LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KWA TIN SIONG


__ADS_3

Melihat Meng Thian yang hanya terus bertahan, Xiang Yu menjadi kesal.


Dalam satu kesempatan dia sengaja mengayunkan Hua Ci nya yang berat dari atas kebawah, menimpa kearah Meng Thian.


"Trangggg...!"


Meng Thian terpaksa menggunakan gagang tombaknya untuk menahan serangan tersebut.


Tapi hantaman itu begitu kuat dan berat, hingga kuda tunggangan Meng Thian jatuh berlutut di buat tekanan dahsyat tersebut.


Meng Thian berusaha sekuat tenaga menahannya, tapi serangan itu benar benar sangat kuat.


Mata tombak Hua Ci sudah menekan hingga ke pundaknya Meng Thian yang mulai terluka dan mengucurkan darah.


Meng Thian terlihat mati matian menahan tekanan Hua Ci itu.


Tapi Xiang Yu sebaliknya malah tersenyum mengejek, dia terlihat tenang tenang saja.


Tidak ada tanda tanda dia sedang mengerahkan seluruh kekuatan nya.


Tapi Hua Ci terus menekan kebawah, hingga Meng Thian dan kudanya sulit berkutik.


"Paman tua kamu suka bertahan, maka aku hari ini akan membuat mu merasakan."


"Bagaimana rasanya menjadi seorang yang ingin terus bertahan.."


"Wuutttt..,!"


"Crasssh..!"


"Hieeehh...!"


Dalam satu pergerakan cepat,Xiang Yu secara tiba tiba mengangkat tekanan Hua Ci.


Menggantinya dengan putaran 3/4 lingkaran.


Hua Ci yang menekan dari atas kebawah, berbalik arah.


Kini melakukan tebasan kuat dari bawah keatas.


Tebasan sadis ini datang dari bawah langsung memotong tubuh kuda tunggangan Meng Thian.


Hingga terbelah dua, kuda Meng Thian mengeluarkan suara ringkik kesakitan terakhir, sebelum tubuhnya terbelah dua.


Meng Thian sendiri bila tidak cepat melompat keatas meninggalkan punggung tunggangannya.


Dia pasti akan pergi menyertai tunggangannya.


Sebelum Meng Thian sempat mendarat, Xiang Yu yang tidak berhasil menewaskan Meng Thian.


Dia ikut melompat dari punggung tunggangan nya, lalu dengan suatu gerakan melontarkan Hua Ci nya kearah Meng Thian.


Dia berteriak keras,


"Hyaaahhh...!"


"Mampus..!"


"Wungggg..!"


Hua Ci berdengung keras membelah udara, meluncur deras kearah Meng Thian.


Meng Thian sebisanya menggunakan gagang tombak untuk menahan serangan mata tombak Hua Ci, yang dilemparkan seperti lembing kearah nya.


"Trangggg..!"

__ADS_1


Meng Thian terseret mundur puluh meter oleh dorongan kuat serangan Hua Ci tersebut.


Hingga Meng Thian mendarat di atas tanah, sepasang kuda kuda kakinya masih terseret mundur belasan tombak kebelakang.


Belum sempat Meng Thian berhasil menahan sepenuhnya, daya serang lontaran tombak itu.


Xiang Yu tahu tahu sudah tiba di sana, memegang kembali gagang Hua Ci yang dia lontarkan tadi.


Dia mendorong Hua Ci nya hingga menusuk dada Meng Thian.


Perdana menteri Li Si yang dari tadi menyaksikan pertarungan itu dengan khawatir.


Akhir nya dia menoleh kearah beberapa senior yang sedang duduk santai di kereta masing masing.


"Senior, mohon segera ambil tindakan."


"Bila terlambat, Jendral Meng Thian pasti akan tewas di tangan bocah itu."


"Kamu ini panik apa, tenang saja.."


"Seorang Jendral luka dikit di Medan perang, biasa itu.."


Ucap Hei Koai bersikap cuek.


Li Si terlihat cemas, dia menoleh bergantian kearah mereka semuanya.


Tapi dia hanya mendapatkan respon dingin dari mereka.


Kwa Tin Siong yang sedang membersihkan ujung kukunya, dengan sebatang tusuk gigi.


Dua menghentikan kegiatannya sejenak menatap kearah Perdana menteri Li Si.


"Apa imbalannya, ? asalkan ada selimut hidup yang berkualitas malam ini.."


"Bila tidak ada, tak perlu banyak runding lagi.."


Ucap Kwa Tin Siong cuek.


Di Medan tempur mau kemana cari cewek cantik, pikir Perdana menteri Li Si gugup.


Tapi ujung matanya menangkap di kejauhan sana, tepatnya dari arah Utara.


Terlihat iring iring pasukan yang membawa bendera berkabung dan beberapa kereta kuda, yang juga di hiasi kain tanda berkabung.


Dia segera teringat, Guo Yun sudah mati, tapi ketiga istrinya yang cantik masih hidup.


Dengan wajah gembira, dia berkata,


"Ada senior Kwa, di rombongan depan sana justru ada,, yang senior inginkan.."


"Makanya senior harus enyah kan dia dulu, baru bisa kesana cari yang senior mau.."


Ucap Perdana menteri Li Si sambil tersenyum licik


Kwa Tin Siong mengangguk pelan dan berkata,


"Baik aku percaya padamu, bila berani menipu ku.."


"Keempat pelayan ku, akan mengambil kaki tangan mu sebagai hukumannya.."


Ucap Kwa Tin Siong dingin.


Setelah selesai berucap Kwan Tin Siong pun menyentil kan tusuk gigi di tangan nya menyerang kearah Xiang Yu.


Saat itu bertepatan dengan kemunculan Xiang Yu, Menggunakan Hua Ci menusuk dada Meng Thian.

__ADS_1


Tusuk gigi meluncur cepat kearah Xiang Yu, di tengah jalan tusuk gigi membelah diri menjadi dua.


Satu menembus telapak tangan kanan Xiang Yu, satu lagi menembus telapak tangan kirinya.


"Ahhhh..!"


Jerit Xiang Yu kaget, pegangan tangan nya pada gagang tombaknya, otomatis terlepas.


Meng Thian menggunakan kesempatan itu menendang dada Xiang Yu, dengan kakinya.


Agar Xiang Yu, mundur menjauhinya.


"Dessss..!"


Tubuh Xiang Yu terlempar mundur kebelakang.


Melihat Xiang Yu sudah tidak bersenjata, Jendral Luo yang posisinya tidak terlalu jauh dari Xiang Yu.


Dia segera memacu kudanya maju kedepan, dengan pedang di tangan, dia bersiap ingin menebas leher Xiang Yu.


Tapi tebasan nya tertahan oleh sebatang tombak, yang datang dari Liu Qin Lung.


"Tranggg..!"


"Singggg..!"


"Creebbbb..!"


Tubuh Jendral Luo yang tertembus oleh mata tombak Liu Qin Lung.


Dia langsung jatuh dari atas punggung tunggangan nya.


Tergeletak diam tidak bergerak di atas tanah, dengan tubuh berdarah darah.


Liu Qin Lung tidak sempat memperhatikan hal lainnya.


Dia hanya fokus, menarik Xiang Yu ikut duduk di belakangnya.


Lalu dia buru buru memacu kudanya meninggalkan tempat berbahaya itu.


Meng Thian jatuh terduduk dengan wajah pucat.


Baju pelindung bagian dadanya pecah, darah mengalir deras dari sana.


Tapi dia berhasil terselamatkan, di banding dengan Jendral Luo, dia jelas masih lebih beruntung.


Liu Qin Lung memacu kudanya berboncengan dengan Xiang Yu, secepatnya kembali kedalam benteng pertahanan kota Shoucun.


Dalam perjalanan, Xiang Yu mencabut keluar dua batang tusuk gigi lembut, yang terbelah dua, keluar dari lukanya.


Dia tidak habis pikir dan merasa heran, dua benda yang lebih lembut dari jarum.


Bagaimana mungkin bisa menembus telapak tangannya yang besar dan tebal.


Tapi meski heran, dia juga tidak bisa menjawabnya, karena hal yang tidak masuk akal itu kini nyata.


Kedua telapak tangannya, memang benar terluka oleh serangan tusuk gigi terbelah dua itu.


Perdana menteri Li Si yang melihat keadaan saat itu, dia segera memberi kode.


Agar seluruh pasukannya, segera bergerak maju, pergi untuk merebut benteng kota Shoucun.


Agar bisa mencegah rombongan Guo Yun punya akses jalan masuk dan berlindung di dalam benteng kota Shoucun.


Seluruh pasukan Qin dalam barisan rapi, mulai bergerak mendekati benteng kota Shoucun..

__ADS_1


__ADS_2