
Seluruh peluru meriam di udara, di gulung oleh air dan angin di bawa kembali ke atas kapal kapal perang Qin itu sendiri.
Peluru peluru itu, di retur kembali
"Blaaarrr...!" Blaaarrr.!" Blaaarrr...!"
"Blaaarrr...!" Blaaarrr.!" Blaaarrr...!"
"Blaaarrr...!" Blaaarrr.!" Blaaarrr...!"
"Blaaarrr...!" Blaaarrr.!" Blaaarrr...!"
Ledakan beruntun terjadi di kapal perang Qin yang berbaris rapi.
Barisan kapal Qin yang berada terdepan, mulai mengalami kepanikan dan kekacauan.
Kapal mereka mulai terbakar dan mengalami kebocoran.
Peng Yue yang merupakan mantan anak nelayan, dia yang paling mengerti situasi diatas air.
Begitu dia melihat awan gelap dan kilat sambar menyambar kini terbawa angin berhembus kearah mereka.
Kondisi barisan Arma kapal perang mereka, di tambah dengan kehadiran Raja Yue Guo Yun yang memilki kesaktian di luar nalar.
Dia segera mengambil keputusan dan berkata kepada ajudannya,
"Cepat perintahkan ke penjaga menara pengawas, ! agar segera meniupkan terompet, tanda bahaya, dan penarikan mundur pasukan..!"
"Cepat...! Cepat..! sebelum korban berjatuhan semakin banyak..!"
"Ajudan itu mengangguk cepat, dia segera memberi kode di geladak kapal, dengan mengibarkan bendera kuning dan putih secara bersamaan.
Melihat kode itu penjaga menara pengawas, segera mengeluarkan terompet yang terbuat dari Cangkang kulit keong besar.
"Tretttt..!" Tretttt...! Tetttt...!"
"Tretttt..!" Tretttt...! Tetttt...!"
"Tretttt..!" Tretttt...! Tetttt...!"
"Tretttt..!" Tretttt...! Tetttt...!"
Suara terompet yang sama berkumandang di mana mana.
Mendengar kode suara tersebut, seluruh armada kapal perang Qin, mulai bergerak mundur menjauh batas wilayah perairan Yue.
Semuanya terlihat bergerak mundur teratur, Meng Thian juga memimpin armada kapal nya yang tersisa, segera meninggalkan garis depan.
Beberapa waktu kemudian saat angin badai dan gelombang besar tiba, tempat yang tadi menjadi ajang adu kekuatan armada perang Qin dengan Guo Yun.
Kini tempat pertempuran itu telah menjadi sepi.
__ADS_1
Hanya tersisa puluhan kapal perang Qin yang hangus terbakar parah yang tersisa di sana, dan beberapa kapal perang bocor yang sedang tenggelam dengan perlahan.
Seluruh awak kapal yang berada diatas kapal kapal itu, sudah di evakuasi ke kapal perang Qin, yang sedang bergerak mundur menjauh dari sana.
Guo Yun dan kapalnya juga bergerak mundur kembali ke dermaga Wu Hui.
Armada kapal perang Yue, sudah tiba duluan di dermaga, di pimpin oleh Gongsun Li.
Sebelum badai gelombang besar tiba.
Saat gelombang besar dan pusaran air tiba di wilayah itu, yang di sertai dengan angin badai kencang.
Di lokasi hanya terlihat puluhan kapal perang Qin itu saja, yang di gulung kedasar lautan.
Guo Yun yang memimpin kapalnya, bergerak mundur paling akhir, sempat berkejaran dengan gelombang besar yang ingin menggulung kapalnya.
Tapi semua gelombang yang datang, selalu berhasil di pecahkan oleh pukulan jarak jauh yang Guo Yun lepaskan.
Setiap benturan terjadi, kapal Guo Yun akan terdorong maju menjauh, laju pergerakan nya, justru menjadi semakin cepat meninggalkan gelombang dan badai yang mengejarnya di belakang sana.
Akhirnya Guo Yun dan kapalnya berhasil kembali ke dermaga dengan selamat.
Saat gelombang pasang air laut mengamuk hingga ke dermaga, Guo Yun dan seluruh pasukannya sudah kembali ke darat.
Mereka semuanya selamat tanpa kekurangan apapun.
Badai angin kencang yang menimbulkan hujan deras dan petir, melanda seluruh wilayah lautan timur, hingga dermaga Wu Hui dan berlangsung selama 7 hari.
Mereka terpaksa kembali lagi ke dermaga Ji, yang menjadi markas tempat keberangkatan mereka.
Peng Yue yang memimpin armada air kapal perang Qin, bergerak kembali ke dermaga Ji.
Meng Thian hanya mengikuti saja, meski jauh lebih senior, tapi bila pertempuran di lakukan di atas air, dia menyerahkan wewenang penuh ke Peng Yue yang jauh lebih berpengalaman.
Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak mungkin bisa memaksakan diri tetap menyerang Yue.
Faktor cuaca sulit di tebak kapan saja bisa datang secara tiba tiba.
Setelah kembali ke darat, Meng Thian yang sudah kehilangan semangat untuk menyerang Yue lewat jalur air.
Dia memaparkan Meng Yue memimpin 200.000 pasukannya berjaga di sana.
Dia sendiri memimpin sisa pasukan nya yang kurang dari 300.000 personil bergerak kembali ke Xian Yang melakukan perjalanan cepat.
Setelah kembali ke Xian Yang Meng Thian dan Putra Mahkota Fu Su segera di tugaskan oleh Ying Zheng, berangkat ke perbatasan barat dan Utara, untuk mengawasi pembangunan tembok besar.
Sedangkan Zhang Han, Fan Kuai, dan Li Cheng setelah kembali ke Xian Yang.
Mereka di tugaskan oleh Ying Zheng untuk menjaga kota An Yi, Luo Yang dan Yang Zhai, yang menjadi pintu masuk menuju Xian Yang.
Shoucun sengaja oleh Ying Zheng di biarkan menjadi kota tidak bertuan, sebagai batas peringatan baginya, bila pasukan Yue bergerak datang menyerangnya dari jalur tersebut.
__ADS_1
Dia hanya menempatkan barisan mata matanya saja di kota tersebut untuk mengawasi sekaligus mencari informasi.
Beberapa bulan setelah pertempuran besar yang mengakibatkan pihak Qin mengalami kerugian besar.
Qin memilih diam tidak ada pergerakan lagi.
Suatu pagi Guo Yun yang sedang bersantai bersama keluarga nya.
Mereka sedang sarapan sambil mengawasi Meng Yun berlatih silat.
Tiba tiba seorang pelayan datang, menyerahkan sebuah tabung kecil, yang berisi surat rahasia dari Xian Yang, yang di kirimkan lewat merpati cepat.
Begitu membaca isi surat itu, wajah Guo Yun langsung sumringah.
Melihat hal itu dengan penuh penasaran Gongsun Li segera bertanya,
"Ada kabar apa dari Xian Yang,? mengapa Yun Ke ke terlihat begitu gembira..?"
Guo Yun menyerahkan surat itu ke Gongsun Li dan berkata,
"Ini dari Liu Qin Lung, dia belum mati, kini dia bernama Zhao Guang.."
"Dia kini menempati posisi penting di kerajaan Qin, menjadi Jendral pengawas pertahanan ibukota Xian Yang dan pimpinan pasukan pengawal istana."
"Dia kini adalah orang kepercayaan Kasim Zhao Gao yang menjadi ayah angkatnya.."
"Dan menjadi menantu perdana menteri Li Si yang kini menjadi mertua nya.."
Gongsun Li baca sebentar surat itu, kemudian dia berkata,
"Dia sudah menempati posisi yang begitu penting di Qin.."
"Buat apa dia mengabari kita..?"
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Tentu saja, dia tidak benar benar ingin bekerja pada Qin, dia masih belum.melupakan kita.."
"Belum melupakan kematian ayahnya, yang di sebabkan oleh Yin Zheng dari Qin, lewat tangan Meng Yu.."
"Liu Qin Lung ini sangat berbakti dan loyal, dia akan selalu membedakan dengan jelas antara Budi dan dendam.."
Ucap Guo Yun menjawab Gongsun Li.
Si Si menatap suaminya dan berkata,
"Lalu apa rencana Yun Ke ke selanjutnya..?"
Guo Yun tersenyum dingin dan berkata,
"Selanjutnya tentu saja giliran surat wasiat yang pernah ku titipkan ke kalian yang akan bergerak."
__ADS_1