LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PERLAWANAN JENDRAL XING


__ADS_3

Senjata Golok panjang Jendral Guan berbenturan dengan sepasang pedang yang menikam kearah lehernya.


Jendral Guan menangkis sambil bergerak mundur menjaga jarak.


Dia memutar golok panjangnya dengan cepat untuk menghalau lawannya mendekat.


Dengan menjaga jarak, Jendral Guan yang menggunakan senjata golok panjang lebih punya peluang.


Kedua penyerang Jendral Guan terpaksa menahan langkah mereka.


Mereka tidak mau beradu senjata, saat golok panjang sedang di putar bebas seperti itu.


Golok panjang yang terhubung dengan Toya besi itu sangat berat, sedangkan senjata pedang mereka sangat ringan.


Dalam kondisi seperti itu, bila terjadi benturan keras, yang rugi jelas adalah mereka.


Jadi mereka sengaja membiarkan putaran golok panjang Jendral Guan melewati mereka.


Mereka menunggu kesempatan baru kembali memperpendek jarak lagi.


Jendral Guan sendiri setelah berhasil memaksa mundur kedua lawannya.


Dia mulai memberikan serangan cepat dengan tebasan golok panjangnya kearah dua lawannya itu secara berganti gantian.


"Wusss..!"


Wusss..!"


Wusss..!"


Wusss..!"


Serangkaian tebasan golok panjang di lepaskan, tapi selain menghantam tanah hingga baru pasir berhamburan.


Tidak satupun tebasan penuh tenaga itu, mengenai kedua orang lawannya, yang bisa bergerak terbang dengan sangat lincah.


Setiap kaki mereka menotol keatas tanah tubuh mereka akan melayang mundur menjauhi Tebasan golok panjangnya.


Setelah puluhan tebasan berlalu, kedua orang itu mulai berpencar.


Mereka masih menunggu kesempatan, dan kesempatan itu akhirnya tiba.


Begitu Jendral Guan bergerak dengan tebasan golok panjangnya menyerang salah satu dari kedua orang itu.


"Wusss..!"


"Brakkkk...!"


Dimana tebasan Jendral Guan kembali menghantam tanah, sedangkan lawannya yang di serang sudah menghindar sambil bergerak mundur.


Lawannya yang lain dengan gerakan cepat memberikan tusukan kearah punggung kiri Jendral Guan.


"Singggg..!"


Pedang bergerak dengan sangat cepat membelah udara.


Langsung di tujukan kearah punggung kiri Jendral Guan.


Jendral Guan dengan gerakan cepat menghindari serangan kearah punggung nya, dengan bergeser kesamping.


"Singgg,..!"


"Sraaat..!"


Pedang di tangan lawannya berubah arah menjadi tebasan menyamping.


Kini pakaian Jendral Guan robek parah, berikut kulit dan dagingnya juga ikut terluka.


Sebuah luka gores memanjang menghiasi bagian punggung Jendral Guan.

__ADS_1


Jendral Guan menggertakkan giginya menahan perih di bagian punggungnya.


Sambil berusaha menangkis serangan pedang lainnya yang dengan sangat cepat menusuk kearah wajahnya.


Pedang berhasil di tangkis hingga menyeleweng kesamping.


Tapi sebuah tendangan keras datang dari samping secara tiba tiba, memanfaatkan pentalan pedang yang menyeleweng.


Tidak bisa di hindari oleh jendral Guan, tendangan tersebut mendarat telak diantara sambungan leher dan bahu.


"Blukkkk..!"


Jendral jatuh berlutut dengan kaki sebelah, begitu menerima hantaman tendangan keras itu.


Di saat Jendral Guan sedang jatuh berlutut, dari arah belakangnya kembali datang serangan, yang ingin menebas kerah tengkuknya.


Jendral Guan menundukkan kepalanya menghindari serangan tersebut.


Leher dan kepalanya selamat tapi helm yang di kenakan oleh jendral Guan dan pengikat rambut nya terlepas dari kepala nya.


Sehingga rambut terurai berantakan sebagian menutupi wajahnya.


Meski kondisinya terlihat berantakan, punggung terluka, rambut terurai.


Tapi Jendral Guan adalah seorang pria keras seperti besi, dia pantang menyerah.


Masih terus bertahan selama nyawa masih ada di badannya.


Kini Jendral Guan yang berbalik menjadi bulan bulanan serangkaian serangan pedang kedua orang itu, yang menyambar cepat mengelilingi tubuhnya.


"Singggg..!"


"Sraaat..!"


"Singggg..!"


"Sraaat..!"


"Singggg..!"


"Sraaat..!"


Jendral Guan hanya bisa menghindar kesana kemari sambil sesekali memberikan tangkisan yang semakin melemah.


Karena sekujur tubuhnya telah penuh dengan luka yang terus mengucurkan darah.


Sesekali dia harus memejamkan matanya untuk menghindari darah asinnya yang mengalir bersama keringat memasuki matanya.


Setelah berhasil melewati serangkaian serangan kedua orang itu.


Jendral Guan terlihat berlutut dengan kaki sebelah, bertumpu pada goloknya panjangnya, yang berdiri tegak menghadap langit .


Tangan nya yang memegang gagang Toya besi, terlihat mulai gemetaran, nafas nya pun terlihat semakin tidak teratur.


Jendral Guan sempat mengedarkan pandangannya untuk melihat keadaan pasukannya.


Saat melihat bawahan nya juga sudah hampir habis di bantai oleh pasukan Qin.


Dia pun tersenyum tipis, dan berkata pelan,


"Cu Kung, maafkan hamba mu yang tidak mampu ini.."


"Guan Mou pamit,.. berangkat selangkah lebih awal dari Cu Kung.."


Selesai berkata, Jendral Guan langsung bangkit berdiri dan berteriak keras,


"Hidup pasukan harimau hitam..!!"


"Hyaaahhh...!"

__ADS_1


Jendral Guan berlari cepat, sambil mengangkat golok panjangnya keatas, memutarnya beberapa kali di udara.


Sebelum dia tebaskan kearah kedua lawannya.


Kedua lawannya saling pandang mereka tersenyum penuh kemenangan.


Sambil bergerak menghindari tebasan golok panjang Jendral Guan.


Sekali ini mereka menghindari serangan tanpa bergerak mundur.


Sebaliknya mereka malah melangkah maju yang satu memberikan tusukan kilat kearah dada kiri.


Lainnya memberikan tusukan kearah leher.


"Singgg...!"


"Creebbbb..!"


"Singgg...!"


"Creebbbb..!"


Kedua serangan pedang cepat berhasil menembus sasaran.


Jendral Guan dengan sisa tenaganya sambil tersenyum puas, dia menangkap gagang pedang yang menembus jantungnya.


Dengan gerakan cepat, golok panjangnya berdesing membelah udara.


"Singggg..!"


"Crasssh..!"


Kepala salah satu penyerang yang menyerang dadanya, langsung jatuh menggelinding di atas tanah.


Jendral Guan menghembuskan nafas dengan sepasang mata terbuka menatap kearah tubuh tanpa kepala yang berdiri kaku di hadapannya.


Semua kejadian berlangsung dengan begitu cepat dan tidak terduga.


Hingga penyerang yang menusuk leher Jendral Guan kini hanya bisa menatap dengan kaget kearah jasad temannya.


Jendral Guan dan jasad tanpa kepala, terlihat berdiri kaku di sana, diam tidak bergerak lagi.


Berakhirnya perlawanan Jenderal Guan juga di ikuti dengan berakhirnya perlawanan sisa pasukan harimau hitam, yang membuang senjata mereka.


Mereka memilih menyerah kepada pasukan Qin, daripada mati konyol.


Meng Da yang selalu fokus mengawasi pengepungan, melihat lawan menyerah.


Dia pun memberi kode agar pasukan nya tidak melanjutkan pembantaian.


Pasukan harimau hitam yang menyerah, semuanya di ikat dan di tahan.


Lalu di giring menuju sisi timur sungai Han, di mana pertempuran besar Meng Yu dan Jendral Xing sedang berlangsung.


Jendral Xing di depan kemahnya terlihat sedang berhadapan dengan dua orang bersenjata pedang.


Sedangkan Meng Yu berhadapan dengan keroyokan 4 orang komandan pasukan harimau hitam.


Sisa nya di arena sekitar mereka pecah pertempuran dahsyat, dimana pasukan Qin yang terlihat muncul mendadak mengepung tempat itu dari segala penjuru.


Mereka di bantu dengan tembakan anak panah yang berasal dari puncak menara.


Sedangkan pasukan harimau hitam, berjuang memberikan perlawanan dengan formasi kecil.


Satu regu terdiri dari 10 orang, berusaha menghalau lawan yang jumlahnya jauh lebih besar.


"Singgg..!"


"Singgg..!"

__ADS_1


Terdengar suara berdesingan saat dua batang pedang tajam bergerak mengejar kearah Jendral Xing.


Lalu di balas dengan tangkisan jendral Xing yang menggunakan sepasang Kampak besar di kedua tangannya.


__ADS_2