
"Bagaimana keadaan pasukan kita perdana menteri..?"
ucap Meng Yu, setelah berdiri berhadapan dengan Li Si.
"Kurang baik, kini prajurit kita hanya tersisa 100.000 yang dalam keadaan normal.."
"Sisanya tidak kurang dari 100.000 terluka, 100.000 lainnya gugur di tangan wanita itu.."
ucap Li Si pelan.
Meng Yu menatap kearah Li Si dan berkata,
"Perdana menteri, kalau begitu tempat ini tidak bisa untuk di tinggali lama.."
"Kita harus segera lanjutkan perjalanan, jangan sampai tersusul oleh pasukan harimau hitam.."
"Saudara Meng, kamu mengapa begitu ketakutan ?"
tanya Li Si heran.
Meng Yu menatap Li Si dengan serius dan berkata,
"Perdana menteri, kekuatan mereka tidak cuma segini.."
"Di belakang mereka, aku rasa masih ada sekitar 150.000 pasukan yang belum tiba.."
"Dengan kondisi pasukan kita seperti ini, bila mereka tiba kita bisa celaka.."
ucap Meng Yu serius.
Li Si tersenyum tenang dan berkata,
"Baiklah mari kita tinggalkan tempat ini.."
Setelah itu dia pun memberi perintah kepada beberapa Jendral bawahan nya.
Agar bersiap siap meninggalkan tempat tersebut.
Meng Yu didalam hati mengutuk kesombongan Li Si, yang terlalu percaya diri dengan kemenangan nya atas Gongsun Li.
"Dasar tua Bangka, kamu boleh sombong sebelum bertemu peti.mati.."
"Bila bertemu, menyesal pun tiada guna."
"Aku mau lihat kamu bisa apa ? bila benar benar ketemu mereka,. dengan pasukan yang cuma begini.."
Keluh Meng Yu di dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, rombongan itu, di bawah pimpinan Perdana menteri Li Si, segera bergerak meninggalkan mulut lembah merak api.
Gongsun Li terlihat di tempatkan di sebuah kerangkeng besi dengan kaki tangan terikat.
Kerangkeng besi itu, di.letakkan diatas sebuah kereta, yang di tarik oleh seekor kuda.
Meng Yu sendiri yang mengawal kerangkeng yang mengurung Gongsun Li seperti seekor hewan buas yang tertangkap.
Saat rombongan pasukan Qin yang di pimpin oleh Li Si tiba di tepi sungai Han sebelah barat.
Di mana tinggal selangkah lagi, bila mereka sudah menyeberangi sungai luas yang tertutup kabut itu.
Mereka sudah aman karena sudah memasuki wilayah kekuasaan Qin.
__ADS_1
Tapi Li Si terpaksa menghentikan pergerakan pasukan nya, karena di tepi sungai tersebut.
Dia sudah di hadang oleh barisan pasukan harimau hitam yang berbaris rapi di sana.
Meng Yu yang merasa heran dengan pergerakan barisan depan yang berhenti tiba tiba.
Dia segera berkata kepada 3 komandan yang bertugas menjaga barisan belakang pasukan.
"Kalian bertiga awasi tahanan, aku mau lihat kedepan sebentar.."
ucap Meng Yu tegas.
"Siap Jenderal.."
jawab ketiga komandan itu cepat.
Meng Yu dengan terburu-buru memacu kudanya berlari kearah barisan depan.
Saat tiba di sebelah Li Si, dengan mengikuti arah pandang Li Si.
Tanpa perlu bertanya Meng Yu juga paham, apa yang membuat Li Si menahan pergerakan pasukan mereka.
Meng Yu di dalam hati merasa cemas, tapi di saat bersamaan dia juga ingin menertawakan kesombongan Li Si.
"Manusia sombong, sekarang rasakan, aku mau lihat kamu bisa apa..?"
Gumam Meng Yu dalam hati.
"Perdana menteri kelihatannya kita akan menghadapi pertempuran berat.."
"Tapi bagaimana pun kita tidak boleh kehilangan tawanan penting itu.."
"Bagaimana pun caranya, aku harus bisa membawanya ke Xian Yang, untuk di serahkan ke Yang Mulia.."
"Itulah misi ku.."
ucap Meng Yu serius.
Sebagai orang cerdas Li Si langsung bisa menangkap maksud ucapan dari Meng Yu.
Dengan senyum tawar, dia berkata,
"Jendral Meng dari awal memang tidak bertanggung jawab terhadap ku.."
"Silahkan saja,.. apapun yang menurut Jendral Meng baik, lakukan saja, yang tua ini tidak punya pendapat.."
Ucap Perdana menteri memberikan sindiran hambar.
"Terimakasih atas pengertian perdana menteri, disini Meng Yu sekali lagi minta maaf.."
"Sampai ketemu lagi di ibukota.."
Ucap Meng Yu cepat sambil memberi hormat.
Setelah itu dia segera memacu kudanya meninggalkan tempat itu kembali ke barisan belakang.
Begitu tiba di barisan belakang, Meng Yu pun berkata,
"Kalian bertiga siapa yang akan ikut dengan ku mengawal tahanan ini kembali ke ibukota. ?"
"Kita akan ambil jalan terpisah dari pasukan utama.."
__ADS_1
Ketiga komandan itu saling pandang sejenak, mereka kemudian berkata,
"Maaf Jendral Meng, kami akan tetap di sini mengikuti perdana menteri.."
"Jendral Meng bisa bawa 30 prajurit kami ikut dengan Jendral Meng menjalankan misi."
Jawab salah satu dari 3 komandan itu, mewakili kedua temannya mengambil keputusan.
Meng Yu tidak berkata apa-apa, dia mengangguk cepat.
Lalu dia segera bergerak memimpin 30 prajurit mengawal kereta kuda yang membawa Gongsun Li meninggalkan tempat tersebut.
Meng Yu mengambil jalan memutar melewati jalan kecil, meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam hati dia menertawai kebodohan membuta ketiga komandan yang menggali lubang kuburnya sendiri.
"Di beri jalan surga tidak mau malah memilih jalan menuju neraka jahanam, silahkan nikmati saja, dasar dungu.."
Ucap Meng Yu di dalam hati.
Gongsun Li di dalam kerangkeng tidak berkata apa-apa, dia hanya memandang dengan tatapan mata menghina kearah Meng Yu, yang dianggapnya pengecut.
Itulah Gongsun Li, dia tidak pernah paham, yang namanya strategi perang.
Dalam perang segala tindakan di halalkan, yang penting tujuan akhir kemenangan.
Bila situasi di balik, Li Si berada di posisi Meng Yu, bukanlah hal mustahil Li Si akan mengambil keputusan yang sama.
Dengan cara ini, bila berhasil Meng Yu akan dianggap pahlawan oleh Ying Zheng.
Tapi bila dia bertahan mati matian membantu Li Si, mempertaruhkan nyawa nya.
Taruhlah mereka berhasil mengalahkan pasukan harimau hitam dan menangkap beberapa pemimpin utama pasukan itu.
Semua jasanya, akan jadi milik Li Si, sedangkan dirinya sebagai seorang jendral yang kalah perang..
Kehilangan sebagian besar pasukannya.
Paling hebat dia harus mengharapkan Li Si bantu berbicara di depan Ying Zheng, memohon pengampunan untuk nya..
Bila tidak bersiap siap lah dirinya menerima hukuman konyol, setelah berjuang bertaruh nyawa.
Hal seperti ini di pikir dari sisi manapun tidak ada untungnya, siapa yang Sudi melakukan pekerjaan bodoh itu.
Meng Yu sebentar saja sudah menghilang kedalam hutan Pinus, bersama rombongan kecilnya.
Sementara itu di barisan depan sana, Li Si setelah melakukan pengamatan sejenak kearah tepi sungai dan kearah sungai yang tertutup kabut halimun tebal.
Li Si sambil tersenyum dingin, melepaskan sebuah tabung kembang api melesat keudara.
"Suiiitttt..!"
Kembang api meluncur cepat ke udara, dan meledak di atas sana.
"Pyaaarrr..!"
Cahaya warna warni bermekaran di udara.
Begitu kembang api di lepaskan ke arah udara.
Dari balik kabut tebal, terdengar suara letusan berulang ulang, di sertai api yang berpijar.
__ADS_1