
Wang Jian juga tidak bodoh, dia tahu Guo Yun menyimpan sesuatu darinya.
Tapi sebagai saudara tua, dia tidak ingin memaksa.
Bila Guo Yun tidak ingin bercerita, itu berarti Guo Yun punya alasan kuat dan pertimbangan nya sendiri.
Dia lebih memilih percaya pada adik angkatnya ini, daripada memaksa tahu.
Wang Jian menoleh kearah ajudannya dan berkata,
"Urus mayat mereka dengan baik.."
"Siap jendral,..!"
ucap ajudan Wang Jian cepat.
"Ayo adik Yun kita kembali ke markas.."
Seluruh pasukan Wang Jian pun bergerak kembali ke markas militer mereka.
Pasukan Harimau Hitam tidak ikut serta, hanya ketiga pimpinan nya saja yang hadir di lokasi.
Wang Jian menyarankan agar pasukan yang bukan merupakan pasukan negara Qin, jangan bergerak sembarangan di dalam Wilayah negara Qin.
Untuk mengurangi dampak yang tidak perlu.
Zhang Yi bisa menerima masukan Wang Jian, demi kebaikan posisi mereka.
Jadi dia menyerahkan proses pengawasan pasukan Harimau Hitam, kepada ajudannya.
Dia hanya membawa Ling Tong dan Zhou Tai menyertai nya ke lokasi.
Tiba di depan kemahnya, Guo Yun memberikan sebuah salinan kitab tipis tulisan tangan nya sendiri kepada Zhou Tai dan berkata,
"Kakak Zhou aku menyederhanakan 10 gerakan bertahan dan menyerang dengan tombak."
"Harap kakak Zhou bisa dalami, kemudian ajarkan kepada seluruh pasukan tombak kita.."
"Ini akan meningkatkan kualitas tempur mereka.."
"Buat kakak Zhang dan kak Ling, ilmu di buku ini kurang bermanfaat."
"Tapi bila ingin melihat lihat boleh saja, setidaknya bisa menganalisa titik lemah musuh, yang bersenjata tombak, bila suatu hari berhadapan di Medan tempur itu akan berguna.."
ucap Guo Yun sambil menatap Ling Tong dan Zhang Yi secara bergantian.
Ling Tong bersenjatakan sepasang pedang, meski Guo Yun tidak menguasai jurus seperti itu, tapi dia masih tahu sedikit dasar dasarnya.
Yang sulit justru Zhang Yi, karena Zhang Yi menggunakan cambuk berduri sebagai senjatanya.
Ini sangat unik, Guo Yun tidak terlalu paham dengan ilmu itu.
Dia hanya tahu, untuk mengalahkan ilmu itu, paling baik adalah memaksanya bertempur dalam jarak dekat.
Mematikan perkembangan permainan cambuknya.
Bisa menggunakan tapak tangan kosong, atau menggunakan sepasang belati pendek.
Intinya adalah harus memiliki kecepatan tinggi, sehingga bisa terus menempel ketat.
Kemanapun Zhang Yi pergi, akan terus ditempel dan di desak, hanya dengan cara inilah ilmu unik Zhang Yi bisa di patahkan.
Zhou Tai menerimanya sambil menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Terimakasih tuan muda Yun, aku akan segera laksanakan dengan baik."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
__ADS_1
"Dalam waktu dekat ini, kalian harus terus tingkatkan volume latihan pasukan kita.."
"Terutama ilmu latihan pernafasan itu, itu tidak boleh berhenti, Pagi siang malam mereka harus terus berlatih."
ucap Guo Yun berpesan.
Ketiga orang itu menganggukkan kepala dengan patuh, menanggapi pesan dari Guo Yun.
"Baiklah, masih ada hal lain yang ingin disampaikan ?"
tanya Guo Yun sambil menatap mereka bertiga.
Mereka bertiga dengan kompak menggelengkan kepalanya.
"Baiklah bila tidak ada, kakak sekalian boleh kembali ketempat masing-masing."
"Aku juga mau kedalam dulu.."
ucap Guo Yun singkat.
Lalu dia membalikkan badannya, melangkah masuk kedalam kemahnya.
Masuk kedalam kemah, Guo Yun melihat Gongsun Li duduk di dalam sana.
Dia terlihat sedang menantinya sambil tersenyum, di hadapannya terlihat beberapa masakan sederhana tersaji di atas meja.
"Adik Yun kamu baik baik saja kan ?"
"Makanannya sudah agak dingin, aku bawa pergi hangatkan ya..?"
Guo Yun menggelengkan kepalanya, dia berjalan menghampiri Gongsun Li.
Tanpa memperdulikan reaksi Gongsun Li, Guo Yun langsung memeluknya dari belakang dengan erat dan berkata,
"Asalkan ada kamu di sisiku, semua sudah terasa hangat, tak perlu repot-repot pergi menghangatkan nya lagi."
Gongsun Li wajahnya langsung merah padam, menghadapi sikap mesra Guo Yun.
Sambil meronta kecil dan melepaskan tangan Guo Yun, yang melingkar di perutnya.
Gongsun Li berkata,
"Adik Yun jangan seperti ini, malu bila ada orang tiba-tiba masuk.."
"Ingat lah posisi ku kini adalah prajurit pelayan kecil mu, aku sedang nyamar jadi seorang pria."
"Apa tanggapan bawahan mu nanti, bila melihat hal ini..?"
Setelah melepaskan tangan Guo Yun, Gongsun Li membalikkan badannya menghadap kearah Guo Yun.
Melihat sinar mata kecewa dari Guo Yun, Gongsun Li berkata,
"Bersabarlah,..menurut lah,.. aku sudah memutuskan memilih mu.."
"Percayalah cepat lambat aku pasti adalah milik mu,.."
ucap Gongsun Li sambil berjinjit, dia menarik leher Guo Yun sedikit menunduk kebawah
Lalu dia mendaratkan ciuman lembut di kening Guo Yun.
Setelah itu dia pun mundur menjauh dan berkata,
"Ayo kita makan sama-sama.."
Guo Yun mengangguk cepat sambil tersenyum gembira, dia segera mengambil tempat duduk di hadapan Gongsun Li.
Agar dia bisa memandang wajah gadis pujaan hatinya itu dengan puas.
__ADS_1
Gongsun Li tahu apa yang sedang di lakukan oleh Guo Yun, meski dia sedang dalam posisi mengambilkan nasi mengisi mangkuk Guo Yun.
Sambil menahan senyum dia berkata,
"Adik Yun, kalau kamu terus gak berkedip, awas nyamuk nanti nyasar kesana.."
Guo Yun sambil tersenyum berkata,
"Tidak takut, kan ada kakak yang bisa membantu ku meniupnya keluar."
Gongsun Li sambil tersenyum simpul berkata,
"Dasar,..gombal, ucapan nya gak ada yang benar.."
"Ayo makan,.. cobaan ini telur asin tahu daging cincangnya.."
"Dan ini sup ayam baso dagingnya.."
"Gimana ?"
"Ummm,..! enak luar biasa, sama seperti yang masaknya.."
ucap Guo Yun sambil mengangkat jempolnya.
Gongsun Li tertawa kecil, dia menutupi mulutnya dengan punggung tangannya, lalu berkata,
"Tapi ini masakan kakak ku, aku cuma memanaskannya saja..'
Guo Yun sambil makan berkata,
"Ya sudah,.. besok aku minta kepada pangeran Ji Ao, agar menukar istrinya kemari.."
"Aduhhhh,..! Aduhhh,..! ampun kak..!"
Dengan wajah cemberut, Gongsun Li langsung menarik telinga Guo Yun dan berkata,
"Masih bilang mau bersetia dengan ku seumur hidup, belum belum sudah mikir ingin makan rumput tetangga.."
"Dasar pagar makan tanaman rasakan ini.."
"Aduhh,..! Aduhhhh,..! ampun kak,..aku cuma bercanda..'
"Aku mana mungkin berani mendua, biar di kasih makan nyali macan hitam pun, aku tidak bakalan berani.."
ucap Guo Yun sambil mengelus-elus kupingnya yang terasa panas.
"Aku tebak kamu juga tidak bakalan berani.."
ucap Gongsun Li sambil menambahkan lauk paha ayam rebus ke mangkuk Guo Yun.
Setelah itu dia kembali berkata,
"Ya sudah cepat makan, cepat pergi bersihkan diri, agar bisa cepat istirahat.."
Guo Yun sambil tersenyum nakal berkata,
"Asyik di temani kakak tidurnya.."
Gongsun Li sambil menahan senyum berkata,
"Mimpi aja sana, aku sudah atur, kamu tidur di sebelah sana.."
"Aku di sebelah sini.."
"Ya sudah dalam mimpi juga gak apa-apa, di sana pasti lebih bebas dan seru.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum nakal.
__ADS_1