
"Apa ini..?"
tanya Meng Thian heran.
Liu Yang Si Pedang Kilat pun berkata,
"Ini adalah benang sutra kaca, sangat tajam halus dan sulit terlihat.."
"Dia bahkan mampu memotong sehelai rambut dengan sangat mudah."
"Lihat.."
ucap Liu Yang Si Pedang Kilat sambil melempar sehelai rambutnya sendiri kearah benang halus di hadapannya.
Terlihat rambut Liu Yang Si Pedang Kilat melayang di udara jatuh kearah benang halus yang malang melintang di hadapan mereka.
Dengan sangat mudahnya, rambut Liu Yang Si Pedang Kilat terpotong menjadi dua empat dan seterusnya, begitu bersentuhan dengan benang halus di bawahnya.
Meng Thian menggeleng gelengkan kepalanya dan berkata,
"Jebakan mematikan yang sangat keji.."
Meng Thian memberi kode ke bawahannya agar membantu membersihkan benang benang jebakan itu.
10 personil pasukan Qin dengan menggunakan pedang di tangan mencoba menebas putus benang benang halus yang menghadang perjalanan mereka.
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
Sinar putih berkilauan berkelebat secara serentak, di lepaskan oleh pasukan Qin.
Hendak menebas putus benang benang penghadang itu.
Tapi bukannya putus saat benang benang itu, berbenturan dengan pedang di tangan mereka.
Malah terdengar suara benda keras beradu, yang berakhir dengan pedang prajurit Qin pada patah semuanya.
Meng Thian dengan wajah sedikit kaget menoleh kearah Liu Yang Si Pedang Kilat dan berkata,
"Senior Liu,.. bagaimana cara kita melewati jebakan benang sutra kaca ini..?"
Liu Yang Si Pedang Kilat tersenyum tenang dan berkata,
"Harap Jendral Meng dan pasukan mundur 100 langkah ke belakang, biar aku yang mencoba membukanya."
Meng Thian mengikuti petunjuk dari Liu Yang Si Pedang Kilat, dia memimpin pasukannya mundur 100 langkah kebelakang.
Memastikan semua orang di belakangnya telah mundur semuanya.
Liu Yang Si Pedang Kilat baru mencabut pedang sinar birunya.
Tidak terlihat cara dia menggerakkan pedang di tangan nya.
Hanya terlihat seberkas cahaya biru, melesat kedepan.
"Singggg..!"
Cahaya yang membelah udara, mengeluarkan suara berdesing keras.
"Duaarr..! Duaarr..! Duaarr..!"
Tanah di bawah sana, yang di lewati oleh cahaya biru itu, langsung meledak dan merekah lebar.
__ADS_1
"Tasss..! Tasss..! Tasss..! Tasss..!"
"Tasss..! Tasss..! Tasss..! Tasss..!"
"Tasss..! Tasss..! Tasss..! Tasss..!"
Cahaya biru dengan cepat menebas putus semua benang penghalang perjalanan mereka.
Dalam sekejab mata, sua benang penghadang itu, sudah habis di babat putus oleh energi pedang Liu Yang Si Pedang Kilat.
Liu Yang Si Pedang Kilat tersenyum puas, melihat hasil kerjanya sendiri.
Dia kemudian menoleh kearah Meng Thian dan berkata,
"Jendral Meng sekarang sudah bisa di lewati dengan aman .!"
Meng Thian mengangguk cepat, dia segera memberi kode ke pasukannya, agar kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Di tempat lain Gongsun Li di perkemahan nya yang terletak di atas sebuah bukit tersembunyi.
Dia sedang menatap kearah seorang pengawal yang datang menghadap dengan pakaian kotor penuh debu.
Prajurit tersebut terlihat sedang berlutut di hadapan Gongsun Li dan berkata,
"Lapor Yang Mulia, mata mata kita di puncak tebing, semua binasa tidak bersisa."
"Sedangkan jebakan benang sutra kaca kita juga sudah di bongkar.."
"Kini pasukan besar Jendral Meng Thian sedang memasuki wilayah jebakan pos kedua.."
ucap prajurit itu datang memberi laporan.
"Meng Thian tidak mungkin punya kemampuan mendaki tebing yang curam dan sangat tinggi itu, bila tidak tahu jalan rahasia nya.."
"Lagipula pintu jalan rahasia justru terletak di sebelah dalam wilayah pos jebakan ke tiga."
"Bagaimana mungkin dia bisa naik keatas sana ?"
"Katakan siapa dalang yang menjadi andalan Meng Thian dalam misi ini.."
ucap Gongsun Li heran.
"Lapor Yang Mulia, sesuai dugaan Yang Mulia, Jendral Meng Thian memang di kawal oleh seorang pria berusia 40an, berjenggot pendek di potong rapi."
"Menurut laporan rekan mata mata kita, orang itu bernama Liu Yang Si Pedang Kilat."
"Di dunia persilatan namanya termasuk cukup terkenal. Dia termasuk pendekar golongan kelas satu."
Gongsun Li mengangguk dan berkata,
"Baiklah,.. kamu kembali lah ke pos jaga mu, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
"Siap Yang Mulia.."
ucap prajurit itu, setelah memberi hormat, dia segera pergi dari tempat tersebut.
"Liu Yang Si Pedang Kilat.."
"Kamu tunggu saja.."
ucap Gongsun Li geram.
Di tempat lain Meng Thian dan pasukan Qin yang sedang memasuki wilayah jebakan pos kedua.
Mereka menghadapi serangan gelondongan kayu yang berjatuhan dari atas tebing.
Meng Thian segera memberi perintah,
"Pasukan tameng, bentuk pertahanan,..!"
__ADS_1
"Sisanya segera ikut dengan ku keluar dari tempat ini..!"
teriak Meng Thian memberi instruksi.
Meng Thian segera memimpin pasukan nya bergerak cepat meninggalkan tempat yang sedang kacau balau.
Di mana gelondongan kayu besar besar, yang di dorong dari atas tebing melayang jatuh kebawah mengarah ke pasukan Qin.
Di tempat itu kini hanya tersisa pasukan Tameng Qin, yang menggunakan tameng di tangan mereka, beramai ramai mencoba membentuk dinding pertahanan tameng.
Untuk mencegah jatuhnya korban besar di pihak mereka, dengan susah payah mereka terus berusaha menghalau datang nya serangan gelondong kayu yang menimpa ke arah mereka.
"Bangggg..!"
Terdengar suara keras saat gelondongan kayu, menghantam dinding perisai yang di buat oleh pasukan Qin.
Terdengar suara teriakan komandan regu pasukan tameng itu.
"Tahan..! ya terus Tahan,..!"
"Alihkan..!"
"Segera alihkan..!"
"Cepat,, ! cepat..!"
"Ayo perlahan lahan bergerak, segera tinggalkan tempat berbahaya ini..!"
ucap komandan regu, memberikan instruksi.
Mereka sambil berusaha menahan beramai ramai jatuhnya gelondongan kayu besar besar.
Mereka juga terus bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Di tempat lain Meng Thian menoleh kearah Liu Yang Si Pedang Kilat dan berkata,
"Senior Liu, bisakah kamu bantu pasukan kami, melenyapkan lawan, yang bersembunyi di puncak tebing sana.?"
Liu Yang Si Pedang Kilat mengangguk dan berkata,
"Baik aku akan menghabisi mereka yang bersembunyi diatas tebing, sebagai penghambat dan pengganggu pergerakan pasukan Qin."
Selesai berkata, Liu Yang Si Pedang Kilat sudah menghilang dari atas punggung kudanya.
Saat muncul lagi, dia sudah berada di atas tebing, menggunakan sarung pedangnya membunuh belasan orang.
Sebelum dirinya sendiri juga ikut menyusul bergerak bagaikan kilat menyambar kesana kemari.
Hanya terlihat cahaya biru berkilauan yang terus bergerak terbang kesana kemari.
"Singgg...!" Singgg...!" Singgg...!"
"Cesss..! Sratttt..! Srettt,..!"
"Arggghhh..!" Arggghhh..!"
"Singgg...!" Singgg...!" Singgg...!"
"Cesss..! Sratttt..! Srettt,..!"
"Arggghhh..!" Arggghhh..!"
"Singgg...!" Singgg...!" Singgg...!"
"Cesss..! Sratttt..! Srettt,..!"
"Arggghhh..!" Arggghhh..!"
Terdengar suara pedang berdesing membelah udara, di sertai suara pelindung leher dan leher tersayat, tertikam, tertebas, bercampur dengan suara jerit ngeri dari pasukan harimau hitam yang tewas di atas tebing.
__ADS_1
Satu persatu mereka semua jatuh bertumbangan tewas tergeletak di atas sana.