
Sepasang cakar bersinar kebiruan menempel erat di dada Guo Yun yang padat berotot.
Tubuh Guo Yun yang tidak berpakaian, terlihat sangat proporsional, padat berisi.
Guo Yun awalnya mengira Attila akan kaget dengan ilmu Shi Chi Hua Ming andalannya.
Tapi sekali ini Guo Yun harus kecewa, karena dia merasa daya sedotnya.
Tidak menyedot tenaga apapun, dia seperti menyedot sesuatu yang kosong hampa tidak ada isi nya.
Attila tersenyum mengejek dan berkata,
"Di orang lain tipuan anak kecil ini, mungkin berfungsi.."
"Kini di depan kakek mu, kamu cuma pemimpi kecil..."
"Rasakan ini..!"
bentak Attila sambil menggerakkan sepasang cakarnya yang tajam dingin seperti belati tajam.
Guo Yun merasakan jari jari itu membenam dalam kulit dan dagingnya, kini ingin merobek rongga dadanya.
Rasa sakit dan perih luar biasa menyerang Guo Yun, Guo Yun yang memiliki daya tahan rasa sakit yang tinggi sekalipun tidak bisa menahan diri untuk menjerit kesakitan.
"Arrggghhh...!"
Sambil menjerit ngeri, Guo Yun menjatuhkan diri nya terlentang kebelakang.
Sehingga sepasang cakar Attila menemui tempat kosong, di saat bersamaan Guo Yun menggunakan sepasang kakinya yang memainkan jurus, Je Ye Sen Tui..
"Deesss...!"
Attila yang tidak menyangka Guo Yun yang terluka cukup parah di dadanya.
Masih bisa menghindar dengan cara seperti itu dan membalas menyerang dadanya.
Dengan sepasang kaki, akhirnya dia terlempar ke belakang, setelah tendangan dahsyat Guo Yun yang mengandung kekuatan Thian Ti Sen Kung meledak di dadanya.
Attila terpental mundur dengan baju bagian dadanya pecah berantakan.
Attila sedikit terbatuk batuk, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Critt..!"
Attila menyemburkan sedikit darah keatas tanah.
Ratu Camelia tanpa memperdulikan bahaya, dia segera memacu kudanya menghampiri tunangannya.
Beberapa anak panah yang di lepaskan dari atas menara Han Gu Kuan.
Dia hindari dengan mudah, seperti orang bermain akrobat, berlindung di samping tubuh kudanya.
Ratu itu benar benar penunggang kuda yang piawai.
Attila yang melihat tunangannya di jadi sasaran tembak anak panah.
Dia meraung marah,
"Growwww...!"
Sambil merobek sisa bajunya, yang telah berlubang di bagian dada, dia melempar nya keatas tanah dengan kesal.
Lalu dia melesat ke udara, sejajar tingginya dengan Han Gu Kuan, lalu dia melepaskan pukulan hawa biru transparan nya kearah menara.
Guo Yun yang terluka cukup parah dengan goresan robek besar kulit daging dan otot di bagian dadanya.
Dia tidak bisa berdiam diri, melihat serangan berbahaya Attila menerjang kearah pasukannya, di puncak menara.
Guo Yun memaksakan diri dengan Wu Ying Ru Tian, muncul menghadang serangan dahsyat itu.
"Blaaaarrr....!"
"Brakkkk...!"
Guo Yun terpental kebelakang menabrak pagar tembok menara, hingga hancur berantakan.
Tubuhnya baru berhenti setelah punggungnya menabrak dinding tembok lapis kedua.
Guo Yun langsung memuntahkan darah beku cukup banyak dari mulutnya.
Dia terluka cukup parah, luka di dadanya terlihat robekan nya semakin besar.
Wajahnya pucat pasi, seluruh tubuhnya mengigil kedinginan, bibirnya di selimuti es tipis.
Alis dan rambutnya terlihat seperti di selimuti butiran salju halus.
Han Wei dan Pang De mereka berdua jongkok di samping kiri kanan Guo Yun dengan khawatir.
"Yang Mulia bagaimana keadaan mu..?"
tanya Han Wei khawatir.
Guo Yun memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata,
"Kalian tenang saja, cuma luka kecil.."
"Belum bisa membunuh ku.."
ucap Guo Yun kemudian mengambil posisi duduk bersila.
Berusaha mengatasi dan menetralisir hawa dingin yang sangat kuat yang hampir membekukan aliran darahnya.
Sementara itu Attila sendiri juga mengalami nasib tidak lebih baik dari Guo Yun.
Dia terpental jatuh ke bawah, setelah menerima hantaman Thian Ti Sen Cang yang Guo Yun lepaskan.
"Booommm..!"
Terjadi ledakan keras, saat punggung Attila menghantam.keras keatas tanah.
Tanah di belakang Attila melesak kedalam hingga membentuk sebuah kubah kecil.
Tanpa memperdulikan debu pasir dan batu yang berhamburan, memenuhi udara.
Ratu Camelia berlari menerobos kedalam sambil berteriak khawatir.
"Attila....!" Attila....!" Attila....!"
"Kamu di mana, ?! jangan takuti aku..!?"
Attila....!" jawab aku...!'
"Kamu tidak boleh tinggalkan aku..!"
Attila....!"
Teriak Ratu Camelia di dalam kabut debu.
Attila yang terkapar di dalam lubang, berusaha bangkit berdiri.
Tapi beberapa kali mencobanya, dia kembali jatuh.
Dia ingin menjawab tunangannya, tapi suaranya terlalu kecil hampir tidak terdengar.
Dada Attila yang tak berbaju terlihat biru lebam,.sangat kontras dengan warna kulit tubuhnya, yang putih, dengan bulu bulu halus kuning keemasan, tumbuh subur menghiasi kulit di dada, ulu hati, hingga ke perutnya.
Tubuh Attila tidak kalah atletis dengan Guo Yun, malah otot-otot nya jauh lebih besar dan terlihat lebih kekar dari Guo Yun.
Setelah berjuang beberapa saat, sambil menahan rasa nyeri di punggung dan dadanya.
Attila akhirnya bisa bangkit duduk dan berkata dengan sedikit lebih keras
"Aku di sini Camelia.."
Mendengar suara Attila, Camelia pun langsung berlari keasal suara itu.
Dia langsung masuk kedalam cekungan lubang, berlutut di samping Attila dengan airmata bercucuran dia berkata,
"Ini salah ku, aku tidak seharusnya meminta mu terjun ke medan perang..."
"Maafkan aku,..mari kita pulang,.. mari kita lupakan semuanya.."
ucap Camelia sambil menangis sesunggukkan bersandar di bahu Attila.
Dia tidak berani menubruk kedalam pelukan Attila, karena melihat luka lebam parah di kedua sisi dada Attila yang bidang.
Attila tersenyum dan berkata,
"Aku tidak apa-apa, hapuslah airmatamu, jangan menangis lagi.."
"Aku tidak bisa melihat mu menangis.."
"Kamu jangan khawatir dan merasa bersalah..."
"Aku sudah berjanji, maka aku tidak akan pernah mundur sebelum janji ku terpenuhi.."
"Kamu tenang saja, aku pasti akan memenuhi harapan mu, tidak akan pernah kecewakan harapan mu..'
ucap Attila lembut.
"Camelia saat ini kita terpaksa harus mundur, aku tidak bisa meresikokan kamu, setelah dia hadir disini..'
__ADS_1
ucap Attila lembut, lalu dia bangkit berdiri.
Sambil menggendong Camelia, dia melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Setelah beristirahat sejenak.
Tenaga saktinya yang tadi buyar kini sudah ngumpul kembali.
Sehingga kini menggendong Camelia dan berlari cepat, baginya kini sudah bukan masalah.
Seandainya Camelia tidak nekad datang ke arena pertempuran yang penuh resiko.
Guo Yun saat ini bakal terancam bahaya, karena meski sama-sama terluka.
Tapi Attila bisa pulih jauh lebih cepat darinya.
Bila saat ini Attila bergerak Guo Yun pasti tidak bisa apa-apa.
Tapi demi keselamatan Camelia, Attila sudah memutuskan, dia akan melanjutkan nya besok.
Besok dia akan datang bersama pasukannya, tanpa membawa Camelia turut serta.
Apapun caranya, dia akan berusaha memenuhi permintaan Camelia.
Guo Yun dari puncak menara menghela nafas lega, saat melihat lawan beratnya memilih mundur.
"Han Wei, beritahukan pada pasukan mu, jangan menyerangnya, terutama wanita itu.."
ucap Guo Yun mengingatkan Han Wei, sebelum dia melanjutkan meditasi Menyerap hawa Thian Ti Sen Kung mengobati luka dalam dan luarnya.
Han Wei mengangguk cepat, memberi kode kearah pasukannya.
Sehingga mereka semua dengan serentak menyimpan kembali anak panah mereka.
Attila dan Camelia akhirnya berhasil kembali ketengah pasukannya, tanpa mengalami serangan anak panah dari pasukan harimau hitam.
Attila dan Ratu Camelia segera memimpin sisa pasukan mereka kembali lagi ke perkemahan mereka yang di didirikan di balik benteng pertahanan Tong Kuan.
Menjelang tengah malam Guo Yun baru menyelesaikan penyerapan hawa sakti Thian Ti Sen Kung untuk mengobati luka nya.
Luka luka di dada Guo Yun kini sudah mengering dan merapat kembali lukanya.
Setelah Guo Yun mengoleskan salep luka khusus buatan Min Min .
Selain itu dia juga menelan beberapa pil yang berkhasiat memulihkan tenaga dalam, sekaligus bisa mengobati luka dalam.
Sehingga kondisinya membaik dengan lebih cepat.
Setelah pulih, Guo Yun pun berkata,
"Besok dia pasti akan kemari, kemungkinan adalah penentuan.."
"Kalian berdua cukup fokus pertahankan benteng, hanya menyerang bila pasukan Xiongnu berani mendekat."
"Sedangkan urusan Attila kalian jangan ikut campur, serahkan saja pada ku.."
"Biar aku saja yang menghadap nya, apapun hasilnya kalian tidak boleh ikut campur."
"Kalian harus ingat itu.."
ucap Guo Yun mengingatkan Han Wei dan Pang De dengan serius.
Han Wei dan Pang De mengangguk paham.
Guo Yun menatap mereka berdua dan berkata,
"Mudah mudahan aku sanggup menahannya hingga Li er Si Si dan Zhang Yi tiba.."
"Paling lambat, sebelum sore, seharusnya mereka sudah tiba.."
gumam Guo Yun pelan penuh keraguan.
Guo Yun ragu, dia akan mampu melawan pemuda berambut emas itu hingga Rombongan pasukan Gongsun Li tiba.
Bila pasukan Gongsun Li tiba dia baru bisa merasa tenang.
Meski hasilnya besok dia kalah di tangan pemuda berambut emas itu.
Setidaknya pasukannya, akan berhasil menghancurkan pasukan Xiongnu, yang jelas bukan lawan seimbang bagi pasukan nya yang terlatih.
Bila pasukan Xiongnu kalah, mau tidak mau pemuda rambut emas itu pasti akan mundur.
Hingga saat ini, hanya ada pikiran itulah solusi yang ada di pikiran Guo Yun.
Setelah ilmu Shi Chi Hua Ming miliknya berhasil di patahkan oleh pemuda itu.
Guo Yun sudah bisa mengira ngira hasil pertarungan mereka berdua besok.
Solusi lainnya adalah menangkap Ratu Camelia, sebagai sandera untuk memaksa Attila mundur.
Karena strategi yang sama pernah di gunakan oleh Lu Bu Wei dan Ying Zheng untuk mengancamnya lewat Min Min.
Jadi Guo Yun cenderung memandang rendah strategi licik itu.
Meski harus kalah sekalipun, Guo Yun akan lebih bangga daripada harus gunakan strategi memalukan itu.
Attila sendiri setelah kembali ke perkemahan nya bersama ratu Camelia.
Dia duduk santai dalam posisi bersila, membiarkan Ratu Camelia, membantu mengoleskan salep luka memar di dadanya.
Sedangkan dirinya tidak berhenti mengedarkan hawa saktinya bergerak menyembuhkan sisa luka dalam yang di deritanya.
Setelah merasa sudah pulih total, Attila baru membuka kembali matanya menatap ke arah tunangan nya.
"Attila bagaimana bila kita tidak usah melanjutkan pertempuran besok..?"
"Kita kembali saja ke Long Cheng, aku berjanji akan mencintai mu tanpa syarat.."
"Mari kita kembali ke Long Cheng dan menikah di sana, kita akan memimpin kerajaan kita di sana.."
"Hidup aman dan tentram selama bersama keturunan keturunan kita.."
"Aku akan menemani mu, mencintai mu, hingga rambut memutih hingga ajal ku tiba.."
"Kita lupakan saja permintaan konyol ku itu, anggap saja aku tidak pernah mengucapkannya.."
"Kamu mau kan Attila memenuhi permohonan ku ini..?"
ucap Ratu Camelia sambil menatap Attila dengan penuh perasaan.
Attila tersenyum lembut menatap Ratu Camelia, dia tidak berbicara apapun, hanya matanya saja yang mengungkapkan tekadnya.
"Hanya Tuhan yang tahu, betapa aku sangat mengharapkan hal itu dari mu."
"Tapi Camelia, kamu harus tahu bila aku melakukan nya, aku hanya akan membuat mu jatuh dalam jurang kekecewaan penyesalan.."
"Suatu hari nanti, kamu pasti akan merasa menyesal, menderita dan tidak akan pernah merasa berbahagia.."
"Aku jelas tidak bisa melihat hal itu terjadi pada mu.."
"Jadi meski besok aku harus kehilangan segalanya, aku tetap akan membawanya menemui mu.."
"Untuk mencuci segala kebencian dan rasa di permalukan, yang pernah dia berikan pada mu..'
"Sebelum berhasil, aku tidak akan pernah berhenti mengejarnya.."
"Ini semua bukan semata karena cinta ku padamu, lebih dari itu ini adalah prinsip ku yang tidak pernah Sudi berhutang Budi pada siapapun.."
"Termasuk pada mu, gadis kecil ku.."
"Seumur hidup Attila tidak akan pernah bisa lupa dengan hari itu.."
"Hari di mana Attila ada di titik terendah hidup Attila.."
"Bila hari itu tidak ada kamu Camelia yang menyambung hidup ku dengan Roti tawar air putih dan selimut hangat untuk ku.."
"Aku Attila tidak mungkin bisa hidup sampai hari ini.."
"Demi Budi itu lah Attila bertahan hingga hari ini, agar Attila bisa penuhi apapun permintaan mu Camelia.."
"Attila juga tidak akan pernah lupa dengan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan tangisan mu, saat kita kembali bertemu.."
"Attila sudah berjanji pada mu, waktu itu, maka Attila tidak punya jalan mundur lagi.."
"Hingga janji itu terpenuhi.."
Begitu banyak kata kata yang ingin Attila ungkapkan pada Camelia.
Tapi sayangnya kalimat yang keluar dari mulutnya tidak lebih dari 5 kata,
"Maaf Camelia aku tidak bisa.."
ucap Attila sambil menggelengkan dengan pelan kepala nya, masih tetap dengan senyuman yang lembut dan penuh pengertian.
Mendapatkan jawaban Attila, Camelia langsung menubruk kedalam pelukan Attila, menangis hingga tersedu sedu, dan berkata dengan suara terputus putus.
"Maafkan aku.. Attila, aku...aku.. wanita jahat.."
"Kita tidak seharusnya... kembali.. bertemu.."
"Aku...aku.. tidak seharusnya masuk..masuk .. dalam hidup mu.."
__ADS_1
"Maafkan aku Attila..hu..hu..hu..hu..!"
"Aku..aku..telah menyeret mu.. dalam lingkaran berbahaya ini.."
"Aku..aku..benar benar jahat.."
"Mengapa kamu harus begitu bodoh.."
"Mengapa..?"
ucap Camelia sambil menangis sedih sambil memeluk Attila dengan erat.
Sambil tersenyum, dan menciumi kening dan pipi kekasihnya yang basah airmata Attila berkata pelan,
"Karena cinta ku tidak perlu alasan.."
Jawaban Attila semakin membuat Camelia menangis dengan lebih terharu lagi.
"Berjanjilah,.. berjanjilah padaku, kamu bagaimana pun..haru kembali lagi ke sisi ku.."
"Tidak boleh mati dan pergi meninggalkan aku, apapun alasannya aku tidak akan ijinkan itu..'
ucap Camelia sambil memegang kedua sisi wajah Attila dengan lembut.
Dia menatap Attila dengan tatapan mata penuh perasaan.
Attila membalas menatap Camelia dan mengangguk pelan.
Dia bukan tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Camelia tentang dirinya.
Attila sangat tahu dan paham, hanya dia tidak mau mengungkapkan nya, mempermalukan Camelia yang berbudi padanya dan sangat di cintai nya.
Attila tahu persis, terhadap Guo Yun lah sebenarnya Camelia jatuh cinta, tapi didalam perasaan cintanya yang dalam juga tersimpan dendam dan kekecewaan yang mendalam terhadap Guo Yun.
Ada rasa amarah benci dendam sakit hati kecewa tapi juga sekaligus ada rasa cinta, sayang, dan rasa kagum yang besar di hatinya terhadap Guo Yun.
Sedangkan terhadap dirinya, Camelia hanya ada rasa menyesal, bersalah, terharu, kasihan, hormat, kagum, dan azas saling membutuhkan..tidak lebih.
Jadi sebelum Camelia berhasil menuntaskan ikatan perasaan nya terhadap Guo Yun.
Attila tidak akan mau ikut hadir di tengah tengah antara permasalahan mereka berdua yang belum tuntas.
Dia selalu ada kekhawatiran, dia akan mendapatkan orang nya, tapi tidak akan mendapatkan hati dan perasaan nya.
Hingga pada akhirnya, dia hanya akan membuat Camelia menderita, tidak bahagia, bahkan ada kemungkinan akan membenci dan pergi meninggalkan nya dengan segudang penyesalan.
Di saat Attila sedang termenung, memikirkan perasaan Camelia, tiba tiba dia merasakan ada sentuhan hangat dan lembut menyapu bibir nya.
Sepasang mata Attila langsung membelalak melihat apa yang sedang di lakukan oleh Camelia di depan nya.
Attila sangat kaget saat menyadari Camelia sedang menciumi bibirnya.
Camelia sendiri terlihat sudah polos tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya yang indah.
Camelia duduk di pangkuan nya, sambil melingkarkan sepasang kakinya yang indah menggantung di bawah pinggul nya.
Camelia sambil menciumi nya, kini sedang berusaha membuka pengikat tali celananya.
Menyadari hal tidak wajar itu sedang berlangsung, meski libidonya sebagai pria terpancing dan memuncak.
Akan dengan sangat mudah,dia bisa melakukan hal itu bersama Camelia menuntaskan semua hasrat terpendam nya selama ini.
Tapi Attila pada akhirnya masih berhasil menahan dirinya, Attila menatap lembut sepasang mata Camelia yang indah.
Dia kemudian membalas memberikan ciuman lembut dengan penuh kasih sayang.
Dari bibir berpindah ke kening, ujung hidung sepasang pipi kiri dan kanan.
Lalu perlahan-lahan mendorong kepala Camelia menjauhinya, agar mereka bisa saling bertatapan langsung.
Attila menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menyentuh lembut kedua telapak tangan Camelia.
Menggenggamnya dengan lembut, lalu di bawa meninggalkan bagian pengikat tali celananya yang hampir terbuka.
Attila membawa telapak tangan Camelia yang halus dan lembut, untuk di cium punggung telapak tangan nya dengan lembut, secara bergantian.
Setelah itu Attila menutupi kembali seluruh tubuh Camelia dengan selimut hingga tertutup penuh semuanya.
Perlahan-lahan dengan lembut Attila menggeser posisi duduknya menjadi berlutut berhadapan dengan Camelia.
Sambil menurunkan Camelia turun dari pangkuan nya, agar mereka masing masing saling berlutut berhadap hadapan.
"Camelia pikiran mu pasti sedang kacau balau, kamu lebih baik tenangkan dulu pikiran mu.."
"Kamu tahu aku juga menginginkan hal itu, tapi saat ini bukan waktu yang tepat.."
"Bila waktunya sudah tepat aku bersumpah pada mu, selain bersama mu, seumur hidup ku, aku tidak akan pernah melakukannya dengan gadis manapun..'
"Maafkan aku Camelia, aku mau pergi lihat keadaan dan persiapan pasukan kita untuk pertempuran esok.."
"Sekarang kamu lebih baik beristirahatlah,"
ucap Attila sambil mencium lembut kening Camelia.
Camelia sambil bercucuran air mata langsung melingkar kan sepasang tangan nya dengan erat, di belakang leher Attila.
"Aku tidak punya maksud lain, aku hanya ingin mengikat mu dengan cara tadi.."
"Agar kamu selalu ingat untuk kembali dengan selamat kesisiku.."
"Aku tidak akan ijinkan apapun alasannya, kamu pergi tak kembali selamanya.."
ucap Camelia sedih.
Attila mengangguk dan berkata,
"Baik aku berjanji pada mu, kamu tidur lah.."
"Jangan berpikir yang bukan bukan.."
"Kami tenang saja, dia bukan lawan ku, selama pedang panca warna bersama ku, tidak akan ada orang di dunia ini yang mampu menandingi ku.."
"Kecuali guru ku sendiri Wu Ming Lau Jen yang datang.."
"Ayo tidurlah.."
ucap Attila membuka rahasia yang seharusnya tidak boleh dia buka ke siapa pun, tapi demi menenangkan pikiran kekasihnya, dia sudah membuka rahasia tersebut.
Untungnya Camelia tidak terlalu mendengarnya dan menanggapinya dengan serius.
Dia sambil tersenyum manja berkata,
"Baiklah aku akan tidur, tapi aku ingin kamu tidur di samping ku, sambil memelukku.."
"Atau aku akan sulit tidur..dan akan terus berkhawatir.."
ucap Camelia dengan manja.
Attila yang sebenarnya memang hanya menggunakan alasan untuk pergi memeriksa kesiapan pasukan.
Untuk menghindari kecanggungan di antara mereka, mendengar permintaan Camelia dan tatapan matanya yang penuh permohonan.
Hati Attila pun luluh, dia tidak mampu menolaknya.
Sambil tersenyum lembut Attila mengangguk pasrah dan berkata,
"Baiklah, ayo kita tidur.."
Attila pun berbaring duluan, membiarkan Camelia menyusul, membaringkan kepalanya di lengannya yang besar dan empuk.
Mereka berdua tidur dalam posisi miring, Attila menciumi rambut di kepala tunangannya yang wangi.
Tangan nya yang lain, di lingkarkan di depan perut Camelia, membiarkan Camelia memegang tangan nya menahan nya di sana.
Camelia seperti khawatir setelah tertidur, Attila akan pergi meninggalkannya tidur seorang diri.
Dia seolah olah berat untuk berpisah dengan Attila, karena dia selalu khawatir dengan pertarungan penentuan Attila besok pagi.
Attila yang paham hal itu, akhirnya hanya bisa menuruti keinginan Camelia, tidak tega menolaknya lagi.
Malam itu akhirnya Camelia tidur dengan sangat pulas dan nyenyak sebaliknya Attila yang tidak bisa tidur hingga pagi.
Untungnya meski tidak tidur, dia bisa menggunakan latihan pernafasan memulihkan kondisi kesegaran tubuh nya.
Attila terpaksa tidak bisa berangkat pagi, dia harus menanti hingga Camelia bangun, baru bersiap siap untuk pergi.
Dia tidak mau Camelia bangun tidur bersedih, tidak menemukan dirinya tidur menemani di sisi nya.
Camelia saat terbangun dari tidurnya, secara reflek langsung mencari tangan Attila yang di peganginya semalam.
Saat menemukan tangan Attila, Camelia pun tersenyum lega, perlahan-lahan dia memutar badannya menghadap kearah Attila dan berkata pelan, sambil tersenyum bahagia.
"Terimakasih Attila, aku akan selalu mengingat momen terindah ini.."
"Sekarang kamu bersiap siap lah, aku akan menanti mu di sini.."
ucap Camelia sambil tersenyum manis.
Attila mengangguk pelan sambil tersenyum, setelah memberikan ciuman lembut di kening dan ujung hidung Camelia.
Attila pun berganti pakaian dan segera meninggalkan kemah nya, dengan langkah lebar dan mantab.
__ADS_1
Setelah berkumpul dengan pasukannya dan memberikan pengarahan.
Attila dan pasukannya pun berangkat meninggalkan Tong Kuan, langsung menuju Han Gu Kuan.