LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
GUO YUN VS ATTILA


__ADS_3

Sian Sian menatap Guo Yun dan berkata,


"Aku harus bicara apa ke mereka,? bukti tidak ada, saksi tidak punya, bahkan apa yang mereka langgar pun aku tidak tahu..?"


"Jadi bagaimana mau bicara ?"


"Cuma berdasarkan daftar nama ini, mana bisa..?"


ucap Sian Sian, menatap buku dari Guo Yun dengan ragu.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Tentu saja ada, kalian tenang saja.."


Guo Yun mengeluarkan dua tumpuk berkas laporan, yang dia letakkan di atas lantai.


Kedua berkas itu, hampir setinggi meja makan tempat mereka berdua duduk.


"Kakak kamu bercanda, berkas sebanyak ini, bagaimana kami memulainya..?"


tanya Li Ba kaget.


Guo Yun sambil tersenyum tenang berkata,


"Berkas yang ini berisi dosa mereka masing masing, sudah di susun berurut sesuai daftar nama yang kalian pegang."


"Sedangkan yang ini berisi bukti dan alamat tempat tinggal saksi pendukung, juga berkas berkas pendukung."


"Semuanya juga sudah di urut sesuai dengan daftar nama di buku.."


ucap Guo Yun tenang.


"Kakak kau memang pandang menyiksa dan mempermainkan kami.."


ucap Li Ba sambil menelan ludahnya sendiri.


Sian Sian menatap Guo Yun dengan serius dan berkata,


"Baiklah kak, kami akan coba bantu kakak menyelesaikan tugas ini.."


"Tapi kak, setelah tugas ini selesai, aku mohon ijin agar kami berdua di ijinkan kembali ke pulau persik untuk berlibur, sekaligus mengunjungi kakek ku.."


ucap Sian Sian sambil menatap Guo Yun.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Baik setuju, aku ijinkan kalian cuti kesana.."


"Tapi ingat harus kembali, jangan seperti Li Kui.."


ucap Guo Yun menatap kedua nya dengan serius.


Li Ba menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kakak setiap melihat berkas ini, aku langsung menyesal, kenapa tempo hari tidak ikut pergi dengan adik Kui.."


Guo Yun dan Sian Sian pun tertawa, mereka tidak heran, karena Li Ba ilmu baca tulisnya sangat terbatas.


Melihat berkas sebanyak ini tentu saja dia panik, dia paling tidak betah bila disuruh baca dan nulis.


Selesai sarapan dan ngobrol ringan sejenak, Guo Yun pun pergi meninggalkan tempat kediaman Li Ba.


Setelah Guo Yun pergi, Li Ba dan Sian Sian harus dengan hati hati memindahkan tumpukan berkas itu kedalam sebuah peti besar.


Sian Sian menyusunnya dengan teliti, juga memberi tanda urutan pada berkas berkas tersebut.


Setelah menyimpannya dengan rapi, Li Ba yang bertugas menggotong peti itu untuk di simpan.


Sore hari saat Guo Yun Zhang Yi Gongsun Li dan Si Si sudah siap berangkat mengambil arah barat menuju Luo Yang.


Li Ba dan istrinya juga ikut berangkat dengan arah berbeda, mereka ambil jalur menuju kearah timur, kembali ke Guiji.


Sedangkan Ling Tong masih menjalankan tugas sementaranya, menjaga Shoucun, sekaligus menjaga sisa tawanan yang berasal dari wilayah Qin.


Sementara Guo Yun dan rombongannya berangkat menuju Luo Yang.


Di benteng Han Gu Kuan sendiri di hari ketiga pagi pagi begitu matahari terbit.


Attila sudah memimpin pasukannya datang mengepung tempat itu.


Tapi sekali ini pasukan Attila tidak maju ke garis depan menghampiri Han Gu Kuan.


Melainkan mereka berbaris rapi menunggu perintah dalam keadaan siaga.


Hanya Attila seorang diri yang menghampiri Han Gu Kuan tanpa memperdulikan hujan anak panah yang di arahkan ke dirinya.


Termasuk anak panah seukuran tombak pun di tepisnya dengan santai sambil terus melayang keatas benteng Han Gu Kuan.


Sekali ini, Attila tidak lagi menyerang Roda penahan gulungan rantai, yang di gunakan untuk menaik turunkan jembatan.


Sekali ini Attila melayang keatas tembok, fokus mengincar alat yang di gunakan untuk mengangkut gendewa raksasa.


Gendewa gendewa raksasa inilah senjata mematikan pasukan harimau hitam yang di gunakan untuk membongkar pertahanan barisan tameng pasukan Xiongnu.


Sebelum mendarat, Attila sudah mendorongkan kedua tangannya secara bergantian menyerang kearah mesin gendewa raksasa.


"Wusss..!" Wusss..!" Wusss..!"


"Blaarrr,.! Blaarrr,.! Blaarrr,.!"


Sinar biru transparan berkilauan melesat membekukan apapun yang di lewatinya menjadi es.


Kemudian meledakkan nya.


Mesin mesin gendewa raksasa mulai di rusak oleh Attila, Han Wei yang melihat hal itu.


Langsung memberi kode agar mesin gendewa raksasa di tarik mundur menjauh dari arena.


Sebagai gantinya pasukan harimau hitam yang bersenjatakan tombak terbang dan jala sutra langit.


Kembali mengepung Attila secara berlapis lapis lapis, dengan jarak tertentu, dari satu barisan ke barisan lain.


Agar Attila tidak bisa menyerang dan membekukan mereka sekaligus dalam satu pukulan.


Pertarungan kembali berjalan sengit, Attila yang terkepung, terus berusaha agar bisa keluar dari kepungan dan pergi menghancurkan mesin gendewa raksasa.


Mesin mesin itu meski sangat efektif dalam menyerang, tapi kurang efisien bila ingin di pindahkan.


Karena mesin itu cukup berat, di perlukan puluhan orang, baru bisa mendorong nya, untuk di pindahkan menjauh dari arena pertempuran yang sedang berlangsung.


Beberapa yang terlambat di pindahkan, kembali berhasil di hancurkan oleh pukulan jarak jauh, yang di lepaskan oleh Attila, sambil beterbangan kesana kemari.


Attila yang akhirnya terkepung rapat, tidak lagi ada peluang menghancurkan mesin gendewa besar.


Attila mengamuk seperti seekor singa jantan di kepung oleh sekumpulan hyena yang pantang menyerah dan tidak mengenal takut.


Han Wei dan ketiga Jendral nya, yang menyaksikan pertempuran dahsyat berat sebelah itu.


Mereka tampak sangat cemas, tapi juga kehabisan akal, tidak tahu bagaimana cara mengalahkan Attila, yang sangat kuat, seolah olah tidak mengenal kata lelah.


Sedangkan di pihak nya sendiri jumlah pasukan harimau hitam terus berkurang.


Karena sambaran energi energi Attila yang membuat apapun yang dilewatinya membeku.


Terus menerus mengurangi jumlah pasukan harimau hitam yang mengepung nya.


Sesekali Han Wei akan selalu menoleh kearah timur, berharap keajaiban yang di tunggu tunggu nya tiba.


Tapi dia selalu harus menerima kenyataan yang mengecewakan, yang di tunggunya belum juga tiba.


Attila melihat senjata mesin gendewa besar telah di pindahkan dan di sembunyikan.


Dia sambil melesat menghindari serangan jala dan tombak terbang.


Dia melepaskan kode agar barisan pasukan nya bergerak mendekati tembok Han Gu Kuan.


Jendral Jendral Pasukan Xiongnu bawahan Attila meresponnya dengan cepat.


Mereka segera memobilisasi pasukan Xiongnu bergerak maju mendekati Han Gu Kuan.


Masih dengan barisan pasukan yang sama seperti sebelumnya.


Pasukan Tameng di depan, barisan pasukan panah, bersembunyi di antara mereka.


Begitu tiba di tepi parit, mereka langsung melepaskan panah keatas tembok kota.


Menyerang secara membabi buta mengincar pasukan harimau hitam yang sedang mengepung Attila.


Pasukan harimau hitam yang terlalu sibuk menghadapi Attila, mereka tidak merespon tembakan anak panah pasukan Xiong Nu, yang tidak mampu melukai mereka.


Han Wei yang melihat keadaan dan situasi semakin memburuk, dia akhirnya mencabut pedang dan berteriak,


"Kau serang,...!!!"


"Sampai mati pun jangan pernah mau menyerah..!"


Setelah berteriak keras, Han Wei langsung menerjang kearah Attila, diikuti oleh ketiga orang jendral, yang menjadi pembantu setianya.


Masing masing mereka berbaur dengan pasukan harimau hitam, bersiap bertempur dengan nekat hingga titik darah penghabisan.


Mereka sudah memutuskan akan gugur bersama seluruh pasukan mereka dari pada harus menyerah.

__ADS_1


"Hyaaaaaat..!!"


teriak Han Wei memulai serangan dengan tebasan pedang pemusnah yang pernah diterimanya dari Guo Yun.


Tentu saja tidak seganas punya Guo Yun maupun punya Zhuang Zi Sian Seng.


Tapi itu sudah cukup dahsyat bila di gunakan dalam perang melawan Jendral jendral Qin.


Bahkan Jendral sekelas Bai Qi dan Meng Thian pun belum tentu sanggup menghadapinya.


Seberkas sinar putih melesat cepat menerjang kearah Attila.


Seiring teriakan Han Wei, yang bergerak melompat di udara sambil memberikan serangan tebasan pedang nya.


"Hyaaaaaat..!"


"Hyaaaaaat..!"


"Hyaaaaaat..!"


Dari 3 arah lainnya, ketiga jendral bawahan Han Wei, Pang De, Pang Hui, dan Pang Lok.


Mereka juga melepaskan jurus yang sama, hanya kekuatannya yang kadarnya jauh berbeda.


Attila melihat keempat pemimpin yang sudah lama diincarnya akhir nya maju.


Dia tidak lagi mau melepaskan kesempatan.


Dia langsung menghilang dari posisinya, bergerak melepaskan serangan balasan.


Terlihat 4 berkas sinar biru transparan, melesat menerjang kearah ke 4 orang yang menyerangnya dari segala penjuru.


Serangan mereka berpapasan lewat di udara.


Attila menyambut serangan dari empat penjuru itu, dengan melesat keatas.


Sehingga keempat sinar itu lewat di bawah kaki nya.


"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"


"Singggg..!"


Keempat sinar putih tidak menemui sasaran terus menerjang tembok di atas tembok menara.


"Sreeet..!" Sreeet..!" Sreeet..!"


"Sreeet..!"


Dinding tembok menara langsung gompal, meninggalkan bekas goresan energi pedang yang cukup dalam.


Sementara itu Han Wei Pang De Pang Hui dan Pang Lok.


mereka dengan melenting kan tubuh di udara berhasil menghindari serangan balas Attila.


Tapi Attila tidak berhenti di sana, dia langsung bergerak cepat dengan sepasang telapak tangannya yang membentuk cakar.


Menyerang kearah Han Wei secara bertubi-tubi.


Han Wei buru buru menggunakan 72 langkah ajaib berusaha sebisa mungkin menyelamatkan diri.


Melihat keadaan atasan nya yang terdesak hebat pontang panting di serang oleh Attila.


Pasukan Harimau Hitam segera melepaskan serangan tombak terbang menghalaunya.


Sedangkan Pang De, Pang Hui dan Pang Lok, mereka kembali melepaskan tebasan pedang pemusnah, mengincar bagian belakang tubuh Attila.


Han Wei setelah pontang panting, hingga jatuh berguling kesana kemari.


Akhirnya dia berhasil meloloskan diri, Han Wei memang mampu lolos.


Tapi pasukan harimau hitam yang melontarkan tombak terbang menyerang Attila.


Mereka yang menjadi korban pertama, saat tersambar pukulan tangan kosong Attila, mereka langsung berubah menjadi patung es.


Setelah berhasil membuat puluhan pasukan harimau hitam menjadi patung es.


Korban berikutnya adalah ketiga Jendral bawahan Han Wei.


Bayangan telapak rangan biru transparan mengepung ketiga orang itu.


Pang Hui dan Pang Lok yang terlambat menyelamatkan diri.


Mereka langsung berubah menjadi patung es.


Sedangkan sedangkan Pang De, dia masih berhasil meloloskan diri dari maut.


Pang De hanya terlihat mengigil dengan gigi bergemerutukkan di sana.


Attila melesat cepat, muncul di dekat Han Wei, memberikan serangan cakar tangannya.


Cengkraman pertama yang mengincar ubun ubun kepala Han Wei berhasil di hindari oleh Han Wei dengan melangkah mundur.


Serangan kedua yang mengincar bagian perut, juga mampu di hindarkan dengan menarik mundur perutnya kebelakang.


Tapi serangan ketiga, dimana Attila melepaskan sebuah tendangan memutar dari samping secara dadakan.


Dalam posisi membungkuk, menarik perutnya kebelakang.


Saat tendangan tiba, Han Wei sudah tidak bisa menghindar.


Dia hanya bisa mengangkat lengannya untuk melindungi wajah dan kepalanya.


"Desss...!"


Tubuh Han Wei terpental oleh derasnya tendangan yang di lepaskan oleh Attila.


Belum juga Han Wei sempat melakukan sesuatu memperbaiki posisinya.


Attila sambil tersenyum dingin sudah menanti menyambut tubuhnya yang terpental.


Dengan sebuah cengkraman sadis kearah ubun ubun kepala Han Wei.


"Trangggg..!'


Cengkraman itu tertangkis oleh sebatang pedang merah yang terbang datang menangkis serangan nya.


Han Wei berhasil lolos dari maut, berkat pertolongan pedang merah yang tiba tepat waktu.


Han Wei begitu terjatuh di atas lantai, dia langsung melakukan gerakan bergulingan menjauh dari Attila.


Sedangkan pedang merah yang menyelamatkan Han Wei, sudah terbang kembali kedalam telapak tangan pemiliknya.


Attila menoleh kearah asal pemilik pedang itu itu dengan kaget.


Dia tidak menyangka di saat kesempatan emas di depan mata, ada yang datang menganggu acara baiknya.


Dia langsung menatap tajam kearah pemilik pedang merah itu dan berkata dengan suaranya yang berat dan dingin.


"Siapa kamu, berani mencampuri pertarungan kami..?"


Pemuda itu tersenyum dan berkata,


"Siapa aku, ? panggil ratu mu kemari, dia akan tahu.."


"Karena bukankah selama ini, aku yang selalu di carinya..?"


ucap pemilik pedang merah dengan sikap tenang.


"Kamu kah Raja Yue Guo Yun..?"


tanya Attila geram.


Pemuda itu kembali tersenyum dan mengangguk,


"Benar sekali, terimakasih sudah mengenali ku sebelum aku memperkenalkan diri.."


Ucap Guo Yun sengaja melontarkan sindiran dan ejekan.


Guo Yun bisa datang tepat waktu menyelamatkan Han Wei, karena di hari kedua.


Dia memutuskan untuk menggunakan ilmu berlari cepatnya, Wu Ying Ru Tian, bergerak lebih dulu menuju Luo Yang.


Meninggalkan barisan pasukan nya yang pergerakan nya jauh lebih lambat.


Guo Yun membiarkan Zhang Yi dan Gongsun Li yang menggantikan dirinya memimpin barisan pasukan bala bantuan itu.


Keputusan Guo Yun ternyata sangat tepat, dia berhasil mempersingkat waktu tempuh satu hari lebih cepat.


Sehingga berhasil menyelamatkan nyawa Han Wei yang sedang di ujung tanduk.


Sementara itu Han Wei, Pang De yang selamat dan pasukan harimau hitam yang ada diatas benteng.


Mereka semua bersorak gembira penuh semangat.


Saat melihat raja mereka sudah tiba dan hadir disana bersama mereka.


Semangat juang mereka yang hampir pudar, tiba tiba bangkit kembali.


Kini tanpa memperdulikan Attila lagi, Han Wei segera memberi kode agar mesin gendewa raksasa' kembali di keluarkan.


Untuk menghancurkan pasukan Tameng Xiongnu.

__ADS_1


Begitu gendewa raksasa terpasang, panah panah sebesar tombak, mulai berhamburan menghancurkan menerjang kearah pasukan tameng Xiongnu.


Pertahanan pasukan tameng Xiongnu langsung porak poranda diterjang oleh anak panah sebesar tombak itu.


Pasukan Tameng Xiongnu langsung buyar berantakan terpelanting kesana kemari.


Begitu pertahanan pasukan tameng terbongkar, panah panah pasukan harimau hitam selanjutnya.


Langsung berhamburan mengenai pasukan Xiongnu, mereka satu persatu mulai bertumbangan terkena anak panah pasukan harimau hitam.


Melihat situasi yang kembali tidak menguntungkan, sedangkan pemimpin mereka terlihat sedang sibuk sendiri melawan Guo Yun.


Para pimpinan pasukan Xiongnu kembali menarik mundur pasukan mereka, mencoba mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak di pihak mereka.


Melihat pasukan Xiongnu kembali mundur pasukan harimau hitam diatas tembok sana bersorak gembira.


Sementara itu di atas tembok sana, pertempuran Guo Yun melawan Attila telah berpindah kedepan halaman Han Gu Kuan.


Mereka berdua masih saling serang dengan imbang dan sengit.


Guo Yun menggunakan sepasang pedang Hung Sie Cien dan Han Kuang Cien di tangan.


Sedangkan lawannya Attila sampai saat ini masih mengandalkan sepasang cakar tangannya yang keras melebihi baja.


Ketajaman sepasang cakarnya, juga tidak kalah tajam di banding sepasang pedang di tangan Guo Yun.


Hawa dingin dan panas berseliweran di sekitar arena pertempuran.


Guo Yun meski menggunakan sepasang pedang, dia tetap tidak berhasil mendesak Attila.


Attila yang sepasang cakarnya sangat kuat dan tajam, dengan perubahan pergerakan cengkraman tangannya yang sangat banyak.


Sejauh ini dia berhasil mengimbangi Guo Yun, Guo Yun sendiri setelah beberapa kali beradu pedang dengan cakar Attila.


Dia menyadari Attila memilki hawa sakti ajaib yang tiada habisnya sangat kuat dan dingin melebihi dingin nya pukulan bulannya.


Di samping itu, kekuatan pukulan matahari nya, juga masih setahap lebih rendah.


Tidak mampu meredam apalagi mengalahkan dinginnya cengkraman cakar Attila.


Mereka berdua sama sama berada di kekuatan tenaga 15.000 Lingkaran.


Mungkin secara tenaga sakti, Attila masih jauh lebih kuat sedikit.


Tapi sejauh ini kekurangan itu masih tertutupi oleh keanehan dan keunikan permainan pedang berpasangan Je Ye Sen Cien.


Je Ye Sen Cien yang memilki sangat banyak variasi perubahan serangan dan pertahanan, berhasil membuat bingung Attila.


"Wutttt..! Wutttt..! Wutttt..!"


Cakar sinar biru transparan berkelebat cepat di depan wajah Guo Yun.


Sebelum tiba tiba menyerang kearah dada Guo Yun.


Tapi Guo Yun dengan langkah ringan berhasil menghindari serangan itu, dengan sedikit memiringkan tubuhnya.


Sekaligus membalas dengan serangan Hung Sie Cien, yang menyambar cepat kearah leher Attila.


Untuk itu Attila terpaksa melompat mundur, sehingga mereka berdua kini terpisah beberapa tombak.


Sejenak mereka berdua saling mengamati dari jarak beberapa tombak.


Seperti dua ekor ayam aduan yang sedang saling mengukur kekuatan lawan, sambil mencari celah untuk melanjutkan serangan mereka.


Ratu Camelia sendiri, yang duduk diatas punggung kuda dan berada di antara barisan pasukan Xiongnu.


Dia menatap dengan cemas kearah arena pertarungan.


Ratu Camelia berulang kali menjerit kecil, saat melihat tunangannya terdesak oleh serangan Guo Yun.


Kini dia duduk mematung di sana, mengamati kedua jagoan, yang menghentikan pertempuran mereka sejenak


Sesaat kemudian di hampir waktu bersamaan, Guo Yun dan Attila kembali saling terjang.


Guo Yun menyerang Attila dengan sepasang pedang nya, dengan kecepatan Wu Ying Ru Tian tingkat puncak.


Sehingga dia berubah menjadi segulung sinar merah biru, melesat menyarangkan pedangnya ke 12 titik berbahaya di seluruh tubuh bagian depan Attila.


Di mulai dari titik Thian Tu di area bawah dagu, Xuan Ji, Hua Gai, Zi Gong, Yu Tang, Shan Zhong, Zhong Ting, Jiu Wei, Ju Que, Shang Wan, Zhong Wan, dan di akhiri dengan titik Jian Li yang terletak di tengah perut sejajar dengan tulang iga paling bawah.


Saking cepatnya pergerakan Guo Yun, Attila belum sempat bernafas, pedang Han Kuang Cien dan Hung Sie Cien telah tiba beberapa Cun didepan tubuh Attila.


Attila mencoba bergerak mundur dengan menendang kakinya keatas tanah.


Tapi bayangan pedang merah biru, diikuti oleh bayangan tubuh Guo Yun masih terus terbang mengejarnya.


Attila yang terdesak hebat tiba tiba mengeluarkan salah satu ilmu andalan nya.


"Raungan Beruang Salju.."


"Growwww....!"


Nan Thian terhempas mundur kebelakang, oleh raungan dahsyat, yang mengeluarkan hembusan angin daya tolak sangat kuat.


Dengan terpental nya Guo Yun maka, serangan cepat mematikan Guo Yun pun berhasil di gagalkan oleh Attila.


Setelah membuat Attila terpental, Attila tiba tiba berlari kearah Guo Yun dengan sangat cepat.


Menggunakan kedua tangannya, untuk membantu dirinya berlari cepat, sehingga dia terlihat seperti seekor binatang berkaki empat.


Lebih tepatnya mirip dengan seekor beruang salju sedang mengejar mangsanya.


Begitu berhadapan dengan posisi berdiri Attila menyarangkan sepasang cakarnya yang berubah menjadi cahaya biru bergulung gulung, ingin mencabik cabik seluruh tubuh Guo Yun dengan sepasang cakarnya.


Di belakang tubuh Attila terlihat muncul bayangan seekor beruang salju putih besar sedang menyerang dengan sepasang cakar, sambil memamerkan taringnya yang besar panjang dan runcing.


Gerakan yang tampak liar tak beraturan, tapi sangat kuat dan cepat juga ganas.


Pergerakan yang meniru binatang buas dalam menyerang dan bertahan.


Berhasil memukul mundur Guo Yun berulang kali.


"Trangggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Trangggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Trangggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


Terdengar benturan pertemuan cakar Attila yang bertemu dengan pedang Hung Sie Cien dan Han Kuang Cien yang di gunakan untuk menahan serangan tersebut.


Guo Yun sambil menangkis terus dipaksa mundur, oleh serangan sepasang cakar Attila yang kuat dan dingin.


Guo Yun sendiri sambil menangkis mulai memutar otaknya, memikirkan cara untuk melumpuhkan musuh kuat di hadapannya ini.


"Attila mengapa kamu tega menyerang ku, bukankah kamu bilang kamu sangat mencintai ku..!"


"Aku adalah segalanya bagi mu..!"


"Lihat aku baik baik, bukankah aku ini Camelia mu..!?"


bentak Guo Yun memainkan ilmu sihirnya berusaha mempengaruhi Attila.


Tapi sebagai balasannya, Attila mengeluarkan raungan nya.


"Growwww....!"


Guo Yun kembali terpental oleh hembusan angin kuat dari raungan yang Attila lepaskan.


"Bajingan tidak tahu malu,..!"


"Berani kamu mainkan trik kecil ini pada kakek mu..!"


"Mati saja sana .!"


Bentak Attila sambil melepaskan dua serangan cakarnya dari bawah keatas.


Dua berkas bayangan biru transparan berbentuk cakar raksasa.


Membuat tanah batu pasir meledak terangkat keatas, saat dilewati oleh serangan dahsyat, yang di lepaskan oleh Attila.


Attila sendiri melesat mengejar di balik lapisan tanah, yang terangkat menggulung kearah Guo Yun.


Guo Yun yang tidak menyangka, Attila berhasil mengatasi ilmu sihirnya yang jarang gagal.


Dia yang terlanjur terlempar mundur kebelakang, kini menghadapi gulungan tanah batu pasir yang datang bagaikan gelombang tsunami.


Ingin menggulung dirinya, dia terpaksa, melepaskan serangan energi pedangnya untuk menghancurkan gulungan tanah batu pasir yang hendak menelannya.


"Blaaaarrr...!!"


Gulungan gelombang tanah batu batu pasir berhasil terbelah dua, melewati Guo Yun.


Tapi sepasang cakar Attila, yang tiba tiba datang menyerangnya, dari balik gulungan gelombang tanah, yang dia belah.


Muncul sangat mendadak dan begitu cepat, tidak sempat lagi terhindarkan.


Guo Yun terpaksa membiarkan sepasang cakar itu bersarang di dada nya.


Terjadi ledakan keras,


"Booommm...,!"

__ADS_1


Seluruh pakaian atas Guo Yun hancur berkeping-keping.


__ADS_2