
"Ini.. ."
Guo Yun terlihat sulit menjawabnya.
Wu Ming Lau Jen tersenyum lembut, melihat Guo Yun yang ragu dan tidak yakin ingin menjawab apa.
"Bagaimana anak muda..?"
Setelah berpikir sejenak Guo Yun pun berkata,
"Semasa hidupnya, aku pernah memberikan dia kebahagiaan, tapi lebih banyak aku membuatnya kecewa dan bersedih.."
"Aku sungguh berdosa dan banyak berhutang padanya, aku kini sangat menyesal, semasa hidupnya dulu, aku kurang giat berusaha membahagiakan nya.."
Ucap Guo Yun penuh penyesalan.
Wu Ming Lau Jen tersenyum lembut dan berkata,
"Kamu bilang kamu menyesal kurang giat berusaha memenuhi keinginannya dan membahagiakan nya.."
"Bila di beri kesempatan, apa kamu yakin kamu mampu, untuk memenuhi semua keinginannya?"
"Selalu membuatnya bahagia, tidak akan pernah kecewa, menyesal dan bersedih..?"
Tanya Wu Ming Lau Jen sambil menatap kearah Guo Yun dengan senyum lembutnya.
Guo Yun terdiam berpikir, merenungkan pertanyaan Wu Ming Lau Jen.
Beberapa saat kemudian dia baru berkata,
"Aku harus akui, dengan kapasitas ku, aku tidak mungkin bisa memenuhi semua keinginannya, membahagiakan nya.."
"Tapi aku berjanji bila di beri kesempatan, aku akan berusaha untuk memenuhi semua keinginannya.."
Ucap Guo Yun penuh keyakinan.
"Bagaimana bila karena kapasitas mu, kamu kembali tidak bisa memenuhi keinginan nya.."
"Sehingga kamu kembali membuatnya kecewa bersedih, lalu merasa tidak bahagia..?"
"Bukankah kamu akan kembali mengulangi penyesalan yang sama nanti nya..?"
Tanya Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum lembut.
Guo Yun terdiam sejenak, tapi setelah berpikir bolak balik, tetap tidak menemukan jawaban.
"Mohon senior berikan petunjuk pada hamba.."
Ucap Guo Yun penuh hormat.
Wu Ming Lau Jen tersenyum lembut dan berkata,
"Anak muda ketahuilah, sumber dari kesedihan adalah keinginan dan ego manusia.."
"Tidak kamu juga tidak istri mu, selama masih memilki keinginan dan ego, kekecewaan, kesedihan dan penyesalan tidak akan pernah berakhir. "
"Jadi bila ingin bahagia, orang harus mampu mengendalikan keinginannya dan ego nya.."
"Tidak berlebih, juga tidak kurang.."
"Lebih tidak tercapai akan kecewa dan sedih.. kemudian menyesal.."
__ADS_1
"Kurang akan menjadi apatis, tidak mau berusaha, terlalu pasrah, tidak ada bedanya dengan mayat hidup.."
"Hidup menjadi tidak bermanfaat bagi dirimu, juga bagi orang lain.."
"Seperti anda mengendalikan sebuah kereta yang di tarik oleh kuda, terlalu di lepas anda bisa di bawa masuk ke jurang.."
"Tidak akan pernah sampai tujuan.."
"Terlalu di kekang, kereta berhenti tidak bergerak, kamu juga tidak akan pernah mencapai tujuan.."
"Begitulah kira kira hidup ini, dengan segala penderitaan nya.."
"Mengenai kesedihan mu atas kepergian nya."
"Kamu boleh coba renungkan lagi."
"Apakah yang kamu sedihkan dan tangisi, adalah untuk isteri mu yang pergi, atau cuma untuk ego mu sendiri karena takut kehilangan di tinggal pergi.."
"Apakah kamu bersedih karena dengan kepergiannya, dia telah membawa pergi, semua kesenangan mu."
"Semua ego mu, yang ingin memiliki dia sepenuhnya, untuk menyenangkan diri mu sendiri."
"Kamu takut di tinggal pergi, karena kelak, tidak ada lagi, yang bisa berbagi beban dengan mu.."
"Termasuk mengurus anak anak mu,.. benarkah seperti itu atau bukan..?"
"Hanya dirimu sendiri yang bisa menjawabnya.."
"Coba kamu renungkan lagi, sebenarnya benarkah kamu mencintai dia, atau kamu hanya mencintai diri mu sendiri.."
"Benarkah kamu bersedih karena dia, atau kamu bersedih untuk diri mu sendiri.."
"Kamu berhasil menemukan kesadaran mu, langkah dan tujuan hidup mu kedepan.."
"Kamu boleh minta satu dari sekian keinginan mu.."
"Karena kita berjodoh, aku akan memenuhinya untuk mu.."
Ucap Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum lembut.
Setelah itu dia pun kembali memejamkan matanya, dan melanjutkan memainkan musik kecapinya yang membawa ketenangan bagi jiwa yang mendengarnya.
Guo Yun ikut memejamkan matanya, merenungkan semua ucapan, yang di sampaikan oleh Kakek itu.
Dia tenggelam dalam lamunannya sendiri, duduk diam bagaikan patung di hadapan Wu Ming Lau Jen.
Di saat Guo Yun sedang larut dalam renungan nya.
Kakek Wu Ming Lau Jen, setelah menyelesaikan permainan kecapinya.
Tanpa membuka matanya, kakek itu mengulurkan tangannya menghadap kearah peti mati berisi jenazah Min Min.
Saat telapak tangan Wu Ming Lau Jen terangkat keatas, jenazah Min Min yang sudah kaku.
Terlihat ikut melayang keatas, Wu Ming Lau Jen dengan gerakan cepat, menggunakan tangannya yang lain.
Dimana ujung telunjuk Wu Ming Lau Jen terlihat mengeluarkan seberkas sinar putih melesat menotok titik jalan darah di bawah dagu Min Min.
Sehingga mulut Min Min sedikit terbuka, saat itu pula, Wu Ming Lau Jen menyentil kan sesuatu masuk kedalam mulut Min Min yang sedang terbuka.
Sekali lagi jari telunjuk Wu Ming Lau Jen melesat sinar putih menotok jalan darah di bawah dagu Min Min.
__ADS_1
Mulut Min Min pun tertutup kembali.
Saat telapak tangan Wu Ming Lau Jen yang terangkat keatas, diturunkan kebawah, kemudian di tarik kembali.
Tubuh Min Min perlahan lahan melayang turun dari atas, masuk kembali ke dalam peti mati.
Sesaat setelah kembali kedalam peti mati, keadaan Min Min mulai berubah.
Tubuhnya yang tadinya kaku, seperti sepotong kayu kering.
Kini mulai terlihat lebih lemas tidak kaku lagi.
Wajahnya dan tangannya yang sempat terlihat membiru.
Kini mulai terlihat kembali merah merona, seperti sedia kala.
Dia kembali terlihat seperti sedang tidur, hanya tidak adanya pergerakan naik turun pernafasan.
Hal itu yang menjadi petunjuk, bahwa Min Min bukan sedang tidur, tapi sudah meninggal.
Wu Ming Lau Jen kembali terlihat melanjutkan dengan bermain seruling.
Kecapi di pangkuannya, kini sudah berpindah di gendong di belakang punggungnya.
4 hari kemudian tepat tujuh hari kematian Min Min, Guo Yun akhirnya membuka kembali sepasang matanya.
Kini sepasang matanya terlihat sangat tenang dan gairah hidupnya kembali timbul.
Tepat Guo Yun membuka matanya, Wu Ming Lau Jen yang duduk di hadapannya sambil tersenyum lembut berkata,
"Anak muda, bagaimana ? apa kamu sudah berhasil menyadarinya..?"
Guo Yun mengangguk pelan dan berkata,
"Terimakasih senior atas pencerahannya, kini aku sudah sadar.."
"Aku tidak lagi merasa bersedih menderita dan menyesal.."
"Aku pun tidak merasakan senang, gembira,.."
"Aku kini hanya merasakan kewajaran hidup, semua sangat normal dan wajar.."
Ucap Guo Yun pelan.
Wu Ming Lau Jen tersenyum dan berkata,
"Bagus lah,.. bila kamu sudah bisa melihat segala kewajaran di dunia ini.."
"Anak muda sesuai janji ku sebelumnya, kamu boleh ajukan satu permintaan pada ku.."
"Aku pasti akan mencoba mengabulkannya untuk mu.."
"Sekarang kamu boleh ajukan.."
Ucap Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum.
Guo Yun melirik kearah peti jenazah di mana Min Min berada, kemudian berkata pelan,
"Meski aku tahu dan sadar hidup adalah menderita, suka duka akan terus datang silih berganti saling berkait ."
"Tapi aku tetap berharap dia bisa di berikan kesempatan untuk hidup kembali.."
__ADS_1