
Guo Yun menoleh kearah Li Ba dan berkata,
"Adik Ba, aku tidak akan pernah lupa dengan sumpah persaudaraan kita.."
"Aku adalah kakak kalian, sebagai kakak aku wajib melindungi kalian .."
"Bila kalian dalam masalah, kewajiban ku membantu kalian keluar dari masalah.."
"Bila dengan cara ini, bisa menyadarkan nya, kenapa tidak..?"
Li Ba tertawa keras penuh haru, dan berkata,
"Ha...ha...ha..ha...!"
"Kakak benar,..! kakak selalu benar..!"
"Tidak berharap lahir di tanggal bulan dan tahun yang sama, tapi kami memohon bisa mati di hari bulan dan tahun yang sama.
Ada keuntungan kita nikmati bersama, ada musibah kita hadapi bersama.."
"Aku ingat kak, aku juga tidak lupa.."
"Aku juga kakaknya, biar aku ikut ambil satu bagian tanggungjawab ku.."
ucap Li Ba.
Dia lalu ikut berlutut di samping Guo Yun dengan sepasang tangan terbuka.
"Kemarilah Adi Kui, kami sudah siap..!"
teriak Li Ba sambil tersenyum lebar.
Guo Yun menoleh melihat kearah Li Ba sejenak, lalu dia mengangguk pelan.
Setelah itu Guo Yun juga ikut menatap kearah Li Kui dengan senyum lembut penuh kepasrahan.
Selama Guo Yun dan Li Ba sedang berbicara, Li Kui sendiri sedang berjuang mengumpulkan kembali tenaganya.
Bersiap untuk melakukan serangan terakhir nya.
Meski tidak sepenuhnya perbuatan dan ucapan kedua saudaranya itu menyadarkan dirinya.
Tapi sedikit banyak kesadarannya sedikit tergugah, saat kekuatannya terkumpul.
Li Kui terlihat sedikit meragu di tempatnya.
Di saat itulah Cu Cu melayang tiba, dia berdiri menghadang di depan Guo Yun dan Li Ba, sambil membentangkan sepasang tangannya lebar lebar.
Dengan suara bergetar dan air mata berlinang Cu Cu berkata,
"Kakak Kui,..! suami ku ,..! aku tidak akan membiarkan mu melakukan sesuatu yang akan membuat mu menderita seumur hidup mu, dengan penyesalan dan rasa bersalah..!"
"Bila kamu ingin lakukan,..! lakukan saja pada ku,.. !"
"Ayo lakukan lah..!"
ucap Cu Cu dengan nekad berjalan mendekati Li Kui.
Sepasang mata Li Kui menyala liar, tubuhnya gemetaran hebat.
Suara dan kehadiran Cu Cu.di sana, membuat kesadaran nya mulai bangkit untuk melawan pengaruh hawa iblis nya.
Pertentangan itu membuat dia,
semakin ragu untuk bergerak.
"Ci Cu apa yang kamu lakukan..!"
bentak sebuah suara dingin yang menggetarkan seluruh tempat.
Tak lama kemudian Cui Ming Koai Jen dan Wu Ti Siau Jen sudah mendarat ringan menghadang di depan Cu Cu.
"Kakek berdua apa yang kalian berdua lakukan di sini..!?"
"Menyingkirlah..!"
teriak Cu Cu cemas.
"Bocah edan..!"
bentak Cui Ming Koai Jen marah, ke cucunya.
Setelah itu tanpa menghiraukan Cu Cu, dia menoleh kearah Li Kui dan berkata,
"Bocah busuk, hentikan kata ku,..!"
"Jangan membuat ku marah..!'
Cui Ming Koai Jen terlihat melotot marah kearah Li Kui.
Li Kui yang merasakan ada ancaman di hadapannya, hawa iblis nya kembali menguat.
Sepasang matanya kembali bersinar terang, dia sudah bersiap melompat menyerang kearah kedua kakek di hadapannya.
"Kakek,..! bila kakek berdua tidak menyingkir, aku akan mati di hadapan kalian sekarang..!"
bentak Cu Cu sambil menempelkan sebilah belati pendek di lehernya yang berkulit putih dan halus.
Cui Ming Koai Jen buru buru membalikkan badannya dan berkata,
"Tahan bocah edan, kamu jangan sembarangan.."
"Lepaskan belati itu, ada hal apa kita rundingkan baik baik.."
ucap Cui Ming Koai Jen terlihat cemas.
Karena dia tidak pernah melihat Cu Cu bersikap seserius saat ini.
Melihat keadaan di sana, Wu Ti Siaw Jen tiba tiba menempeleng kepal kakaknya.
"Plakkk,..!"
"Kamu yang dungu dan keras kepala, ayo menyingkir..!"
"Kamu akan membuat keponakan ku yang cantik dan murid ku yang baik terbunuh sia sia..!"
ucap Wu Ti Siaw Jen sambil memaksa menarik lengan kakaknya untuk menyingkir.
"Cu Cu kamu tenanglah, jangan gegabah..!"
"Kami...kami ..akan menyingkir..!*
ucap Wu Ti Siaw Jen sambil terus menarik tangan kakaknya minggir kesamping.
Melihat kedua kakeknya telah menyingkir.
Cu Cu pun menyimpan belatinya, sambil tersenyum manis dia berkata,
"Terimakasih kakek, paman kakek, maafkan Cu Cu yang tidak berbakti.."
Lalu Cu Cu dengan langkah tenang dan senyum lembut membentangkan sepasang tangannya berjalan menghampiri Li Kui.
Li Kui berdiri diam dengan tubuh gemetaran hebat, melihat Cu Cu terus mendekatinya.
"Jangan mendekat,.! atau aku akan membunuh mu,..!"
Bentak Li Kui keras.
Tapi Cu Cu hanya membalasnya dengan senyuman, dan terus mendekat.
Hingga tanpa terasa dia sudah berdiri di hadapan Li Kui.
Li Kui dengan sepasang mata merah menyala liar, mengangkat tangannya yang mengeluarkan cahaya merah keatas.
Siap di gunakan untuk menghantam kepala Cu Cu.
"Kamu jangan memaksa ku..!"
Bentak Li Kui penuh ancaman.
Sementara itu Cui Ming Koai Jen, Wu Ti Siaw Jen, Guo Yun dan Li Ba.
Mereka berempat menatap dengan cemas dan khawatir juga tegang di tempat masing masing hingga tidak berani bersuara.
Cu Cu dengan tenang mengulurkan tangannya memegang tangan Li Kui dengan lembut.
Menariknya mendekat kearah keningnya dan berkata,
"Bila ini bisa mengembalikan mu, menjadi kakak Kui ku yang berhati baik dan penuh kasih sayang.."
"Aku rela lakukan lah.."
ucap Cu Cu penuh keyakinan dan tekad.
Kini justru Li Kui yang terlihat gemetaran tangannya, dua beberapa kali mengeluarkan gerengan keras.
Tapi tangannya tetap diam di sana, tidak melakukan apapun.
Cu Cu dengan berani terus menatap sepasang mata Li Kui yang bercahaya merah dan bergerak liar.
Melihat Li Kui belum bereaksi juga, Cu Cu memindahkan tangan Li Kui kearah perutnya dan berkata,
"Suami ku, bila kamu masih menginginkan kami, sambutlah kehadirannya.."
"Rasakan kehadiran calon anak mu ini.."
Cu Cu memindahkan tangan Li Kui yang tergantung di udara, menariknya turun kebawah.
Lalu tepat diletakkan di bawah pusarnya.
Tangan Li Kui semakin gemetaran, saat telapak tangannya di tempelkan ke perut istrinya.
Dimana dia bisa merasakan, adanya denyut pelan dan detak halus di sana.
Cakarnya yang berwarna merah dan tegak kini kembali normal, cakarnya juga sudah tidak kaku lagi.
Perlahan lahan dia membelai perut Cu Cu dengan lembut.
Matanya yang sebelah merah, kini sudah mulai kembali normal.
__ADS_1
Melihat perubahan pada suaminya, sambil tersenyum gembira.
Cu Cu langsung maju menubruk kedalam pelukan suaminya.
Dia melingkarkan sepasang tangannya di belakang leher suaminya, memeluknya erat erat.
Dengan kaki sedikit berjinjit, agar dia bisa mempertahankan posisinya berdiri sejajar dengan suaminya.
Sepasang mata Li Kui akhirnya kembali normal, dia kemudian membalas memeluk dan membelai rambut dan punggung istrinya dengan lembut.
"Istri ku,..maafkan aku,..aku sangat sangat berdosa,..aku telah menghilangkan banyak sekali nyawa manusia tidak bersalah.."
"Aku...aku...!"
ucapan Li Kui akhirnya tidak bisa di lanjutkan.
Terpotong oleh suara tangis sedu sedan nya sendiri.
"Menangis,.. lah..keluarkan semua."
"Jangan di tahan tahan,.."
ucap Cu Cu sambil menciumi wajah suaminya dengan lembut.
Tapi perduli dengan keadaan suaminya yang seperti gembel dan lebih mirip orang gila.
Guo Yun dan Li Ba akhirnya saling pandang, mereka berdua tersenyum lebar dan menghela nafas lega.
"Suasana yang menyebalkan,..kedua anak bodoh itu, membuat mata ku jadi kelilipan."
ucap Cui Ming Koai Jen dingin, sambil menggosok gosokkan kedua tangannya di matanya sendiri.
Wu Ti Siaw Jen terkekeh kekeh hingga sepasang mata nya ikut basah, melihat tingkah kakaknya yang konyol.
Beberapa saat kemudian setelah perasaannya sudah lebih tenang. Li Kui melepaskan pelukannya dari istrinya dan berkata pelan,
"Istriku, kamu tunggu sebentar di sini.."
"Aku perlu bicara dengan kedua saudara ku.."
Cu Cu mengangguk dan tersenyum penuh pengertian dan berkata,
"Pergilah, aku akan menunggu mu.."
Li Kui mengangguk dengan gembira dan berkata,
"Terimakasih istri ku.."
Setelah itu dia dengan langkah lebar menghampiri Guo Yun dan Li Ba yang berdiri menunggunya di sana.
Sesaat kemudian mereka bertiga pun berpelukan dengan gembira.
"Syukurlah akhirnya kamu sadar kembali.."
ucap Guo Yun sambil menepuk pundak Li Kui sambil tersenyum.
Li Ba juga ikut menepuk pundak Li Kui yang lain menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum senang.
Li Kui tersenyum canggung dan berkata,
"Maaf aku jadi merepotkan kakak berdua jauh jauh kemari.."
"Sehingga pekerjaan serius, jadi tertunda."
ucap Li Kui tidak enak hati.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Tak perlu berkata begitu, kita bersaudara, urusan kalian tentu adalah urusan paling serius bagi ku.."
Li Ba mengangguk membenarkan dan berkata,
"Kakak benar, itu sudah seharusnya kami lakukan.."
"Lagipula pada akhirnya yang paling berjasa tetaplah istri mu.."
"Kembali lah ke sisi nya jangan membuat nya cemas dan bersedih untuk mu lagi.."
ucap Li Ba serius.
"Tapi perjuangan kita belum tuntas.."
ucap Li Kui ragu.
Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,
"Ucapan adik Ba sangat benar, dengan kondisi mu saat ini.."
"Paling tepat adalah kamu kembali ke pulau neraka, bersama istri mu.."
"Bahagia kan lah dia.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum mengerti.
Li Kui menjatuhkan diri nya berlutut di hadapan Guo Yun dan Li Ba, dia membenturkan kepalanya tiga kali diatas tanah.
Tanpa memperdulikan permintaan Guo Yun dan Li Ba yang memintanya untuk bangkit.
"Maafkan aku kak, aku tidak bisa menemani kalian hingga akhir seperti janji ku.."
Guo Yun dan Li Ba tersenyum lebar sambil membantu Li Kui untuk berdiri, Guo Yun berkata,
"Tak perlu seperti itu, kami sangat mengerti kondisi mu lebih dari siapapun.."
"Kamu sudah maksimal, kami tahu itu.."
"Tiada pesta yang tidak usai, kembali lah ke keluarga mu, kapan kapan kami Asti akan mengunjungi mu.."
ucap Guo Yun sambil maju merangkul dan menepuk nepuk punggung Li Kui.
Secara bergantian Li Ba juga melakukan hal yang sama.
Sesaat kemudian setelah berpamit dengan Cu Cu dan kedua kakek nya.
Li Ba dan Guo Yun pun bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Di tengah jalan kedua bersaudara itupun kembali berpisah jalan.
Guo Yun sendirian melesat menuju lokasi pasukan yang menunggu di tepi sungai Huai di dekat kota Dan Yang.
Sedangkan Li Ba memimpin Jendral Guan dan Jendral Xing dengan sisa pasukan nya, berangkat menuju tepi sungai Huai di dekat kota Xin Cheng.
Setelah melepas kepergian kedua saudaranya, Li Kui kini maju berlutut di depan kedua kakeknya dan berkata,
"Maafkan Li Kui, Li Kui tak berguna membuat kalian orang tua berkhawatir.."
Cui Ming Koai Jen membangunkan Li Kui dan berkata,
"Kamu memang tak berguna, tapi dia sangat menyukai mu, aku bisa apa.."
"Ayo kita pulang sekarang.."
ucap Cui Ming Koai Jen, sambil bergerak mendahului mereka semua nya.
"Kakak kamu salah lagi, setidaknya murid ku sudah memberimu cucu penerus darah iblis mu itu..!"
teriak Wu Ti Siaw Jen sambil melesat menyusul kearah kakak nya.
Cu Cu dan Li Kui saling tatap dengan mesra, sesaat kemudian Li Kui menggendong tubuh istrinya keatas, dan berkata.
"Ayo kita pulang sayang.."
Cu Cu sambil tersenyum bahagia mengangguk kecil, lalu melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Sesaat kemudian Li Kui sudah berlari cepat seperti terbang, menyusul kearah timur, di mana kedua orang kakeknya sudah menghilang duluan.
Dalam perjalanan pulang kembali ke pasukannya, Guo Yun berlari seorang diri sambil melamun.
Dia membayangkan alangkah akan bahagianya hidupnya bila bisa melepaskan semuanya.
Lalu hidup bersama Gongsun Li dan Si Si hidup bahagia bersama mereka menghabiskan waktu sisa hidupnya hanya untuk mereka bertiga.
Tanpa harus terlibat perebutan kekuasaan dan perang yang membosankan.
Tapi saat dia teringat pesan terakhir dari guru nya.
Semua bayangannya pun sirna, sambil mengeraskan rahangnya penuh tekad.
Guo Yun meneruskan lari cepatnya untuk kembali ke tempat pasukannya.
Saat tiba di sebuah Padang rumput luas, dari jauh Guo Yun melihat ada dua orang kakek berbaju putih berjenggot panjang menghadang perjalanan nya.
Guo Yun melambatkan larinya, hingga akhir berhenti 3 meter dari hadapan kedua kakek berjanggut panjang, sambil memberi hormat dia berkata,
"Maaf kakek berdua ini..?"
"Kami berdua adalah tetua perguruan Ling Yun Pai di Pai Yun San."
"Kami adalah paman gurunya, Thian Sia Ti It Cien, Ling Thian yang beberapa waktu yang lalu gagal menjalankan tugas dan kehilangan pedang Han Kuang Cien nya ."
"Tentunya kamu masih ingatkan anak muda..?"
Guo Yun memberi hormat dan berkata,
"Tentu, hamba tentu ingat, mengenai Han Kuang Cien bila senior berdua menghendakinya.."
"Junior dengan senang hati akan mengembalikan nya..."
ucap Guo Yun sambil mengeluarkan pedang Han Kuang Cien untuk di kembalikan kepada kedua kakek itu.
"Terimakasih, pedang nya kami terima kembali..."
ucap salah satu dari kakek itu, yang memilki tahi lalat tepat diantara kedua alisnya.
Dia bernama Tzu Zi biasanya di dunia persilatan di kenal dengan Tzu Zi Tao Cang.
Sedangkan kakek yang lainnya di kenal dengan Thian Yi Tao Cang.
Thian Yi Tao Cang adalah kakak seperguruannya Tzu Zi Tao Cang.
__ADS_1
Dia dari awal hingga akhir tidak berkata apa-apa, hanya selalu tersenyum lembut menganggukkan kepalanya saja.
Membiarkan adik seperguruan nya, Tzu Zi Tao Cang yang mewakili diri nya berbicara.
Setelah menyerahkan pedang Han Kuang Cien, kemudian memberi hormat kepada mereka berdua.
Guo Yun pun berkata,
"Bila tidak ada hal lainnya, junior pamit permisi dulu.."
Selesai berucap Guo Yun yang tidak mau terlibat keributan di dunia persilatan.
Dia terlihat buru buru ingin berlalu dari hadapan kedua kakek tersebut.
"Tunggu anak muda, kami berdua juga di tugaskan untuk mengundang mu ke Pai Yun San."
"Untuk memberikan pertanggungjawaban atas kematian murid paman guru kami Cia Hong..'
Guo Yun menghentikan langkahnya, menghela nafas panjang dan berkata,
"Bukankah aku sudah menjelaskan nya pada murid senior berdua, saudara Ling Thian.."
"Apa beliau lupa menyampaikannya..?"
tanya Guo Yun balik.
"Tentu sudah, tapi itu tidak cukup, sebelum kamu sendiri datang keperguruan kami menjelaskan langsung ada ketua kami.."
"Maaf senior berdua, saat ini aku belum bisa, karena masih banyak tugas dan tanggungjawab menanti ku.."
"Bila sudah selesai, aku berjanji pasti akan pergi mengunjungi Pai Yun San, untuk mempertanggung jawabkan semuanya.."
Tzu Zi Tao Cang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf anak muda, itu tidak bisa terjadi, itu di luar wewenang kami.."
"Kalahkan kami, atau ikutlah dengan kami ke Ling Yun Pai."
Guo Yun menghela nafas panjang, mengeluarkan pedang darahnya dan berkata,
"Kalau begitu jangan salahkan aku memilih bersikap tidak sopan pada senior.."
"Silahkan saja, junior siap menerima bimbingan dan pengajaran.."
"Singggg...!"
pedang darah pun sudah tercabut dari sarungnya, bersiap menghadapi kedua kakek itu.
Tzu Zi Tao Cang berkata,
"Baiklah kalau begitu mari kita bermain main sejenak."
Dia kini memegang Han Kuang Cien di tangan, lalu mulai bergerak menyerang Guo Yun dengan putaran pedangnya yang mendatangkan badai salju, menerjang kearah Guo Yun.
Guo Yun memutar pedangnya mengelilingi tubuhnya, membentuk pertahanan gulungan pedang cahaya merah.
"Trangggg,..! Tranggg..,!"
"Trangggg,..! Tranggg..,!"
"Trangggg,..! Tranggg..,!"
"Trangggg,..! Tranggg..,!"
Semua serangan badai salju tertangkis oleh Guo Yun.
Melihat hal itu, kini Tzu Zi Tao Cang kembali melanjutkan serangan. berikut nya.
Han Kuang Cien di putar dengan sangat cepat, hingga terbentuk batangan es tajam seperti.mata tombak.
Berputaran dalam gulungan sinar pedang di tangannya, saat pedang di kibaskan kearah depan.
Terlihat batangan es beku tajam yang mencapai ribuan itu, semuanya kini melesat kearah Guo Yun.
"Tringgg..!" Tringgg..!" Tringgg..!"
"Tringgg..!" Tringgg..!" Tringgg..!"
"Tringgg..!" Tringgg..!" Tringgg..!"
Terdengar benturan nyaring di udara, saat Edang darah di tangan Guo Yun, dengan sangat sigap mematahkan dan menghancurkan semua bayangan es berujung tajam melebihi silet.
Melihat Guo Yun lagi lagi mampu menangkis serangan nya, Tzu Tzu Tao Cang kini mempercepat pergerakan tubuh.nya.
Melakukan serangan beruntun dengan pedang Han Kuang Cien yang berubah menjadi puluhan bayangan pedang.
Puluhan bayangan pedang ini mengurung Guo Yun dari segala penjuru.
"Trangggg..!" Trangggg..!"
"Trangggg..!" Trangggg..!"
Setiap bayangan pedang yang menangkis akan terjadi percikan bunga api dan suara seperti logam beradu keras
Padahal yang sebenarnya beradu adalah mata pedang darah dengan bayangan pedang, yang tercipta dari energi di tangan Tzu Zi Tao Cang.
Tapi serangan Tzu Zi Tao Cang juga tidak kalah unik.
Setiap energi pedang tersebut tertangkis, dia akan membelah diri.
Sehingga energi pedang itu dari puluhan menjadi ratusan, kemudian berubah menjadi ribuan.
Dan masih terus berlanjut membelah diri.
Melihat kondisi tersebut, di mana ilmu energi pedang Tzu Zi Tao Cang sangat unik.
Makin di tangkis makin banyak yang mengerubutinya, sehingga dia menjadi sibuk.
Akhirnya Guo Yun merubah tangkisannya, menjadi energi pelindung Thian Ti Sen Kung.
Membentuk sebuah kubah perisai untuk menahan serangan Tzu Zi Tao Cang.
Kini energi pedang Tzu Zi Tao Cang terlihat seperti jarum jarum yang menancap pada bantalan jarum berbentuk bulat dan mengeluarkan cahaya keemasan.
Melihat hal ini, Tzu Zi Tao Cang, terus menerus meningkatkan tenaga serangannya, untuk menekan kekuatan energi pelindung Guo Yun.
Setiap dia meningkatkan daya tekannya energi pelindung akan bergetar hebat.
Tapi sampai sejauh ini, di mana kening Tzu Zi mulai terlihat berkeringat.
Tetap saja belum terlihat ada tanda tanda Tzu Zi Tao Cang berhasil menekan Guo Yun.
Semua masih berjalan imbang, hingga Tzu Zi Tao Cang, berteriak keras.
"Hiaaahh...!"
Di depan dadanya muncul 3 batu permata persegi panjang tidak beraturan, yang mengeluarkan cahaya Biru Merah Kuning.
Berputaran di depan dada Tzu Zi Tao Cang.
Dengan munculnya ketiga benda itu, kekuatan Tzu Zi Tao Cang meningkat pesat.
Guo Yun terlihat mulai terdesak mundur selangkah demi selangkah kebelakang.
Saat sudah sangat terdesak, tekanan itu membuat kedua kaki Guo Yun amblas kedalam tanah, hingga selutut.
Melihat hal itu Tzu Zi Tao Cang sambil tersenyum penuh kemenangan berkata,
"Anak muda jangan keras kepala, menyerahlah, sebelum menyesal."
Guo Yun tersenyum tipis dan berkata,
"Biarkan aku pergi, atau kalahkan aku, di luar itu tidak ada yang perlu di bicarakan."
"Baiklah anak muda, bila itu keinginan mu, aku akan membantu mu memenuhinya."
ucap Tzu Zi Tao Cang, sambil mendorongkan tiga batang kristal aneh itu kedepan.
Dorongan tersebut membuat kekuatan energi pedang Han Kuang Cien, menjadi jauh lebih kuat.
Menekan kubah cahaya emas yang melindungi tubuh Guo Yun.
Perlahan lahan satu persatu energi pedang Han Kuang Cien mulai berhasil menembus pertahanan Guo Yun.
Satu persatu energi pedang itu kini langsung menusuk kearah tubuh Guo Yun.
Tapi energi pedang itu masih tertahan oleh perisai tipis yang menyelimuti seluruh bagian dalam tubuh Guo Yun.
Karena semakin lama semakin banyak energi pedang yang berhasil menebus masuk, kubah energi Thian Ti Sen Kung akhirnya meledak pecah.
Kini semua energi pedang langsung mengancam lapisan tipis kedua yang menutupi seluruh tubuh Guo Yun.
Tzu Zi Tao Cang sambil tersenyum penuh kemenangan, dia menambah kekuatan nya lagi.
Untuk meningkatkan daya tekannya.
Guo Yun tiba tiba berteriak keras,
"Arggghh...,!'
Lalu dia melepaskan bola energi bulan dan matahari, menolak dan menghancurkan semua energi pedang yang mengepung nya.
Begitu terkena ledakan energi bola cahaya mata hari dan bulan.
Semua energi itu sebagian membeku, sebagian lagi hancur menguap.
Lalu kedua bola matahari dan bulan bergerak menekan tiga batu permata, yang mengeluarkan Cahaya Biru kuning merah.
Dorong mendorong di udara pun terjadi, masing masing terlihat seperti sedang mendorong mobil.
Secara bergantian saling maju dan mundur.
Dengan satu teriakan lebih keras lagi.
"Arggghh..!"
Guo Yun memaksa ketiga permata tiga warna, terpental kembali kearah Tzu Zi Tao Cang.
Dimana oleh Tzu Zi Tao Cang langsung di sambut masuk kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Bola cahaya bulan dan matahari datang dari dua arah di sambut oleh tapak kanan dan kiri Tzu Zi Tao Cang.
Sedangkan pedang Han Kuang Cien, meluncur bagaikan mata bor menerjang kearah Guo Yun.