LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PESAN AYAH FAN LI


__ADS_3

Gongsun Li ingin menanggapi kata kata Guo Yun, tapi dia tidak pandai bicara.


Dia takut malah memperumit masalah, jadi dia hanya bisa pilih diam, terus membantu memapah Guo Yun selangkah demi selangkah kembali ke kemah.


Di dalam hati, Gongsun Li tidak tega bersikap terlalu dingin dan tanpa perasaan terhadap Guo Yun.


Bagaimanapun Guo Yun sangat memperhatikan nya, bahkan rela berkorban diri demi keselamatannya.


Hal ini di satu sisi , membuat dia merasa bangga dan nyaman.


Tapi di sisi lain, dia tetap ingin mempertahankan ketulusan perasaannya, hanya pada kakak seperguruan pertama nya Ching Ke.


Perasaan inilah, yang membuat dia mengambil sikap menjaga jarak.


Tidak terlalu berani menanggapi perasaan tulus Guo Yun.


Dia sebenarnya bukan hanya takut berdekatan dengan Guo Yun, yang dia takuti adalah perasaannya sendiri, yang sedikit demi sedikit mulai tergoda dengan sikap sikap Guo Yun, yang mengagumkan.


Baik dari sisi perhatian, ketulusan, pengorbanan, agar bisa memberikan yang terbaik untuk nya.


Termasuk sikap Guo Yun yang dewasa, penuh pengertian dan kesabaran, semua ini Guo Yun masih jauh lebih unggul diatas Ching Ke.


Dari penampilan fisik pun, Guo Yun juga tidak kalah dengan Ching Ke.


Dalam hal wajah Guo Yun hanya kalah dewasa, karena selisih umur.


Tapi dari segi fisik bentuk badan, tubuh Guo Yun jauh lebih kekar dan berotot, tinggi badan pun hampir mengimbangi Ching Ke, di kala usia yang masih 15 tahun.


Semua kelebihan inilah yang membuat Gongsun Li, selama ini berusaha bersikap dingin terhadap Guo Yun.


Tapi dengan kondisi saat ini, mau tidak mau mereka berdua selama beberapa hari ini, harus terus berdekatan.


Hal ini membuat Gongsun Li semakin bingung dan kacau balau perasaannya.


Sehingga dia berulang kali harus terus mengingatkan Guo Yun, akan perasaan dirinya terhadap Ching Ke.


Omongan menyakitkan yang di tujukan ke Guo Yun, tapi sebenarnya adalah lebih kepada untuk mengingatkan dirinya sendiri, agar tidak goyah perasaannya terhadap Ching Ke.


Sesekali Gongsun Li, hanya bisa menatap kasihan kearah Guo Yun, dengan tatapan mata penuh sesal.


Mereka berdua berjalan di bawah penerangan sinar bulan, yang terang benderang.


Masing masing larut dalam keheningan dan pikiran masing-masing.


Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa mereka sudah tiba di depan kemah tempat Guo Yun di rawat.


Gongsun Li membantu Guo Yun hingga duduk di atas ranjang nya, setelah itu dia hendak berkata.


Tapi di saat bersamaan mereka berdua mengeluarkan kata kata yang sama hampir berbarengan.

__ADS_1


"Kakak Li.."


"Adik Yun.."


Kedua nya saling pandang sama sama tersenyum canggung.


"Kakak Li duluan aja.."


ucap Guo Yun.


Gongsun Li menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak adik Yun saja yang duluan.."


Guo Yun menghela nafas, kemudian berkata,


"Baiklah,.. aku hanya mau ucapkan selamat malam dan terimakasih banyak, hari ini aku merasa sangat bahagia dan gembira.."


Gongsun Li tidak berani menatap kearah Guo Yun secara langsung, dengan kepala sedikit tertunduk dia berkata,


"Tidak perlu berterimakasih, aku adalah kakak seperguruan mu, sebagai kakak memperhatikan adik itu adalah wajar.."


"Selamat malam beristirahat lah dengan baik, besok aku baru kemari lagi.."


Selesai berucap, dia buru-buru meninggalkan kemah Guo Yun.


Guo Yun tidak berani mencegah ataupun berani bertanya, apa yang tadi ingin di ucapkan oleh Gongsun Li.


Setelah Gongsun Li benar benar sudah tidak terlihat lagi, Guo Yun pun dengan pelan pelan sambil berusaha menahan nyeri dan perih luka di punggungnya.


Dia mencoba untuk kembali berbaring tertelungkup.


Tidak tahu berapa lama berlalu, dimana Guo Yun larut dalam lamunannya sendiri.


Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran Li Ba, yang membawa semangkuk mie sup daging sapi bawang, yang beraroma wangi dan menggugah selera.


"Ka..kakak Yun,..kakak Li tadi me..mendatangi ku.."


"Di,..dia meminta ku, an.. antarkan sup ini bu..buat kakak.."


"Lalu di mana dia orangnya,.?"


tanya Guo Yun antusias, sambil berusaha untuk bangun duduk.


"Di,..dia sudah pergi, di..dia hanya berpesan, a..agar aku membantu menyuapi kakak Yun.."


"Ka,.. katanya kakak Yun, be..belum bisa bergerak be..bebas untuk makan sen..sendiri.."


Guo Yun sangat terharu, tadinya dia sempat berpikir Gongsun Li, lupa dirinya belum makan malam.

__ADS_1


Ternyata gadis itu tidak lupa sama sekali, meski sudah larut malam, dia masih ingat untuk memasak sesuatu untuk dirinya.


Guo Yun menatap mangkuk besar di tangan Li Ba dengan penuh haru, lalu berkata.


"Adik Ba,..kamu letakkan saja di sini, aku bisa sendiri.."


"Ka.. kakak yakin..aku ti.. tidak mau kena marah kakak Li, bi..bila ter..terjadi sesuatu dengan kakak Yun.."


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Adik Ba kamu tenang saja,..aku bisa sendiri.. percayalah.."


"Ba,.. baiklah,..kalau begitu, a..aku juga agak ngantuk, ma..mau kembali ti..tidur.."


ucap Li Ba polos.


Guo Yun tersenyum dan memberi kode agar Li Ba bisa segera pergi.


Setelah Li Ba pergi, Guo Yun mengambil sumpit menciumi dan menghirup wangi masakan itu dalam dalam dan bergumam.


"Benar benar wangi,.. terimakasih kakak Li,..kamu memang yang terbaik dan yang paling luar biasa."


"Sampai kapan pun, Yun er tidak akan pernah melupakan kakak Li.."


Guo Yun pelan pelan menikmati sesuap demi sesuap mie sup daging sapi bawang di hadapannya dengan penuh perasaan.


Awalnya Guo Yun terlihat menikmatinya dengan senyum bahagia.


Tapi saat teringat dirinya tidak lama lagi, akan segera berpisah dari Gongsun Li.


Tidak tahu kapan dia baru bisa melihat gadis itu kembali.


Hati Guo Yun tiba tiba terasa perih dan sakit.


Apalagi saat teringat pertemuan mereka berikutnya, Gongsun Li kemungkinan akan menjadi milik Ching Ke seutuhnya.


Dia bukan lagi seorang gadis yang bebas seperti saat ini.


Tiba-tiba hati dan perasaan Guo Yun terasa hancur, hatinya terasa seperti sedang meneteskan darah.


Tanpa sadar saat Guo Yun memejamkan sepasang matanya, dua butir air bening menitik kedalam mangkuknya.


"Guo Yun,..Guo Yun.. sudahlah, apa kamu merasa sup ini masih kurang asin kah, sehingga kamu perlu menambahkan itu..?"


"Kamu lupa pesan ayah, lelaki harus tegar jangan cengeng, boleh berdarah jangan pernah menitikkan air mata.."


tegur Guo Yun pada dirinya sendiri dalam hati.


Setelah menghela nafas beberapa kali, dan minum air putih.

__ADS_1


Guo Yun yang perasaannya sudah jauh lebih tenang, dia segera melanjutkan menghabiskan mie dan sup daging sapi yang wangi dan gurih itu


Setelah selesai Guo Yun pun kembali berbaring tengkurap, mencoba melupakan semuanya, sambil memejamkan matanya Guo Yun mencoba untuk beristirahat.


__ADS_2