
"Baik tuan muda, harap di tunggu sebentar.."
jawab kedua pelayan itu, yang satu langsung pergi kedapur.
Satu lagi buru buru membawa perlengkapan makan untuk kakek tua itu.
Tak lama kemudian yang kedapur sudah kembali membawa 3 mangkuk nasi putih dan beberapa macam masakan baru.
"Maaf anak muda, kakek jadi membuat mu boros.."
ucap kakek itu sambil tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa kek, silahkan di makan, itu bukan masalah.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum.
"Be,..benar kek,.. meski ini uang,..dapat nyuri,..tapi ma..masakan ini halal kok kek."
ucap Li Ba santai.
Guo Yun melempari Li Ba dengan kain Lap tangan dan berkata,
"Tutup mulutmu,..! kurangi bicara tidak ada yang anggap kamu bisu..!"
Li Ba sambil nyengir, dia meleletkan Lidahnya, tidak banyak bantah.
"Jangan dengarkan dia, yang suka bicara sembarangan.."
ucap Guo Yun cepat.
Saat dia melihat Kakek itu sedikit terkejut dengar ucapan Li Ba, dan jadi ragu melanjutkan makan.
Mendengar ucapan Guo Yun, kakek itu meski masih sedikit curiga, tapi karena sudah lapar.
Dia pun melanjutkan makannya dengan lahap.
Guo Yun yang merasa tidak enak hati dengan kakek itu, akhirnya berkata,
"Ceritanya begini kek.."
Guo Yun menceritakan sedikit kronologi kenapa Li Ba mencapnya sebagai pencuri.
Mendengar penjelasan Guo Yun kakek itupun tertawa lega, dan menunjuk Li Ba dengan sumpit nya lalu berkata.
"Anak muda, itu bukan mencuri namanya, itu namanya hak pemenang."
"Itu sudah lazim terjadi, saat kerajaan yang satu mengalahkan kerajaan yang lainnya.."
"Bila istana beserta seluruh pejabat negaranya, di sita hartanya oleh pihak pemenang, itu bukan masalah.."
"Itu sudah lazim terjadi."
"Yang penting dan harus di ingat, yang tidak boleh di jarah adalah harta rakyat.."
"Karena setelah menang, kalian perlu dukungan dari mereka.."
"Selain itu, kota lain mungkin akan menyerah tanpa perlawanan, setelah mendengar tindakan terpuji kalian di kota kota sebelumnya.."
"Sehingga perang kalian menjadi lebih mudah.."
ucap kakek itu memberi nasehat.
Kini Guo Yun memandang kakek itu dengan sikap semakin hormat.
Kata kata kakek itu sama seperti yang tertera di kitab perang Fan Li.
Hanya saja penjelasan kakek ini jauh lebih rinci.
Selagi mereka bertiga sedang asyik makan sambil ngobrol.
Tiba-tiba dari arah luar restoran terdengar suara lembut.
"Adik Yun..!"
Mendengar suara itu, otomatis Guo Yun langsung terdiam.
Dengan wajah sedikit kaget, dia buru-buru menoleh keluar restoran.
Saat melihat Gongsun Li lah yang memanggilnya di depan restoran.
Guo Yun segera bangkit berdiri, dan berkata,
"Maaf kek silahkan di teruskan.."
__ADS_1
"Aku permisi sebentar.."
ucap Guo Yun penuh hormat.
Kakek tua itu mengangguk, dia meneruskan ngobrol dan makan bersama Li Ba.
Sedangkan Guo Yun sendiri, sudah berlari keluar restoran menemui Gongsun Li.
"Kakak Li,.. kenapa kamu kemari..?"
"Nanti kakak Ching dia.."
ucap Guo Yun merasa khawatir.
Gongsun Li tersenyum dan berkata,
"Sebelum aku mengatakan keputusan ku, yang baru saja ku ambil, setelah aku berbicara dengan kakak ku ."
"Aku harap adik Yun terima lah kenang kenangan ini dari ku.."
ucap Gongsun Li sambil memberikan sebuah liontin giok hijau berbentuk bulat.
Guo Yun langsung mengenalinya, ini adalah giok yang pernah pecah dan dia bantu rekatkan kembali di perpustakaan malam itu.
"Ini.."
ucap Guo Yun menerimanya dengan tatapan mata kurang percaya.
"Ya,.. ini untuk mu.."
"Bantu aku menyimpan nya ya.."
ucap Gongsun Li sambil tersenyum.
Melihat senyum tersebut, Guo Yun buru buru menundukkan kepalanya, pura pura melihat liontin giok di telapak tangannya.
Guo Yun takut, bila dia menatap terlalu lama senyum gadis itu, jantungnya pasti akan jungkir balik di buatnya.
Melihat sikap Guo Yun, Gongsun Li pun sambil tersenyum gembira berkata,
"Adik Yun dengarlah, aku sudah memutuskan.."
"Kedepannya aku akan fokus dengan sekolah.'
"Jadi kamu tidak perlu berkhawatir untuk ku lagi.."
Guo Yun menatap Gongsun Li dengan tatapan mata tak percaya.
Tapi melihat keseriusan dalam tatapan mata Gongsun Li, mau tidak mau Guo Yun pun akhirnya percaya.
Guo Yun tiba-tiba merasa hatinya sangat senang, mendengar keputusan Gongsun Li.
Ini berarti dirinya dan Ching ke, kini sama sama memiliki peluang yang sama, untuk mendapatkan perhatian gadis itu.
"Terimakasih kakak Li.."
ucap Guo Yun sambil menatap Gongsun Li dengan tatapan mata penuh kebahagiaan.
"Terimakasih untuk apa ?"
tanya Gongsun Li sambil tersenyum.
"Ehh,..ohh,.. maksudku terimakasih atas mainan ini.."
ucap Guo Yun gugup.
Gongsun Li pun tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
"Adik Yun,..aku mau kembali ke Su Yuan sekarang..."
"Jaga dirimu baik-baik, bila ada waktu mainlah ke Su Yuan..sampai jumpa.."
ucap Gongsun Li sambil melambaikan tangannya.
"Kakak Li tunggu..!"
ucap Guo Yun, yang membuat Gongsun Li menghentikan langkahnya.
Dia menatap kearah Guo Yun, dengan penuh rasa ingin tahu, apa yang ingin di sampaikan oleh pemuda tersebut.
Guo Yun mengeluarkan sebuah patung ukir dari dalam buntalan pakaiannya.
"Ini untuk kakak, sebagai kenang kenangan.."
__ADS_1
ucap Guo Yun sambil memberikan sebuah patung ukir ke Gongsun Li.
"Ini sangat mirip wajah ku, ukiran ini bagus sekali.."
ucap Gongsun Li gembira.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Syukurlah bila kakak menyukainya, itu Han ukiran sederhana di saat iseng saja..tidak ada harganya.."
Gongsun Li menggelengkan kepalanya, sambil menatap mata Guo Yun lekat lekat, kemudian dia berkata,
"Bagi ku ini justru sangat berharga, terimakasih ya adik Yun.."
Guo Yun mengangguk, sambil memegang liontin pemberian Gongsun Li yang sekarang tergantung di lehernya, Guo Yun berkata,
"Sama sama kakak Li.."
"Jaga diri.."
ucap Guo Yun pelan.
Gongsun Li mengangguk kecil, sambil melemparkan senyum manis.
Dia lalu berlari meninggalkan Guo Yun yang berdiri bengong melepas kepergian gadis, yang sudah mencuri hati dan perasaannya itu.
Setelah bayangan Gongsun Li lenyap dari pandangan nya, Guo Yun pun bergumam sendiri.
"Dia memilih belajar dengan serius.."
"Aku juga tidak boleh kalah darinya, aku juga harus mencari akademi Zhuangzi buat belajar dengan serius.."
Setelah mengambil keputusan dan tekad, Guo Yun pun kembali masuk kedalam restoran.
"Anak muda aku mendengar dari adik mu ini, katanya kalian berdua baru saja meninggalkan Mo Cia Su Yuan.."
"Apa kalian punya rencana kedepannya mau kemana ?"
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Kakek jujur saja, aku sebenarnya sangat tertarik untuk bisa bergabung dengan Zhuang Zi Su Yuan."
"Tapi aku juga tidak tahu, apa kami berdua punya rejeki untuk bisa diterima di sana..?"
Kakek itu mengangguk dan berkata,
"Kamu bawa ini tunjukkan ke petugas jaga, mereka akan mengatur segala sesuatunya untuk kalian.."
Kakek itu meletakkan sebuah Plakat hitam diatas meja, mendorongnya kehadapan Guo Yun.
"Kakek ini,.."
ucap Guo Yun kaget dan kurang percaya.
Kakek itu tersenyum dan berkata,
"Kita bisa bertemu di sini, ini adalah jodoh.."
"Terimakasih jamuan makannya, sampai jumpa."
Belum selesai ucapan kakek itu, bayangannya pun sudah tak terlihat lagi sama sekali.
Dia seolah-olah pandai menghilang, Guo Yun dan Li Ba sangat terkejut.
Mereka berdua seperti habis bangun dari mimpi, tapi melihat bekas mangkok makanan kakek itu.
Juga plakat hitam di atas meja, semua itu jelas bukan mimpi.
Guo Yun pun segera menyadari, kakek itu adalah seorang tokoh yang memiliki kesaktian tinggi.
Dia sudah mendengar dari kakak Wang Jian, bahwa Zhuangzi adalah tempat untuk menuntut ilmu kesaktian, ternyata itu tidak salah.
Guo Yun menjadi sangat bersemangat.
"Pelayan..!"
teriak Guo Yun..
"Ya tuan,.."
jawab salah satu pelayan yang buru buru menghampiri Guo Yun.
"Tolong di hitung semua tagihannya.."
__ADS_1