
"Tringgg,..!"
Tringgg,..!"
Tringgg,..!"
Tringgg,..!"
Tringgg,..!"
Sambil berputar-putar di udara, Guo Yun menangkis anak panah yang datangnya bergelombang dan
terus menghujaninya.
Pedang Guo Yun di putar dengan sangat cepat, menangkis serangan yang datang.
Sedangkan telapak tangan Guo Yun yang di penuhi tenaga sakti 9 langit.
Di gunakan untuk melakukan pukulan udara kosong, mengembalikan anak panah yang datang, untuk di kembalikan ke pemiliknya.
"Roarrrrr...!"
Terdengar bunyi raungan naga, setiap kali telapak tangan Guo Yun melepaskan pukulan 9 naga langit.
Yan Yan sedikit pucat menghadapi serangan Guo Yun, yang makin lama makin dahsyat.
Karena sudah tidak ada jalan mundur, Yan Yan yang kepepet, menarik keluar pedangnya lagi.
Lalu dengan mengempos seluruh semangatnya, dia memberikan sebuah Tebasan pedang kearah Guo Yun.
Bayangan pedang kehijauan menerjang kearah Guo Yun dari atas kebawah.
Guo Yun langsung memutar pedangnya, untuk menyambut serangan tersebut.
Tubuhnya sedikit tertekan kebawah, tertekan oleh tindihan kekuatan energi tebasan pedang Yan Yan.
"Tranggg...!"
"Brakkk .."
Guo Yun jatuh berlutut dengan kaki sebelah, dengan posisi lutut menghantam tanah.
Lantai keras di bawahnya terlihat melesak kebawah.
Sambil menahan tekanan Tebasan Pedang tersebut, Guo Yun melepaskan pukulan Tapak tangan terbuka 9 Naga langit.
"Roaarrr...!"
Sebuah energi yang tak terlihat menghantam dada Yan Yan.
Membuat tubuhnya terpental mundur kebelakang.
Tapi Yan Yan meski terpental kebelakang, dia belum selesai.
Dia masih menebaskan pedang nya dari bawah keatas,..
"Sreeettt,.."
"Duarrr. ! Duarrr. ! Duarrr. !Duarrr. !"
Tanah yang di lewati energi tebasan itu meledak ledak, seperti ranjau yang tersentuh orang.
Energi itu terus melesat kearah Guo Yun.
__ADS_1
Guo Yun melihat tidak ada pilihan lagi, dengan pertimbangan di belakang Yan Yan masih banyak pasukan Chu yang berjubel di sana.
Tanpa pikir panjang lagi, Guo Yun melepaskan Tebasan Pedang menyapu ratusan ribu pasukan..
Serangan Yan Yan musnah tak berbekas, saat sebuah cahaya biru tajam, melesat melewatinya.
Yan Yan yang berusaha menahan serangan tersebut dengan pedangnya, dia terdiam di tempat.
Sedangkan di belakang Yan Yan, pasukan Chu tameng dan tombak mereka terlihat berhamburan.
Potongan tubuh terbelah dua tergeletak di mana mana, banjir darah menggenangi lantai, butiran darah juga beterbangan di udara tersebar seperti embun darah.
Beberapa detik kemudian Yan Yan yang wajahnya terlihat pucat pasi, perlahan-lahan pedangnya retak retak.
Lalu berjatuhan terurai di atas lantai, sedetik kemudian di susul tubuh bagian atas Yan Yan merosot kebawah dalam posisi diagonal.
Tak lama kemudian bagian bawah tubuhnya pun ikut rubuh, diam tergeletak tak bergerak.
Di saat bersamaan dengan kericuhan mengerikan tersebut, dari arah belakang pasukan Chu.
Mereka tiba-tiba di terjang pasukan berkuda pangeran An Hui, yang berhasil menewaskan beberapa komandan pasukan Chu, yang berlindung di baris belakang pasukannya.
Dari bagian depan pasukan harimau hitam, yang tadinya terdesak mundur.
Kini dengan putaran tombak, mereka menerjang maju, menjepit pasukan Chu, yang sudah tidak punya pimpinan baik dari arah depan mata maupun belakang.
Guo Yun mengambil potongan tubuh Yan Yan, dia membawanya terbang keatas pintu gapura.
Yang di fungsikan sebagai monumen, yang menjadi gerbang masuk kedalam komplek penjara pinggir kota.
Dari atas gapura, Guo Yun menggunakan Chi nya berkata.
"Pasukan Chu, bila ingin selamat, menyerahlah, buang senjata kalian..!"
"Jangan melawan lagi, bila kalian tidak ingin mengalami nasib, yang sama seperti dia..!"
"Berkeras kalian hanya akan bernasib sama dengan nya..!"
Mendengar ucapan Guo Yun, hampir seluruh pasukan Chu menghentikan perlawanan.
Kemudian mereka melemparkan senjata, lalu berjongkok dengan tangan di atas kepala.
Sisa pasukan yang tidak bersedia menyerah, mereka satu persatu tewas di bawah hujan tombak pasukan harimau hitam, dan pasukan pengawal istana, yang mengikuti pangeran An Hui.
Paman Yo yang datang menyeret Xiong Sin yang terikat, membuat sisa pasukan Chu yang ngotot bertahan.
Akhirnya membuang senjata di tangan mereka, menjatuhkan diri berjongkok mengikuti rekan mereka yang menyerah duluan.
Melihat situasi sudah terkendali di luar sana, Han Wei dan Ying Wu bersama rombongannya.
Mereka perlahan-lahan bergerak keluar dari komplek penjara, sambil mengawal Raja An Wi dan keluarganya.
Saat melewati Guo Yun, Han Wei dan Ying Wu menganggukkan kepala mereka, sebagai penghormatan kepada Guo Yun dan seluruh pasukannya.
Guo Yun membalas mengangguk kecil kepada mereka sambil tersenyum.
"Anak muda terimakasih banyak, kamu telah datang menolong kami."
"Kalau boleh tahu anak muda ini siapa..?"
tanya Raja An Wi dengan heran.
Guo Yun memberi hormat kepada Raja An Wi dan berkata,
__ADS_1
"Nama ku Guo Yun, mereka semua pengikut ku.."
"Kami datang kemari, ada hal penting yang ingin di rundingkan dengan Yang Mulia."
"Tapi untuk jelasnya, Yang mulia bisa ikut dengan ku, menemui Junjungan ku.."
"Nanti semua akan menjadi jelas, setelah Yang Mulia bertemu dengan Junjungan ku.."
ucap Guo Yun dengan penuh hormat.
Raja An Wi menatap kearah Putranya meminta pendapat.
Pangeran An Hui sambil tersenyum, menganggukkan kepalanya tanda setuju, menerima ajakan Guo Yun.
Raja An Wi kembali menoleh kearah Guo Yun dan berkata,
"Baiklah Tuan muda Guo, silahkan tunjukkan jalannya.."
Guo Yun mengangguk, lalu dia menoleh kearah Zhang Yi dan berkata,
"Kak Zhang Kak Ling kak Zhou, kalian bawa pasukan kita, kembali kedalam hutan sana ."
"Siap tuan muda,.."
jawab ketiga orang itu kompak, mereka langsung memimpin pasukan harimau hitam, mundur meninggalkan kota Xin Cheng.
Guo Yun sendirian berjalan di depan menuju penginapan di tengah kota, di mana Pangeran Ji Ao berada.
Pangeran An Hui sebelum berangkat, menoleh kearah penasehatnya dan berkata,
"Paman Yo, masalah tawanan di sini aku serahkan kepada mu.."
Penasehat Yo maju memberi hormat dan berkata,
"Siap pangeran, hamba akan mengaturnya.."
Sedangkan rombongan keluarga istana, mereka di kawal oleh Han Wei dan Ying Wu kembali lagi ke istana.
Hanya terlihat Raja An Wi dan pangeran An Hui, beserta seratus pasukan pengawal istana .
Bergerak mengikuti di belakang Guo Yun, menuju penginapan.
Saat masuk kedalam kamar penginapan, mereka langsung bertemu dengan pangeran Ji Ao.
Raja An Wi yang mengenalnya, langsung tertawa lebar dan berkata,
"Ternyata saudara ku Ji Ao, yang datang menyelamatkan ku.."
"Terimakasih saudara Ji, anda telah repot repot kemari membantu kami..'
Pangeran Ji Ao membalas penghormatan raja An Wi dan berkata,
"Tak perlu sungkan teman, duduklah mari kita ngobrol ngobrol."
"Raja An apakah pemuda cakap ini adalah putra mu..?"
ucap Ji Ao berbasa-basi.
"Ha...ha...ha...ha..ha..!"
Raja An Wi sambil tertawa bangga, berkata.
"Benar dia putra ku, dia sebentar lagi akan menggantikan ku, yang sudah tua dan tidak becus lagi mengurus negara.."
__ADS_1
Pangeran Ji Ao mengangguk dan berkata,
"Silahkan duduk pangeran An, Yun er kamu juga duduklah.."