LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MENEMUI ZHONG SAN


__ADS_3

Tenaga sakti Musashi dengan cepat mengalir deras berpindah ke tubuh Guo Yun, melewati pedang Musashi yang menjadi wadah perantaranya.


Musashi yang awalnya gembira, berubah menjadi panik kaget ketakutan.


Melihat pedangnya sulit di lepaskan, Musashi menggunakan kakinya menjejak perut Guo Yun.


"Dukkkk,..!"


"Ahhhh...!"


Musashi kembali menjerit ketakutan.


"Ilmu iblis..! Hei kalian kenapa diam saja..!"


Bentak Musashi emosi.


Keempat bawahan nya, buru buru mencabut senjata mereka.


"Singggg .! Singggg .! Singggg .!"


"Singggg .!"


Masing masing mereka di tangan membawa sepasang pedang panjang pendek.


"Hyaaaaaat...!"


Sambil berteriak keras, keempat orang itu langsung berlari cepat menerjang Kearah Guo Yun.


"Cuiiit...! Ciiiiitttt...!"


"Cuiiit...! Ciiiiitttt...!"


"Cuiiit...! Ciiiiitttt...!"


"Cuiiit...! Ciiiiitttt...!"


Terlihat 4 buah sinar panjang pendek berkilauan, melesat kearah Nan Thian.


"Tabbb...!" Ceeesss..!"


"Tabbb...!" Ceeesss..!"


"Tabbb...!" Ceeesss..!"


"Tabbb...!" Ceeesss..!"


Senjata mereka semua ikut menempel di tubuh Nan Thian.


"Arggghhh...!"


Teriak mereka berempat kaget saat merasa tenaga mereka memaksa menerobos keluar berpindah ke Nan Thian.


Berbeda dengan pedang Musashi yang berhasil melukai bahu Nan Thian.


Pedang keempat orang ini hanya menempel tidak berhasil melukai Nan Thian sama sekali.


Mendapatkan masukan energi tambahan yang besar, perlahan-lahan pedang Musashi, yang membenam menembus kulit dan daging Nan Thian.


Terdorong keluar dari luka Nan Thian, yang lukanya merapat sendiri, luka tersebut meregenerasi sendiri.


Tapi pedang Musashi masih tetap menempel di sana tidak mampu di gerakkan.


Begitu pula dengan kaki Musashi yang menendang perut Nan Thian pun ikut melekat di sana.


Mereka berlima terlihat pucat dan panik Tubuh dan wajah mereka perlahan lahan menciut mengeriput.


Mereka terlihat jadi jauh lebih tua dari usia mereka yang sebenarnya.


Di saat ke lima orang itu sudah putus asa pasrah menerima nasib.


Tiba-tiba tidak tahu darimana datangnya, 5 batang jarum perak melesat menuju lima titik meridian di tubuh Guo Yun.


Bila kelima titik itu tersambar oleh Jarum perak itu, kekuatan daya hisap Guo Yun dan sirkulasi energi Thian Ti Sen Kung akan terkunci.


Guo Yun akan berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan.


Untuk itu sebelum ke 5 batang jarum itu tiba, Guo Yun langsung menghentakkan energi' Thian Ti Sen Kung.


Menghalau semua lawan yang ada di dekatnya, termasuk menolak pergi ke lima batang jarum berbahaya itu mendekati dirinya.


"Bangggg...!"


Terdengar bunyi hentakan ledakan hawa sakti Guo Yun mendorong apapun yang berada di sekitarnya.


Kelima orang itu terbang terpental jauh seperti layang layang putus.


"Bukkkk..! Bukkkk..! Bukkkk..!"


"Bukkkk..!"


Tubuh kelima orang itu terbanting keatas tanah bagaikan handuk basah.


Musashi dengan sisa tenaganya berusaha merangkak bangun, lalu melempar bom asap keatas tanah.


"Booommm...!"


Terjadi ledakan bom asap, yang membuat tempat ini di penuhi asap.


Susul menyusul keempat bawahan nya juga melakukan cara yang sama.


"Booommm...! Booommm..!"


"Booommm...! Booommm..!"


Masing masing dari mereka melemparkan bom asap keatas tanah.


Sebelum mereka menyusul Musashi, yang sudah lebih dahulu melarikan diri.


Sementara itu di tempat Guo Yun, dia setelah meledakkan energi pelindungnya, mementalkan keempat orang itu.


Guo Yun terpaksa membuang diri diatas tanah bergulingan menghindari kelima batang jarum yang tidak bergeming terus melesat menyerangnya dengan kecepatan sama.


"Creebbbb..! Creebbbb..!"


"Creebbbb..! Creebbbb..!"


"Creebbbb..!"


Lima batang jarum perak yang tidak menemui sasaran, menancap di atas tanah membentuk gambar bunga matahari.


Saat Guo Yun melompat bangun berdiri, penyerangnya yang tidak terlihat kedatangan nya


Sudah pergi jauh meninggalkan tempat itu, bersama seluruh anggotanya.


Guo Yun hanya melihat Attila dan Camelia yang baru saja datang, sedang tersenyum kearahnya.


Di tangan Attila terlihat pedang Panca Warna bersinar terang.


Guo Yun segera mengerti mengapa musuhnya pada mengundurkan diri.


Rupanya kehadiran Attila lah yang membuat mereka semua lari ketakutan.


"Saudara Yun kamu sungguh terlalu, pergi juga tidak pamit.."


"Mengapa tidak menunggu selesai minum arak pengantin kami baru pergi...?"


tanya Attila sambil menyimpan kembali pedang pusaka nya.


Guo Yun sambil tersenyum berkata,


"Bukan aku tidak mau, tapi aku takut pengantin mu nanti akan maksa kabur dengan ku.."


Camelia langsung mempelototi Guo Yun dan berkata,


"Ciihhh,..! tidak Sudi..!"


"Aku sudah menemukan yang jauh lebih dari mu.."


"Dasar tidak tahu malu.."


Sembur Camelia spontan sambil mengeratkan pelukannya di lengan Attila yang kekar.


Attila hanya menanggapi ucapan Guo Yun sambil tersenyum lebar dia berkata,


"Sudahlah kalian berdua ini, kalau bertemu seperti anjing dan kucing saja.."


"Saudara Yun, kami berdua datang ingin mengucapkan terimakasih pada mu.."


"Sekalian menghantarkan ini untuk mu.."


ucap Attila sambil melempar seguci arak yang ada lambang Shi nya.


Lambang Shi adalah lambang ucapan selamat, yang biasanya di berikan pada pasangan pengantin.


Guo Yun sambil tersenyum menerima guci yang di lemparkan oleh Attila lalu menyimpannya.


"Ucapan terimakasih simpan saja, justru aku yang harus berterimakasih pada kalian berdua.."


"Terimakasih banyak saudara Attila, sudah jauh jauh menyusul ku kemari.."


"Hari ini bila kamu tidak muncul, mungkin nyawaku, kelihatannya akan berakhir di tempat ini.."


ucap Guo Yun sambil merangkapkan kedua tangan keatas memberi hormat kearah Attila.


Attila sambil tersenyum membalasnya, lalu berkata.


"Tak perlu sungkan saudara Yun, tapi aku sarankan mulai saat ini berhati hatilah dengan pemilik jarum jarum ini.."


"Dia mampu meloloskan diri dari Tebasan tanpa wujud ku, itu berarti Kemampuannya tidak rendah.."


"Sampai jumpa saudara Yun..!"

__ADS_1


ucap Attila yang sudah terbang keangkasa sambil merangkul Camelia melesat meninggalkan tempat itu.


Guo Yun tersenyum menatap kepergian sahabat barunya, yang dapat datang dan pergi sesuka hati, bagaikan dewa.


Zulkarnain menghampiri Guo Yun dan berkata,


"Pendekar muda apa kamu baik baik saja..?"


Guo Yun tersenyum dan berkata, "Aku baik baik saja, ayo cepat kita lanjutkan perjalanan.."


"Sebelum kelompok itu kembali menghadang kita.."


Zulkarnaini mengangguk cepat, lalu segera pergi mengatur pasukan dan rombongannya untuk kembali bergerak melanjutkan perjalanan mereka.


Agar secepat mungkin bisa tiba di kota Sian Yang sebelum matahari tenggelam.


Di tempat lain ketua organisasi bunga matahari, setelah berhasil melarikan diri cukup jauh dari tempat Guo Yun.


Tubuhnya tiba tiba limbung kedepan, dia menyemburkan darah segar dari balik cadarnya.


Tangan kanannya dia gunakan untuk memegangi baju di bagian dadanya yang robek besar.


Sekaligus darah segar terlihat merembes keluar dari sela sela jarinya.


"Bagaimana keadaan mu ketua..?"


tanya Musashi penuh perhatian.


Ketua bunga matahari, menghela nafas panjang dan berkata,


"Pemuda rambut emas yang datang belakangan itu sangat berbahaya.."


"Dia berhasil mengacaukan sirkulasi hawa murni ku, dan berhasil melukai ku.."


"Hanya dengan satu serangan nya ."


"Ayo kita cepat kembali ke markas, aku perlu tempat tenang memulihkan luka ku.."


"Mengenai raja Yue nanti baru kita buat rencana lagi, setelah luka ku sembuh.."


ucap ketua bunga matahari sambil meringis menahan nyeri di dadanya.


Musashi mengangguk cepat, memberi hormat, lalu pergi mengatur anak buah mereka, untuk segera kembali ke markas mereka.


Sementara Guo Yun dan Xiang Yu kecil terus melakukan perjalanan cepat kembali ke ibukota kerajaan Yue.


Di ibukota kerajaan Yue di Guiji akhir akhir ini banyak terjadi perubahan.


Setelah Sian Sian dan Li Ba mengikuti instruksi Guo Yun, untuk memanggil dan menasehati beberapa pejabat tinggi yang memilki kekuasaan besar.


Di mana mereka ikut terlibat dalam berbagai masalah korupsi, untuk kepentingan pribadi.


Sian Sian bertugas memanggil dan menasehati para pejabat itu, dengan segala macam dukungan bukti kuat di tangannya.


Sedangkan Li Ba selain bertugas mengawalnya, dia juga bertugas memilih kader kader muda berbakat.


Untuk di rekrut menjadi anggota Biro rahasia, yang kelak akan bertugas mencari mengumpulkan segala macam informasi terkait masalah korupsi dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil.


Mereka terus di didik oleh Li Ba dengan berbagai kemampuan bela diri tingkat tinggi.


Mereka juga mendapatkan pendidikan khusus dari senior senior, yang selama ini bekerja di kesatuan intelijen, di bawah Zhang Yi langsung.


Semua tenaga muda berbakat ini, mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan, yang berkaitan dengan tugas mereka kedepannya nanti.


Mereka bahkan di lengkapi dengan pengetahuan tentang obat dan segala macam racun, yang di ajarkan oleh para tabib istana.


Sore itu Sian Sian dan Li Ba terlihat datang mengunjungi kediaman Zhong San yang kecil dan sederhana.


Zhong San saat mendapat laporan dari pelayan setianya, bahwa Li Ba dan Sian Sian datang berkunjung ke rumah nya.


Dia sangat terkejut, dengan agak terburu-buru dia keluar dari kediamannya, untuk pergi menyambut kedatangan Kedua tamu istimewa itu.


Dengan sikap penuh hormat, begitu tiba di hadapan Li Ba dan Sian Sian.


Zhong San langsung membungkukkan badannya dalam dalam memberi hormat Kearah Sian Sian dan Li Ba secara bergantian.


"Selamat datang pangeran Li dan putri Sian.."


"Mohon maaf hamba terlambat datang menyambut kedatangan Yang Mulia berdua.."


"Tak perlu basa basi Zhong San, kami ada masalah serius, yang ingin kami bahas dengan mu.."


"Apa kamu punya waktu..?"


tanya Li Ba langsung ke sasaran, itu memang sifat alaminya yang tidak suka bertele tele.


"Punya punya,.. tentu saja punya.."


"Mari kita bahas di dalam sana.."


ucap Zhong San menebak nebak masalah apa kira kira, yang akan di bahas oleh Li Ba dan istrinya dengan nya.


"Tidak perlu Zhong San aku ingin kamu ikut dengan kami, mengunjungi rumah mu yang di luar kota sana.."


ucap Li Ba tegas


Sian Sian hanya bisa melirik kearah suaminya sambil menggeleng pelan.


Dia sedikit tidak enak hati dengan sikap suaminya, yang memperlakukan Zhong San seperti tahanan nya.


Zhong San meski kaget dan heran, tapi dia tetap bersikap setenang mungkin.


"Baik Yang Mulia, kalau begitu sekarang saja kita langsung kesana.."


jawab Zhong San cepat.


Li Ba mengangguk dan berkata,


"Silahkan Zhong San, kereta ada di sana.."


Zhong San mengangguk pelan, lalu melangkah mengikuti Li Ba dan Sian Sian naik keatas kereta.


Setelah mereka bertiga naik dan duduk dalam kereta, Li Ba pun berkata,


"Jalan..!"


Kusir kereta langsung memecut kudanya, sambil menarik pelan tali kekang di tangan nya.


Kereta pun terlihat di tarik oleh 4 ekor kuda meninggalkan kediaman Zhong San yang sederhana tapi di pusat kota.


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan dalam diam dan suasana canggung dan tegang.


Akhirnya kereta kuda berhenti di sebuah rumah besar dan mewah yang terletak di pinggiran kota.


"Yang Mulia kita sudah sampai.."


ucap kusir kereta memberi informasi.


Li Ba mengangguk, lalu berkata,


"Zhong San sudah tiba, ayo kita turun sekarang.."


Zhong San mengangguk lalu dengan hati ketar ketir dia mengikuti Li Ba dan Sian Sian turun dari dalam kereta.


Kedatangan Zhong San langsung di sambut oleh salah seorang penjaga pintu di depan kediaman rumah besar itu.


"Tuan besar anda sudah pulang,.."


"Silahkan tuan.."


ucap penjaga pintu itu penuh hormat.


"A Cong nyonya tua ada ? bagaimana kesehatan nya..?"


tanya Zhong San sambil melangkah memasuki gerbang pintu yang besar dan mewah itu.


A Cong yang menemani di samping Zhong San segera berkata,


"Ada,..ada..tuan..nyonya tua sangat sehat, biasanya jam jam segini nyonya tua ada di paviliun di taman samping rumah.."


"Nyonya tua sendirian..?'


tanya Zhong San sambil terus melangkah menuju jalan yang menembus ke taman samping rumah.


"Tidak tuan, biasanya nyonya muda Zhong Ting dan suaminya ikut menemani di sana.."


Zhong San mengangguk tanpa berkata-kata, dia lalu menoleh kearah Sian Sian dan Li Ba.


"Yang Mulia mari kita ke taman samping dulu, aku ingin sekalian memberi hormat pada ibu ku.."


"Setelah itu kita bisa mengobrol bebas di ruang baca ku.."


Li Ba ingin menjawab tidak perlu, langsung ke ruang kerja mu saja.


Tapi Sian Sian langsung memotong duluan.


Dia tahu kalimat apa yang akan keluar dari mulut suaminya itu.


Deni menjaga suasana dia mendahului menjawabnya.


"Tidak apa apa perdana menteri Zhong silahkan saja, kami akan ikut saja.."


Karena istrinya sudah buka suara, Li Ba yang sangat menyayangi Sian Sian tentu tidak banyak bersuara lagi.


Kalimatnya yang pedas sudah di ujung lidah, langsung dia telan kembali.


Tidak jadi dia ucapkan.


Zhong San sangat bersyukur ada Sian Sian di sana, bila tidak dia akan sulit berinteraksi dengan Pangeran sekaligus panglima perang kepercayaan tuannya Yang Mulia Raja Guo Yun.


Zhong San setelah menganggukkan kepalanya kearah Sian Sian, dengan langkah buru buru, dia langsung berjalan menuju taman samping.

__ADS_1


Akhirnya kelompok itu tiba di sebuah taman yang luas indah dan sangat terawat.


Di bagian tengah tengah taman indah itu ada sebuah kolam buatan yang besar.


Sebuah paviliun atau Ting yang sangat indah di bangun di bagian paling tengah kolam itu.


Untuk mencapai Ting tersebut mereka harus melewati sebuah jembatan batu berukir yang indah.


Baru bisa menjangkau tempat itu.


Li Ba dan Sian Sian hanya memperhatikan saja, tapi mereka tidak berkata apa-apa.


Mereka terus mengikuti Zhong San hingga tiba di paviliun mewah itu.


Di paviliun itu terlihat ada 3 orang berpakaian mewah, dengan selusin pelayan wanita muda berjejer menyambut kedatangan mereka Zhong San, Li Ba, dan Sian Sian..


Tiga orang berpakaian mewah itu duduk santai menghadapi sebuah meja batu besar.


Di atas meja batu itu terlihat segala macam hidangan mewah dan lezat lezat ada di sana.


Bahkan buah buahan yang tersaji di sana pun terdiri dari berbagai macam buah mewah.


Bahkan Sian Sian dan Li Ba tidak pernah melihat, juga tidak tahu nama buah buahan yang di sajikan di atas meja itu.


"Ibu Zhong San datang memberi hormat dan menanyakan kesehatan ibu.."


ucap Zhong San sambil berlutut dan menyembah kepada nenek tua yang berdandan menor dan mewah.


Seluruh tubuhnya di penuhi perhiasan emas hingga batu batu permata langka.


Di samping kiri wanita itu duduk wanita muda yang tidak terlalu cantik tapi dia terlihat lumayan, karena pandai merias dan merawat diri.


Pakaian nya juga dari sutra mahal dan indah, seluruh tubuhnya juga di penuhi dengan perhiasan mewah.


Sedangkan di sisi kanan ibu Zhong San terlihat seorang pria tampan muda dan gagah.


Pemuda itu juga mengenakan pakaian yang mewah dan indah.


Hiasan rambut di sanggul kepala nya, yang di isi sebutir mutiara langka.


Menambah ketampanan nya, tubuhnya juga mengeluarkan wewangian yang sangat enak di cium.


"Bangunlah putra ku Zhong San, kamu datang ibu sudah senang.."


"Tak perlu banyak peradatan, ajaklah teman mu untuk datang ikut bergabung maka. bersama kita.."


ucap Ibu Zhong San dengan gayanya yang anggun dan angkuh.


Zhong San bangkit berdiri lalu dengan wajah tidak enak hati, dia maju kehadiran Sian Sian dan Li Ba.


"Maaf Yang Mulia, ibu ku mengundang Yang Mulia untuk ikut bergabung makan bersama.."


"Sudi kiranya, Yang mulia memberi muka ke hamba, agar.."


Ucapan Zhong San langsung di potong oleh Sian Sian.


"Bukan masalah perdana menteri Zhong.."


"Tolong haturkan terima kasih banyak pada ibu mu.."


ucap Sian Sian sambil tersenyum.


Sedangkan Li Ba tidak berkata apa-apa, hanya matanya tidak berhenti menatap kearah botol arak, yang wanginya menyebar hingga kemana mana.


Dia seperti sedang mengalami perang batin hebat, minum atau tidak minum.


Menuruti hasratnya sih minum dulu baru kerja.


Tapi mengingat pesan Guo Yun, yang melarang keras dia minum sambil bekerja.


Dia terpaksa harus bersusah payah memadamkan hasratnya yang menyala nyala.


Setelah mendapatkan persetujuan Sian Sian, Zhong San segera membawa mereka untuk di perkenalkan ke Ibunya.


"Ibu,.. ini ananda akan memperkenalkan, yang ini adalah Tuan Putri Sian Sian, istrinya pangeran Li Ba.."


"Dan yang ini adalah Pangeran Li Ba sendiri.."


ucap Zhong San dengan penuh hormat.


Mendengar ucapan putranya, Nyonya tua itu segera bangkit berdiri, dengan senyum lebar.


Sikapnya langsung berubah 360°, dia langsung memberi hormat kearah Sian Sian dan Li Ba secara bergantian dan berkata,


"Ohh Yang Mulia, silahkan,.. silahkan duduk.."


Hampir bersamaan dengan respon nenek tua menor itu, pasangan yang berdiri di samping nenek tua itu.


Mereka juga ikut memberi hormat, hingga tubuh terbungkuk bungkuk.


Tidak berani bersikap jumawa lagi.


Li Ba mengikuti Sian Sian memberi hormat alakadarnya, kemudian dia pun mengambil tempat duduk.


Duduk santai di sana, menyambar satu ikat anggur berukuran besar, menyantap nya tanpa banyak bicara.


Adalah Sian Sian yang mewakilinya berbasa basi dengan nenek tua itu.


Setelah berbasa-basi sejenak, nenek tua itupun berkata,


"Perkenalkan ini putri ku Zhong Ting, dan ini suaminya Yang Yang.."


"Ayahnya adalah Yang Song, Menteri percepatan kesejahteraan rakyat.."


"Sedangkan Yang Yang ini adalah kepala pelaksana kesejahteraan Rakyat.."


ucap Nenek itu bangga, tanpa menyadari tatapan mata Li Ba yang seketika berkilat, penuh nafsu membunuh.


Zhong San yang cerdik menangkap situasi itu, hatinya tercekat.


Dia tidak tahu ada permasalahan apa antara orang kepercayaan Guo Yun yang bertabiat aneh ini.


Dengan suami adiknya, atau mungkin dengan ayah mertua adiknya.


Yang jelas situasi ini sangat tidak baik, harus segera dia netral kan, sebelum nanti muncul masalah tidak perlu.


Zhong San segera angkat bicara memotong ucapan ibunya.


"Ibu maaf setelah ini, kami masih ada pembicaraan penting, tidak bisa lama lama.."


"Yang Mulia Li, mari kita bersulang, biar aku mewakili keluarga ku sebagai pihak tuan rumah.."


ucap Zhong San buru buru mengisi cawan di hadapan Li Ba hingga penuh .


Li Ba langsung mengangkat cawan tersebut untuk di cium aroma nya.


Dia menghisap wangi arak itu dalam dalam.


Beberapa saat kemudian dia baru berkata,


"Arak wangi,..arak langka,..kualitas yang sangat baik..luar biasa.."


"Sayangnya aku sedang bertugas.."


ucap Li Ba kecewa


Lalu dua meletakkan cawan itu kembali keatas meja, lalu berkata,


"Zhong San teh boleh air putih juga tidak apa apa, arak jangan kakak ku melarangnya.."


Zhong San mengangguk cepat, dia buru buru menggantinya dengan cawan baru dan mengisinya dengan teh wangi..


Li Ba menerima cawan itu, membawanya kearah hidungnya menciumnya sebentar.


Sambil menggelengkan kepalanya dia berkata,


"Dasar nasib,.. ya sudah terima aja.."


Dengan sekali tegak teh panas yang harus di nikmati pelan pelan langsung di habiskan oleh Li Ba.


Bila bukan Li Ba tentu orang yang minum dengan cara seperti itu, seluruh rongga mulutnya dan kerongkongan nya akan melepuh.


Teh itu pasti akan tersembur keluar lagi dari mulut, tidak mungkin sanggup di telan.


Tapi Li Ba tentu beda dia santai saja, karena cambuk petir langit pun dia tidak gentar di siksa bertahun tahun.


Apalagi cuma teh panas, baginya hal itu bukan apa apa.


Sian Sian yang duduk disebelah suaminya hanya bisa menggunakan punggung tangan nya, menutupi mulutnya, berusaha menahan tawa, melihat sikap suaminya.


Setelah berpamit dengan ibu Zhong San, Li Ba dan Sian Sian langsung mengikuti Zhong San menuju ruang baca nya.


Saat memasuki ruangan yang penuh dengan buku, di mana meja pun terlihat penuh dengan buku yang bertumpuk-tumpuk.


Li Ba mendadak merasa mual melihatnya, dia pun berkata,


"Zhong San kita ganti tempat saja, tempat mu ini membuat ku merasa mual.."


"Itu di bawah pohon rindang itu juga bolehlah, "


Ucap Li Ba sambil buru buru melangkah meninggalkan ruangan baca Zhong San.


Zhong San dan Sian Sian saling pandang mereka berdua sama sama tersenyum.


Lalu mereka sama sama melangkah menyusul kearah tempat yang di tunjuk oleh Li Ba.


Sian Sian mengambil tempat duduk di sebelah Li Ba.


Sedangkan Zhong San duduk di hadapan mereka berdua.


Dia menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh kedua orang itu.

__ADS_1


"Zhomg San,.. katakan dengan jujur apa kamu juga terlibat dengan urusan suap menyuap di perbatasan..?"


tanya Sian Sian sambil menatap tajam kearah Zhong San.


__ADS_2