
Di saat itu, Zhou Wei dengan cepat menghentakkan kedua kakinya keatas tanah.
Lalu kedua kakinya mumbul ke udara, untuk menangkis serangan Ling Tai dengan rantai besi yang terikat diantara kedua kakinya.
"Tappp...!
"Cranggg..!!"
"Cringggg..!!"
Setelah terjadi benturan keras sepasang pedang dengan rantai besi.
Hingga terlilit oleh rantai besi di kedua kaki Zhou Wei, dengan sekali sentakan kuat, mengikuti putaran tubuhnya.
Sepasang pedang Ling Tai tertarik maju kedepan.
Dalam kondisi tubuhnya terseret kedepan.
Zhou Wei setelah berguling kebelakang satu kali, dia muncul dengan ujung mata tombaknya yang tepat menembus ulu hati, Ling Tai.
"Creebbbb..!!"
Hingga Mata Tombak Zhou Wei muncul di punggung Ling Tai.
"Kau...!!"
Hanya suara itu yang keluar dari mulut Ling Tai yang berlumuran darah.
Sebelum kedua pedang ditangan nya, terlepas dari pegangan sepasang tangannya.
Jatuh berkerontangan di atas tanah.
Sepasang mata Ling Tai yang terbelalak penasaran tidak percaya dengan apa yang di alaminya.
Langsung mendelik keatas, dengan satu tarikan nafas panjang yang terputus ditengah jalan.
Ling Tai langsung menghembuskan nafas terakhirnya.
Begitu Zhou Wei menarik kembali tombaknya, sambil bergulingan menghindar.
Tubuh Ling Tai langsung jatuh terjerambab diatas tanah, bersimbah darah diam tidak bergerak lagi
"Adikkkkk...!!"
Teriak Ling Wu dan dua saudaranya yang lain.
Mereka langsung berlari menghambur kearah jasad Ling Tai, yang sedang tergeletak dengan posisi tengkurap di atas tanah.
Ling Wu langsung menyambar dan menarik mayat adiknya yang bersimbah darah, kedalam pelukannya.
Dia terlihat menjerit jerit histeris, sambil memanggil manggil nama adiknya yang sudah tewas.
Sesaat kemudian Ling Wu terlihat menangis sedih dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya.
Beberapa saat kemudian dengan tatapan mata kosong yang bersimbah airmata.
Ling Wu menggendong jasad adiknya, berjalan dengan langkah lesu, melewati Zhou Wei yang berdiri diam di sana.
Di mana luka di bahunya, kini sedang di rawat oleh istrinya dengan penuh perhatian.
Ling Wu tidak menegur juga tidak melirik kearah Zhou Wei dan istrinya.
Dia terus berjalan melewati mereka, yang dia anggap seperti angin lalu.
__ADS_1
Saat lewat di hadapan Guo Yun, Ling Wu menatap kearah Guo Yun dengan sedih.
Dia lalu mengangguk pelan kearah Guo Yun sebagai penghormatan.
Setelah itu tanpa berkata apapun, Ling Wu di ikuti oleh rombongan keluarga mereka.
Rombongan itu Menggunakan kereta kuda, meninggal kan tempat tersebut dengan hati hancur.
Zhou Wei sambil memeluk istri dan anak nya, berjalan kehadapan Guo Yun.
Memberi hormat dan berkata,
"Maafkan hamba yang telah menyeret Yang Mulia kedalam posisi yang serba tidak enak ini.."
Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,
"Semua sudah berjalan adil, tidak ada yang bisa di persilahkan.."
"Ling Tai meninggal adalah yang terbaik, untuk menjaga keutuhan hubungan keluarga Ling dan keluarga Zhou."
"Dia juga telah mencuci bersih nama keluarga Ling, yang terlanjur di kotori dengan sikapnya yang hina.."
"Ling Wu sedang berduka, makanya bersikap seperti itu."
"Aku yakin nanti bila sudah normal dan berpikir jernih.."
"Dia pasti akan introspeksi diri, akan belajar merelakan nya, dan tidak akan memperpanjang urusan yang sudah terjadi.."
Ucap Guo Yun sambil tersenyum lembut.
Zhou Wei mengangguk dan berkata,
"Semoga saja seperti itu.."
"Yang Mulia kami juga mohon pamit permisi."
Sesaat kemudian mereka juga bergerak meninggalkan tempat itu dengan kereta kuda mereka.
Setelah semua nya pergi, Guo Yun dengan langkah lesu, dan wajah lelah, jauh dari senyuman.
Dia berjalan kedepan makam tiga sahabat baiknya, yang sudah dia anggap seperti saudara kandungnya sendiri.
Guo Yun menjatuhkan diri berlutut di sana sambil menangis tersedu-sedu dan berkata,
"Kakak Zhang, Kakak Zhou, Kakak Ling, kalau boleh memilih aku ingin rasanya segera pergi menyusul kalian.."
"Agar tidak harus selalu terlibat dalam kemelut keluarga sendiri, yang tidak ada selesainya..'
"Aku harap kakak bertiga di bawah sana, tidak akan menyalahkan adik."
"Atas tindakan dan sikap yang adik mu ambil tadi.."
"Keputusan itu adik ambil karena sangat terpaksa, adik mohon kakak bertiga bisa memakluminya.."
Ucap Guo Yun sambil menangis sedih di depan makam ketiga saudaranya.
Gongsun Li yang melihat keanehan Guo Yun di depan makam sana
Dia segera berkata,
"Yun ke ke sepertinya sedang sedih.."
"Ayo kita coba lihat kesana, dan bantu menghiburnya ."
__ADS_1
Ajakan Gongsun Li langsung di sambut baik oleh yang lainnya.
Mereka bertiga pun segera turun dari kereta kuda.
Lalu berjalan menghampiri Guo Yun yang sedang berlutut sambil menangis dan berbicara seorang diri di sana.
"Dulu aku mengajak kalian keluar, turun gunung untuk meraih kesuksesan dan menikmati kesuksesan bersama.."
"Tapi kini sampai akhirnya, lihatlah apa yang kita raih dan capai, ?"
"Tidak ada.."
"Tidak ada yang berhasil kita capai dan raih, selain kematian yang mengenaskan.."
"Maafkan aku kakak Zhang, Kakak Ling, kakak Zhou, kalian mempercayai ku.."
"Tapi sebagai balasannya aku telah gagal, aku selalu gagal.."
"Hingga akhirnya kalian semua pergi dariku dengan cara yang sangat menyedihkan.."
"Aku sungguh sungguh mengecewakan dan berdosa dengan kalian semua."
"Bahkan di hari peringatan penghormatan terakhir kalian, malah muncul tragedi berdarah seperti itu, diantara keturunan kakak Ling dan kakak Zhou..'
Ucap Guo Yun melepaskan perasaan duka nya.
Gongsun Li Si Si dan Min Min ikut berlutut di samping Guo Yun.
Mereka bertiga menatap kasihan kearah Guo Yun.
Gongsun Li yang buka suara duluan,
"Yun Ke ke sudahlah, orang yang telah pergi tak mungkin bisa kembali.."
"Jangan terlalu menyalahkan diri, biar kita kenang mereka di hati kita saja.."
"Hanya dengan cara itu, mereka selama nya, akan selalu ada di hati kita.."
Si Si kemudian ikut bicara,
"Yun ke ke yang penting kamu sudah berjuang maksimal, mereka semua paham itu.."
"Tidak ada satupun orang di sekitar mu yang menyalahkan mu, atas semua yang terjadi.."
"Karena semua paham kamu sudah berjuang maksimal untuk semuanya.."
"Bukan untuk kepentingan pribadi.."
"Mungkin semua ini sudah takdirnya, relakanlah dan terima saja kenyataan, takdir yang datang, tanpa perlu ada penyesalan.."
Min Min menatap Guo Yun dengan sedih dan berkata,
"Yun ke ke,.meski yang aku ingat tidak banyak.."
"Tapi aku tahu pasti, Yun ke ke adalah pria yang paling baik, paling bisa di percaya dan di andalkan.."
Yun ke ke jangan bersedih lagi, atau kami semua jadi ikut bersedih ."
Ucap Min Min polos.
Guo Yun menatap kearah Min Min yang polos dan berkata sambil tersenyum.
"Baiklah terimakasih, aku tidak akan bersedih lagi.."
__ADS_1
"Ayo kita pulang, masih banyak tugas yang menanti kita, sepulang dari sini.."
Ucap Guo Yun sambil bangkit berdiri.