
Min Min langsung terjun kedalam kolam, secepatnya berenang meraih tubuh Guo Yun.
Kemudian menyeretnya ke pinggir, melihat Guo Yun dalam keadaan lemas nafas lemah, sepasang matanya tertutup rapat.
Min Min buru buru memberikan pertolongan mencoba menyadarkan Guo Yun dengan menggunakan kedua tangannya memompa dada Guo Yun.
Lalu memberikan nafas buatan berulang ulang.
Guo Yun akhirnya tersedak batuk batuk dan muntah muntah.
Tapi setelah muntah air, dia kembali pingsan tidak sadarkan diri.
Dengan di penuhi rasa khawatir, Min Min berusaha sekuat tenaga menaikkan Guo Yun ke punggungnya.
Lalu dengan susah payah dia menggendong Guo Yun kembali kedalam gua.
Setelah berhasil membaringkan Guo Yun di dalam gua, Min Min pun ikut terkapar disana dengan nafas tidak teratur.
Tapi beberapa saat berbaring, saat merasa nafasnya sudah lebih teratur.
Min Min buru buru bangun memeriksa kondisi Guo Yun yang seperti orang sedang tertidur pulas.
Tapi bagaimana pun Min Min memanggil dan menepuk kedua pipinya.
Guo Yun tetap tidak berhasil di bangunkan, bahkan saat tubuhnya di guncang guncang sekalipun Guo Yun tetap tidak bangun.
Min Min lalu mencoba memeriksa tubuh Guo Yun, dia merasakan ada dua hawa aneh sedang bergolak di dalam tubuh Guo Yun.
Min Min mencoba menetralisir dengan tusukan jarum peraknya.
Tapi jarum peraknya selalu terdorong keluar, setiap habis di tusukan kedalam.
Setelah berulang kali mencoba selalu gagal.
Akhirnya Min Min hanya bisa terduduk lemas di samping tubuh Guo Yun sambil menangis sedih.
"Yun ke ke, bangunlah,..hu.hu..hu..!"
"Kamu tidak boleh pergi..aku tidak mengijinkan mu..kamu belum boleh pergi..!"
"Yun ke ke jangan tinggalkan aku...hu..hu..hu.!"
"Aku takut..hu.hu..hu..!"
"Jangan pergi Yun ke ke..!"
"Aku tidak mau di tinggal seorang diri di tempat ini.."
"Hu..hu..hu..hu..!"
"Yun ke ke ..ayo bangunlah..!"
ucap Min Min sambil terus menangis sedih diatas dada Guo Yun.
Saking lelah lahir maupun batin, Min Min akhirnya pingsan tertelungkup di atas dada Guo Yun.
Saat malam tiba, sinar bulan yang terang benderang di luar sana sedikit masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
Menerangi gua yang sedikit remang remang, bias sinar bulan menerpa wajah Guo Yun.
Guo Yun perlahan-lahan mengerjap ngerjapkan matanya.
Dia membuka matanya pelan pelan, saat melihat Min Min tertelungkup di atas dadanya.
Tiba-tiba Guo Yun merasakan hawa anehnya yang selama ini mulai jauh tenang.
Sejak dia kehilangan kemampuan tenaga dalam nya.
Kini tiba tiba kembali bergolak dengan sangat hebat.
Guo Yun buru buru bangkit menjauhi Min Min sejauh mungkin.
Lalu dia mengeluarkan rantai besarnya, mengunci dirinya sendiri,.meringkuk jauh jauh sambil memunggungi Min Min.
Guo Yun tidak bisa menggunakan ilmu Thian Ti Sen Kung membantunya menetralisir hawa yang bergolok di dalam tubuhnya.
Beberapa saat menahan rasa nyeri hebat, yang menyerang seluruh tubuhnya.
Akhirnya Guo Yun kehilangan kesadarannya, dia tidak mampu menahan diri untuk berteriak kesakitan.
"Arggggghhh....!!"
"Arggggghhh....!!"
"Arggggghhh....!!"
Guo Yun terus berteriak kesakitan dengan tubuh kejang kejang di atas tanah bergulingan kesana kemari.
Tapi karena tubuhnya terlilit rantai yang sangat kuat, Guo Yun tidak berhasil melepaskan diri.
Min Min yang pingsan, akhirnya tersadarkan oleh jeritan keras Guo Yun yang kesakitan.
Begitu sadar, melihat keadaan Guo Yun, Min Min buru buru menghampiri Guo Yun untuk melihat kondisinya.
Min Min sangat kaget melihat keadaan Guo Yun yang basah keringat seluruh tubuh dan wajahnya.
Dari tujuh lubang Indra nya, terlihat mengalirkan darah segar.
"Arggggghhh...!"
Guo Yun kembali meronta-ronta sambil berteriak kesakitan.
Min Min buru buru memeriksa keadaan Guo Yun dengan memijit dan meraba raba tubuh Guo Yun.
"Min Min...jangan dekat...pergi jauh jauh..jangan hiraukan aku.."
ucap Guo Yun pelan di tengah sedikit kesadarannya.
Dia menatap Min Min dengan tatapan mata sendu, sambil tersenyum pilu.
Melihat ekspresi wajah Guo Yun dan keadaan nya, Min Min mana tega pergi meninggalkan nya
Setelah menemukan bahwa tidak ada cara untuk menghentikan penderitaan Guo Yun.
Bila di biarkan Guo Yun pasti akan meledak dengan seluruh pembuluh darah pecah.
__ADS_1
Min Min malah sambil menggelengkan kepalanya dengan erat erat, dia maju memeluk Guo Yun erat erat dan berbisik di telinga Guo Yun dengan lembut.
"Meski aku harus mati, aku juga tidak akan biarkan terjadi sesuatu dengan Yun Ke ke.."
Setelah berkata, Min Min melepaskan pelukannya, lalu mulai melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya satu persatu.
Guo Yun yang melihat gal itu, antara sadar dan tidak, dia terus menggelengkan kepalanya dan mengigit bibirnya sendiri untuk menjaga kesadarannya.
"Min Min jangan, ku mohon..jangan seperti ini.."
"Tidak boleh Min Min.."
"Jangan perdulikan aku.."
gumam Guo Yun lemah, dengan airmata darah bercucuran membasahi wajahnya.
Min Min tersenyum pahit menatap Guo Yun.
Min Min menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku tidak bisa melihat sesuatu yang buruk terjadi pada Yun ke ke, tanpa berusaha menolong.."
"Aku mencintaimu..aku sangat sangat mencintai mu.."
"Semoga di kehidupan berikutnya aku bisa kembali menjadi istri mu.."
sambil menyelesaikan ucapan terakhir nya.
Min Min melepaskan bagian kain terakhir yang masih menempel di tubuhnya.
Setelah itu tanpa keraguan, dia kembali maju memeluk Guo Yun dan melepaskan gembok yang mengunci rantai ditubuh Guo Yun.
Begitu gembok dan rantai terlepas, Guo Yun sudah tidak bisa menahan diri untuk menerkam Min Min.
Sambil menindih dan menciumi Min Min seperti orang kesetanan, Guo Yun melepaskan pakaiannya sendiri satu persatu.
Setelah itu dengan kasar dia melakukannya dengan sekuat tenaga.
"Ahhhhhhh...!"
Terdengar jerit kesakitan Min Min menggema di seluruh gua.
Di luar sana hujan rintik rintik mulai turun, semakin lama semakin deras.
Sementara cahaya bulan sudah menghilang, tergantikan dengan cahaya kilat yang menyambar nyambar, di sertai suara gemuruh yang menggetarkan seluruh dasar jurang.
Di dalam gua sendiri hanya terdengar suara rin tih an dan de sah an,. di sertai suara deru nafas yang memburu.
Mi Min yang tertindih dibawah sana dengan sepasang mata terbuka lebar dengan tatapan mata kosong, dia terlihat pasrah sambil melingkarkan sepasang tangannya yang putih halus di belakang leher Guo Yun.
Sedangkan sepasang paha dan betisnya yang panjang dan mulus di lingkaran dengan erat di bagian bawah pan tat Guo Yun.
Dia terlihat pasrah membiarkan Guo Yun yang seperti kesetanan terus meng gen jot dirinya tanpa henti.
Tidak ada rasa kenikmatan sedikitpun yang dia rasakan, selain rasa sakit perih dan nyeri di bawah sana.
Dia merasa dirinya seperti seonggok daging tak berharga yang sedang di permainkan oleh binatang buas.
__ADS_1
Tapi dia tidak menyesal dan rela melakukan nya, sekalipun harus mati asal bisa menolong Yun ke ke dia rela.