
Guo Yun tidak memperdulikan teguran Gongsun Li, dia malah memajukan wajahnya ingin mencium Gongsun Li.
Tapi Gongsun Li sambil pura pura melotot, menarik mundur wajahnya, dia sedikit jual mahal dan berkata,
"Jangan macam macam, nanti di lihat orang.."
"Biarin aja mereka lihat, aku katakan pada mereka kamu istri ku.."
"Ihh tidak tahu malu,..kapan aku bilang bersedia menjadi istri mu..?"
ucap Gongsun pura pura keberatan.
Guo Yun sambil tersenyum menurunkan Gongsun Li ditempat tidurnya, dengan lembut dan berkata,
"Kapan ya,..ohh aku ingat, ada yang bilang dia sudah memilih ku, cepat lambat akan jadi milik ku.."
"Gak usah cepat, gak usah lambat sekarang aja jadi milik ku.."
ucap Guo Yun sambil pura pura ingin memaksa menciumi wajah dan leher Gongsun Li.
"Heiii,.. jangan..aduh geli..ahh..adik Yun jangan...Oughh.."
Sesaat kemudian terlihat Gongsun Li memejamkan matanya, dia terdiam dengan nafas memburu.
Dia diam.pasrah menanti apa yang akan di lakukan oleh Guo Yun padanya.
Tapi saat merasakan tidak ada reaksi apapun dari Guo Yun, dia segera membuka sebelah matanya untuk melihat.
Begitu di lihatnya Guo Yun tidak melakukan apa-apa, malah sebaliknya sedang menatap wajahnya sambil menahan senyum.
Sadarlah Gongsun Li, Guo Yun hanya sedang menggodanya saja, tidak benar benar serius ingin melakukan hal itu padanya.
Dia sendirilah yang terlalu terbawa perasaan dan suasana, sehingga salah mengartikannya.
Dengan wajah merah padam, sambil menahan malu, dia langsung mendorong Guo Yun kuat kuat menjauhinya.
Lalu dengan kepala tertunduk berusaha membenahi helm dan merapikan pakaian nya
Gongsun Li berjalan terburu-buru meninggalkan kemah dan berkata,
"Aku mau kedapur siapkan makanan dulu.."
"Dasar nakal.."
ucap Gongsun Li mengomel sambil buru-buru keluar dari dalam tenda.
Guo Yun tidak mencegahnya, dia hanya tersenyum lebar menatap bayangan punggung Gongsun Li, yang sedang berlalu dari sana.
Setelah Gongsun Li keluar dari dalam kemah, Guo Yun buru buru duduk bermeditasi.
Mengobati sisa luka dalamnya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Akibat menjalani pertempuran secara terus menerus, yang sangat menguras tenaga dan pikiran.
Guo Yun tidak memilki waktu cukup untuk mengurus luka lukanya hingga tuntas.
Agahai adalah musuh terkuat, dan paling cerdas di antara semua musuh yang pernah di hadapi nya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu di luar gurunya dan mertua Li Kui.
Orang orang itu, di luar kelas nya, yang masuk kelasnya adalah seperti Agahai itu.
Guo Yun memejamkan matanya, dia terus berlatih tanpa henti.
Dia sendiri tidak sadar berapa lama, dirinya berlatih. Hingga tiba saat, dimana dia mencium aroma wangi masakan sedap, masuk kedalam Indra penciumannya.
Guo Yun baru menghentikan latihannya, dia membuka sepasang matanya dan berkata,
"Kakak Li kamu masak apa ? kenapa wangi sekali.."
Gongsun Li sambil menahan senyum, melambaikan tangannya dan berkata,
"Kemarilah lihat sendiri, kamu akan tahu sendiri.."
Guo Yun buru buru menghampiri Gongsun Li, dengan penuh penasaran, dia menatap masakan yang tersaji di hadapannya.
"Ehhh ini,.. bagaimana kamu bisa peroleh barang ini di tempat begini..?"
tanya Guo Yun heran.
Gongsun Li sambil menahan senyum berkata,
"Kenapa mirip ya ? tapi ini bukan, ini kaki domba Mun, bukan kaki itu.."
"Hah tapi mirip banget ya, coba aku cicip dulu.."
ucap Guo Yun buru buru menggunakan sumpit, yang di berikan oleh Gongsun Li untuk mencicipinya.
"Wuih enak banget,..mantap.."
ucap Guo Yun sambil kembali mencobanya dengan penuh penasaran.
"Ini kamu coba juga,..?"
ucap Guo Yun sambil menyuapi Gongsun Li..
Gongsun Li sambil menahan senyum bahagia nya, dia membuka mulutnya yang kecil menerima suapan dari Guo Yun.
"Lagi nih.."
ucap Guo Yun, lagi lagi dia ingin menyuapi Gongsun Li.
Tapi Gongsun Li menggelengkan kepalanya, sambil mendorong pelan sumpitnya kembali kearah mulut Guo Yun, dia berkata,
"Kamu makanlah, aku sengaja masak kan khusus untuk mu.."
"Aku makan buah aja, nanti jadi gemuk dan jelek, kalau makan ini kebanyakan.."
Guo Yun menerimanya dan makan dengan lahap, lalu dia mengambil sebutir buah persik merah dan berkata,
"Ini bagus untuk kulit mu cobalah.."
Gongsun Li tersenyum menerimanya, lalu dia mulai makan buah itu menemani Guo Yun makan.
Guo Yun sambil makan berkata,
__ADS_1
"Mau gemuk mau kurus, bagi ku kamu tetap yang paling cantik di dunia ini.."
"Jadi sebenarnya bukan masalah, yang paling penting adalah kamunya sehat.."
ucap Guo Yun sambil mencicipi masakan sayuran sebagai pelengkap.
Gongsun Li menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Meski kamu tidak berkeberatan, aku sendiri yang tidak percaya diri, gak mau ahh.."
Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Lakukan saja yang kamu suka, tapi harus jaga kesehatan, aku tidak mau kamu jadi sakit karena nya ."
"Pokoknya aku tidak masalah, mau kurus mau gemuk aku tetap akan selalu mencintaimu.."
ucap Guo Yun sambil menatap Gongsun Li dengan serius.
Gongsun Li tersenyum dan berkata,
"Ya,..ya,..aku percaya..ayo makanlah.."
Guo Yun mengangguk, tanpa berkata kata lagi, dia meneruskan makannya.
Sedangkan Gongsun Li dengan setia menemani Guo Yun makan hingga selesai.
Keesokan paginya, pagi pagi sekali, iring iringan pasukan Guo Yun, sudah meninggalkan kota Yong, melalui pintu gerbang sebelah timur.
Gongsun Li yang tidak bisa mengendarai kuda seorang diri, dia memilih duduk manis di depan Guo Yun.
Mereka menempuh perjalanan satu kuda berdua.
Meski Ling Tong merasa gatal mulut melihat nya, tapi dia tidak berani lagi sembarangan berkomentar.
Bahkan berbisik bisik dengan Zhou Tai sekali pun, dia tidak berani sama sekali.
Sementara Guo Yun sendiri tidak terlalu ambil perduli tentang tanggapan orang lain soal itu.
Dia lebih perduli dalam perjalanan pulang ini, setiap ada waktu, dia pasti akan melatih dan meningkatkan kemampuan tempur pasukan nya.
Saat melintasi desa desa, dia akan melakukan perekrutan pasukan baru dan melatihnya.
Saat menemui kelompok kelompok kecil perampok, dia juga akan menjinakkan mereka.
Setelah melakukan proses seleksi, dia akan merekrut mereka bergabung dalam pasukan nya.
Saat mereka tiba di kota Xian Yang, tak terasa pasukannya telah mencapai 8000 personil.
Hanya saja 5000 personil baru ini, memerlukan pelatihan extra dan pengawasan lebih di perketat, untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Sedangkan untuk Ajudannya, Guo Yun belum menemukan bakat yang tepat, untuk memimpin pasukan nya seperti ketiga ajudan nya yang lain.
Memasuki kota Xian Yang, setelah mengatur pasukannya kembali ke perkemahan pasukan Wang Jian.
Guo Yun langsung pergi menghadap Lu Bu Wei, saat tiba di kediaman Lu Bu Wei.
Guo Yun langsung di sambut oleh paman Kai, yang membawa Guo Yun pergi menghadap Lu Bu Wei, yang terlihat sedang berada di taman burung merpati putihnya.
__ADS_1