LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
UNDANGAN ABU NAWAS


__ADS_3

Keesokan paginya Nan Thian dan Xiang Yu kecil selesai sarapan pagi.


Mereka berdua pun meninggalkan penginapan meninggalkan kota Long Cheng.


Meneruskan perjalanan menuju kota Yong, kota perbatasan yang dulunya milik Qin.


Tapi semenjak Agahai menggantikan ayahnya berkuasa, kota ini sudah direbut kembali menjadi milik kerajaan Xiongnu.


Agahai sangat menaruh penting kota ini, begitu pula Attila saat mendampingi Camelia.


Attila bahkan menempatkan 100.000 pasukan untuk menempati kota perbatasan tersebut.


Baik Agahai maupun Attila, mereka menganggap kota ini penting, karena kota ini merupakan mulut dari pintu masuk menuju wilayah selatan.


Bila kota ini tidak di rebut, mereka akan kesulitan untuk memasuki wilayah selatan.


Karena sebelum memasuki kota Yong, datang dari wilayah barat.


Akan di hadang oleh dua tebing tinggi, di mana jalan satu satunya untuk mencapai kota Yong, mesti melewati celah sempit yang di apit oleh dua tebing tinggi di kanan kiri jalan.


Melewati jalur ini, pasukan Xiongnu akan dengan sangat mudah di jebak dan di hancurkan.


Agahai tidak mampu merebut kota ini sebelumnya, yang di jaga ketat oleh Jendral Meng Thian dan adiknya Meng Yu.


Tapi setelah kedua jendral ini ditarik pergi untuk memperluas wilayah Qin di bagian selatan lainnya.


Dengan di bantu Chan Kiev pamannya Agahai kota ini akhirnya berhasil di rebut oleh Agahai dan pasukan nya


Guo Yun dan Xiang Yu kecil yang menunggangi seekor onta berdua.


Akhirnya mereka tiba juga di jalan celah sempit ini, dengan mengikuti arus para pedagang dari wilayah barat, yang ingin pulang ke daerah selatan.


Guo Yun dan Xiang Yu kecil, menumpang berbaur dalam sebuah rombongan pedagang besar, yang di lindungi oleh pasukan bayaran yang mengawal perjalanan tersebut.


Pasukan bayaran itu di wilayah barat sana, terkenal dengan nama pasukan Kadal Gurun.


Organisasi pasukan kadal Gurun ini memilki anggota tidak kurang dari 1000 personil.


Di semua kota di wilayah barat, kelompok ini memilki kantor cabang mereka disana.


Saat ini pasukan bayaran Kadal Gurun, sedang di tugaskan untuk melakukan pengawalan terhadap rombongan pedagang kaya raya dari Persia.


Pedagang kaya raya itu bernama Abu Nawas, dia jauh jauh datang ke pusat selatan, selain ingin memperluas jaringan dagang nya.


Menjual batu mulia, permata, berlian, juga cairan hitam ajaib, yang bisa membuat api menyala tanpa henti.


Dia juga ingin memborong kain sutra China Selatan yang terkenal indah dan enak di kenakan.


Untuk nantinya di jual di negerinya di Persia sana.


Sebagai orang kaya, tentu saja Abu Nawas selain menyewa pengawal bayaran, dia juga kemana mana, selalu di kelilingi oleh istri istrinya yang cantik cantik dan masih sangat muda.


Pasukan kadal Gurun yang mengawal Abu Nawas hampir 300 orang.


Mereka terlihat selalu bersiaga mengawal rombongan Abu Nawas dengan sangat hati hati


Guo Yun dan Xiang Yu yang ikut serta dalam rombongan tersebut.


Mereka bahkan tidak bisa bertemu muka dengan Abu Nawas.


Karena tanpa ijin dari Abu Nawas sendiri, tidak ada orang yang di ijinkan oleh kepala rombongan pengawal Kadal gurun, untuk mendekat.


Tapi Abu Nawas sendiri sangat royal terhadap orang orang, yang numpang ikut dengan nya dalam perjalanan ini.


Dia tidak segan segan mengutus anak buahnya, untuk membagi bagikan persediaan makan dan minuman, mereka yang berlimpah dan lezat lezat, kesemua orang yang ikut dengan rombongan nya secara cuma cuma.


Tentu saja Guo Yun dan Xiang Yu kecil ikut kecipratan rejeki itu.


Mereka sepanjang perjalanan tidak perlu lagi khawatir.


Persediaan air, makanan, ataupun tersesat di jalan.


Semuanya sudah di urus dengan baik oleh anak buah Abu Nawas.


Memasuki celah sempit di antara dua tebing tinggi, pasukan bayaran Kadal gurun bersikap sangat hati hati.


100 anggota mereka bertugas membuka jalan di depan, 100 anggota mereka mengawal di bagian tengah yang di isi oleh Abu Nawas dan ke 13 istrinya, serta kepala asisten rumah tangga, dan anak buah yang bekerja padanya.


Para anak buah ini bertugas mengurus dan menjaga barang barang dagangan dan persediaan makan minum Abu Nawas.


Sisa pasukan Kadal Gurun yang 100 orang terakhir berjaga di bagian belakang rombongan Abu Nawas.


Rombongan orang yang mengikuti perjalanan Abu Nawas, mereka bergerak paling terakhir di belakang pasukan Kadal Gurun.


Rombongan besar yang bergerak memanjang seperti ular, karena lebar celah tebing itu maksimal hanya bisa di lewati 8 orang yang berjejer menunggangi onta ataupun kuda mereka.


Tapi oleh pasukan pengawal kadar gurun, mereka hanya diijinkan untuk bergerak berlima berlima saja, tidak boleh lebih.


Hal ini di lakukan agar bila ada sesuatu akan lebih mudah bergerak, baik maju ataupun mundur.


Mereka sebagai pasukan pelindung juga bisa lebih leluasa bergerak.


Baik itu maju ataupun mundur.


Rombongan yang panjang seperti ular itu terus bergerak dengan tertib.


Hingga terdengar bunyi letusan kuat di bagian depan sana.


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


Suara ledakan keras yang terjadi di bagian ujung sana, membuat situasi di bagian belakang menjadi kacau balau dan panik.


Banyak yang langsung menarik tunggangan nya berusaha untuk kabur meninggalkan celah sempit itu.


Tanpa menghiraukan orang orang di belakangnya yang belum siap mundur.


Mereka main tabrak dan berteriak teriak meminta orang untuk menyingkir dari hadapan nya.


Guo Yun dan Xiang Yu kecil onta mereka juga menjadi sasaran tabrak lari.


Hingga onta tunggangan mereka terpental menabrak dinding tebing.


Tewas dengan kepala pecah berantakan.


Xiang Yu kecil, untung nya,.sudah di bawa terbang oleh Guo Yun berlarian cepat kearah depan.


Dengan berlarian ringan diatas dinding tebing dengan tubuh miring.


Melewati barisan pasukan kadal Gurun bagian belakang tengah hingga muncul di barisan depan.


Dengan bersembunyi di balik dinding tebing batu yang menonjol keluar, Guo Yun dan Xiang Yu kecil, bisa melihat dengan jelas situasi pertempuran yang sedang berlangsung di baris terdepan.


Guo Yun awalnya curiga, penghadangan ini, ada hubungannya dengan pasukan harimau hitam dari wilayah selatan milik nya.


Atau minimal pasukan wanita bentukan istrinya Si Si, karena suara letusan itu sangat mirip dengan senjata rahasia buatan istrinya.


Tapi setelah melihat siapa penghadang di depan sana, Guo Yun segera sadar, penghadang di depan sana jelas bukan berasal dari orang orang yang di kenalinya.


Guo Yun diam diam mengawasi pertempuran, yang sedang berlangsung di depan sana.


Guo Yun terus menatap ke kedua arah berbeda secara bergantian.


Guo Yun melihat pihak pasukan pengawal bayaran banyak yang jadi korban pasukan penghadang.


Pasukan penghadang ini, semua mengenakan pakaian hitam, dengan penutup muka dan kepala juga berwarna hitam.


Semua pasukan penghadang membawa sebuah senjata rahasia Laras panjang,. yang di ujungnya di pasangi belati tajam.


Di punggung masing masing penyerang itu, terlihat masih menggendong sebilah pedang panjang, yang tersimpan di dalam sarungnya.


Sarung pedang itu juga terlihat berwarna hitam, hanya bagian gagang pedangnya, yang lebih panjang dari gagang pedang biasa, yang berwarna merah.


Di pinggang setiap personil itu Guo Yun masih melihat mereka membawa tabung bambu kecil, yang Guo Yun tidak mengerti apa kegunaan nya.


Selain itu juga masih ada sebatang pedang dengan bentuk mirip pedang di punggung, hanya pedang yang ini ukurannya sedikit lebih mini.


Para penghadang itu bergerak dengan rapi, secara bergantian, mereka melepaskan tembakan senjata rahasia menyerang pasukan kadal Gurun.


Setiap habis melepaskan tembakan, mereka akan bergerak mundur.


Digantikan oleh barisan di belakangnya, barisan pertama mundur ke barisan ke lima, untuk mengisi amunisi dan membersihkan selongsong senjata mereka.


Pasukan baris kedua menggantikannya melepaskan tembakan.


Begitu seterusnya semua bergerak dengan sangat rapi dan teratur.


Pasukan kadal Gurun, di bawah arahan pimpinan mereka.


Mereka semua bergerak membawa tameng, berlari menerjang kearah pasukan penghadang, dengan senjata tombak dan golok di tangan mereka.


Tapi sebelum mencapai sasaran mereka keburu tumbang di terjang peluru, yang di lepaskan oleh para penghadang itu.


Melihat tingkat keberhasilannya kecil, pimpinan pasukan bayaran memberi perintah agar Pasukannnn melindungi diri dengan tameng, sambil bergerak mundur


"Doooorr...!"


Pemimpin barisan depan tumbang dari atas tunggangan nya, saat pasukan nya sedang bergerak mundur.


Sebutir peluru nyasar menerjang keningnya, dia yang terjatuh dari punggung tunggangan nya, langsung tewas dengan kening berlubang, terlihat asap masih mengepul dari lubang di keningnya.


Kehilangan pimpinan pasukan kadal Gurun barisan depan mulai panik.


Untungnya pimpinan barisan pasukan tengah datang untuk menggantikan posisi temannya yang tewas.


Barisan kembali di atur, untuk bergerak mundur dengan rapi.


Saat barisan pasukan tengah di tarik kedepan untuk memberikan bantuan.


Barisan bagian akhir maju untuk mengawal Abu Nawas dan rombongannya bergerak mundur kebelakang.


Langkah mereka terhenti, oleh barisan pasukan berbaju hitam yang melayang turun dari atas tebing.


Langsung menyerang dengan senjata pedang panjang mereka yang saking tajamnya berkilauan tertimpa cahaya matahari.

__ADS_1


"Tranggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Tranggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Tranggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Tranggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


Terdengar suara senjata senjata pasukan kadal Gurun, yang di gunakan untuk menahan tebasan pedang para penghadang, patah terpotong potong dengan mudah.


Pedang satu mata sisi itu benar benar sangat tajam gerakan nya juga sangat cepat, praktis efektif mematikan.


Senjata mereka di patahkan, tubuh mereka langsung jadi korban ketajaman pasukan berpakaian hitam itu.


"Arggghhh...!" Arggghhh...!"


Arggghhh...!" Arggghhh...!"


Arggghhh...!" Arggghhh...!"


Arggghhh...!" Arggghhh...!"


Suara teriakan kesakitan dan nyawa meregang terdengar di mana mana.


Pasukan berpakaian hitam hitam itu dengan cepat dan gesit terus menyerang kesana kemari.


Berusaha menembus pertahanan dan penjagaan berlapis pasukan kadal Gurun.


Pasukan kadal Gurun yang bertumbangan, membuka celah bagi pasukan berpakaian hitam, untuk mencoba menerobos masuk kedalam kepungan.


Mereka dengan cepat hampir mencapai target yang mereka tuju.


Serangan mereka sangat kuat cepat dan akurat, sangat sangat mematikan dan membuat gentar sisa pasukan penjaga Kadal Gurun.


"Ahhhhhh,...! Ahhhhhh,...!"


"Tolongggg,..! Tolongggg,..!"


"Tolong tahan mereka,..!"


"Jangan biarkan mereka mendekat..!"


"Ahhhhhh,...! Ahhhhhh,...!"


"Tolongggg,..! Tolongggg,..!"


"Hu..hu..hu..hu..!"


"Hiks..hiks..!"


Suara teriakan ketakutan dan tangisan dari istri istri abunawas yang bergerombol mengelilinginya mulai terdengar di mana mana, saat pasukan penyerang berbaju hitam semakin mendekat.


Abu Nawas sendiri sudah mencabut pedang bengkoknya yang tajam, dari pinggangnya.


"Sringggg...!"


Bersiap siap menghadapi segala kemungkinan demi mempertahankan diri dan para wanitanya yang sedang histeris ketakutan.


Di tempat lain Guo Yun yang mendengar suara teriakan ketakutan para istri Abu Nawas.


Dia segera berbisik dengan Xiang Yu kecil,


"Yue er kamu tunggu di sini, jangan kemana mana, aku mau kesana menolong orang.."


Xiang Yu kecil dengan gagah berani, menatap kearah Guo Yun dan mengangguk cepat.


Guo Yun selesai berpesan sudah berlari cepat dengan Wu Ying Ru Tian, muncul menghadang di depan Abu Nawas.


Saat Guo Yun tiba, 10 pengawal pasukan barisan Kadal Gurun terakhir yang tersisa, semuanya terguling tumbang diatas tanah berlumpur darah.


"Ha..ha..ha..ha..!"


Para penyerang berbaju hitam sambil mengeluarkan suara tawa mereka, di balik penutup wajah.


"Ha..ha..ha..ha..!"


Mereka terus bergerak mendekati Abu Nawas sambil terus menatap kearah istri istri Abu Nawas dengan tatapan mata seperti serigala kelaparan.


"Ha..ha..ha..ha..!"


Tawa mereka terhenti di tengah jalan, saat seberkas sinar merah putih energi pedang di lepaskan oleh Guo melewati mereka.


Puluhan penyerang berbaju hitam yang berada di barisan terdepan.


Tubuh mereka terbelah dua oleh Tebasan energi pedang Guo Yun.


Guo Yun sudah kehilangan pedang darah dan pedang cahaya dinginnya.


Kedua pedang nya sudah di rontok kan oleh Attila dalam pertarungan terakhir mereka.


Jadi Guo Yun kini hanya bisa mengandalkan energi pedang yang di ciptakan nya untuk menyerang para pengepung yang tidak kurang dari 100 orang itu.


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


Sinar merah putih memenuhi udara, sekejab saja 200 pengepung itu tewas dengan tubuh terpotong-potong.


Begitu Guo Yun menyelesaikan para penyerang berbaju hitam itu.


Dari arah belakang, pasukan kadal Gurun yang tersisa 150 orang.lagi, mulai mundur sampai ketempat rombongan Abu Nawas.


Begitupula dengan pasukan yang menggunakan senjata rahasia, suara


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


Letusan senjata rahasia semakin keras terdengar.


Setiap kali syara letusan terdengar pasti ada puluhan pasukan bayaran, kadal Gurun yang tumbang keatas tanah.


Guo Yun yang sudah menyelesaikan barisan pasukan berbaju hitam di bagian belakang.


Kini dia harus berpindah ke bagian depan untuk memberikan bantuan.


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


"Singggg..!" "Singggg..!" "Singgg..!"


Guo Yun begitu melayang kearah depan, dari udara, dia sudah melakukan Tebasan berulang kali.


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


Kini giliran pasukan berbaju hitam, yang berteriak kesakitan, saat tubuh mereka di lewati oleh energi merah putih, yang Guo Yun lepaskan.


Senjata rahasia dan tubuh mereka semuanya terbelah jadi dua, hanya pedang panjang mereka yang masih utuh.


Pasukan bersenjata itu kini fokus memborbardir Guo Yun dengan tembakan senjata mereka yang semuanya diarahkan ke Guo Yun.


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


"Dooor..! Dooor..l.! Dooor..! Door.!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


Semua serangan mereka tidak ada yang mampu menembus pertahanan Thian Ti Sen Kung.


Malah semua amunisi mereka kini tertahan di udara.


"Hiaaahh...!"


Bentak Guo Yun sambil mendorongkan sepasang tangannya terbuka kedepan.


Seluruh amunisi melesat balik kearea tuannya.


Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


"Arrgghh..! Arrgghh..! Arrgghh..! "


Kembali terdengar suara jerit kesakitan, pasukan baju hitam yang sebagian tewas, sebagian lagi terluka parah.


Sisa pasukan berbaju hitam yang selamat, mereka semua kini bergerak mundur menjauhi Guo Yun menatap nya dengan penuh kengerian.


Sekali ini dari arah belakang mereka, melayang turun 4 orang berdiri menghadang di depan Guo Yun, dengan pedang panjang di tangan kanan, pedang pendek di tangan kiri.


Mereka bersiap siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk, yang berasal dari Guo Yun.


Tanpa memperdulikan kehadiran mereka menghadang di depan nya.

__ADS_1


Guo Yun kembali melepaskan Tebasan energi pedang kearah mereka..


Singggg..!" "Singggg..!"


"Singgg..!" "Singggg..!"


4 energi pedang merah putih mengejar kearah mereka dengan sangat cepat.


Tapi mereka berempat mampu bergerak gesit menghilang dari tempat Guo Yun menyerang


Mereka berempat tahu tahu sudah muncul di hadapan Guo Yun.


Memberikan tebasan ganda mematikan.


Dua orang dari kiri kanan memberikan Tebasan pedang panjang kearah perut dan dada.


Sedangkan tusukan pedang pendek dari kanan kiri di tusukan kearah ginjal.


Dua sisanya bergerak terbang diatas memberikan tebasan pedang panjang kearah leher dan kearah ubun ubun kepala.


Sedangkan pedang pendek mereka tusukan kearah lubang telinga Guo Yun.


"Tranggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Tranggg..! Tringgg..! Tranggg..!"


"Tranggg..! Tringgg..!"


Terdengar pedang mereka berempat saling berbenturan sendiri di udara .


Sedangkan Guo Yun yang mereka incar sudah menghilang dari sana.


Guo Yun menggunakan langkah ajaib dan Wu Ying Ru Tian.


Serangan mereka berempat tidak ada yang berhasil menyentuh Guo Yun .


Sebaliknya dari tempat tidak terduga dua sinar merah putih menyambar kearah mereka berempat.


Beruntung mereka cepat menggunakan sepasang pedang mereka untuk melakukan tangkisan.


Dengan menyilangkan pedang panjang pendek mereka untuk menahan energi pedang Guo Yun.


Meski mereka berempat terpental berguling guling , tapi mereka tetap berhasil menyelamatkan diri.


Sambil melompat bangun, mereka dengan cepat membantingkan sebuah bulatan hitam keatas tanah.


"Booommm..! Booommm..!"


"Booommm..! Booommm..!"


Kabut warna warni langsung memenuhi tempat itu, dari balik kabut mereka melemparkan senjata rahasia berbentuk bintang sambil meniup tabung bambu.


Puluhan batang jarum halus, langsung melesat cepat kearah Guo Yun menyusul senjata bintang.


"Suiiit..! Suiiit..! Suiiit..! Suiiit..!"


"Suiiit..! Suiiit..! Suiiit..! Suiiit..!"


"Suiiit..! Suiiit..! Suiiit..! Suiiit..!"


"Wusss...! Wusss...! Wusss...!"


"Wusss...!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


"Tringgg..! Tringgg..! Tringgg..!"


Semua senjata itu tertahan di udara, lalu di lontarkan kembali oleh Guo Yun kearah kabut asap warna warni.


Tidak terdengar suara apapun, selain keheningan, Guo Yun mendorong kan kedua tapak nya yang penuh dengan Hawa Thian Ti Sen Kung kearah kabut asap di hadapannya.


Kabut asap tersapu bersih, di hadapan Guo Yun kini bersih, tidak terlihat ada siapapun di sana


Bahkan para penyerang berbaju hitam yang terluka dan tewas sebelumnya.


Semuanya tidak terlihat lagi, area itu sudah di steril bersih.


"Booommm..! Booommm..!"


Booommm..! Booommm..!"


Booommm..! Booommm..!"


Booommm..! Booommm..!"


Kini kembali terdengar ledakan beruntun yang berasal dari arah belakang.


Kabut asap menyelimuti seluruh area di belakang sana.


Saat asap hilang di sana yang berserakan tertinggal potongan tubuh tanpa kepala.


Seluruh pasukan penyerang berbaju hitam yang sebelumnya tergeletak di sana.


Kini hanya tersisa tubuhnya saja, kepalanya tidak terlihat lagi.


Guo Yun menghela nafas panjang, menyaksikan ke misteriusan pergerakan kelompok perampok aneh itu.


Segala sesuatu yang melekat pada mereka adalah hal baru bagi Guo Yun.


"Pendekar muda, terimakasih banyak sudah menolong kami semua.."


ucap salah satu pimpinan pasukan kadal Gurun yang tersisa.


Ucapan itu langsung membuyarkan lamunan Guo Yun.


Guo Yun menoleh kearah pimpinan kadal Gurun itu, sambil tersenyum dia berkata,


"Tidak perlu, kita semua berada dalam satu perahu adalah wajar saling bantu ."


Pimpinan pasukan kadal Gurun itu mengangguk dan berkata,


"Bagaimana pun, kami kelompok organisasi pengawalan kadal Gurun berhutang nyawa pada anda.."


"Kelak bila tuan pendekar ada memerlukan tenaga kami, katakan saja.."


"Kami pasti akan melakukan nya untuk tuan pendekar.."


"Tuan pendekar kalau kami boleh tahu, siapa nama besar tuan pendekar ini..?"


tanya pimpinan pasukan kadal Gurun sambil membungkukkan badannya dengan sopan di hadapan Guo Yun.


"Nama besar aku tidak berani tanggung, kalau nama kecil ada, aku bernama Guo Yun.."


"Kalau boleh tahu, saya berhadapan dengan..?"


tanya Guo Yun balik.


"Nama ku Zulkarnain, tuan pendekar.."


ucap pimpinan pasukan kadal Gurun itu tersenyum ramah.


Sesaat kemudian dia terlihat termenung dan bergumam,


"Guo Yun,...Guo Yun,... Guo Yun,...?"


"Seperti pernah mendengarnya tapi di mana..?"


ucap Zulkarnain sambil berpikir.


Tiba-tiba dia menatap kearah Guo Yun dengan tatapan mata kaget dan sulit percaya.


"Tuan pendekar, benarkah anda adalah Raja Yue dari selatan , yang pernah mengalahkan Raja Chan Yu Chan Kiev, Agahai..'


"Terakhir ini makah berhadapan dengan Raja Attila yang Agung dan perkasa..?"


tanya Zulkarnain dengan wajah pucat dan tubuh sedikit gemetaran.


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Aku memang orang itu, tapi tidak lah sehebat yang tuan Zulkarnain bayangkan dan katakan.."


"Cerita yang beredar di luaran terlalu di lebih lebihkan.."


ucap Guo Yun merendah.


"Ahhh..."


hanya suara itu yang keluar dari mulut Zulkarnain tanpa bisa berkata apa-apa.


Selagi Zulkarnain sedang terpaku disana.


Seorang pembantu Abu Nawas berlarian menghampiri Guo Yun dan berkata,


"Tuan pendekar, tuan ku Abu Nawas mengundang anda pergi menemuinya.."


"Ohh itu sebentar ya, keponakan ku tadi aku tinggalkan di tebing sebelah sana.."


ucap Guo Yun yang kini teringat dengan Xiang Yu kecil yang dia tinggalkan tadi.


"Paman aku di sini..!!"


teriak Xiang Yu kecil, sambil berlari-lari menghampiri Guo Yun dan melambai lambaikan tangan nya kearah Guo Yun.


Anak ini pikir Guo Yun dalam hati, sungguh pemberani dan kuat.


Tebing tempat mereka persembunyian mereka, cukup tinggi.


Bukan orang sembarangan mampu dan berani' menuruninya sendiri.


Bahkan orang dewasa sekalipun belum tentu berani.


Tapi anak luar biasa ini justru berani dan mampu.


pikir Guo Yun dalam hati, menyimpan rasa kagumnya.

__ADS_1


__ADS_2