
"Li er aku,..aku..yang telah membunuhnya.."
"Aku pembunuh nya,..aku..aku.. bagaimana akan menghadapi nya ? Bagaimana aku harus jelaskan ke kakek.."
"Aku bukan manusia,..aku lebih rendah dari binatang aku..aku..!"
"Arggggghhh..!"
Guo Yun berteriak keras, dan menyemburkan darah dari mulutnya.
Guncangan ini, mengacaukan sirkulasi energinya, jantungnya tergetar hebat.
"Yun ke ke jangan begini..! jangan begini..!"
teriak Si Si dan Gongsun Li hampir berbarengan.
Mereka terlihat panik juga sedih melihat keadaan Guo Yun.
Kedua nya maju memeluk Guo Yun sambil ikut menangis.
Guo Yun melihat kedua istrinya menangis sedih dan panik karena nya.
Dia akhirnya menghela nafas panjang dan berkata,
"Maafkan aku, aku telah membuat kalian ikut susah dengan ku.."
"Mari kita pulang..mari kita pulang.."
ucap Guo Yun dengan suara lesu.
Lalu dia menggendong tubuh Min Min yang lunglai, sambil bangkit berdiri.
Dengan langkah lesu dan kepala tertunduk menatap wajah Min Min yang pucat pasi.
Guo Yun memaksakan diri nya melangkah dan terus melangkah hingga kembali ke penginapan nya.
Agar tidak mengejutkan pihak penginapan, Guo Yun terbang masuk kedalam kamar nya, melewati jendela kamar.
Gongsun Li dan Si Si ikut menyusulnya dari belakang.
"Kalian berdua pergilah mandi dan berganti baju hangat, jangan sampai masuk angin.."
ucap Guo Yun pelan tanpa menoleh.
Guo Yun membaringkan tubuh Min Min diatas ranjang, lalu dengan tangan gemetar, dia membantu melepaskan pakaian basah dan penuh noda darah yang menempel di tubuh Min Min.
Gongsun Li memberi kode agar Si Si mengikutinya pergi mandi dan berganti pakaian baru.
Si Si meski merasa berat dan khawatir dengan keadaan Guo Yun, tapi dia juga tahu saat ini yang Guo Yun paling butuhkan ada ruang privasi.
Akhir nya dengan berat hati Si Si mengikuti Gongsun Li pergi menuju kamar mandi.
Selama Gongsun Li dan Si Si pergi mandi.
Guo Yun sendirian yang melepaskan pakaian Min Min satu persatu, lalu dia yang dengan hati hati membersihkan jasad Min Min dengan kain basah, yang biasa di sediakan oleh pihak penginapan, untuk tamu membersihkan muka saat bangun tidur.
__ADS_1
Guo Yun juga membantu mengeringkan rambut Min Min yang basah dan merapikan nya sebisanya.
Kemudian Guo Yun baru membantu mengenakan pakaian baru yang bersih dan indah.
Setelah nya Guo Yun hanya duduk termenung, seperti orang bodoh menatap kearah Min Min yang terbujur diatas ranjang.
Hingga Si Si dan Gongsun Li, tiba di sisinya.
Guo Yun masih saja duduk termenung di sana.
"Yun ke ke, biar kami bantu rapikan rambut dan riasan wajah Min Min,"
"Ini adalah kerjaan wanita, kami lebih tahu, Yun ke ke sebaiknya pergi mandi dan berganti dulu.."
ucap Si Si hati hati.
Guo Yun menoleh kearah Si Si dan Gongsun Li, sambil tersenyum sedih, Guo Yun berkata,
"Terimakasih sayang,..jadi merepotkan kalian.."
Si Si dan Gongsun Li mengangguk pelan.
"Pergilah,..!"
ucap Gongsun Li membantu Guo Yun berdiri, lalu mendorong nya pergi.
Setelah Guo Yun pergi, Gongsun Li dan Si Si pun bekerja sama, mereka mulai sibuk merias Min Min, agar bisa tampil secantik mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Guo Yun tidak lama sudah kembali duduk termenung melihat yang sedang di kerjakan oleh kedua istrinya untuk Min Min.
"Kita mau bawa dan makam kan di mana.. jasadnya..?"
tanya Si Si hati hati.
Guo Yun menghela nafas sedih dan berkata,
"Seharusnya di lembah hantu, tapi aku juga bingung.."
"Dia pergi dari sana sehat sehat segar bugar, kini saat kembali dia..dia.."
Guo Yun tidak mampu meneruskan kata-katanya, dia menutupi wajahnya yang tertunduk dengan kedua telapak tangan nya.
Guo Yun menangis dalam diam, Gongsun Li menyentuh lembut bahu Guo Yun dan berkata,
"Yun ke ke, aku rasa kamu harus baca pesan darinya.."
"Mungkin di situ ada pesan, apa yang diinginkan nya."
Guo Yun mengangguk, beberapa saat kemudian sambil menghela nafas panjang dan membersihkan sisa air mata nya.
Guo Yun mulai mengeluarkan 3 sampul surat dari sakunya, yang dua dari sampulnya terlihat agak usang.
Sedangkan yang terakhir terlihat masih baru.
Guo Yun memulai membaca sesuai urutan yang yang sudah di tentukan oleh Min Min.
__ADS_1
Saat Guo Yun mulai membaca, ternyata dua sampul pertama adalah berisi pesan terakhir dari ibu Min Min untuknya.
"Min Min saat kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah dewasa ."
"Maafkan ayah ibu yang tidak merawat dan menjaga mu hingga dewasa.."
"Min Min putri ku, ketahuilah Lu Bu Wei itu sebenarnya adalah ayah kandung mu.."
"Sebelum menjadi istri kakak Lin Cong, ibu dan Lu Bu Wei adalah sepasang kekasih yang tak di restui oleh kakek mu.."
"Di sinilah kesalahan ibu nak, ibu terlalu di buta kan oleh kata kata manisnya.."
"Sehingga ibu dan dia telah sebelum kami menikah.."
"Saat dia berkhianat mencelakai gurunya, yang juga kakek paman mu.."
"Ibu baru menyadari, ternyata tujuan dia mendekati ibu adalah demi pusaka dan harta Karun peninggalan leluhur kita ."
"Untungnya mengenai tempat rahasia pusaka dan harta Karun keluarga kita, di simpan rapi oleh kakek mu dan kakek paman mu.."
"Selain mereka tidak ada yang tahu termasuk ibu sekalipun.."
"Sehingga dia tidak berhasil mencari tahu dari ibu..'
"Saat kedoknya terbongkar dan di usir oleh kakek mu, keluar dari lembah.."
"Ibu baru menyadari ternyata ibu sudah mengandung kamu.."
"Untuk membantu ibu menutupi aib tersebut, kak Lin Cong menikahi ibu dan mejadi ayah mu..'
"Tapi takdir berkata lain, suatu hari saat kamu berusia 8 tahun, dia kembali lagi ke lembah.."
"Ingin menahlukkan lembah, meski kakek berhasil mengusir'nya.."
'Tapi ayah tiri mu suami ibu gugur dalam misi menyelamatkan kamu dan lembah.."
"Sedangkan kamu di bawa pergi olehnya sebagai sandera untuk meloloskan diri.."
"Begitulah ceritanya anak ku, mungkin ibu tidak bisa menunggu hingga kamu kembali.."
"Maafkan ibu yang akan segera pergi menyusul ayah tiri mu,.."
"Ibu berhutang terlalu banyak dengan ayah mu, ibu tidak bisa dan tidak tega membiarkan dia kesepian di bawah sana seorang diri..'
"Sekali lagi maafkan ibu nak.."
"Ibu mencintai mu, sayang.."
"Tertanda Kui Yi Yi.."
Membaca sampai di sini, Guo Yun melipat kembali kedua surat kuno itu.
Menyerahkan ke Gongsun Li dan Si Si untuk membacanya.
Guo Yun sendiri terdiam dengan sepasang mata tertutup, membiarkan air bening mengalir dari kedua sudut matanya yang terpejam.
__ADS_1
"Aku yang tidak peka, aku yang bodoh, seharusnya aku curiga dan memperhatikan sikap dan perilaku nya yang akhir akhir ini selalu murung.."