kamu menyayangi nyawa mu sendiri.."


"Aku rela menerima hukuman dari mu, silahkan.. lakukan lah.."


ucap Ying Zheng sambil ikut berlutut di hadapan Guo Yun.


Dia memberikan pedangnya ke Guo Yun, lalu menggunakan tangan nya sendiri mengarahkan ujung pedang menempel di lehernya.


Dia terlihat pasrah dengan memejamkan matanya.


Kini malah Guo Yun yang terlihat gemetaran memegang gagang pedang tersebut.


Dia terlihat ragu ragu untuk mengeksekusi musuh yang paling di carinya, selain Lu Bu Wei.


"Yun ke ke jangan.."


ucap Min Min dengan suara sedih.


Guo Yun memejamkan matanya, mengeraskan hati, ingin menghabisi bibit petaka dunia ini.


Guo Yun tidak bodoh, dia tahu Ying Zheng sedang bersandiwara, ingin dapatkan simpati darinya.

__ADS_1


Agar dia melepaskan nya, Ying Zheng ini sama dengan Lu Bu Wei pandai bersandiwara.


Tidak bisa di percaya semua ini, Guo Yun sangat tahu.


Dia tahu dengan sejelas jelasnya karakter kedua ayah dan anak ini.


Tapi saat ini yang di hadapi Guo Yun bukan lagi musuh di depan mata.


Tapi adalah perasaan hatinya sendiri, dia berat menyakiti dan menolak permintaan Min Min.


Dia sudah terlalu banyak berhutang padanya, dia sulit menolak permintaan istrinya ini.


Bagaimana pun Ying Zheng ini adalah kakak kandungnya, meski lain ibu.


Hubungan mereka selama ini juga sangat baik, menyakiti Ying Zheng saat ini, tiada bedanya dengan menyakiti perasaan Min Min istrinya.


Saat tekad Guo Yun mulai terkumpul tangan nya mengeras siap mendorong pedang itu untuk menyudahi semuanya.


Saat itu sebuah telapak tangan kecil menyentuh tangan Guo Yun dan berkata,


"Ayah jangan sakiti paman, paman sangat baik dan menyayangi Yun er."


"Ayah.."


ucap suara anak kecil itu polos.


Panggilan termanis itu, telah meluluhlantakkan seluruh sisa pertahanan kekerasan hati Guo Yun.


"Anak muda aku tabib Xu Fu akan berbicara secara adil tanpa memihak.."


"Kamu harus tahu anak muda, istrimu juga anak mu tidak mungkin ada.."


"Bila bukan dia memaksaku memintaku menyelamatkan mereka.."


"Saat kami menemukan nya, istri dalam keadaan terluka parah, hingga mati suri dalam kondisi hamil besar.."


"Dari perhitungan ku, seharusnya saat istri mu mati suri, kehamilannya jelas belum besar.."


"Aku juga tidak paham, kenapa janinnya bisa tumbuh berkembang sendiri, padahal ibunya sedang mati suri.."


"Itu mungkin adalah keajaiban dari yang kuasa.."


"Satu hal lagi,kamu harus tahu itu.."


"Istri dan putra mu belum sepenuhnya sembuh, mereka masih memerlukan pertolongan dari ku.."


"Bila kamu membunuhnya, aku tidak akan sudi menolong orang yang tidak tahu balas Budi seperti mu, itu saja.."


ucap Tabib Xu Fu serius.


Mendengar ucapan dan penjelasan tabib Xu Fu, Guo Yun semakin ragu.


Meski Kui Yi Sian Seng kakek dari istrinya mungkin bisa menolong istri dan putranya, tapi dia juga tidak berani memastikan nya bisa.


Pertaruhan itu terlalu besar resikonya, Guo Yun tidak mau menyesal untuk kedua kalinya, yang pastinya akan jauh lebih menyakitkan lagi di banding sebelumnya.


Dia juga tidak mau jadi orang yang tidak punya rasa balas Budi, juga orang yang tidak berperikemanusiaan.


Akhirnya Guo Yun kalah total dengan perasaannya sendiri, akal sehat dan logikanya, kalah dengan perasaannya.


"Trangggg..!"


Pedang di tangan Guo Yun terlepas dari pegangan tangannya, jatuh berkerontangan di atas tanah.


Ying Zheng dengan cepat menyambar pedang yang jatuh di atas tanah.


Lalu dia memotong jari kelingking dan jari manis tangan kirinya sendiri.


"Crakkk..!"


"Arggghh..!"


"Adik ipar anggaplah ini untuk melunasi hutang nyawa mereka.."


ucap Ying Zheng sebelum jatuh pingsan dengan tangan berlumuran darah.


"Ahhh,.. kakak...!"


"Paman..!"


Terdengar jerit kaget Min Min dan putranya, melihat keadaan Ying Zheng.


Xu Fu dengan cepat berjongkok, memeriksa dan menangani luka di tangan Ying Zheng.


Sebentar saja pendarahan sudah berhenti, tangan nya yang kehilangan jari, sudah terbungkus dengan rapi.


"Jangan khawatir, dia tidak apa-apa, hanya perlu istirahat saja nanti juga pulih ."


ucap Xu Fu menenangkan Min Min dan putranya yang cemas.


Sedangkan Guo Yun hanya terdiam di sana, menatap potongan dua jari Ying Zheng yang tergeletak di hadapannya.


Dengan hati hati, Guo Yun kemudian menggunakan sepotong kain membungkusnya, lalu dia masukkan kedalam cincinnya.


Meski tidak bisa membawa kepalanya, setidaknya dia bisa membawa dua benda ini untuk menyembahyangi arwah penasaran, Gongsun Yan Siau Ti dan ayahnya.


Beberapa saat kemudian, setelah tubuh Ying Zheng di gotong pergi oleh Wang Jian, Meng Thian, Meng Yu, dan komandan pasukan Zhang Han, yang sebelumnya terluka di tiga tempat oleh anak panah membalik.


Kini dia membantu menggotong tubuh Junjungan mereka, bersama atasannya dengan langkah sedikit terpincang pincang menuju salah satu perahu di tepi sungai.


Xu Fu sebelum ikut pergi meletakkan sebuah botol.porselen di sana dan berkata,


"Tuan putri dan pangeran kecil, bila minum obat ini secara teratur satu.pil sekali minum, sehari 3 kali."


"3 bulan kemudian kalian akan pulih total.."


"Permisi.."


ucap Xu Fu sambil berjalan pergi, menyusul rekan rekannya yang sudah naik keatas perahu.


"Terimakasih banyak tabib Xu.."


ucap Min Min.


Tabib Xu hanya tersenyum dan mengangguk kecil.


Lalu dia melanjutkan langkahnya menyusul rekan rekannya yang lain.


Kini di sana hanya tersisa Guo Yun Min Min dan Meng Yun.


"Yun ke ke sebenarnya apa yang dilakukan oleh kakak ku, sehingga kamu begitu ingin menghabisi nya.?"


tanya Min Min penasaran.


Dia yakin dengan karakter suaminya, bila kakaknya tidak melakukan sesuatu yang sangat kelewatan, suaminya tidak bakal mungkin mengejarnya sampai seperti itu..


Guo Yun sambil tersenyum canggung berkata,


"Semua sudah berlalu, lagipula kakak mu juga sudah membayarnya.."


"Mudah mudahan dia beneran bertobat.."


"Ada anak kita di sini, aku tidak bebas cerita."


"Nanti bila dia tidur aku akan ceritakan semuanya.."


ucap Guo Yun sambil tersenyum.


"Ayah kenapa Yun er tidak boleh dengar, kenapa harus tunggu Yun er tidur..?"


tanya Meng Yun penasaran.


Guo Yun tersenyum lembut, dia membelai kepala putrinya dengan lembut, lalu menciumnya dan berkata,


"Bila Yun er sudah besar, ayah janji pasti akan ceritakan padamu.."


"Sekarang lebih baik ayah temani kamu tidur dengan cerita kancil melawan harimau.."


"Bagaimana..? mau..?"


"Hore,.. mau,.. mau..ayah..mau sekali.."


ucap Meng Yun melompat lompat gembira.


Guo Yun lalu menggendongnya, sambil berangkulan mesra dengan Min Min.


Mereka bertiga berjalan sambil ngobrol dan tertawa masuk kedalam pondok kenangan.


Guo Yun menemani putranya tidur siang, dengan bercerita untuk nya, hingga putranya tertidur pulas.


Guo Yun tersenyum puas melihat putranya akhirnya tertidur pulas.


Lalu dia melangkah menghampiri Min Min, yang sedang duduk di kursi santai sambil tersenyum lembut menatap kearah nya.


Guo Yun mengambil posisi duduk di sebelah kursi Min Min, sambil menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya.


Perlahan lahan dia menceritakan semua perselisihan dan dosa berat yang di lakukan oleh Ying Zheng hingga dia sulit mengampuninya.


Guo Yun juga menceritakan, apa yang menjadi pemikiran nya tentang diri Ying Zheng.


Setelah selesai bercerita hingga tuntas, Guo Yun pun berkata,


"Aku hanya bisa berharap, dia kedepannya akan benar benar sadar bertobat sepenuh nya.."


"Bila dia bertobat sepenuhnya dan menjadi raja yang baik, bukan mustahil aku akan berikan seluruh kekaisaran untuk nya.."


"Karena pada dasarnya aku tidak menginginkan itu, aku hanya ingin melihat rakyat hidup tenang tanpa perang.."


"Di mana aku dan kalian bisa hidup bersama sama dengan bahagia itu sudah lebih dari cukup.."


ucap Guo Yun mengemukakan apa yang ada di pikirannya..


Bagaimana dengan ayah kandung ku Lu Bu Wei, ? apa yang akan Yun ke ke lakukan padanya..?"


tanya Min Min sambil membelai rambut di kepala Guo Yun dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2