LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEPUTUSAN GUO YUN


__ADS_3

Dewa Naga Gurun Pasir yang kesulitan menahlukkan permainan sepasang pedang Guo Yun yang sulit di tebak dan banyak perubahannya.


Dia mulai menggunakan kekuatan magisnya lewat bentakan dan sorot matanya yang bersinar terang.


"Guo Yun kamu sudah letih, Rebahlah..!!!"


Bentak Dewa Naga Gurun Pasir.


Guo Yun yang tiga tahun lalu berulang kali hampir di pecundangi oleh Mu Rong Fuk, Lao Hu dan Lao Lung kakak beradik.


Dia sudah mempersiapkan diri jauh jauh hari terhadap ilmu ini, dia tidak mungkin bisa mengandalkan tipuan nekad seperti saat melawan Lao Hu dan Lao Lung.


Jadi dia selama tiga tahun selain mengatur kerajaan dan menemani keluarga, dia juga terus membuka kitab rahasia lembah hantu.


Dia khusus menelusuri mengenai ilmu magis ini, selain itu dia juga mengumpulkan berbagai informasi dari daerah pedalaman selatan.


Di mana disana juga banyak orang yang menguasai ilmu magis seperti itu.


Guo Yun sengaja mengundang mereka ke istana untuk menjelaskan bagaimana menghadapi berbagai macam ilmu magis itu.


Setelah dia banding bandingkan informasi yang di dapat dengan penjelasan dari kitab rahasianya.


Akhirnya dia menemukan berbagai tehnik untuk mengantisipasi ilmu magis ini.


Saat ini begitu Dewa Naga Gurun Pasir memainkan ilmu itu, di dalam hati Guo Yun tersenyum.


Karena dengan pengerahan hawa Thian Ti Sen Kung keseluruh syaraf di telinga dan otaknya, juga beberapa syaraf motorik di matanya.


Daerah yang menjadi pusat kontrol yang akan di kendalikan oleh lawan nya, sepenuhnya, telah di lindungi oleh hawa sakti nya.


Dia sekarang sama sekali tidak terpengaruh.


Tapi Guo Yun yang cerdik, dia meski tahu ada kemungkinan tidak berhasil.


Tapi dia tetap mencoba nya, Guo Yun pura pura terpengaruh, langkahnya tiba tiba terhuyung-huyung.


Sepasang kakinya terlihat limbung, kehilangan kemampuan untuk berdiri tegak.


Hingga akhirnya, dia terjatuh berlutut pasrah, dengan tubuh seperti kehilangan tenaga.


Kepalanya bahkan terlihat tertunduk kebawah, seperti orang Mandah menunggu mati.


Tapi di balik kepala yang tertunduk sepasang matanya berkilat kilat.


Diam diam dia terus melirik kearah Dewa Naga Gurun Pasir menanti orang tersebut akan berbuat apa.


Sepasang pedang di tangan Guo Yun pun jatuh tergeletak di sampingnya.


Melihat apa yang terjadi dengan Guo Yun, Dewa Naga Gurun Pasir sangat gembira.


Dia segera bergerak ingin melepaskan dua pukulan pamungkas kearah Guo Yun.


Tapi baru setengah jalan dia berubah pikiran, dia memilih membatalkan serangan nya dan berkata,


"Angkat kepala mu lihat siap aku,? aku adalah Dewa Naga Abadi, kamu harus menuruti ku..!!"


Guo Yun meski merasa kecewa, pancingannya gagal, tapi dia tetap pura pura bodoh.


Mengangkat kepalanya menatap kearah Dewa Naga Gurun Pasir.


Awalnya dia kaget melihat di depan nya muncul seekor Naga Hijau raksasa.


Naga Hijau raksasa itu terus menatap kearah nya dengan tajam.


Tapi saat dia mengerahkan Thian Ti Sen Kung melindungi syaraf di mata dan pusat kontrol matanya.


Guo Yun kembali melihat dengan jelas, di hadapannya hanya seorang kakek tua bergigi ompong.


Guo Yun di dalam hati tertawa, tapi tentu saja di luar dia tidak menunjukkan nya.


Dia malah menunjukkan ekspresi kaget jatuh terduduk diatas tanah dengan sepasang mata terbelalak kaget.


Hal ini membuat kakek tua itu tersenyum lebar dan kembali berkata,


"Ambil pedang mu,! gorok lah leher mu sendiri.!"


"Cepat.lakukan..!"


bentak nya kembali.


Di dalam hati Guo Yun mengumpatnya,


"Keparat tua,.. licik sekali kamu.."


Tapi di luar Guo Yun seperti orang kehilangan semangat, dengan wajah bingung, dia memungut sepasang pedang nya.


Kemudian meletakkan di lehernya sendiri secara menyilang mirip gunting besar di kalungkan di leher.


Siap menggunting lehernya sendiri.


Melihat hal ini Dewa Naga Gurun Pasir terlihat sangat gembira dan puas.


Sedetik dia sedang gembira, di mana kewaspadaan nya menurun.


Di saat itu pula Guo Yun melesat kedepan dengan sepasang pedang biru merahnya.


Di mana sepasang pedang yang mengeluarkan hawa panas dan dingin.


Berubah menjadi dua gulung cahaya merah dan biru, menusuk deras kearah dada kakek tua itu.


Meski agak kaget dan tidak menyangka Guo Yun akan mengambil langkah itu.


Tapi kakek tua itu tetap bisa bergerak cepat membuang diri kebelakang.


Dengan menghentakkan ujung kakinya keatas tanah.


Tubuhnya melayang kebelakang seperti seekor burung raksasa'.


Tapi Guo Yun juga tidak mau melepaskan kesempatan itu.


Sepasang pedang merah birunya yang berubah menjadi gulungan sinar.


Tetap mengejar dan menempel pergerakan kakek tua itu dengan tidak kalah cepatnya.


Begitu Wu Ying Ru Tian di kerahkan, tubuh Guo Yun dan gulungan pedangnya menghilang.


Saat muncul lagi pedang sudah mengancam satu Cun di depan dada Dewa Naga Gurun Pasir.


Tapi kini giliran Dewa Naga Gurun Pasir yang menghilang dari kejaran pedang yang hampir menusuk dadanya.


Kejar kejaran pun berlangsung dengan tubuh mereka berdua muncul hilang muncul hilang.


Tapi belum terlihat ada hasilnya, yang satu belum berhasil mengenai target, yang satu juga tetap belum berhasil melepaskan diri.


"Plakkkk..!"


"Plakkkk..!"


Terdengar bunyi ledakan di sepasang pedang Guo Yun yang ada di depan dada Dewa Naga Gurun Pasir.


Dewa Naga Gurun Pasir, yang melihat usaha menghindar nya tidak efektif.


Dia langsung merubah pergerakan menghindar, dengan pergerakan menepis sepasang pedang Guo Yun dari samping.


Dia menggunakan Je Ye Sen Cang menangkis kedua pedang itu dari samping.


Menyapok kedua pedang itu hingga melenceng pergerakannya kehilangan sasaran.


Di saat itu dia memberikan sebuah tendangan lurus kearah ulu hati Guo Yun.


"Wutttt..!"


Tendangan itu menemui tempat kosong, karena Guo Yun begitu pedang nya di sapok ke kiri kanan.


Dia sudah bergerak memiringkan tubuhnya, sehingga tendangan itu lewat di hadapannya.


Sementara itu sepasang pedangnya yang tersapok ke kiri dan kanan.


Kini sudah melejit memotong urat kaki di belakang lutut dan urat kaki di belakang mata kaki.


"Singggg,..!"


Singggg,..!"


"Ahhh...!"


jerit Dewa Naga Gurun Pasir kaget.


Hal inilah yang di benci oleh kakek tua itu, pedang ditangan Guo Yun selalu dengan ajaib.


Berhasil mencuri kesempatan untuk melukainya, di saat dia sedang menyerang.


Hal ini sangat merepotkan dan selalu membuatnya kehilangan momen, dari menyerang malah jadi terancam.


Tapi sebagai seorang jago tua berpengalaman, tidak semudah itu bisa melukainya.


"Wuuuttt..!"


"Wutttt..!"


Dewa Naga Gurun Pasir menarik kembali sepasang kakinya yang sedang menendang dengan gerakan memutar 360°.


Lalu kaki yang menendang berubah menjadi tumpuan, sedangkan kaki yang lain datang menyambar kearah bagian leher dan telinga Guo Yun.


"Wutttt...!"

__ADS_1


Tendangan itu lewat di atas kepala Guo Yun.


Sambil menghindar dengan membungkukkan badannya, Guo Yun membalasnya dengan tusukan pedang kearah Dan Tian dan kearah bagian rahasia kakek tua itu.


Kakek tua itu tidak sempat menghindar lagi, dia terpaksa mendahului Guo Yun melepaskan dua berkas bola biru dan merah kearah Guo Yun.


"Wuuuttt..!"


"Wuuuttt..!"


Serangan ancaman balasan yang membuat Guo Yun harus menghindar.


Otomatis serangan Guo Yun terpaksa di batalkan, bila tidak ingin kepala dan dadanya terkena ledakan pukulan dahsyat itu.


"Blaaaarrr...!" "Blaaaarrr...!"


Terjadi ledakan dahsyat di atas tanah, lubang yang satu gosong lubang yang lainnya beku.


Saat terkena hantaman dua bola cahaya biru merah.


Guo Yun sendiri sudah melenting keudara naik keatas.


Lalu dia meluncur tegak lurus turun kebawah sambil memutar sepasang pedang merah biru ditangannya.


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Blaaaarrr..! Blaaarrr..! Blaaaarrr..!"


"Blaaaarrr..! Blaaarrr..! Blaaaarrr..!"


"Blaaaarrr..! Blaaarrr..! Blaaaarrr..!"


"Blaaaarrr..! Blaaarrr..! Blaaaarrr..!"


Terjadi Ledakan dahsyat disekitar Dewa Naga Gurun Pasir, yang sedang berusaha menggunakan sepasang telapak tangan nya.


Untuk menghalau semua serangan Guo Yun yang datang dari atas kepalanya.


Bayangan telapak tangan merah biru berseliweran memenuhi udara.


Menangkis sambil membalas menekan balik kearah tubuh Guo Yun yang sedang meluncur kebawah.


Tapi tubuh Guo Yun yang berputar putar seperti gasing sulit ditarget.


Pukulan Tapak Dewa Naga Gurun Pasir, selalu lewat di samping nya.


Sedangkan sepasang pedang nya tanpa ampun terus melakukan serangan mematikan, mengurung Dewa Naga Gurun Pasir.


Dewa Naga Gurun Pasir yang terlihat terdesak, akhirnya hanya bisa menangkis melindungi diri tanpa mampu menyerang.


Lengan bajunya sudah compang camping di babat kedua pedang Guo Yun hingga sepasang lengan kakek tua itu yang ceking kurus terlihat jelas.


"Rooaaarrrrrrr..!!"


Di saat terdesak hebat, tiba tiba Dewa Naga Gurun Pasir, mengeluarkan suara raungan dahsyat.


Dia memainkan jurus rahasia yang membuat dirinya di juluki Dewa Naga Gurun Pasir.


"Blaaaarrr...!"


Terlihat seekor Naga yang tercipta dari tanah, melesat keatas dengan kekuatan dahsyat yang sulit di ukur.


Guo Yun terpental keatas, di buat terjangan dahsyat kakek tua tersebut.


Sepasang pedang nya terlempar jauh, sedangkan tubuhnya meluncur keatas bagaikan layang putus


Dari mulutnya terlihat menyemburkan darah segar.


Melihat Guo Yun terpental,.kakek itu melakukan beberapa gerakan aneh sebelum kembali meraung keras.


"Rooaaarrrrrrr..!"


Tahu tahu tubuhnya lenyap dari atas tanah.


Saat muncul lagi, dia kembali berubah menjadi bayangan seekor Naga tanah dengan mulut terpental lebar dan kuku kuku tajam mengejar kearah Guo Yun.


Guo Yun antara sadar dan tidak, dia sudah tidak sempat banyak berpikir.


Dia membalas mencengkram sepasang tangan Dewa Naga Gurun Pasir yang tiba.


Lalu dia membuat gerakan menarik tangan kanan dan kiri Dewa Naga Gurun Pasir menyilang di depan dadanya sendiri.


Mengunci kedua tangannya, sekaligus kedua kaki Guo Yun melingkar menjepit pinggang Dewa Naga Gurun Pasir.


"Ahhh,..ilmu iblis..!"


jerit Dewa Naga Gurun Pasir tertahan.


Tapi saat dia tahu sudah terlambat, posisinya telah terkunci oleh Guo Yun.


Dia tidak bisa menyerang Guo Yun dengan apapun, karena tangan hingga tubuh mereka saling menempel.


Dari bagian tubuh yang saling menempel, seluruh tubuh Guo Yun terus menerus.


Mengeluarkan daya hisap yang kuat luar biasa.


Semakin meronta, tenaga saktinya semakin deras terhisap oleh Guo Yun.


Tidak melawan tenaganya pun terus di hisap oleh Guo Yun.


posisinya menjadi serba salah.


"Booommm...!"


Tubuh mereka berdua meluncur dari atas, jatuh kebawah menimpa tanah.


Dewa Naga Gurun Pasir, mengira dengan terbanting, mereka akan terpisah.


Tapi dugaannya salah, Guo Yun tetap menempel di sana, malah di detik terakhir.


Guo Yun memaksa melakukan gerakan memutar, sehingga tubuh Dewa Naga Gurun Pasir lah yang jatuh menimpa tanah.


Sedangkan Guo Yun menumpang diatas tubuhnya.


Bagian tubuh Guo Yun yang menimpa tanah hanya sepasang kakinya yang melingkar di pinggang Dewa Naga Gurun Pasir.


Tapi sepasang kaki Guo Yun tidak masalah, karena di penuhi kekuatan yang di serapnya dari Dewa Naga Gurun Pasir.


Malah Guo Yun memanfaatkan situasi ini, untuk membuang sebagian energi yang di hisapnya dari kakek tua itu.


Dewa Naga Gurun Pasir yang tubuhnya di lindungi hawa sakti juga tidak mengalami cedera.


Dia hanya merasa tersiksa dan cemas dengan kekuatan hawa sakti nya yang terus di hisap oleh Guo Yun.


Seperti Murong Fuk tempo hari, Dewa Naga Gurun Pasir, mencoba tidak menggunakan tenaga sakti.


Dia menggunakan tenaga kasar, untuk menarik kedua tangannya dari cengkraman tangan Guo Yun.


Tapi kesudahan nya malah semakin parah.


"Kreekkk..! Kreekkk..! Kreekkk..!"


Tulang sepasang telapak tangannya, diremukan oleh cakar Naga langit tingkat 9 Guo Yun.


"Arggghh...!"


Kakek itu menjerit kesakitan dan penuh putus asa.


Rasa sakit luar biasa, membuat tenaga saktinya mengalir otomatis kearah telapak tangannya.


Hawa saktinya kembali mengalir deras berpindah ke tubuh Guo Yun.


Tubuh kakek tua yang kurus ceking, semakin menciut, di sela sela rasa putus asa nya.


Dia berteriak keras,


"Aku akan mengadu nyawa dengan mu..!!"


Dia tiba tiba menghentakkan seluruh kekuatan dahsyat nya kearah Guo Yun.


Tapi Guo Yun yang sudah menguasai ilmu ini hingga tahap akhir.


Dia tidak khawatir, dengan tenang dia terima hisap semuanya, hingga tubuhnya seperti di tiup hawa kuat hingga membesar seperti balon.


Tapi sesaat kemudian semua energi' itu di hempaskan kembali, bagaikan sebuah bola yang memantul kan kembali kekuatan apapun yang menyerangnya.


"Booommm...!"


Tubuh Dewa Naga Gurun Pasir meledak hancur berkeping-keping di udara.


Tidak kuat menerima ledakan retur kekuatan yang di hempaskan oleh Guo Yun.


Setelah menghabisi musuh tangguhnya itu, Guo Yun mengulurkan kedua tangannya kesamping.


Sepasang pedang nya yang terlempar jauh, terhisap kembali kedalam genggaman tangannya.


Begitu pedang kembali ketangan, Guo Yun langsung melesat kearah kerumunan pasukan Xiongnu yang sedang mengganas di mana mana.


Tebasan sapu jagad yang mengeluarkan cahaya biru dan merah melesat kearah pasukan Xiongnu tiada putus.

__ADS_1


Tanpa sempat menjerit pasukan Xiongnu yang di lewati cahaya biru langsung berubah menjadi patung es.


Sedangkan yang di lewati cahaya merah langsung gosong.


Tebasan berulang ulang yang di lakukan oleh Guo Yun sekejab saja sudah menghancurkan puluhan ribu pasukan Xiongnu.


Lu Bu Wei yang dari kejauhan melihat keadaan tidak beres.


Di mana jagoan andalannya Dewa Naga Gurun Pasir sudah tiada.


Guo Yun kini kembali bergerak bebas bersama Li Ba datang dari dua sisi.


Menjepit dan menghabisi pasukannya.


Meski pasukannya sudah di beri obat, sehingga tidak mengenal rasa sakit dan rasa takut


Tapi bila terus menerus seperti ini, lama lama tentu akan habis sia sia.


Lu Bu Wei segera memberi kode pada Jendral nya, untuk meniup terompet sebagai tanda penarikan mundur barisan pasukan nya.


Dalam sekejap pasukan Xiongnu langsung bergerak mundur secara teratur.


Meninggalkan Medan perang. Guo Yun yang melihat pasukan harimau hitam nya, banyak mengalami kerugian.


Menghadapi pasukan mayat hidup Xiongnu.


Dia memutuskan tidak melakukan pengejaran.


Guo Yun memimpin pasukan nya kembali kedalam kota Cai.


Yang terluka di rawat, yang meninggal di kubur.


Kemudian di lakukan perhitungan ulang jumlah mereka, oleh atasan mereka masing masing.


Untuk di laporkan ke Guo Yun nantinya.


Guo Yun menunggu di kemah bersama beberapa saudara nya.


Li Ba, Zhang Yi, Ling Tong dan Zhou Tai terlihat hadir di markas utama Guo Yun.


Mereka berlima terlihat sedang melakukan perundingan serius, mengenai rencana untuk segera merebut kembali kota Dan Yang yang terlanjur direbut oleh lawan.


Kota itu adalah kota penting untuk bisa mencapai Xian Yang.


Jadi apapun caranya, kota itu harus bisa mereka rebut kembali.


Beberapa saat mereka berunding Jendral Lim Guan Xing Fu pun datang menghadap membawa laporan mereka masing masing.


Jendral Fu yang baru kembali, dia hanya diam mendengar hingga laporan dari rekannya selesai dia baru berbicara.


"Lapor Yang Mulia, saya membawa berita dari pihak Ying Zheng.."


ucap Jendral Fu sambil maju memberi hormat.


"Katakan saja tak perlu sungkan, disini orang sendiri semua.."


"Di lapangan aku bebaskan kalian semua dari tata Krama istana yang ruwet.."


ucap Guo Yun cepat.


Dia dan yang lainnya menatap kearah Jendral Fu dengan serius, semua terlihat penasaran ingin tahu berita apa yang dia bawa dari pihak Qin.


Jendral Fu mengangguk dan berkata,


"Yang Mulia pihak Qin sudah memperoleh kembali dua kota nya yang hilang.."


"Kota Luo Yang dan An Yi sudah mereka rebut kembali, aku rasa saat ini kemungkinan besar kota Xian Yang sudah jatuh ketangan mereka."


"Apa...!?


Teriak Guo Yun tertahan saking kaget, dia sampai berdiri dari kursinya.


Dia tidak pernah bersikap seperti ini, biasanya dia selalu tenang dalam menyikapi apapun.


Tapi sekali ini beritanya sungguh sungguh membuatnya terkejut setengah mati.


Dia tidak menyangka Ying Zheng rekan kerjasamanya itu, bisa bergerak sedemikian cepat mendahuluinya.


Padahal bicara soal tentara, jelas dia lebih kuat dan jauh lebih banyak jumlahnya.


Bicara kemampuan Jendral Jendral nya, semua Jendral nya juga tidak kalah dari Jendral Jendral Qin.


Bahkan bila duel ilmu silat, jelas Jendral Qin bukan apa apanya di bandingkan dengan semua Jendral miliknya.


Tapi bagaimana mereka bisa secepat itu merebut berbagai kota, yang dia tahu pertahanan nya sangat sulit di tembus.


Seperti kota Luo Yang dan kota An Yi kedua kota itu adalah kota, yang memilki tembok pertahanan terkuat, yang terdiri dari dua lapis tembok pertahanan.


"Ceritakan apa yang terjadi..?"


ucap Guo Yun berusaha menenangkan diri dari rasa kagetnya.


Semua yang hadir juga memandang kearah Jendral Fu dengan kaget.


Mereka juga sulit percaya, Ying Zheng dan pasukannya bisa bergerak jauh lebih cepat dari pada mereka.


Jendral Fu sambil menghela nafas panjang berkata,


"Mereka mendapatkan kota Luo Yang dan An Yi bukan lewat pertempuran.."


"Tapi mereka mendapatkan nya lewat perundingan.."


"Perundingan seperti apa ?"


tanya Guo Yun penasaran.


"Ling Yun Lao Jen, yang di utus oleh Lu Bu Wei menahlukkan kota An Yi dan kota Luo Yang.."


"Setelah dia beradu beberapa jurus melawan Li Ming, saat mereka berdua berpisah, untuk mengatur serangan berikutnya."


"Ying Zheng muncul menawarkan Ling Yun Lao Jen untuk berpihak kepadanya.."


"Ying Zheng menawarkan akan menjadikan Ling Yun Pai sebagai aliran nomor satu di seluruh wilayah kekuasaannya.."


"Dia juga akan menjadi kan agama Tao sebagai kepercayaan nomor satu di seluruh negeri nya ."


"Ling Yun Lao Jen akan menjadi pimpinan tertinggi pemuka agama tersebut.."


"Ling Yun Lao Jen juga di ijinkan untuk bergerak bebas bersama alirannya, selama mereka mendukung pemerintah dan tidak ada niat atau ada ajaran ke umatnya untuk memberontak.."


"Tawaran tersebut di terima baik oleh Ling Yun Lao Jen, sehingga terjadilah kesepakatan."


"Sedangkan terhadap kelompok Xiongnu, Ying Zheng menawarkan mereka beberapa wilayah di barat, yang dulu pernah di rebut dari Raja Chan Yu dan Raja Agahai.."


"Wilayah Yi Qu, He Xi, dan Yong di berikan ke bangsa. Xiongnu kembali.."


"Ratu Camelia menyetujui usul tersebut, sehingga dari pihak Xiongnu pun tidak lagi bermasalah.."


"Terakhir dari pihak mantan pimpinan pasukan Qin mereka semua di tawari amnesti bila menyerah tanpa syarat.."


"Ying Zheng juga menekankan menyerah pada nya adalah yang terbaik, mereka bisa kembali bekerja padanya.."


"Bila tidak, nanti mereka akan bertemu dengan pasukan Yue, tentu mereka tidak akan pernah menerima pengampunan ini.."


ucap Jendral Fu dengan suara pelan.


Dia terlihat agak segan mengucapkan kalimat yang ini.


Guo Yun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya mendengar penjelasan dari Jendral Fu.


Ini yang namanya strategi tingkat tinggi, Guo Yun bukannya marah dia justru kagum dengan kecerdikan serigala kecil itu.


Tanpa berkorban satu tentara pun dia berhasil merebut kembali dua kota penting nya.


Bukan mustahil setelah kesepakatan kerja samanya dengan ratu Camelia dari Xiongnu.


Xian Yang akan segera jatuh ke tangannya.


Jendral Liu dan Jendral Sun yang mengkhianatinya hingga menewaskan Jenderal Wen dan Nan bawahan nya.


Mereka berdua tentu akan dengan senang hati berbelok arah ke pihak Ying Zheng.


Sehingga jatuhnya Xian Yang ketangan Ying Zheng itu sudah pasti.


Tidak perlu di ragukan lagi,


Sementara dia dan pasukannya justru masih tertahan di sini, berhadapan dengan Lu Bu Wei, yang masih bertahan di kota Dan Yang.


Sedangkan mereka kini masih bertahan di kota Cai.


Sebagai mitra kerjasama, apalagi mereka kini masih punya hubungan keluarga.


Bila kini Guo Yun memaksa mengambil kembali Dan Yang lalu menyerbu Xian Yang.


Dia akan berdiri di pihak tidak benar, kalaupun nanti menang, pandangan rakyat terhadap dirinya tentu akan menurun dukungan nya


Dia kelak akan kesulitan merekrut orang orang untuk setia kepadanya.


Karena dia sendiri memberi contoh sikap tidak setia kawan dan melanggar perjanjian kerjasama.


Dia tidak ada alasan menyalahkan Ying Zheng, karena dalam hal ini, memang siapa cepat siapa dapat.


Apapun caranya semua pihak bebas melakukannya, tidak ada perjanjian khusus.


Berpikir sampai di situ, Guo Yun juga tidak mau memboroskan energi pasukannya, merebut Dan Yang mati matian melawan Lu Bu Wei dan sisa pasukannya.

__ADS_1


__ADS_2