
Sementara itu di suatu tempat yang jauh di ujung timur laut, tepatnya di pelabuhan Chang Yang dekat kota Bei Hai.
Kapal yang di tumpangi oleh Guo Yun Li Ba dan Sian Sian baru saja merapat di dermaga pelabuhan tersebut.
Tak lama setelah kapal merapat di dermaga, Guo Yun Li Ba dan Sian Sian terlihat bergerak turun dari kapal mereka.
Tapi baru saja Guo Yun tiba di darat, seorang prajurit kerajaan Yue langsung berlutut di hadapan Guo Yun,
"Yang Mulia akhirnya kamu tiba juga.."
"Aku sudah lama di tugaskan di sini untuk menyambut Anda.."
Guo Yun menghela nafas pelan dan berkata,
"Kamu bangunlah tak perlu seperti ini, nanti menarik perhatian semua orang.."
"Mari kita cari tempat sepi untuk berbicara.."
"Di sini terlalu ramai.."
ucap Guo Yun sambil membantu prajurit itu untuk bangkit berdiri.
Setelah itu dia langsung berjalan meninggalkan dermaga, yang terlihat sangat ramai orang orang berlalu lalang.
Setelah keluar dari pintu pelabuhan Chang Yang, Guo Yun berjalan menuju sebuah tempat peristirahatan yang di bangun di bawah sebuah pohon besar dan rindang.
Tempat peristirahatan itu terlihat sepi, tidak terlihat ada siapapun di sana.
Setelah duduk santai Guo Yun pun berkata dengan sesantai mungkin.
"Kamu duduklah dulu, kamu ada di sini menunggu ku, aku yakin pasti ada sesuatu yang penting, ingin di sampaikan kepada ku.."
"Nah sekarang kamu boleh sampaikan pelan pelan.."
ucap Guo Yun tenang.
"Yang Mulia hamba kemari di utus oleh Perdana menteri Zhong San, dia meminta hamba untuk menyerahkan surat ini ke Yang Mulia langsung.."
ucap prajurit itu, kemudian dia mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkan nya ke Guo Yun dengan cepat.
Guo Yun menerimanya, lalu dia membuka segel di sampul surat yang dia kenali itu segel dari Zhong San bawahannya.
Guo Yun mengeluarkan isi sampul surat tersebut, Guo Yun mengibaskan surat di tangan nya hingga terbuka lebar.
Lalu dia membaca isi surat tersebut, meski dia berusaha bersikap setenang mungkin saat membaca isi surat tersebut.
Tapi ekspresi wajah dan tangannya yang memegang surat terlihat gemetaran.
Semua hal itu jelas menunjukkan surat itu pasti membawa kabar berita yang kurang baik.
Li Ba dan Sian Sian jelas bisa melihat hal itu, mereka meski merasa penasaran.
Tapi mereka tidak berani menganggu Guo Yun, saat dia sedang membaca isi surat itu.
Baru setelah Guo Yun menyelesaikan membaca surat itu.
Sian Sian langsung bertanya dengan hati hati,
"Kakak Yun,.. apa yang telah terjadi ? berita apa yang di bawa oleh surat itu..?"
__ADS_1
Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,
"Kalian bacalah sendiri.."
Guo Yun menyerahkan surat yang sudah dia baca.
Dia menatap kearah prajurit itu dan berkata pelan,
"Kamu siapa nama mu..?"
"Nama ku Ce Ying Yang Mulia.."
Jawab prajurit itu cepat dan sopan.
"Baik, Ce Ying apa kamu tahu siapa yang memimpin barisan pasukan Qin menyerang ibukota kita..?"
tanya Guo Yun berusaha bersikap setenang mungkin, meski sebenarnya dia sangat cemas dan khawatir.
"Kalau tidak salah yang menjadi panglima angkatan pasukan air Qin bernama Wang Jian dan Wang Ben, mereka ayah dan anak Yang Mulia.."
jawab prajurit itu setelah berpikir dan mengingat ingat sejenak.
"Wang Jian Wang Ben kalian berdua bukan manusia..!"
"Kalian lebih rendah dari binatang, dasar tidak tahu balas Budi..!"
"Brakkkk..!"
Meja batu di hadapan Guo Yun, prajurit Ce Ying, dan Sian Sian, langsung hancur terbelah dua oleh pukulan Li Ba yang emosi.
Setelah dia membaca isi surat dan mendengar siapa pemimpin pasukan Qin, yang berani menyerang ibukota Guiji.
"Jangan gegabah dan menuruti hawa nafsu amarah.."
ucap Guo Yun menegur Li Ba yang terlihat emosional.
"Tapi kak kedua binatang bejad itu sungguh kelewatan..! mereka..!"
ucap Li Ba tidak puas dan mencoba membantah, tapi tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena keburu di potong Guo Yun.
"Adik Ba, duduklah tenangkan dulu dirimu..!"
ucap Guo Yun berusaha menahan sabar menghadapi sikap adik keduanya yang memang gampang meledak ledak.
"Tapi kak. bagaimana aku bisa duduk dengan tenang ? setelah mereka..? aku ? aku..? anak anak..? kakak ipar..? ahh aku bisa gila memikirkan nya kak..!"
ucap Li Ba tergagap saking emosinya.
"Li Ba duduk kata ku..!"
Bentak Guo Yun keras.
Li Ba sangat kaget, belum pernah Guo Yun seperti ini pada nya.
Ini adalah yang pertama kalinya.
Biasanya seperti apapun prilakunya, Guo Yun tidak pernah seperti ini.
Saking kagetnya dengan wajah pucat, dan sedikit tergagap, Li Ba terduduk diam di sana menatap Guo Yun dengan bengong.
__ADS_1
Guo Yun menghela nafas panjang, kemudian dia berdiri dari duduknya berjalan menuju pinggiran pagar pembatas tempat peristirahatan itu.
Dia menatap kearah jalan yang sepi, sesat kemudian setelah hati dan perasaan nya lebih tenang.
Dia baru berkata,
"Adik Ba maafkan kakak, kakak tidak bermaksud.."
Belum selesai ucapan Guo Yun, terdengar suara Li Ba memotongnya.
"Tidak kak, kakak benar.. Ba er yang terlalu emosi.."
"Ini semua salah Ba er.."
"Bila Ba er tidak mengikuti emosi, menemani Sian Sian pergi ke pulau Peng Lai.."
"Bila Naver mau mendengarkan nasehat kakak,.. semua ini tidak mungkin terjadi.."
ucap Li Ba sambil tertunduk lesu.
Sian Sian dengan wajah sedih dan penuh rasa sesal berkata,
"Kakak Yun dalam hal ini, Sian Sian lah yang paling bersalah.."
"Bila kakak ingin marah dan kesal, ke Sian Sian saja.."
ucap Sian Sian dengan sepasang mata mulai basah
Guo Yun berdiri diam memunggungi mereka semua, tapi kedua bahunya terlihat sedikit gemetar.
Dia sedang menahan gejolak perasaan nya, sesaat kemudian dia membalikkan badannya.
Lalu berjalan menghampiri Li Ba dan Sian Sian, dia menepuk pundak mereka berdua dan berkata,
"Saat ini yang bisa kita lakukan adalah menenangkan diri.."
"Bersikap tenang adalah kunci untuk menghadapi situasi ini.."
"Bukankah dari awal kita juga tahu, kemungkinan ini pasti terjadi.."
"Jadi saat ini saling menyalahkan, apalagi emosi adalah pantangan besar bagi kita "
"Saat ini justru kita harus sehati dan kompak.."
ucap Guo Yun sambil meremas lembut pundak kedua saudara seperguruan yang juga saudara angkatnya itu.
Li Ba dan Sian Sian mengangguk pelan, ucapan Guo Yun sangat tepat dan tidak terbantahkan.
"Jadi saat ini apa yang bisa kita lakukan kak..?"
Tanya Li Ba pelan.
Guo Yun terdiam dan termenung sejenak, lalu berkata,
"Aku ingin bertaruh sekali lagi.."
"Apa maksud kakak..?"
tanya Sian Sian sambil menatap bingung kearah Guo Yun.
__ADS_1