
Zhang Yi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Yang Mulia, Yang Mulia tidak boleh berpikir dan berkata begitu.."
"Bila tidak ada Yang Mulia yang datang ke San Zai, mungkin kini Zhang Yi cuma hanya lah tulang belulang tak berguna.."
ucap Zhang Yi sambil termenung mengenang masa lalu.
San Zai adalah markas perampok gunung.
Sesaat kemudian dia baru berkata,
"Nyawa Zhang Yi adalah milik Yang Mulia, tidak ada Yang Mulia mana ada Zhang Yi mana ada Zhang Yun putra ku yang kini bisa berumah tangga dan menjadi seorang Jendral.."
"Tidak Yang Mulia, jasa Yang Mulia terhadap aku keluarga ku, dan kami tiga bersaudara.."
"Sungguh sulit di lukiskan dan diungkapkan dengan kata-kata, hanya dengan nyawa inilah, kami bisa sedikit menyicil hutang Budi kami pada Yang Mulia.."
ucap Zhang Yi sambil menatap Guo Yun dengan penuh haru.
"Sudahlah kakak Zhang hal lalu tak perlu diungkit lagi, jasa jasa kalian bertiga terhadap kerajaan ini siapa yang tidak tahu..?"
"Tanpa kalian bertiga, aku tidak mungkin bisa seperti hari ini.."
"Aku hanya ingin kalian bisa menikmati hasil kerja keras kalian dengan baik di hari tua.."
"Tidak di sangka malah menyeret kalian kedalam kehidupan saling mencelakai, saling balas membalas, yang tiada habisnya.."
ucap Guo Yun penuh sesal.
Zhang Yi tersenyum dan berkata,
"Itu adalah bagian dari resiko pekerjaan kita, berkecimpung dalam dunia pemerintahan kerajaan kekuasaan dan Nama besar.."
"Sebagai imbalannya, bukan kah kita sudah menikmati, tinggal di rumah besar, punya pelayan banyak, punya bawahan banyak."
"Di hormati dan disegani juga di takuti oleh semua orang.."
"Tidak pernah kekurangan makan minum, pakaian, semua sudah tersedia, kantong pun selalu ada uang.."
"Apalagi yang mau di sesalkan itu adalah pilihan hidup, jadi benar benar tidak ada yang perlu di sesalkan.."
"Saat ini satu satunya penyesalan ku, adalah diri ini sudah tua, tergerus oleh usia.."
"Diri ini malu, bila masih memegang tugas dan tanggung jawab besar, padahal sudah tidak sanggup lagi menjalankan nya dengan baik.."
"Jadi Yang Mulia,.. hamba mohon agar Sudi kira nya Yang Mulia mengijinkan yang sudah tua ini untuk meletakkan jabatan.."
"Pensiun dari jabatan ini, selama ini hamba terus bertahan, hanya menunggu satu hal ini.."
"Hamba menunggu sampai Yang Mulia kembali, hamba baru bisa dengan tenang meletakkan jabatan.."
"Kembali ke desa menikmati hari tua hamba, dengan pikiran tenang.."
ucap Zhang Yi sambil menatap kearah Guo Yun dengan penuh harap.
Guo Yun sebelum datang mengunjungi Zhang Yi pun, dia sudah menduga.
__ADS_1
Zhang Yi pasti bakal mengajukan permohonan seperti ini padanya.
Dia tentu saja berat melepaskan Zhang Yi meninggalkan jabatannya pergi pensiun..
Karena dia masih sangat membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang orang yang bisa dia percaya.
Zhang Yi adalah salah satu tonggak ditubuh militer yang paling bisa di andalkan dan paling bisa dia percaya.
Kehilangan Zhang Yi sama dengan kehilangan sebelah tangan kanannya.
Taktik jahanam Ying Zheng sekali ini, benar benar membuat Guo Yun kalah hingga tersungkur di atas tanah.
Guo Yun benar benar berada dalam dilema nya.
Dia juga sulit menolak permintaan Zhang Yi yang sudah kehilangan semangat dan cahaya kehidupan nya.
Setelah terdiam beberapa saat, Guo Yun akhirnya menghela nafas panjang dan berkata,
"Kakak Zhang, begini saja adik akan meliburkan kakak Zhang selama setengah tahun.."
"Anggap saja ini cuti panjang buat kakak, setelah habis masa cuti ini."
"Kita baru bicarakan kembali mengenai permintaan pensiun kakak.."
"Bagaimana menurut kakak..?"
Zhang Yi menatap Guo Yun dengan serius dan berkata,
"Yang Mulia sudah buka mulut bagaimana hamba, tega menolaknya.."
"Tapi hamba mohon Yang Mulia penuhi syarat hamba ini.."
"Apa itu kak, katakan saja, aku pasti akan mempertimbangkannya.."
ucap Guo Yun serius.
"Begini Yang Mulia, hamba yang tua dan tidak berguna ini, masih begitu di percaya dan di sayang oleh Yang Mulia.."
"Hal itu benar benar membuat hamba merasa malu bersalah dan sangat berhutang kepada Yang Mulia.."
"Supaya hati yang tua ini sedikit tenang dan nyaman.."
"Mohon selama hamba dalam masa cuti, semua gaji, fasilitas, dan apapun yang di keluarkan oleh kerajaan buat hamba.."
"Harus di hentikan tanpa terkecuali.."
"Bila tidak yang tua ini, kelak matipun akan sulit meram dan pergi dengan hati tenang.."
"Hamba harap Yang Mulia tidak menolak permintaan hamba ini.."
ucap Zhang Yi dengan tatapan mata penuh tekad.
Keputusan itu sudah bulat, tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Guo Yun menghela nafas panjang, ini adalah permintaan aneh dan kurang masuk akal.
Zhang Yi hanya cuti, bukan mengundurkan diri ataupun pensiun sepenuhnya.
__ADS_1
Bahkan pensiun sekalipun, mengingat jasa-jasa nya, seharusnya pemerintah memberikan santunan yang layak untuk nya.
Tapi Zhang Yi malah mengajukan permohonan seperti ini.
Tapi Guo Yun melihat tekad di mata orang tua itu, bila dia tidak menyetujuinya.
Kemungkinan besar orang tua itu pasti akan memilih untuk mundur dari jabatannya.
Setelah berpikir sejenak, Guo Yun akhirnya mengangguk dan berkata,
"Baiklah kak, aku akan menyetujuinya, meski sebenarnya hati ini berat.."
Zhang Yi tersenyum lebar, dia langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Terimakasih Yang Mulia, atas Budi ini.."
"Zhang Yi selama hidup tidak akan pernah melupakan nya.."
"Kakak bangunlah, tidak perlu seperti ini.."
ucap Guo Yun sambil membantu Zhang Yi untuk bangkit duduk kembali di hadapannya.
"Zhang Yi panggillah putra mu kemari, ada yang ingin ku sampaikan pada nya."
ucap Guo Yun serius.
"Siap Yang Mulia.."
ucap Zhang Yi penuh hormat.
"Pengawal...! Pengawal...!"
"Kemarilah..!"
teriak Zhang Yi sambil melambaikan tangannya memanggil.pemgawal yang berjaga di tempat agak jauh dari mereka.
Pengawal yang di panggil oleh Zhang Yi, terlihat berlari lari dengan sangat terburu-buru menghampiri Zhang Yi.
"Ya tuan besar,..apa yang bisa hamba lakukan..?"
ucap Pengawal yang tiba di hadapan Zhang Yi dengan penuh hormat.
"Kamu tolong panggilkan Zhang Sun putra ku kemari, katakan padanya Yang Mulia ingin bicara dengan nya.."
"Baik tuan besar.."
ucap pengawal itu memberi hormat lalu berlari meninggalkan tempat tersebut.
Tidak lama kemudian terlihat Zhang Sun yang gagah dalam balutan seragam militernya.
Berjalan dengan langkah terburu-buru menghampiri tempat di mana Zhang Yi dan Guo Yun berada.
Setelah tiba di hadapan mereka berdua, Zhang Yun langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,.
"Salam hormat Yang Mulia,.."
"Salam hormat panglima.."
__ADS_1
"Bangunlah,..Zhang Yun tak perlu peradatan.."
ucap Guo Yun sambil membantu Zhang Yun untuk ikut duduk dihadapannya.