
Guo Yun yang berdiri di samping, menyaksikan cara bermain catur kedua kakek itu.
Diam diam dia sangat kagum, bukan kagum dengan permainan catur mereka, tapi kagum dengan cara mereka bermain dengan tehnik pengendalian tenaga dalam.
Akan memerlukan tenaga dalam tingkat tinggi, orang baru bisa menggunakan tehnik seperti itu dalam bermain catur.
Guo Yun hanya berdiri diam jadi pengamat, tanpa bersuara sama sekali.
Dia sejak kecil, sudah sering menemani Fan Li bermain Wei Qi, jadi tidak heran bila tehnik permainan Catur nya, sangat baik.
Sebenarnya banyak langkah di antara mereka berdua yang Guo Yun kurang setuju.
Tapi dia hanya bisa menyesali langkah kedua orang itu dalam hati.
Li Ba tentu tidak betah di suruh menonton permainan membosankan itu.
Dia lebih suka bermain bersama Sian Sian.
Kedua orang itu terlihat asyik bermain bersama, hingga akhirnya mereka memilih duduk tidak jauh, di bawah pohon rindang. di sekitar sana.
Permainan itu berjalan cukup lama, tapi Guo Yun sudah menebaknya, Kakek Huang meski kelihatannya selalu terdesak dan keteteran.
Pada akhirnya akan bangkit dari kematian, mengalahkan kakek janggut putih yang kemungkinan adalah Zhuangzi sendiri.
Sesuai dugaan Guo Yun, akhirnya memang kakek Huang lah yang memenangkan permainan tersebut.
Setelah permainan babak pertama usai, Kakek janggut putih, yang masih merasa penasaran, langsung berkata,
"Ayo Lao Huang, kita ulangi sekali lagi.."
Kakek Huang hanya menanggapinya dengan tertawa dan menganggukkan kepalanya, tidak menolak permintaan sahabatnya itu.
Kedua orang itu kembali melanjutkan permainan mereka menuju babak kedua.
Guo Yun masih saja tetap berdiri di sana bagaikan patung, menjadi pengamat permainan.
Setelah beberapa waktu berlalu, lagi lagi kakek berjanggut putih terlihat terus menerus menggelengkan kepalanya.
Wajahnya berkerut kerut, dia terlihat berpikir keras dan selalu ragu dalam langkah langkah nya.
Akhirnya dia kembali harus menyerah kalah di tangan Kakek Huang, yang memang lebih unggul dalam permainan.
Sekali ini Kakek jenggot putih, menghela nafas kecewa dan berkata,
"Lao Huang kamu tetap yang paling licik, untuk kesekian kalinya aku tetap saja terpaksa kembali menyerah kalah pada mu.."
Kakek Huang hanya menanggapi kata kata temannya yang terlihat kecewa dan kurang puas itu dengan tertawa, dan berkata.
"Cuma menang kebetulan, nasib baik saja.."
Kakek janggut putih dengan wajah kurang puas berkata,
"Nasib baik sampai dua kali, kamu mau nipu anak kecil.."
"Sudah tidak usah bertele-tele katakan saja apa mau mu,? sampai datang kemari mencari ku..?"
Kakek Huang sambil tersenyum berkata,
__ADS_1
"Begini Lao Zhuang, aku kali ini datang kemari, ingin menitipkan cucu ku yang manja untuk di didik disini.."
"Aku sendiri tidak sanggup mendidiknya.."
"Kamu jangan bercanda dengan ku, bila kamu saja tidak mampu, apalagi aku ."
ucap Kakek Zhuang menatap sahabatnya dengan serius.
"Bukan begitu teman ku, cucu ku ini sedari kecil telah kehilangan kedua orang tuanya, jadi aku jadi terlalu memanjakannya.."
"Kini aku menjadi kesulitan mendidiknya.."
"Bila dia di didik disini aku rasa itu adalah sesuatu yang baik buat masa depannya kelak."
Kakek Zhuangzi menatap wajah temannya dengan serius dan berkata,
"Kamu tahu sendiri peraturan di tempat ku ini sangat ketat, bila cucu mu terus melanggarnya dan mendapatkan hukuman, apa kamu tega..?"
"Aku tidak mau karena masalah itu, kita malah jadi ribut.."
Kakek Huang tersenyum penuh pengertian dan berkata,
"Kalau hal itu kamu tidak perlu khawatir teman ku."
Apapun kelak yang akan terjadi, aku tidak akan pernah ikut campur dan menyalahkan tempat ini..juga tidak akan pernah menyalahkan mu teman ku.."
Zhuangzi menghela nafas berat dan berkata,
"Baiklah, kebetulan aku juga mau menerima dua murid baru.."
"Semoga dua murid baru ku itu bisa membantu mendidik dan menjaganya.."
"Kalian berdua sudah jauh jauh datang kemari, tidak berlutut dan memanggilku guru, mau tunggu apa ?"
Mendengar ucapan kakek Zhuangzi.
Guo Yun buru buru berlutut, kemudian dia membenturkan dahinya diatas lantai sebanyak 3 kali.dan berkata,
"Guru terimalah hormat dari murid mu.."
Zhuangzi tertawa dan berkata,
"Baik baik kamu bangunlah.."
Guo Yun setelah bangkit berdiri, dia buru buru menoleh kearah Li Ba dan Sian Sian yang terlihat masih sibuk bermain.
"Adik Ba,..Sian er..!"
"Cepat kemari..!"
Begitu mendengar suara panggilan Guo Yun, Li Ba buru buru menggandeng tangan Sian Sian menghampiri kakek Zhuangzi.
Li Ba saat tiba di hadapan kakek Zhuangzi, dia langsung menjatuhkan diri berlutut.
Sian Sian juga mengikuti yang di lakukan oleh Li Ba.
Kedua anak itu membenturkan dahi mereka 3 kali di atas lantai, kemudian dengan kompak mereka berkata,
__ADS_1
"Murid memberi hormat pada guru.."
Sambil tertawa Zhuangzi berkata, "Baiklah kalian berdua berdirilah."
Kakek Zhuangzi menoleh kearah sahabat nya dan berkata,
"Lao Huang, aku tidak antar ya, kamu silahkan aja.."
"Aku sekarang mau mulai melatih ketiga anak ini.."
Kakek Huang tersenyum dan mengangguk mengerti.
Dia berjalan menghampiri cucu tunggal kesayangan nya, sambil membelai kepala bocah itu.
"Sian Sian kakek mau pergi dulu, kamu tidak boleh nakal, harus dengarkan kata kata guru mu, kakak Ba dan kakak Yun ya.."
Sian Sian menatap kakek yang menjadi orang terdekat itu dengan sepasang mata berkaca-kaca, dia menganggukkan kepalanya.
Li Ba yang melihat hal itu menggenggam tangan anak itu dengan lembut dan berkata,
"Sian er tidak menangis, Sian er anak pintar, anak baik ."
Sian Sian menganggukkan kepalanya, hingga air matanya jatuh menitik ke sepasang pipinya yang berkulit halus.
Kakek Huang sedikit menengadah menahan rasa sedihnya, mengeraskan hati lalu membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut.
"Kakekkkkk,..!"
teriak Sian Sian dengan air mata bercucuran.
Kakek Huang menghentikan langkahnya, menghapus dua butir airmatanya yang runtuh.
Sambil berusaha tersenyum, dia menoleh kearah cucunya, memberikan lambaian tangan.
Setelah itu dia langsung melesat meninggalkan tempat itu.
Melihat kakeknya pergi, Sian Sian meronta dari pegangan tangan Li Ba.
Dia langsung berlari menyusul sambil berteriak,
"Kakekkkk,...! Kakekkkk,..!"
Li Ba buru buru berlari menyusul bocah itu.
Sian Sian terlihat berlutut di tepi jurang sambil menangis.
"Sian er,.. anak baik,..adik kakak yang paling pintar dan paling baik.."
"Jangan menangis, biarlah kakak yang gantikan kakek mu.."
ucap Li Ba karena saking terharunya, suara gagapnya jadi hilang.
Li Ba menggendong Sian Sian dengan satu tangan, membiarkan anak itu menangis di bahunya.
"Anak baik, jangan menangis lagi, lihat itu guru dan kakak Yun sedang menanti kita.."
Sian Sian mengangguk kecil, menghapus airmatanya, menghentikan sesunggukkan nya.
__ADS_1
Dengan sepasang mata yang bening dan jernih dia menatap Zhuangzi dengan polos.
Menunggu apa yang akan Zhuangzi sampaikan ke mereka bertiga.