
"Aku aku kenapa ? awas nanti mati tersedak emosi.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum mengejek.
"Ya panglima,.."
ucap seorang prajurit yang muncul di depan pintu kereta.
"Nenek ini tidak mau makan sendiri, kalian ikat dan bantu dia makan sehari 5 kali.."
"3 hari kedepan, aku ingin lihat dia kembali sehat dan segar."
"Bila tidak, kalian yang bertugas mengawasinya, bersiaplah menerima hukuman militer ."
ucap Guo Yun tegas.
"Siap panglima, "
ucap pengawal itu cepat.
Guo Yun selesai berpesan, dia langsung meninggalkan kereta tersebut.
Pengawal itu sepeninggal Guo Yun, dia langsung menoleh ke arah ibu ratu Sophia dan berkata,
"Bekerja sama lah, bila tidak kamu akan tahu rasa nenek tua.."
Ratu Sophia hanya bisa mempelototi pengawal itu, dengan tatapan mata penuh kebencian.
Dia terlalu lemah untuk bergerak, bila dalam keadaan normal, dia pasti sudah menerjang kearah pengawal itu dan mencekiknya hingga mampus.
Guo Yun sehabis dari kereta nenek Sophia, dia baru beralih ke kereta putri Camelia.
Baru saja Guo Yun menyingkap tirai pintu kereta, sebuah sepatu berujung melengkung, sudah melayang kearah jidatnya.
Untung Guo Yun bergerak cepat, ujung sepatu itu sudah ditangkap nya.
"Nona sepatu untuk di pakai di kaki, bukan untuk di wajah ."
tegur Guo Yun sambil masuk kedalam kereta.
"Pergi kamu bajingan..!"
teriak putri Camelia, lagi lagi dia melemparkan sepatunya yang satu lagi ke arah wajah Guo Yun.
Tapi tindakan nya sia sia, dia malah menghantarkan sepasang sepatunya untuk Guo Yun.
Guo Yun memperhatikan sepasang sepatu di tangannya dan berkata,
"Sepatu mu unik juga..."
Guo Yun meletakkan nya di dekat pintu kereta dengan rapi.
Lalu dia kembali melihat kearah putri Camelia, tanpa sadar matanya melihat kearah sepasang kaki te lanjang milik putri Camelia, yang putih kemerahan.
Putri Camelia menyadarinya, dengan wajah merah padam, dia buru-buru menggunakan gaunnya yang lebar dan panjang, untuk menutupi sepasang kakinya yang indah dan berkulit halus.
"Apa yang kamu lihat dasar bajingan ceriwis..!"
__ADS_1
bentak putri Camelia galak.
Putri Camelia meski terlihat agak kurusan dan pucat, tapi hal itu tidak bisa menutupi kecantikannya.
Putri Camelia memiliki sepasang mata yang lebar dan jeli, dengan bola mata biru seperti lautan teduh yang tenang dan dalam.
Di Tunjang dengan alis yang panjang halus indah melengkung, dengan bulu mata yang panjang dan lentik.
Dia benar benar terlihat sangat menawan.
Wajahnya yang tertutup cadar tipis tidak bisa menyembunyikan hidung nya yang kecil mancung.
Cadar itu hanya menambah ke misteriusan dan rasa penasaran orang yang melihat nya.
Bibirnya yang seperti gendewa merah dan sexy, terbayang jelas di balik cadar tipisnya.
Rambutnya yang kecoklatan, tertutup kain sutra halus, hanya tersembul sebagian.
Terlihat sangat serasi dengan sepasang matanya, yang sangat menggoda mata para pria, untuk mengaguminya.
Guo Yun tersenyum pahit menanggapi teguran putri tawanannya itu.
"Nona jangan salah paham, kedatangan ku tidak ada niat lain.."
"Aku meski bukan pria baik, tapi aku masih tahu batas.."
"Aku sudah punya calon istri, meski nona lebih cantik darinya, aku juga tidak akan tertarik menganggu nona.."
"Tujuan kedatangan ku hanya meminta nona untuk makan dan minum dengan teratur.."
"Jangan keras kepala dan menyiksa diri sendiri..hal itu tidak ada manfaatnya.."
Putri Camelia meski sangat benci dan dendam dengan Guo Yun, karena kematian ayahnya berkaitan erat dengan Guo Yun dan pasukannya.
Tapi sebagai wanita, mendengar kata pujian dirinya cantik, dari seorang pemuda tampan seperti Guo Yun.
Tentu hati kecilnya merasa cukup senang dan nyaman dengan pujian tulus tersebut.
Tapi di luar, tentu saja dia menunjukkan sikap galak dan ketusnya.
"Apa perduli mu, mau makan mau tidak itu bukan urusan mu."
"Tubuh tubuh ku, mau sakit mau mati juga tidak akan ada urusan dengan mu.."
"Tidak usah sok baik, sok perhatian, sok peduli, dasar bajingan ceriwis dan munafik.."
"Kami keturunan singa, sampai mati sekalipun, tidak akan sudi berhubungan dengan kawanan anjing liar seperti mu.."
"Dasar najis... Peiiiiiii,..!"
putri Camelia setelah melontarkan kata kata menghina, dia bahkan dengan nekad meludahi wajah Guo Yun.
Ruangan kereta yang sempit, jarak yang begitu dekat, membuat Guo Yun tidak sempat menghindar.
Hanya bisa menahan sebagian air ludah putri itu, yang berbau aneh di tangannya.
Putri Camelia yang menolak makan dan minum otomatis kondisi tubuhnya tidak begitu bagus.
__ADS_1
Otomatis mulut dan air liurnya pun lebih tajam baunya.
Sebagian percikan air liurnya mengenai sedikit rambut dan wajah Guo Yun.
Saat aroma nya yang aneh tercium, membuat Guo Yun menggembungkan pipinya menahan muntah.
Melihat hal itu Putri Camelia malah tertawa dan berkata,
"Syukurin itu yang paling pantas untuk mu.."
Guo Yun menahan kesal dan berkata dengan jengkel.
"Dasar tidak bisa di ajak bicara baik baik, ada nenek ada cucu, dasar kepala batu.."
"Jangan bilang aku tidak memperingati mu, bila nanti masih tidak mau makan dan minum."
"Jangan salahkan pasukan ku, mereka menggunakan kesempatan mencekokoki makanan, untuk mengerayangi tubuh mu.."
"Resiko kamu tanggung sendiri, pikirkan baik baik.."
Setelah berkata Guo Yun langsung meninggalkan putri Camelia.
Tanpa menghiraukan makian dan sumpah serapah gadis itu padanya.
Di luar kereta Guo Yun berkata kepada prajurit yang berjaga
"Kalian dengar, bila nanti siang, putri arogan itu masih tidak mau makan minum."
"Paksa dan cekokoki dia makan dan minum dengan teratur sehari 5 kali.."
"Aku tidak mau tahu, yang jelas dia dan neneknya harus sehat."
"Aku tidak mau melihat mereka seperti kucing sakit, saat perundingan dan tanda tangan perjanjian damai sedang berlangsung."
"Siap panglima..!"
jawab prajurit itu tegas.
Guo Yun mengangguk lalu dia menghampiri kudanya, mengambil kantong air mencuci muka dan sebagian rambutnya.
Putri Camelia yang duduk di dalam kereta, diam diam menahan tawa.
Saat dia lewat sela sela kain tirai penutup jendela, melihat apa yang sedang di lakukan oleh Guo Yun.
Guo Yun setelah mencuci muka dan rambut, beberapa kali, dia mencoba mencium rambutnya sendiri.
Saat di rasa bau aneh itu telah sepenuhnya hilang, dia baru melompat kepunggung kudanya.
Lalu memacunya menuju barisan paling depan, berkumpul dengan Zhang Yi meneruskan perjalanan.
Zhou Tai mengawasi bagian tengah, Ling Tong mengawasi bagian paling belakang pasukan, yang mendorong perbekalan rampasan.
Ancaman Guo Yun terbukti berhasil putri Camelia tidak berani ambil resiko di cekokoki oleh pasukan Guo Yun.
Dia tentu tidak ingin dirinya di lecehkan oleh pasukan Guo Yun.
Nenek Sophia lebih keras kepala, setelah dua kali di cekokoki makan secara paksa, hingga dia muntah air .
__ADS_1
Selanjutnya dia baru menurut makan tepat waktu, tidak bertingkah lagi.