
Pria setengah tua yang tadinya ingin marah, tapi begitu melihat Gongsun Li yang begitu cantik.
Kemarahannya langsung hilang, dia berkata dengan suara lembut.
"Nona cantik kamu siapa, ? apa yang terjadi ? mengapa kamu memukul orang..?"
Gongsun Li dengan wajah datar berkata,
"Kami orang militer tidak pandai bicara.."
"Kamu tanyakan saja pada dia.. perbuatan apa yang sudah dia perbuat.."
Pria setengah tua itu sambil cengengesan, menoleh kearah istrinya dan berkata,
"Istri ku apa yang sebenarnya terjadi."
"Plakkkk..!"
"Dasar tua Bangka tidak tahu diri..!"
"Istri di tindas orang, bukannya membela malah bertanya..!"
"Plakkkk..!"
"Dasar tidak berguna..!"
bentak si kecil marah sambil terus menampar lengan pundak bahkan kepala suaminya.
Suaminya hanya cengengesan tidak berani melawan, hanya bergerak mundur menjauh, membiarkan istrinya melampiaskan kekesalannya sesuka hati.
"Kalian semua kenapa diam saja,!?"
"Cepat maju tangkap mereka semuanya..!"
"Ingat cukup lumpuhkan saja, jangan sampai rusak wajahnya,..aku masih mengandalkan wajah itu buat cari uang..!"
Teriak si kecil pendek berambut keriting itu dengan nada tinggi.
Para pengawal segera maju mengepung rombongan Gongsun Li dengan Toya di tangan.
Mereka langsung mengangkat Toya untuk menyerang Gongsun Li dan rombongannya.
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
Toya terlihat berseliweran memenuhi udara, menyerang kearah Gongsun Li.
Gongsun Li tersenyum dingin, saat melihat para pengawal si kecil pendek berambut keriting, menyerang dengan Toya mereka.
Gongsun Li bergerak cepat mengeluarkan tombak naga putih yang jarang dia keluarkan.
"Wuttt...!"
"Trangggg,..!" Trangggg,..!"
"Krekkk,..!" "Krekkk,..!"
Trangggg,..!" Trangggg,..!"
"Krekkk,..!" "Krekkk,..!"
Trangggg,..!" Trangggg,..!"
"Krekkk,..!" "Krekkk,..!"
__ADS_1
Begitu tombak naga putih, yang mengeluarkan cahaya putih berkilauan berkelebat.
Potongan Toya yang terbabat putus terlihat pada terpental dan melayang di udara.
Sebelum para pelayan Nyonya Na sadar apa yang terjadi dengan Toya mereka yang terpapas hingga mendekati tangan mereka yang menggenggam Toya.
Sebuah tendangan berputar, yang di lakukan dengan gaya indah oleh Gongsun Li, telah membuat mereka semua terpental jatuh tumpang tindih.
Gongsun Li yang terlihat bertumpu pada tombaknya yang tertancap di atas tanah, setelah melepaskan tendangan berputar.
Dia kembali mendarat diatas tanah dengan ringan, lalu dengan gerakan mantap.
Dia mencabut tombaknya memutar tombak nya mengelilingi seluruh tubuhnya, kemudian ujung tombak nya melesat kearah pengikat rambut si keriting dangdut dan suaminya.
"Crasssh..!"
"Crasssh..!"
Rambut si keriting dangdut langsung tercerai berai, semakin terlihat berantakan kribonya.
Sedangkan suaminya juga ikut kena sial, rambutnya yang telah dua warna, kini terurai lepas, sebagian menutupi wajahnya.
Sebelum kedua orang itu sempat hilang kagetnya, sekali lagi tombak di tangan Gongsun Li bergerak memutar arah.
"Dukkkk..!"
"Dukkkk..!"
"Brukkkk..!"
"Brukkk...!"
Kedua suami istri itu kini langsung jatuh berlutut, karena sambungan belakang lutut mereka, di hajar keras oleh tombak di tangan Gongsun Li.
"Arggghhh..!"
Arggghhh..!"
"Ampun ampun Ni Xia, kami benar benar bermata tapi tidak melihat.."
"Sehingga telah mengeluarkan kata kata dan melakukan sesuatu yang tidak pantas pada Ni Xia.."
"Mohon ampun.."
ucap suami si keriting sambil bersujud ketakutan.
Pengawal mereka yang baru merangkak bangun dengan pipi lebam Toya patah.
Mereka semua juga memilih mundur teratur tidak berani ikut campur.
Gongsun Li mendengus dingin dan berkata,
"Setelah ketemu batu nya baru minta maaf sudah terlambat.."
"Kalian berdua ikan besar hidup di mangkok kecil, terbiasa semaunya menindas orang.."
"Bila hari ini ku ampuni kalian, kelak pasti tidak tahu berapa banyak orang tidak berdosa yang akan kalian celakai."
"Suittttt..!" Suittttt..!"
Gongsun Li menempelkan jarinya di depan bibir nya, bersiul nyaring.
Sekejap saja terdengar suara derap langkah pasukan harimau hitam memasuki desa.
Menghampiri tempat itu,
"Komandan Coa, sita semua barang dan harta dalam toko itu.."
__ADS_1
"Periksa juga apa di dalam sana masih ada orang, bila tidak ada bakar habis semuanya..!"
perintah Gongsun Li ringan.
"Siap Yang Mulia Ratu..!"
ucap Sang komandan cepat.
Dia segera pergi mengatur orang menjalankan perintah.
Tadinya nyonya Na masih bisa mengomeli suaminya pengecut.
Tapi begitu melihat kedatangan pasukan kerajaan Yue, di tambah dengan ucapan Gongsun Li dan panggilan sang komandan.
Si keriting dangdut itu, yang kini berteriak minta ampun menangis dan menyembah melebihi yang suaminya lakukan.
Tapi percuma saja, penyesalan selalu datangnya terlambat.
Perintah sudah di keluarkan, tidak mungkin bisa di tarik.
Sesaat setelah harta di sita, puluhan gadis muda yang di kurung, di persiapkan untuk di jual ke pedagang Persia, di keluarkan dari tempat itu.
Sesaat kemudian seluruh toko besar dan tempat kediaman si keriting dangdut, sudah habis di lalap si jago merah.
Si keriting dangdut hanya bisa menangis menggerung gerung meratapi nasibnya yang sial.
Suaminya juga hanya bisa melongo seperti orang bodoh, ikut berlutut di samping istrinya tanpa bersuara.
Puluhan pengawal mereka, sejak melihat kedatangan rombongan pasukan kerajaan, mereka sudah lebih dahulu kabur melarikan diri.
Gongsun Li menatap sinis kearah pasangan tersebut, sebelum pergi dengan sadis, dia masih menghadiahi si keriting dengan satu hantaman di tengkuknya.
Hantaman ringan itu hanya membuat si keriting menjerit kecil menahan nyeri.
Tapi efeknya sungguh mengerikan, suaranya hilang, matanya yang licik selamanya tidak bisa melihat indahnya dunia lagi.
"Manusia busuk, itu sangat layak untuk mu.."
ucap Gongsun Li dingin sambil bergerak memimpin rombongannya meninggalkan tempat itu.
Liu Lau Po yang tadinya marah kepada si kecil keriting itu, kini dia malah menatap kearah nya dengan penuh Iba.
"Tahu akan begini, mengapa sebelum nya tidak.."
"Haisss,.. mulut mu harimau mu.."
Selesai berkata dia pun ikut dengan rombongan itu pergi meninggalkan tempat itu.
Liu Lau Po diam diam, sesekali mencuri curi menatap kearah Gongsun Li dengan wajah ngeri.
Si Si yang menyadari hal itu, dia hanya menghela nafas panjang dan berkata,
"Lau Po jangan takut, kakak ku itu pada dasarnya sangat baik.."
"Situasi dan keadaan dunia inilah yang membentuknya menjadi seperti itu.."
"Tolong jangan di ambil di hati.."
ucap Si Si mencoba menenangkan kakek itu.
Puluhan gadis malang yang di tawan hendak di diperjualbelikan, oleh Si Si yang tinggal di dekat sana dan bisa pulang sendiri.
Si Si biarkan mereka pulang sendiri, sedangkan yang tidak punya keluarga lagi, atau tidak tahu jalan pulang sendiri.
Terpaksa Si Si mengikut sertakan mereka dalam rombongannya.
Berkat petunjuk jalan dari kakek Liu akhirnya mereka tiba di sebuah hutan kecil, diatas sebuah bukit yang tersembunyi di balik batu batu gunung besar yang berjajar di sana.
__ADS_1
Dari tempat itu bisa terlihat jelas perkemahan pasukan Qin yang sedang mengepung kota Shoucun.
Dari tempat itu juga bisa melihat dengan jelas suasana pertahanan kota Shoucun, yang kelihatannya sudah habis di serang.