
Sementara itu, Guo Yun yang di lempar kedalam sel tahanan militer di ibukota Long Cheng.
Dia berpura pura pingsan, dan mengambil sikap diam tidak bergerak.
Dia sedang menanti waktu yang tepat, baru bergerak membalikkan keadaan.
Agar bisa menghemat tenaga, tanpa perlu bersusah payah tetap bisa mencapai tujuannya.
Guo Yun membiarkan dirinya tetap dalam posisi terikat, tergeletak miring di lantai yang kotor menghadap tembok.
Selama waktu yang tepat belum tiba, Guo Yun memilih berlatih pernafasan dengan posisi tidur miring.
Menjelang sore, saat pendengaran Guo Yun yang tajam menangkap langkah kaki orang orang menghampiri sel tahannya.
Perlahan-lahan dia baru membuka sepasang matanya, dan menghentikan pelatihan pernafasan nya
Tapi meski sepasang matanya sudah terbuka, Guo Yun tetap memilih diam tidak bergerak.
Langkah kaki semakin mendekat hingga muncullah Jendral Erdogan, ditemani dua orang ajudan nya.
Di belakang mereka masih mengikuti puluhan orang prajurit berseragam lengkap.
Erdogan saat tiba di depan sel tahanan, dia memberi kode kepada dua orang ajudannya, dan berkata.
"Bawa dia ke ruangan interogasi, aku menunggu di sana..
Setelah berpesan ke Ajudannya, Erdogan sendiri langsung berjalan melewati sel Guo Yun.
Dia langsung menuju suatu ruangan, yang terletak di bagian paling ujung dari sel kamar tahanan, yang terlihat berderet-deret di sana.
Erdogan yang di kawal oleh puluhan orang pasukan nya, saat sampai di depan ruangan tersebut.
Dia bersama 4 orang pengawal nya langsung masuk menunggu di dalam ruangan interogasi.
Sedangkan Puluhan pengawalnya terlihat berbaris rapi di luar pintu ruangan.
Di dalam ruangan itu sendiri, hanya terlihat berbagai macam peralatan untuk menjalani hukuman penyiksaan terhadap para tahanan.
Erdogan yang di kawal oleh 4 orang pengawal pribadi nya,
Terlihat sedang duduk minum arak susu kuda liar dengan gaya santai.
Tak lama kemudian kedua orang ajudan Erdogan sudah datang kedalam ruangan tersebut.
Di belakang mereka terlihat dua orang prajurit sedang menyeret tubuh Guo Yun, yang terlihat masih diam tidak bergerak, memasuki ruangan.
Guo Yun membuka sedikit sebelah matanya, mengintip situasi di dalam ruangan tersebut.
Melihat orang yang duduk di dalam ruangan, di jaga oleh 4 orang pengawal.
Guo Yun menebak orang ini tentulah jendral, yang berwenang atas pasukan pengawal pertahanan ibukota.
Tapi Guo Yun takut salah orang, sehingga dia masih memilih untuk memantau lebih lanjut.
"Lapor Jendral, tahanan pimpinan pasukan pengacau sudah tiba.."
ucap salah satu dari kedua ajudan Erdogan, dengan sikap penuh hormat.
Erdogan mengulapkan tangan nya dan berkata,
"Ikat dia di sana, siram dengan air untuk membangunkan nya.."
Erdogan menunjuk kesebuah tiang gantungan, dia meminta prajuritnya untuk merantai Guo Yun di tiang gantungan tersebut.
__ADS_1
Guo Yun yang kini sudah memastikan orang itu adalah jendral pemimpin benteng kota.
Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya, membuka sepasang matanya, yang bersinar tajam bagaikan sepasang mata harimau.
Sambil mengeluarkan suara tawa, Guo Yun menghentakkan energi 9 langitnya kearah kaki dan tangannya yang terikat kuat.
"Ha,..! Ha,..! Ha,..! Ha,..!"
"Tasss,..! Tasss,..!"
Tali pengikat yang membelenggu kaki tangan Guo Yun hancur putus berantakan.
"Awas bahaya lindungi Jendral,..!"
teriak kedua ajudan Jenderal Erdogan.
Mereka buru-buru mencabut golok bengkok panjang, dari sarung pedang, yang tergantung di pinggang mereka masing-masing.
Jendral Erdogan sendiri, sangat kaget, dia segera berdiri dari kursi tempat duduknya.
Langsung mencabut pedang nya bersiap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.
keempat pengawal nya juga langsung maju melindunginya, dengan senjata tombak dan perisai di kedua tangan mereka.
Sebelum pasukan di luar sana meluruk masuk kedalam.
Guo Yun langsung bergerak dengan sepasang cakarnya menerjang kearah Jendral Erdogan.
"Krakkkk,..! Kreekk,..!"
"Krakkkk,..! Kreekk,..!"
"Krakkkk,..! Kreekk,..!"
"Brakkkk,..! ,Brakkkk,..! Brakkkk,..!
Saat golok tombak perisai dan pedang bertemu dengan jurus cakar 9 Naga Langit.
Semua senjata itu patah hancur berantakan.
Satu persatu, pasukan yang menghadang pergerakan Guo Yun, langsung terlempar kesana kemari menabrak dinding dengan tulang patah.
Kedua ajudannya itu merintih rintih sulit bangun dengan tulang pundak patah.
Sedangkan keempat pasukan pengawal pribadi itu, terlempar dengan kaki dan tangan patah.
Jendral Erdogan sendiri, setelah pedangnya di patahkan oleh cakar Guo Yun dengan mudah.
Kini leher dan pundaknya di cengkram erat oleh Guo Yun.
Sehingga dia sudah kehilangan tenaga, untuk melakukan perlawanan.
"Turuti perintah ku bila ingin selamat.."
ucap Guo Yun dingin.
Jendral Erdogan dengan wajah pucat, buru buru menganggukkan kepalanya.
Nyawanya, di tangan Guo Yun, dia tidak mungkin berani bermain main
Selain menuruti permintaan Guo Yun.
Dia tidak melihat ada jalan lain, bila dia bersikeras melawan, dia hanya akan mati konyol.
__ADS_1
Pada akhirnya pasukan nya semua juga tetap akan menyerah, karena mereka semua jelas bukan lawan Guo Yun, yang memiliki kesaktian tinggi.
Jendral Erdogan yang cerdik sangat yakin, Guo Yun pasti memiliki kemampuan untuk itu.
Bila tidak memiliki kemampuan tinggi, mustahil Guo Yun berani mengambil resiko seperti sekarang ini.
"Ayo bawa aku keluar dari sini, sekarang juga,..cepat..!"
bentak Guo Yun sambil mempererat cekikikan tangannya.
"Ba,..Ba..baik..!"
jawab Erdogan dengan suara terputus putus.
Dia kemudian melangkah keluar dari dalam ruangan penyiksaan, di bawah ancaman Guo Yun.
Begitu keluar dari dalam ruangan, terlihat ratusan pasukan Xiongnu, melakukan pengepungan ketat di luar ruangan.
"Mundur kalian semuanya,..!"
bentak Jendral Erdogan yang tidak mau mengambil resiko kehilangan nyawa.
Para prajurit Xiongnu, meski awalnya sedikit ragu, tapi melihat keseriusan ucapan atasan mereka.
Mereka akhirnya mundur teratur keluar dari dalam ruangan penjara.
Guo Yun terus membawa Jendral Erdogan sebagai tamengnya, melangkah keluar dari dalam penjara.
"Kita ke pintu gerbang kota sekarang.."
"Cepat tunjukkan jalan, dan suruh mereka membuka pintu gerbang kota lebar lebar.."
ucap Guo Yun sambil bergerak meninggalkan komplek penjara kota.
Mendengar permintaan Guo Yun, Jendral Erdogan sempat meragu.
Melakukan hal ini berarti penghianatan, hukuman nya adalah mati..
Tapi bila menolaknya, saat ini juga pasti mati.
Dia terjebak dalam posisi serba salah..
Melihat keraguan Erdogan, Guo Yun sedikit menekan cakarnya, sehingga Erdogan kesulitan bernafas.
Dia merasa jari Guo Yun seperti Capitan baja yang setiap saat, siap meremukkan tulang lehernya.
"Am..pun..am..pun..!"
"Kalian semua cepat...!"
"Cepat kalian buka pintu gerbang kota,..!"
teriak Erdogan membentak pasukan, yang masih mengurung dan mengepung Guo Yun, sambil bergerak mundur mundur.
Keselamatan Jendral mereka di tangan Guo Yun, pasukan penjaga kota itu serba salah.
Tapi begitu mendengar perintah dari Jendral mereka, beberapa dari mereka langsung berlari menuju gerbang kota dan mulai membuka pintu gerbang kota lebar lebar.
Guo Yun sambil bergerak menuju pintu gerbang, kembali berkata,
"Suruh anak buah mu, lemparkan senjata mereka, jangan melawan..!"
"Semuanya berlutut dengan tangan di atas kepala..!"
__ADS_1
"Cepat lemparkan senjata kalian, jangan melawan..!"
teriak Jendral Erdogan tak berdaya.