
Kedua anak muda itu, dengan sikap tenang memimpin pasukan mereka maju mendekati pasukan harimau hitam.
Kedua anak muda itu baru memberi kode berhenti ke pasukan yang mengikuti di belakang mereka.
Saat mereka berdua berhadapan sekitar 2 tombak dari hadapan Guo Yun.
Melihat pancaran aura dan tatapan sepasang mata kedua anak muda itu.
Guo Yun menebak kedua anak muda ini, kemungkinan besar berada di ranah dewa abadi tingkat menengah.
Kurang lebih sama dengan dirinya saat ini.
Melihat kehadiran mereka di antara pasukan Qin, Guo Yun jadi mengerti mengapa Ying Zheng bisa terusir dari Xian Yang.
Guo Yun memberi kode agar keempat jendral nya membawa pasukannya bergerak.mundur menjauh.
Jendral Wen, Nan, Liu, Sun, masing masing segera memimpin pasukan nya, bergerak mundur menjauh dari lokasi Guo Yun, yang sedang berhadap hadapan dengan kedua anak muda itu.
Setelah saling bertatapan sejenak, saling mengukur kemampuan masing masing.
Tiba-tiba mereka bertiga dengan gerakan kompak terbang meninggalkan punggung tunggangan mereka masing masing.
Lai Hu saat melayang di udara, dia tidak berhenti menyerap kekuatan Inti sari bumi.
Di mana terlihat dari atas tanah energi cahaya merah hitam terus naik keatas.
Terhisap kedalam tubuh Lao Hu, yang terlihat sedang mengambang di udara.
Sedangkan di sisi lain Lao Lung yang juga sedang melayang di udara.
Dia juga terlihat terus menerus menghisap hawa inti sari langit, masuk kedalam tubuhnya.
Hawa biru putih terlihat melayang turun dari angkasa masuk kedalam tubuh mereka.
Di sisi lain melihat yang sedang di lakukan oleh lawan nya.
Guo Yun yang terlihat tidak berhenti menyerap hawa inti sari langit dan bumi masuk kedalam tubuhnya.
Dia sedikit di buat kaget, cara kedua orang itu dalam menyerap hawa inti sari langit dan bumi sangat mirip dengan nya.
Hanya saja, dia satu orang menahan dua hawa kekuatan.
Sedangkan lawannya, satu orang menguasai satu hawa.
Tapi dengan mereka bergabung, hasilnya sama saja, bahkan ada kemungkinan jauh lebih kuat darinya.
Karena mereka jelas memilki daya tampung energi maksimal jauh lebih besar dari dirinya.
Tapi Guo Yun tidak gentar, dia siap menghadapi kemungkinan terburuk apapun.
Setelah masing masing dari mereka bertiga merasa cukup.
Mereka mulai saling serang di udara.
Cahaya bola matahari dan rembulan silih berganti terlontar kearah Guo Yun dan kedua pemuda itu secara bergantian.
Guo Yun kembali di kagetkan dengan kemampuan kedua lawannya menghindar.
Ilmu meringankan tubuh mereka yang bisa muncul menghilang bagaikan kilat menyambar.
Sangat mirip dengan ilmu Wu Ying Ru Tian yang di kuasai nya.
Guo Yun mulai menduga kedua anak muda ini ada hubungannya dengan Mu Rong Fuk lawannya sebelum ini.
Bukan. hanya Guo Yun, kedua anak muda itu juga heran dan kagum dengan kemampuan Guo Yun yang mirip dengan mereka.
"Kamu dari lembah hantu..!?'
bentak Lao Lung kaget, bercampur marah juga gembira.
Karena dia teringat cerita gurunya, bahwa kitab pusaka rahasia tertinggi perguruan mereka.
Pernah di pinjam kemudian tidak di kembalikan lagi oleh perdana menteri Yi Yin dari dinasti Tsang.
Kemudian keturunan Yi Yun menyimpan pusaka mereka di lembah hantu.
Guo Yun mengangguk tidak membantah dan berkata,
"Kalian dari Istana Naga gurun pasir kan..?!"
"Mu Rong Fuk apa hubungannya dengan kalian..?!"
tanya Guo Yun sambil bergerak menghindar dan membalas serangan.
"Wuttt..! Wuttt..! Wuttt..! "
"Wuttt..! Wuttt..! Wuttt..! "
"Blaaaarrr..!" Blaaaarrr..!"
Blaaaarrr..!" Blaaaarrr..!"
"Bagus kita bertemu di sini, tak payah kita mencari mu kemana mana."
ucap Lao Hu sambil tersenyum sinis.
Meski mereka tidak menjawab hubungan mereka dengan Mu Rong Fuk.
Tapi Guo Yun yakin mereka pasti memilki hubungan erat.
Masing masing sambil berbicara, tidak ada yang mengendorkan serangan.
Malah semakin lama semakin dahsyat dan cepat pergerakan mereka.
Tubuh mereka berubah menjadi tiga bayangan yang muncul menghilang.
Dengan cahaya merah biru berseliweran di udara.
Pada satu kesempatan, Lao Hu berubah menjadi 4 bayangan mengepung dari sisi kanan.
Sedangkan Lao Lung bergerak dari sisi kiri, juga membelah diri menjadi 4 mengepung pergerakan Guo Yun.
Terkepung tanpa jalan maju ataupun mundur, Guo Yun terpaksa menyambut serangan dari Lao Hu dan Lao Lung keras lawan keras.
"Roboh...!"
Bentak kedua pemuda itu dengan suara perintah magis tak terbantahkan.
Di iringi dengan serangan tapak rembulan dan matahari dari kiri kanan.
"Plakkkk..!"
Plakkkk..!"
Tubuh Guo Yun gemetaran hebat, melayang turun diatas tanah.
Guo Yun merasa tubuhnya tiba tiba lemas tidak mau menuruti keinginan nya.
Guo Yun segera teringat dengan ilmu yang juga pernah di tunjukkan oleh Mu Rong Fuk tersebut
Guo Yun langsung mengganti Thian Ti Sen Kung menjadi, Shi Chi Hua Ming.
"Arggghh..!"
Teriak Lao Hu dan Lao Lung hampir berbarengan dengan kaget.
Mereka berdua merasa semua pukulan mereka di sedot oleh pasir hisap hingga tidak berbekas.
Tenaga mereka menerobos keluar dari tubuh mereka masing masing secara tak terkendali.
Tapi hanya sesaat saja karena mereka berdua dengan cepat menotok beberapa Meridian di lengan kanan kiri Guo Yun.
Menggunakan tenaga totokan tanpa harus bersentuhan.
Totokkan tersebut seketika membuat daya hisap berhenti.
Mereka bisa melompat mundur menjauh, menyelamatkan diri dari ilmu berbahaya Guo Yun.
Mereka kini mengganti pola serangan mereka menggunakan energi jarak jauh menyerang titik nadi, titik jalan darah di tubuh Guo Yun dari jarak jauh.
Dengan cara ini, mereka bisa tetap menyerang tanpa harus berbenturan dan terjadi kontak fisik dengan Guo Yun yang memilki daya hisap.
Dengan cara ini, mereka berhasil menekan Guo Yun, tapi untuk mengalahkan Guo Yun itu masih jauh dari cukup.
Serangan mereka dari jarak jauh, pun bisa di serap Guo Yun, untuk di retur kembali dengan serangan yang jauh lebih dahsyat.
Melihat serangan mereka masih jauh dari hasil yang di harapkan.
Mereka mulai mengeluarkan bentakan suara yang memilki kekuatan magis pengendali pikiran.
"Kamu sudah lelah, lutut mu sudah tidak kuat, menyerahlah..!"
"Kamu sudah mengantuk, pejamkan mata mu, tidurlah..!"
ucap Lao Hu dan Lao Lung bergantian.
Dan ini terlihat cukup efektif, Guo Yun beberapa kali terlihat terhuyung-huyung tubuhnya.
__ADS_1
Tubuhnya terlihat limbung, seperti orang tidak kuat berdiri.
Sepasang matanya juga terasa berat ingin menutup saja, tidak kuat untuk di buka.
Melihat keadaan itu, tanpa melepaskan kesempatan.
"Wuuuttt..!"
"Rooaaarrrrrrr..!"
kedua pemuda itu bergerak dengan cakar mereka, yang membawa gulungan pasir, membentuk moncong Naga pasir, bergerak menerjang kearah Guo Yun.
"Breeet...!"
"Breet..!"
Baju di dada Guo Yun robek besar, terkena cakar maut dari kedua pemuda itu.
Untungnya daging kulitnya Guo Yun terlindungi oleh Thian Ti Sen Kung.
Sehingga dia tidak mengalami cedera serius, hanya mengalami baju seragam perang bagian pelindung dada robek dan sedikit luka gores saja.
Tapi serangan tidak cukup sampai disana.
Kedua pemuda itu secara bergantian terus membentaknya untuk roboh.
Untuk kehilangan kemampuan perlawanan, disaat itu pula mereka bergerak cepat memberikan serangan mematikan.
Dengan setengah sadar, Guo Yun menggerakkan sepasang kakinya mengikuti ilmu langkah ajaibnya.
Menghindari serangan yang datang mengancam dirinya.
Sambil bergerak Guo Yun berputar otak memikirkan cara mengatasi ilmu gaib kedua pemuda itu.
Setelah beberapa waktu berlalu, Guo Yun dengan gerakan cepat sambil menghindar.
Dia menotok dua titik di belakang telinga nya, untuk menulikan pendengarannya.
Agar tidak terpengaruh oleh suara suara kedua pemuda itu yang mengandung hawa magis.
Begitu keadaan mulai terkontrol, tanpa membuang waktu Guo Yun kini mengeluarkan sepasang pedangnya.
Mulai memainkan ilmu pedang matahari rembulan.
Pergerakan pedangnya sebentar lembut sebentar keras,sebentar dingin sebentar panas.
Dengan berbagai gerak tipu perubahan yang sangat cepat membuat kedua pemuda itu seketika terkepung oleh tarian pedangnya.
Kedua pemuda itu menyadari bahaya, ilmu bentakan kekuatan magis mereka juga tidak berfungsi lagi.
Mereka masing masing segera mengeluarkan senjata mereka di tangan.
Lao Lung menggunakan senjata cambuk bergerigi yang di putar putar untuk menyerang Guo Yun dari jarak jauh.
Sedangkan Lao Hu menggunakan sepasang sarung tangan yang terbuat dari baja putih, dengan bagian ujung jari runcing dan tajam mirip cakar harimau.
Dengan sepasang cakar itu dia meladeni serangan pedang Guo Yun yang banyak perubahan dan sangat cepat.
Sedangkan Lau Lung dari jarak jauh ujung cambuknya yang runcing dan bergerigi.
Mematuk matuk cepat, mengincar titik titik berbahaya di tubuh Guo Yun.
Seperti ubun ubun leher jantung ulu hati, pergelangan tangan hingga pergelangan kaki.
Semua titik yang diincarnya adalah titik nadi, apabila terkena dan terluka.
Guo Yun akan mati kehabisan darah oleh lukanya.
Perpaduan unik itu membuat mereka mampu mengimbangi keunikan pergerakan sepasang pedang Guo Yun.
Setelah beberapa saat berlalu, terlihat Lao Hu semakin keteter oleh serangan pedang Guo Yun.
Dua dari sepuluh kuku bajanya, ada yang sudah terpapas putus oleh pedang di tangan Guo Yun.
Sedangkan pada tubuh Lao Hu juga terdapat beberapa luka gores di sana sini.
Lao Lung yang cukup aman, dia beberapa kali di hadapi dengan tebasan pedang sapu jagad.
Tapi sejauh ini dia masih selalu berhasil menghindari serangan yang kuat dan ganas itu.
Melihat keadaan Lao Hu sangat terdesak, Lao Lung pun mulai membaca mantra.
Sambil menggencarkan serangannya.
Saat sepasang matanya bersinar terang, tiba tiba dia berubah menjadi 10 orang.
Mengikuti yang di lakukan oleh Lao Lung, setelah berhasil keluar dari desakan Guo Yun.
Lao Hu juga mulai berkomat Kamit membaca mantra, selagi Guo Yun sedang sibuk menghadapi cecaran cambuk dari 10 penjuru.
Tiba-tiba sepasang mata Lao Hu pun ikut bersinar.
Dia juga membelah diri menjadi sepuluh orang, mereka mulai bergerak menyerang bagian perut kebawah.
Sedangkan Lao Lung Khusus melakukan serangan fokus perut keatas.
Kini Guo Yun menjadi semakin sibuk, hanya bisa memutar sepasang pedang nya menjadi segulung sinar merah biru melindungi diri.
Tanpa mampu lagi untuk membalas serangan dari Lao Hu dan Lao Lung yang datang secara bertubi-tubi.
Belum lagi Lao Hu dan Lao Lung terus berusaha mengendalikan pikiran Guo Yun lewat tatapan mata mereka.
Guo Yun menjadi semakin kacau dan tertekan, karena dia harus membagi konsentrasi, menjaga matanya agar jangan beradu pandang dengan kedua musuhnya.
Hal ini menjadi sulit, karena pendengarannya pun sudah dia tulikan sehingga dia kesulitan mendeteksi serangan dari 10 penjuru.
Guo Yun mulai terlihat main mundur bergulingan diatas tanah, demi bisa meloloskan diri, dia terpaksa melakukan nya.
Di saat situasi semakin kritis, tiba tiba Guo Yun menangkap dua dari tiga mata cambuk, yang tiba ke arahnya.
Tapi tangkapan tangan Guo Yun gagal, karena yang di tangkap cuma ilusi, alias tipuan energi saja.
Bukan mata cambuk sebenarnya, yang berhasil dia tangkap.
Akhirnya mata cambuk asli mendarat di punggung Guo Yun.
Guo Yun sengaja membiarkan nya, saat tersengat ujung cambuk itulah.
Guo Yun berhasil menangkap cambuk tersebut, menahannya, dengan memutar mutar pedangnya.
Sehingga pedang terlilit oleh cambuk di tangan Lao Lung.
Adu tenaga tarik.memsrik.pun terjadi.
Di sisi lain Lao Hu yang menyerang dari arah bawah.
Salah satu cakarnya, di bagian nadi pergelangan tangan, juga ikut terkunci oleh cengkraman tangan Guo Yun.
Begitu pergerakan asli mereka terdeteksi, dan tertangkap oleh Guo Yun.
Lagi lagi Guo Yun membuat tenaga dalam mereka membanjir kedalam tubuh Guo Yun.
Sebelum mereka sempat melakukan pergerakan menotok, dan mengunci titik Meridian nya.
Guo Yun sudah mendorongnya kembali, di sertai serangan tenaganya.
"Blaaaarrr...!"
Blaaaarrr...!"
Mereka berdua langsung terpental mundur menjauh.
Guo Yun membantingkan sebutir bola besi hitam sebesar telur, keatas tanah di dekat kedua orang itu.
"Blaaaarrr..!"
Segera kabut asap hitam memenuhi udara, menghalangi pandangan mereka.
Selain itu ada ribuan jarum halus terbang kearah mereka,.saat ledakan terjadi.
Itu adalah senjata pelindung diri di saat terdesak, agar bisa melarikan diri.
Senjata itu Guo Yun dapatkan dari Si Si istri keduanya.
Sebagai alat jaga jaga, bila musuh terlalu kuat.
Awalnya Guo Yun tidak menyangka, dirinya akan memerlukan benda ini, untuk menyelamatkan diri.
Dia menerimanya lebih karena ingin menghargai perasaan istrinya, yang khawatir dengan keselamatannya.
Tidak di sangka, hari ini menghadapi sepasang anak muda, yang memiliki kemampuan luar biasa ini.
Terutama ilmu ilmu sihir mereka,
Guo Yun terpaksa menggunakan nya, untuk menyelamatkan diri.
Berbeda dengan pendekar dunia persilatan, melarikan diri adalah haram, tindakan memalukan.
__ADS_1
Yang biasanya hanya di lakukan oleh tokoh golongan hitam, sedangkan golongan putih, lebih baik mati secara gagah dari pada melarikan diri secara pengecut.
Tapi Guo Yun sebagai ahli militer, mundur melarikan diri itu adalah tindakan cerdik, bila musuh terlalu kuat, itu adalah jalan terbaik.
Nanti bila ada kesempatan, baru di coba lagi, yang di cari adalah kemenangan, bukan gagah gagahan.
Menang jadi raja kalah jadi tahanan, itu prinsipnya.
Ada satu istilah lainnya, selama ada gunung hijau tersisa, tidak takut kehabisan kayu bakar.
Itu artinya selama masih bernyawa, masih ada harapan untuk membalasnya.
Prinsip inilah yang di anut oleh Guo Yun.
Saat kabut asap dan jarum berhasil di pukul runtuh oleh Lao Hu dan Lao Lung.
Guo Yun dan pasukannya sudah mundur menjauh.
Khawatir itu adalah strategi, memancing harimau meninggalkan gunung.
Kedua pemuda itu, memutuskan tidak melanjutkan pengejaran.
Mereka kembali lagi ke dalam benteng kota Sian Yang.
Meski agak kesal, karena buruan di depan mata terlepas.
Tapi mereka cukup.puas berhasil mengalahkan Guo Yun.
Guo Yun mengajak pasukan nya mundur kembali keatas bukit, membuat markas dan pertahanan di atas bukit.
Sepanjang malam hingga pagi, Guo Yun merenung, mencari siasat untuk menahlukkan Lao Lung dan Lao Hu, yang memilki kesaktian tidak di bawahnya.
Guo Yun berpikir keras, bagaimana menghadapi serangan pengaruh sihir kedua orang itu.
Setelah berpikir semalam suntuk hingga pagi, akhirnya Guo Yun memanggil keempat Jendral nya.
Dia memberikan pengarahan kepada mereka, bagaimana cara menahlukkan kota Sian Yang.
Setelah memberikan pengarahan secara mendetil, Guo Yun seorang diri menuruni bukit.
Menghampiri pintu gerbang selatan kota Xian Yang.
Di sana Guo Yun berteriak menantang duel.
"Hei keluar lah,..! aku telah kembali..!"
"Mari kita selesaikan pertempuran tertunda kemarin..!"
Baru dua kali Guo Yun berteriak, dari atas menara kota, sudah melayang turun dua orang pemuda,mendarat ringan di hadapan Guo Yun.
Begitu mendarat, mereka langsung mengeluarkan senjata, menyerang Guo Yun.
Guo Yun juga mengeluarkan sepasang pedangnya menangkis semua serangan mereka.
"Tranggg,..! Tringgg..! Tranggg..!"
"Tranggg,..! Tringgg..! Tranggg..!"
"Tranggg,..! Tringgg..! Tranggg..!"
"Tranggg,..! Tringgg..! Tranggg..!"
Terdengar bunyi benturan senjata beradu bunga api berpijar di mana mana.
Melihat Guo Yun mampu mengimbangi mereka, mereka mulai lagi mengerahkan ilmu sihir mereka mempengaruhi pergerakan Guo Yun.
Guo Yun mulai kembali terdesak terhuyung-huyung, dia mulai hanya bisa menangkis dan bergerak mundur sambil mengumpat marah.
Dia terlihat kacau, perlahan lahan tubuhnya mulai terluka di sana sini.
Melihat hal ini, dengan gembira Lao Hu dan Lao Lung terus mengejar dan mengepung Guo Yun.
Mereka terus menempelnya, tidak mau lagi memberikan kesempatan sekecil apapun, agar Guo Yun bisa menggunakan senjata rahasianya buat kabur melarikan diri.
Guo Yun menggunakan 72 langkah ajaib menyelamatkan diri, sekaligus memadukkan dengan Wu Ying Ru Tian.
Sehingga tubuhnya dengan cepat bergerak hilang muncul, hilang muncul.
Berusaha menyelamatkan diri dari kejaran senjata Lao Lung dan Lao Hu.
Lao Hu dan Lao Lung juga mengimbangi Guo Yun, dengan ilmu ringan tubuh mereka yang mirip tapi tidak sama.
Mereka juga bergerak hilang muncul terus mengejar kemanapun Guo Yun bergerak.
Tanpa mereka berdua sadari, mereka telah di ajak Guo Yun bertempur secara rally menjauhi kota Xian Yang.
Mereka kini bertiga bahkan sudah bergerak jauh melewati 5 bukit.
Mereka sudah sangat jauh meninggalkan kota Xian Yang.
Tapi mereka melihat kondisi Guo Yun, yang terlihay semakin payah, dengan tubuh penuh luka bersimbah darah.
Mereka semakin bersemangat mengejar dan mencecar Guo Yun, yang mulai terlihat semakin lama semakin lemah.
Mereka sedang menunggu Guo Yun kehabisan darah dan tenaga, mereka baru menangkapnya.
Untuk nanti bisa memaksanya, mengembalikan kitab pusaka perguruan mereka.
Bila itu berhasil, guru mereka pasti akan sangat gembira, bukan tidak mungkin.
Mereka berdua akan di berikan beberapa ilmu rahasia perguruan mereka, yang jauh lebih tinggi.
Memikirkan hal itu mereka semakin bersemangat, untuk menahlukkan Guo Yun.
Mereka berdua tidak pernah menyangka, selagi mereka sedang sibuk mengalahkan Guo Yun.
Jauh di sana di kota Xian Yang, jendral Liu Jendral Sun Jendral Wen dan Jendral Nan, sedang melakukan serangan habis habisan, berusaha menembus kota Xian Yang.
Di mana serangan yang awalnya terlihat menggunakan tameng dan anak panah, dengan di bantu mesin pelontar batu.
Untuk menghancurkan pertahanan di atas benteng kota Xian Yang.
Lama lama berganti dengan pasukan harimau hitam, yang menggunakan jubah khusus.
Di lontarkan kedalam benteng kota, atau pun mendarat di atas tembok kota dan menara pengawas.
Bagi pasukan yang terlempar kedalam tembok kota, mereka langsung bergerak berusaha menyerang barisan penjaga pintu gerbang kota.
Dengan kemampuan mereka bertempur dalam formasi, dengan rata rata ilmu beladiri yang cukup baik.
Mereka dengan mudah melakukan pembantaian di dalam sana.
Sedangkan yang mendarat di atas tembok kota, mereka juga bergerak berusaha menguasai tembok.kota dan menara pengawas.
Karena pertahanan diatas tembok kota, sebelumnya sudah perak poranda oleh lemparan batu sebesar perut kerbau.
Kini saat pasukan harimau hitam berhasil mendarat di sana, perlawanan mereka sudah tidak begitu berarti.
Dengan mudah mereka di buat kocar kacir,.lalu di bantai oleh pasukan harimau hitam, yang memilki kemampuan beladiri lebih tinggi dan bertempur dalam formasi, yang lebih rapi dan rapat dalam bertahan dan menyerang.
Pasukan Qin tidak berdaya untuk menahan serangan pasukan harimau hitam, yang berhasil mendarat diatas tembok kota.
Setelah berhasil menguasai tembok kota dan menara, mereka dari atas membantu, menembakkan anak panah kearah pasukan Qin, yang bertugas menjaga pintu gerbang kota.
Di mana pasukan Qin saat itu, mereka sedang sibuk sibuknya, menghadapi serangan langsung pasukan harimau hitam, yang ingin menguasai pintu gerbang dari bawah.
Mendapat serangan dari atas dan bawah, juga mendapatkan serangan dari luar sana, yang terus mencoba menggedor pintu gerbang raksasa, yang mereka jaga dengan mati matian.
Akhirnya pintu gerbang selatan gagal mereka pertahankan, setelah satu persatu pasukan Qin yang berjaga di sana habis di bantai oleh pasukan harimau hitam.
Baik oleh serangan berhadap hadapan, maupun serangan anak panah dari bagian atas tembok.kota dan menara pengawas.
Begitu pintu gerbang terbuka, Jendral Wen Jendral Nan Jendral Liu Jendral Sun, segera memimpin sisa pasukan menerobos kedalam, untuk melakukan perang secara frontal.
Berusaha memukul mundur pasukan Qin, yang mencoba bertahan di dalam kota.
Di sisi Utara sana, Li Ba dibantu oleh Jendral Lim, Guan, Xing, Fu.
Juga sudah menerobos masuk kedalam kota.
Mendapat serangan depan belakang, sisa pasukan Qin yang kehilangan semangat bertempur.
Karena Jendral andalan mereka tidak hadir memimpin mereka.
Akhirnya sebagian besar dari pasukan Qin, memilih menyerah dengan membuang senjata mereka.
Hal ini membuat penahlukkan kota Xian Yang, menjadi jauh lebih mudah.
Dalam sekejap, peperangan sudah mendesak, hingga menuju benteng pertahanan istana kerajaan Qin.
Ini adalah benteng lapis kedua, setelah benteng lapis pertama di tembok kota Xian Yang berhasil di rebut.
Dengan hadirnya Li Ba di pihak pasukan harimau hitam, dengan sepuluh kali hantaman dengan pukulan petir dan tenaga raksasa nya.
Pintu gerbang istana akhirnya roboh di terjang oleh Li Ba.
Setelah pintu gerbang jebol, perlawanan menjadi tidak berarti lagi.
__ADS_1
Sebentar saja Li Ba sudah memimpin ke 8 jendral nya dan pasukan harimau hitam, menembus hingga halaman depan istana.