LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEMBALI BERTEMU


__ADS_3

Guo Yun mengangkat kepalanya menatap kearah lantai dua, di mana kamar Si Si berada.


Dia menatap kearah pintu kamar itu cukup lama, sebelum akhirnya, dia menghela nafas panjang.


Sambil tersenyum kecewa, Guo Yun mundur dari sana, dia berjalan keluar dari dalam paviliun itu dengan perasaan kacau balau.


Si Si sebenarnya berada di dalam kamar nya, dia diam diam terus mengintip kearah Guo Yun.


Dari bibirnya yang indah, dia terus bergumam sendiri,


"Maaf,.. maafkan sikap Si Si,.. Yun ke ke.."


"Ini demi kebaikan Yun ke ke, Si Si terpaksa melakukan ini.."


"Lupakan saja Si Si,..Yun ke ke harus bisa ."


"Si Si janji tidak akan mencari menghubungi atau menganggu Yun ke ke lagi.."


ucap Si Si dengan airmata yang terus bergulir di pipinya tanpa henti .


Gui Yun dengan langkah lesu, terus berjalan meninggalkan kota Shang Qiu.


Lagi lagi langkah kakinya, tanpa dia sadari kembali membawanya menuju kearah makam keluarga Zhao.


Guo Yun akhirnya duduk termenung di sana, tidak tahu harus berbuat apa.


Setelah Si Si melakukan begitu banyak hal untuknya, kini Guo Yun benar benar dilema.


Dia benar benar tidak tahu bagaimana menghadapi perasaannya sendiri, yang kini mulai bercabang dua.


Di satu sisi dia ingin bertemu, ingin bertanggungjawab dan membalas perasaan Si Si, yang begitu tulus mencintainya.


Dari berbagai pengorbanan yang Si Si lakukan untuk nya.


Perasaan gadis itu terhadap dirinya.


Itu sudah tidak perlu di ragukan lagi.


Di sisi lain, Guo Yun takut bila dia membawa Si Si di sisinya, dia akan menyakiti perasaan istrinya.


Menyakiti kepercayaan dan penantian serta kesetiaan Gongsun Li padanya.


Guo Yun tidak akan sanggup menyakiti perasaan wanita, yang sangat dia cinta itu.


Begitu banyak pengorbanan dan perjuangan selama ini, semua hanya bertujuan agar bisa hidup bersamanya dengan bebas.


Di mana mereka berdua bisa hidup bersama hingga ajal tiba, selama nya hanya berdua.


Tidak akan ada lagi yang lain..


Tapi harapan cita cita dan kenyataan, ternyata sangat bertolak belakang.

__ADS_1


Hujan rintik rintik mulai turun membasahi tubuh Guo Yun.


"Hujan oh hujan, bila air mu bisa membersihkan semua beban pikiran dan perasaan ku."


"Aku akan rela seumur hidup di guyur oleh mu.."


Gumam Gio Yun, sambil menengadah terpaku, menatap langit yang mulai gelap.


Segelap suasana hati dan pikirannya saat ini..


Hujan semakin deras, seluruh tubuh Guo Yun sudah basah kuyup oleh hujan.


Tapi perasaan nya, tetap saja tidak kunjung membaik.


Dia tetap merasa sangat tertekan.


Tanpa menghiraukan kilat dan petir yang sambar menyambar di atas kepalanya.


Guo Yun memilih berlutut di hadapan makam keluarga Si Si dan berkata,


"Kakek, paman bibi,.. bolehkah aku memanggil kalian ibu dan ayah..!?"


"Kalian bila di atas sana tahu, kalian maafkanlah aku.."


"Aku adalah menantu kalian yang paling brengsek dan tak berguna..!"


"Aku hanya tahu menyakiti perasaan nya saja.."


"Aku sungguh tak bertanggung jawab, kalian maafkanlah aku.."


"Kakek, ayah, ibu,..aku sungguh tidak tahu mengapa bisa begini.."


"Aku benar-benar tidak tahu, apakah harus pergi dengan tenang, atau dengan berani tinggal menemaninya menghadapi semuanya.."


ucap Guo Yun sambil tertunduk lesu di depan makam keluarga Si Si.


Guo Yun tidak tahu, Si Si diam diam mendengar dan melihat semuanya, dan dia sedang menahan tangis sedihnya di balik tembok sana.


Berusaha menahan dirinya, agar tidak menghampiri Guo Yun.


Tapi akhirnya kekerasan hatinya runtuh, oleh perasaan cintanya yang tidak terbendung.


Bagaimana dia berusaha keras menahan perasaannya, dia tetap saja kalah oleh rasa tidak tega, kasihan, juga khawatir akan kondisi Guo Yun, yang sedang di guyur hujan deras.


Dan yang paling membuatnya khawatir, adalah petir yang terus sambar menyambar di atas sana.


Akhirnya Si Si sudah tidak bisa menahan diri, untuk menarik tuas rahasia.


Membuka pintu rahasia, kemudian berjalan dengan buru buru menghampiri Guo Yun, sambil menggunakan payung, untuk memayungi Guo Yun, yang sedang berlutut memunggunginya.


Merasakan ada yang hadir di sisinya, memayunginya.

__ADS_1


Guo Yun menoleh kesebelah, melihat itu adalah sepasang kaki kecil tinggi semampai.


Guo Yun di dalam hati sudah bisa menebak siapa orang yang telah hadir di sana untuk nya.


Perlahan-lahan dengan wajah basah, Guo menengadah keatas melihat gadis cantik, yang berdiri di sampingnya..


Begitu sepasang mata mereka bertemu, gadis itu pun berkata,


"Yun ke ke kenapa,..? kenapa kamu bisa begitu tidak menyayangi diri mu ?"


"Mengapa kamu harus membuat aku khawatir ? mengapa kamu tidak menjaga dirimu baik baik..?


"Mana Yun ke ke ku yang cerdas gagah berani tegar tangguh dan penuh semangat..?"


"Mengapa.. mengapa kamu jadi seperti ini..?"


ucap Si Si menegur Guo Yun, dengan airmata bercucuran deras tak terkontrol.


Tanpa memperdulikan tatapan mata dan pertanyaan Si Si.


Guo Yun langsung bangkit berdiri, memeluk Si Si dengan erat.


Bagaimana pun Si Si berusaha meronta menegurnya dan mengingatkan nya


Guo Yun tidak perduli, dia tetap tidak bersedia melepaskannya.


Si Si yang tidak berdaya, di tambah dengan perasaan terdalam nya, yang sebenarnya sangat ingin di peluk oleh pria, yang telah merebut semua hati dan perasaannya.


Akhirnya Si Si sambil menangis, dia pasrah membiarkan Guo Yun memeluknya.


Perlahan-lahan dia bahkan ikut melingkar kan sepasang tangannya di belakang leher Guo Yun, membalas memeluk dengan erat.


Hingga akhirnya Guo Yun mendaratkan sebuah ciuman lembut dan panjang, meluapkan perasaan nya ke Si Si.


Hancurlah sudah semua pertahanan Si Si, semua pertahanan dan jarak yang dia bangun dengan susah payah.


Kini ambruk hancur semua tak bersisa, sambil terisak Isak, dia memukuli dada Guo Yun dengan lembut.


Lalu Si Si membalas ciuman Guo Yun dengan tak kalah mesra dan penuh hasrat terpendam.


Payung yang di peganginya tadi, tanpa di sadari, kini sudah jatuh tergeletak di depan makam.


Tidak ada yang ambil perduli dengan payung, yang terbuka lebar menghadap langit, di permainkan oleh angin dan hujan.


Sementara itu Guo Yun dan Si Si yang sedang larut dalam luapan perasaan masing-masing.


Mereka baru menghentikan kegiatan mereka, saat terdengar suara petir mengelegar di samping mereka.


Mereka berdua sambil tersenyum bahagia, hampir serempak melepaskan ciuman mereka.


Guo Yun lalu buru buru menggendong tubuh Si Si, yang basah kuyup kedalam gendongannya.

__ADS_1


Lalu dia membawanya berlarian masuk kedalam ruang rahasia.


Setelah menutupnya kembali, Guo Yun dengan ringan berlari cepat menuju pintu rahasia, yang bisa membawa dia dan Si Si kembali ke kamar pribadi Si Si.


__ADS_2