
Selama 3 hari Min Min sama sekali tidak meninggalkan Gua.
Guo Yun juga tidak berani masuk, hanya duduk termenung di atas batu di pinggir telaga.
Di depan Gua terlihat banyak makanan yang di siapkan oleh Guo Yun, di biarkan begitu saja.
Tidak ada satupun yang di sentuh oleh Min Min.
Setiap mengantarkan makanan baru, Guo Yun hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya saja.
Sebenarnya Min Min di dalam sana, juga sadar Guo Yun selalu datang mengantarkan makanan dan datang menjenguknya.
Dia sebenarnya sangat berharap, Guo Yun mau masuk kedalam Gua, meski hanya sekadar membujuknya dan menghibur perasaannya yang sedang kacau.
Dia sudah akan merasa senang, ketimbang terus terus mengirim makanan di depan mulut Gua.
Bukannya mendatangkan kesenangan, justru semakin menambah kejengkelannya.
Tapi karena Guo Yun tidak juga kunjung masuk, dia hanya bisa mendengus kecewa, setiap Guo Yun memilih meninggalkan makanan di depan pintu Gua.
Di hari keempat pagi, Min Min yang sudah tidak bisa lagi menahan kesalnya.
Pagi pagi sekali sebelum Guo Yun datang, dia sudah membereskan semua makanan di depan Gua.
Memasukkan nya, kedalam jubah Guo Yun yang di gunakan sebagai selimutnya.
Setelah membungkusnya menjadi satu, Min Min langsung membawanya ketepi telaga, membuangnya di sana.
Lalu dengan hati.kesal, dia sengaja berlari kedalam hutan bambu.
Di mana hutan itu, selama ini menjadi tempat yang paling di larang oleh Guo Yun, agar dia jangan pernah memasuki nya.
Tapi kini karena kesal dan kecewa, dia malah sengaja melanggarnya, tanpa memikirkan keselamatan nya sendiri.
Dia hanya berpikir lebih baik dia mati saja, agar semua selesai, tak perlu lagi dia merasakan semua ini.
Toh Guo Yun juga tidak akan memikirkan mati hidupnya, bukan kah setelah dia mati, Guo Yun bisa lebih ringan beban hatinya.
Dimana Guo Yun bisa meninggalkan tempat ini, pergi berkumpul dengan istri Istrinya yang lain.
Semakin pikir, Min Min semakin kesal dan semakin mempercepat langkahnya, berlari menuju tempat yang sepi.
Kebetulan Guo Yun yang sedang berburu di dalam hutan bambu itu, mengambil jalan yang berbeda dengan jalur yang di ambil oleh Min Min.
Sehingga mereka berselisih jalan, tidak bertemu, meski mereka ada di hutan yang sama.
Hutan bambu yang dari luar terlihat kecil ternyata di dalam nya sangat luas.
Jalur yang di ambil oleh Guo Yun adalah jalur yang membawanya kearah sebuah tebing tinggi tegak lurus menjulang keatas.
Daerah itu penuh dengan sumberdaya dan mahluk hidup, sangat kaya dengan sumber kehidupan.
__ADS_1
Sedangkan jalur yang di ambil Min Min adalah sebaliknya, itu adalah jalur yang sangat sepi jauh dari kehidupan.
Di jalur itu, tidak ada mahluk yang terlihat, selain hutan bambu yang semakin lama semakin lebat dan hawa kematian yang semakin pekat.
Tidak ada terlihat sedikitpun tanda tanda adanya kehidupan di tempat tersebut.
Di tempat inilah Min Min dahulu menemukan wadah unik, yang tanpa di sadari nya, itu ternyata adalah sebuah batok kepala manusia yang pecah.
Min Min terus berlari sambil menangis, pandangannya kabur oleh matanya sendiri.
Sehingga dia tidak menyadari pemandangan sekitarnya yang semakin banyak berserakan tulang belulang baik itu tulang tengkorak manusia maupun hewan.
Min Min hanya tahu terus berlari dan berlari, hingga akhirnya dia tiba di depan sebuah Gua yang memiliki halaman luas.
Di halaman depan gua tersebut, terlihat banyak sekali tulang belulang berserakan, dan bertumpuk tumpuk menggunung di beberapa sudut.
Sampai di sana Min Min baru tersadar, dirinya kini sedang berada di tempat seperti apa.
Kini dengan sepasang mata terbelalak ketakutan, dia seperti orang yang sedang terhipnotis, tidak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuhnya.
Hanya bisa berdiri diam di sana dengan wajah pucat dan seluruh tubuh gemetaran ketakutan.
Mulutnya hanya bisa bergumam kecil,
"Yun ke ke,..kamu di mana ? Min Min takut.."
Di tempat lain, Guo Yun yang tidak menyadari apa yang di lakukan oleh Min Min.
Dia setelah berhasil melumpuhkan seekor ba BI hutan.
Tapi saat daging telah siap, tinggal menyiapkan api unggun, dia malah menemukan makanan yang selama ini dia antar ke depan Gua.
Oleh Min Min semuanya di kembalikan terbungkus di dalam jubah nya.
Melihat hal ini, Guo Yun pun langsung membuang daging ditangan nya.
Lalu dengan terburu-buru, dia berlari kearah Gua.
"Min Min..! Min Min..! Min Min sayang, kamu jangan marah lagi ya..'
"Maafkan aku Ya..?"
teriak Guo Yun di depan gua.
Sesaat tidak mendengar respon dan tidak mendengar ada pergerakan di dalam Gua.
Dengan cemas, Guo Yun langsung berlari kedalam Gua untuk melakukan pemeriksaan.
Tapi Guo Yun menemukan kenyataan, Min Min sama sekali tidak berada di dalam sana.
Dengan panik Guo Yun langsung berlari keluar dari dalam Gua.
__ADS_1
Sambil berteriak keras,
"Min Min..! Min Min..! Min Min..!"
"Min Min..! Min Min..! Min Min..!"
"Min Min..! Min Min..! Min Min..!"
Guo Yun berteriak berulang ulang dengan keras, sambil mencari nya kemana mana, tapi dia tetap tidak berhasil menemukannya.
Akhirnya Guo Yun buru buru membelokkan arahnya memasuki daerah hutan bambu yang selama ini selalu dia jauhi.
Karena tempat itu tidak ada tanda kehidupan, hanya ada hawa berbahaya yang sangat pekat menantinya di sana.
Guo Yun berlari seperti terbang, sambil berteriak,
"Min Min..! Min Min..! Min Min..!"
"Min Min..! Min Min..! Min Min..!"
"Kamu di mana !?
"Ahhhhhh...!"
Tiba tiba terdengar suara jerit ngeri Min Min.
Guo Yun merasa sangat cemas, jantungnya serasa copot.
Dengan Wu Ying Ru Tian.
Guo Yun langsung melesat kearah asal suara.
Saat tiba di lokasi, Guo Yun melihat Min Min sedang jatuh setengah berbaring ketakutan.
Di hadapannya terlihat seorang pria bertubuh hitam cebol, mungkin tingginya hanya se meter kotor.
Rambutnya riap riapan panjang tak terurus seperti orang gila.
Seluruh wajahnya sebagian besar tertutup oleh bulu kumis dan jenggotnya yang kasar dan tidak terurus.
Sepasang matanya yang merah seperti mata serigala lapar, sedang menatap tubuh Min Min dari atas hingga ke bawah dengan sangat rakus.
Sepasang tangan Min Min yang berkulit halus kini sedang di pegang oleh tangan kurus kecil pendek hitam legam dan dekil milik pria kontet itu.
Melihat ketakutan Min Min dan sikap pria itu, meledaklah amarah Guo Yun.
Thian Ti Sen Kung meledak keluar dari dalam tubuhnya.
Dengan teriakan keras,
"Lepaskan dia..!"
__ADS_1
Guo Yun melesat dengan kecepatan kilat, menyerang pria itu dengan tapak rembulan dan tapak matahari.
"Blaaaarrr...!"