LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KEPUTUSAN SULIT


__ADS_3

Attila tersenyum menganggukkan kepalanya tanda dia setuju, sambil berkata,


"Paman malam ini, semua lampion ini aku memborong nya semua.."


"Ini uangnya, hitunglah,.. bila kurang aku akan menambahnya.."


ucap Attila sambil melempar sebuah kantong kedalam pelukan penjual lampion itu.


Penjual itu terlihat kaget juga girang, lampionnya masih sangat banyak hampir 100 biji lebih.


Dia memang yang dagangannya sisa paling banyak, karena dia jual dengan harga agak tinggi.


Berbeda dengan lampion lampion pedagang lain yang bisa jual dengan harga miring.


Karena mereka menggunakan bahan jelek, kadang ada yang bisa terbang kadang tidak.


Maksudnya disini hanya naik beberapa meter keatas, sudah turun lagi lampionnya.


Tidak terus menuju angkasa.


Tapi kalau lampion dia meski sedikit lebih mahal tapi kualitasnya sangat teruji.


Makanya dia berani jual mahal, biasanya lampion dia ini laku para pejabat dan bangsawan.


Tapi sejak Luo Yang dan Da Liang jatuh kerajaan Yue, An Yi yang merupakan kota terdekat dengan Luo Yang, menjadi kota yang sedang terancam perang.


Kini pun Luo Yang sedang perang dengan Xiong Nu sekutu pemerintah mereka.


Jadi para pejabat dan bangsawan saat ini, semua sedang sibuk dan was was, tidak ada yang punya waktu, untuk menghadiri pesta rakyat kecil, setahun sekali ini.


Hal ini membuat barang dagangannya sulit laku terjual, dia awalnya memperkirakan paling hebat dia hanya akan jual setengahnya saja.


Tidak tahunya secara tidak terduga malah dagangan nya habis semua di borong oleh Attila.


Dari berat kantong tersebut, pedagang itu dapat memperkirakan isi kantong itu pasti tidak sedikit.


Bila kantong itu isinya uang perak, pasti sudah lebih dari cukup, tapi bila berisi uang tembaga.


Mungkin dia rugi sedikit, tapi setidaknya dia bisa pulang cepat.


pikir pedagang itu.


Tapi bagaimana pun dia tidak bisa mengatasi rasa ingin tahunya.


Tanpa bersungkan lagi, dia langsung membuka kantung itu di hadapan Attila dan Camelia


Begitu kantung terbuka cahaya kuning berkilauan langsung terlihat jelas.


Sepasang mata pedagang itu langsung membulat.


dengan gugup dia berkata,


"Tuan...ini...ini..terlalu banyak.."


"Lampion,.. saya tidak.. sebanding dengan.. jumlah ini tuan.."


ucap pedagang itu tergagap.


Attila tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, lebihnya anggap saja untuk membayar biaya cerita dan informasi paman tadi.."


"Ahhh terimakasih,.. terimakasih tuan muda,.. terimakasih banyak.."


"Kalau begitu biar saya membantu nona ini menulis harapan dan membantunya menerbangkan lampion yang cukup banyak ini.. bagaimana..?"


tanya pedagang itu menawarkan diri.


Attila menoleh kearah Camelia, menunggu jawaban gadis itu.


Seolah olah memberi kode pada pedagang itu, semua terserah pada Camelia.


Pedagang itu merespon cepat, dia segera menatap kearah Camelia dan berkata,


"Bagaimana nona..?"


"Enngggg...!"


Camelia terlihat berpikir dengan ragu.


Sejenak kemudian dia berkata,


"Aku akan menulisnya sendiri, paman bantu aku rekatkan dan terbangkan saja.."


"Baik suap nona.."


jawab pedagang itu sambil mengangguk cepat.


Dia mengerti jalan pikiran Camelia yang tidak mau tulisannya di ketahui orang lain.


Attila juga menyadari itu, di luar dia tersenyum normal, di dalam dia seperti sedang menelan buah yang super pahit.


Sebagai Tunangannya, bila Camelia menulis harapan agar mereka berdua bisa bersama dan langgeng hingga tua.


Apa yang perlu di rahasiakan, toh mereka sudah begitu dekat dan sudah sangat lama bersama.


Camelia juga sudah berjanji padanya, sepulang dari sini ke Long Cheng.


Mereka akan langsung melangsingkan pernikahan.


Tapi dengan sikap Camelia yang penuh rahasia ini, Attila sudah bisa menduga duga sendiri.


Kenapa Camelia harus bermain rahasia seperti saat ini.


Tapi tentu saja semua ini hanya ada dalam pikiran Attila, dia menelannya semua seorang diri.


Dia tidak mau merusak kegembiraan Camelia dengan pikiran picik dan sikap kurang dewasanya.


Jadi Attila berpura-pura tidak tahu pura pura turut gembira dan turut menikmati kegembiraan yang tidak rasakan oleh Camelia.


Camelia terlihat sangat serius menuliskan setiap keinginan dan harapan nya.


Dia terlihat selalu berpikir dengan serius sebelum menulisnya.


Dari gaya Camelia, Attila menebak Camelia menuliskan semua keinginannya yang berbeda beda disetiap kertas.


Hingga tersisa 5 lampion terakhir, Camelia tiba tiba menoleh kearah Attila dan berkata,


"Attila kemarilah, sisa 5 lampion, sekarang giliran mu menuliskan keinginan mu.."


Attila sambil tersenyum mengangguk, dia mengambil lima kertas itu.


Menulisnya dengan cepat, lalu menyerahkan semuanya ke Camelia dan berkata,


"Bantu aku rekatkan dan terbangkan lah.."


Camelia dengan senang hati membantu Attila merekatkan dan menerbangkan nya.


Attila jelas tahu, Camelia mencuri lihat isi tulisannya, tapi dia tidak mempermasalahkan nya


Bagi dua yang penting Camelia senang gembira bahagia, apapun boleh dia lakukan.


Attila tidak akan pernah melarangnya.


Sama seperti yang dia tulis, 5 kertas isi nya semua sama.


"Aku Attila berharap Camelia hidup sehat dan berbahagia selalu.."


Itulah isi pesan singkat Attila di ke 5 kertas pesan harapan dan keinginan nya, di setiap lampion yang di terbangkan oleh Camelia.


Selesai melepaskan semua Lampion, di mana hari mulai semakin larut.


Pedagang pedagang mulai terlihat sibuk membereskan sisa dagangan nya.


Ada yang sudah pulang, ada yang sedang bersiap siap pulang.


Jalanan mulai terlihat langgeng, sebagian besar pengunjung sudah pada pulang.


Terutama pasangan berkeluarga yang datang bersama putra putri mereka.


Mereka sudah tidak ada yang terlihat lagi.


Hanya tersisa beberapa pasangan muda yang duduk berdua, mojok di tempat yang agak sepi dan gelap.


Melihat hal itu Attila pun berkata pelan,


"Camelia,.. bagaimana bila kita pulang beristirahat..?"


"Hari sudah malam, tempat ini juga sudah mulai sepi.."


ucap Attila sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling mereka.


Camelia ikut mengedarkan pandangannya, lalu dia berkata,


"Bagaimana kalau kita makan mie di sana dulu, baru pulang..?"


"Aku belum ngantuk, masih ingin menikmati udara sejuk dan kecemerlangan cahaya bulan diatas sana."


Attila mengangguk dan berkata,


"Baiklah ayo kita kesana.."


Mereka berdua bergandengan tangan berjalan menuju sebuah pojokan.


Di mana kedai mie kecil sederhana itu terlihat sudah sepi pengunjung.


Tapi kedai mie itu kelihatan nya belum ada tanda tanda mau tutup.


Pemilik kedai itu adalah seorang kakek tua yang duduk di bangku sana sendirian sambil tidur tidur ayam.


"Kakek mie nya masih ada..?"


tanya Camelia


Kakek itu terlihat kaget dan dia buru buru menjawabnya.

__ADS_1


"Ada..ada..ada..sebentar.."


Kakek itu buru buru berdiri dari duduknya, pergi menyalakan tungku api.


Bersiap untuk mendidihkan air untuk merebus mie.


"Tolong buatkan 3 mangkuk Mie Pangsit, kuahnya di pisah ya.."


pesan Camelia dari tempat duduknya.


"Baik nona, di tunggu sebentar..mie segera siap.."


ucap kakek itu sambil tersenyum ramah.


Dari dalam pondok sederhana yang terletak persis di belakang kedai tersebut.


Terlihat seorang nenek tua berjalan keluar dari dalam pondok, di tangan nya terlihat dua membawa sebuah jubah luar.


Nenek itu membantu menyelimuti kakek tua itu dari belakang dan berkata,


"Hari sudah larut, udara diluar sini dingin sekali, kenapa tidak mengenakan jubah mu..?"


Kakek itu hanya tersenyum sambil terus tangannya bekerja, dua berkata,


"Selama ada kamu, perlu apa aku khawatir dingin, kan ada kamu yang selalu memperhatikan ku.."


Nenek itu sambil menahan senyum memukul pelan pundak suaminya.


Lalu dia ikut membantu kakek itu menyiapkan mangkuk dan berbagai macam bahan pelengkap, untuk taburan di atas mie yang sedang di masak oleh suaminya.


"Se Niang tinggalkan saja, kamu sudah lelah, pergilah tidur duluan.."


"Setelah tamu terakhir ini, aku juga akan tutup kedainya, lalu menyusul mu.."


ucap kakek itu sambil terus bekerja, tapi dia tetap memberikan perhatian ke istrinya.


"Tidak apa-apa, aku belum mengantuk.."


"Di dalam sendirian juga bosan, lebih baik membantu mu disini.."


jawab Nenek itu sambil mengiris daun bawang, lalu di sambung dengan mengiris daging panggang.


Nenek itu terlihat berkerja sambil tersenyum bahagia.


Camelia dan Attila tentu melihat semuanya.


"Attila kamu lihat, ternyata yang di namakan bahagia itu sangat sederhana.."


"Harta nama kekuasaan bukanlah patokan orang bisa hidup bahagia."


"Benar tidak..?"


Attila tersenyum dan mengangguk kecil.


menyetujui ucapan tunangannya.


"Aku sungguh iri pada mereka, tidak tahu apakah kelak kita bisa hidup bahagia bersama hingga tua seperti mereka berdua itu..?"


ucap Camelia sambil tersenyum dan sedikit termenung.


Attila menyentuh punggung tangan Camelia dengan lembut dan berkata,


"Asalkan kamu menginginkan kebahagiaan seperti itu, aku pasti akan berusaha memenuhinya."


Camelia menoleh kearah Attila dan membalas menggenggam tangan nya.


"Aku tentu menginginkannya, tidak ada yang lebih ku inginkan selain bersama mu hingga tua dan ajal ku tiba.."


ucap Camelia sambil tersenyum lembut.


Nenek itu membantu mengantar mie yang sudah siap ke meja Attila dan Camelia.


Sambil meletakkan satu persatu mie dan kuah pesanan Camelia di hadapan mereka berdua.


Nenek itu berkata pelan,


"Anak muda, untuk bisa terus bersama hingga tua.."


"Saling mencintai saja tidak akan cukup.."


"Saling mengerti, saling memahami, saling mengalah, mau menerima kekurangan pasangan mu.."


"Selalu menghargai apapun yang dia lakukan.."


"Itu barulah kunci dari suatu kebersamaan yang langgeng sampai tua.."


"Jangan cuma lihat akur dan bahagia nya.."


"Terkadang kami bila berselisih dan bertengkar tidak kalah menyeramkan dari pada pertempuran di Medan perang.."


ucap Nenek itu sambil tersenyum ramah.


Camelia menatap nenek itu dengan tatapan mata tak percaya.


"Benarkah itu nek, tapi aku lihat tidak seperti itu. ?"


Nenek itu sambil membantu menyiapkan sumpit dan sendok untuk kedua tamunya.


Dia kembali berkata,


"Jangan pernah hanya melihat luarnya, bila sudah menjalaninya, kelak kalian akan mengerti.."


"Tapi nek setelah ribut besar, bagaimana kalian bisa kembali akur..?"


tanya Camelia menatap penasaran kearah nenek di hadapannya.


Nenek itu tersenyum dan berkata,


"Kuncinya pengertian, kesabaran, mau saling mengalah, hanya itu kuncinya sangat sederhana..'


"Tapi hal ini mudah di ucapkan tidak mudah di jalankan, karena kunci itu tidak bisa cuma satu pihak saja, tapi harus dari kedua belah pihak.."


"Bila hanya salah satu pihak saja, itu seperti sedang menyimpan peledak, suatu hari saat meledak bubarlah semua nya ."


"Atau bila tidak di ledakan akan menimbulkan penyakit bagi dirinya sendiri.."


"Nah silahkan teruskan makannya, maaf nenek jadi bawel.."


"Nenek permisi dulu sebelum si tua itu marah ke nenek.."


ucap Nenek itu sambil tersenyum penuh arti ke Camelia.


Camelia hanya bisa mengangguk bingung, tidak semua kata kata dan nasehat nenek itu dia paham.


Karena dia sendiri belum pernah menjalaninya sampai kesana.


Berbeda dengan Camelia, Attila justru bisa merasakan dan memahami semua maksud dan perkataan nenek itu.


Seolah-olah sedang berbicaranya ke Camelia, tapi arah ucapan nya lebih di tujukan kedirinya.


Diam diam Attila menghela nafas di dalam hati.


Untuk menutupi apa yang ada dipikiran nya.


Attila pun berkata,


"Ayo kita makan, jangan terlalu di pikirkan saat ini.."


"Arti kehidupan itu, setelah.mengalamimya, tentu akan mengerti dengan sendirinya.."


"Tidak perlu diambil pusing, nikmati saja hidup ini, yang penting hati senang bahagia itu yang terpenting..'


ucap Attila sambil mulai menikmati mie di hadapan nya.


Camelia kembali tersenyum bahagia, lalu ikut menikmati mie di hadapannya.


Mangkuk ketiga, mereka berdua nikmati bersama sama.


Setelah selesai Attila meletakkan sekeping emas di meja.


Lalu tanpa banyak bicara, mereka berdua bergandengan tangan meninggalkan kedai sederhana, tapi sangat bermakna bagi mereka berdua.


Saat kembali ke kemah, Camelia mengikuti Attila masuk kedalam kemah Attila.


"Attila aku tidak ingin tidur sendirian, aku ingin tidur bersama mu.."


"Bolehkan..?"


ucap Camelia dengan tatapan mata penuh permohonan.


Tentu saja Attila tidak bisa menolak nya.


"Asalkan kamu nyaman dan bisa tidur dengan pulas, aku tidak masalah.."


ucap Attila sambil tersenyum lembut.


Camelia langsung tersenyum gembira, dia segera menggandeng Attila masuk kedalam kemah.


Tak lama kemudian terlihat dia memilih tidur dalam pelukan Attila, Attila sendiri tidak berani menolaknya.


Sehingga dia hanya bisa pasrah biarkan Camelia tidur pulas di dalam pelukannya.


"Attila ku mohon jangan bunuh dia..!"


"Jangan membunuhnya Attila.."


"Aku memang membencinya, juga dendam padanya, tapi aku tidak bisa memungkiri.."


"Aku masih menyimpan perasaan padanya.."


"Maafkan aku Attila, maafkan aku.."


"Maafkan aku,..aku masih mencintainya..'


Menjelang Kentungan ketiga, di tengah tengah keheningan malam.

__ADS_1


Terdengar suara Camelia yang sedang tidur pulas mengigau sendiri, tanpa dia sadari alam bawah sadarnya telah mengkhianatinya, telah membuka rahasia hatinya.


Di dalam kegelapan Attila terlihat terdiam di sana, dia hanya terus menatap Camelia yang tidur disebelahnya dengan sedih.


"Camelia siapa dia..?"


"Siapa dia yang kamu maksud..?"


tanya Attila lembut.


"Dia Guo Yun, Yun ke ke,.. ampunilah dia Attila.."


jawab Camelia tanpa sadar.


Kejadian ini bukan yang pertama, pertanyaan ini pun bukan yang pertama Attila lakukan.


Kejadian ini dan pertanyaan ini sudah terjadi berulang-ulang dengan jumlah yang tidak Attila ingat lagi.


Dia sering ingin menghindar dan menolak untuk tidur bersama adalah ini alasannya.


Dia harus selalu siap untuk menerima kenyataan buah cintanya yang sangat pahit dan getir.


Di mana kekasihnya, tunangannya, calon pendamping hidupnya, juga wanita yang paling dia cintai di dunia ini.


Ternyata hanya tubuhnya saja yang bersamanya, hatinya tetap orang milik orang lain.


Semua sikap dan ucapan nya saat sadar ternyata hanyalah sebuah kebohongan besar.


Kebohongan yang tercipta karena tidak ingin hidup sendiri tanpa sandaran dan teman.


Pada kenyataannya hubungan mereka hanya sebatas azas saling membutuhkan.


Tapi bodohnya dia, setelah tahu dia masih terus memilih bertahan.


Dia lebih memilih hidup dalam kebohongan agar bisa terus berada di sisinya.


Attila yang ada dalam kesedihannya dalam diam, dia dengan gerakan ringan dan hati hati meninggalkan kemahnya.


Seorang diri dia terus berlari dan berlari mengusir bayangan dirinya yang lain, yang sedang menertawai kebodohannya.


Dibawah penerangan rembulan yang bersinar cemerlang, menyinari sebuah Padang rumput stepa yang luas.


Attila secara tidak sengaja menemukan lampion lampion yang kehabisan minyak dan sumbu lampu, sehingga terjatuh dan tergeletak di tempat ini.


Attila melangkah mendekatinya, dia membungkuk mengambil lampion lampion itu memperhatikan nya dengan lebih teliti.


Attila mengenali, itu adalah Lampion yang di lepaskan oleh Camelia tunangannya.


Dengan hati hati dan penuh penasaran, meski hati kecilnya sudah menebaknya.


Attila tetap membuka kertas kecil yang di rekatkan di bagian bawah lampion.


Membaca tulisan diatas kertas, yang dia tahu memang tulisan dari tunangannya.


Attila langsung memejamkan kedua matanya sambil menengadah keangkasa, mencegah air bening runtuh dari matanya.


Sesaat setelah perasaannya lebih tenang, dengan penasaran, Attila mengumpulkan kertas kertas yang menempel pada lampion yang banyak berserakan di sana.


Tentu saja, tak jarang Attila menemukan surat keinginan orang lain, lampion orang lain yang bercampur di sana.


Tapi karena Lampion Camelia yang paling banyak di lepaskan, tentu saja sebagian besar lampion yang berserakan di tempat itu, sebagian besar adalah miliknya.


Setelah berhasil mengumpulkan hampir 50 kertas keinginan milik Camelia.


Attila duduk di sana seorang diri, dengan perasaan hampa dan hancur, dia membaca satu persatu harapan dan keinginan Camelia yang berbeda-beda.


Tapi pada intinya semua tertuju pada Guo Yun, dia menuliskan semua harapan dan keinginan nya terhadap Guo Yun.


Intinya dia berharap Guo Yun masih hidup dan bisa datang menemui dan meminta maaf pada nya.


Setelah membaca semuanya hingga selesai, Attila menyimpan kertas kertas tersebut kedalam saku bajunya.


Sambil tersenyum sedih dan terlihat sangat tertekan, secara tiba tiba dia berteriak keras, sambil menengadah keangkasa.


"Arggggghhh...!!!"


Dia ingin melepaskan segala beban kesedihan dan kekecewaan yang menghimpit dirinya.


Setelah merasa jauh lebih lega, dan menghapus air bening yang mengembang di kedua matanya.


Attila baru melesat kembali ke perkemahan nya.


Tiba di depan kemah, Attila memberi kode kearah pengawal yang berjaga, di depan kemahnya agar tidak berisik.


Lalu dengan langkah ringan dan hati hati, Attila kembali berbaring di samping Camelia.


Attila menatap wajah kekasihnya yang terlihat sangat mempesona, meski dalam keadaan tidur sekalipun.


Attila bergumam di dalam hati,


"Aku yang telah berpikir berlebih, mengira kita punya keinginan yang sama, perasaan yang sama, sama sama menemukan cinta sejati kita.."


"Aku bahkan mengira, bisa menggantikan posisi nya di hati mu.."


"Tapi ternyata aku salah, aku justru harus terima kenyataan, aku hanya berulang kali menghancurkan hati perasaan dan asa ku saja.."


"Jelas jelas sudah tahu hati mu bukan milik ku, tapi aku masih terus memilih untuk bertahan.."


"Tidak seharusnya aku terus menerus mencintai mu dengan cara yang salah ini.."


"Sudah tiba waktunya bagi ku, untuk melepaskan diri dari belenggu cinta ini.."


"Agar bisa mengembalikan diri ku kembali.."


"Mungkin kita memang berjodoh untuk bertemu, tapi tidak di takdir kan untuk bersama..'


"Kamu tenang saja, segera setelah kita kembali ke Long Cheng, aku akan kembalikan semua impian keinginan dan harapan mu itu.."


"Aku tidak akan menjadi beban perasaan bersalah mu lagi.."


"Selamat tinggal Camelia, aku hanya bisa gunakan doa terdalam ku.."


"Semoga kamu bahagia.."


Attila menghela nafas sedih, lalu dia ikut memejamkan matanya dalam diam.


Hingga tanpa di sadari sinar mentari pagi mulai menembus kedalam kemah.


Camelia sudah bangun duluan, dia sedang menatap kearah wajah Attila yang tampan dengan penuh perhatian.


Akhirnya dia tersenyum manis dan berkata di dalam hati,


"Maafkan aku, maafkan aku Attila.."


"Tapi aku berjanji, mulai hari ini, detik ini dan selanjutnya hingga selamanya.."


"Aku hanya akan mencintai mu menyayangi seorang, tidak akan ada lagi dia..'


"Aku akan menghapusnya dari hati ku, hanya akan ada kamu di hati ku.."


"Dan aku bersumpah untuk itu, semoga belum terlambat.."


"Berilah aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusan ku ini.."


Lalu Camelia mengulurkan tangannya dengan lembut membelai wajah Attila.


Sebelum dia merapatkan dirinya, memberikan ciuman lembut pada bibir Attila.


Sesaat Attila secara reflek membalasnya, dia terlihat sangat menikmati nya.


Hingga akhirnya dia tersadar dari godaan buaian lembut Camelia.


Dengan hati hati dan lembut, Attila melepaskan ciuman yang sangat menggoda itu.


Attila berpikir hampir saja dirinya akan kembali terjatuh dalam pusaran cinta Camelia yang tidak ada ujung dan pangkalnya.


Sangat dalam, hanya membuat dia terombang-ambing tanpa arah tujuan dan juga pegangan.


Attila setelah sadar sepenuhnya, akan hal yang sudah di putuskan nya.


Attila memindahkan ciuman nya ke kening, lalu berpindah ke sisi telinga Camelia dan berbisik lembut.


"Camelia kita harus bersiap-siap, akan memalukan bila kita terlambat hadir di antara mereka.."


"Hari ini kita akan memimpin mereka semua kembali ke Long Cheng.."


Camelia sambil sedikit cemberutkan bibirnya berkata, dengan manja,


"Attila tidak bisakah kamu memberi kita kesempatan, untuk menikmati momen indah yang jarang ada ini .?"


"Sebentar saja, tidak akan butuh waktu lama.."


ucap Camelia sambil melingkarkan sepasang tangannya di belakang leher Attila.


Wajah mereka berdua begitu dekat, begitu pula tubuh mereka yang menempel jadi satu.


Hingga Attila bisa merasakan hembusan hangat nafas Camelia, juga detak jantung Camelia yang terdengar begitu cepat dan keras, terdengar dengan sangat jelas olehnya.


Attila sendiri jantung nya juga ikut berdegup dengan kencang, wajahnya sudah merah padam,.menahan geloranya yang mengebu gebu.


Tapi Attila tetap Attila tidak percuma dia menjadi murid Wu Ming Lau Jen.


Dia akhirnya berhasil menekan dan mengendalikan ego nya, dia berhasil menahan godaan Camelia, yang menurutnya akan menyeretnya kedalam pusaran tak berdasar.


Attila dengan lembut melepaskan tangan Camelia yang melingkar di belakang lehernya.


Dia menatap Camelia dengan serius dan berkata,


"Camelia untuk sekali ini dengarkan lah aku, kita tidak boleh bermain main lagi ."


"Kita harus segera bersiap untuk berangkat, tidak boleh menundanya lagi.."


"Ini semua demi kebaikan mu.. bukankah kamu juga harus pergi menyembahyangi makam ayah mu, yang peringatan hari kematian tinggal beberapa hari lagi..?"


ucap Attila berusaha mengalihkan perhatian Camelia ke tugas dan tanggung jawab nyatanya.

__ADS_1


Agar dia mau menurut, tidak tersinggung oleh penolakan nya.


__ADS_2