
Xiong Xin adalah mantan jenderal Kerajaan Chu yang tahluk dengan Qin.
Kemudian mengabdi kepada Qin, Jendral Xiong Xin berusia sekitar 40 an wajahnya merah kehitaman, memelihara Jenggot panjang hitam yang menjuntai hingga kedada nya.
Guo Yun dan Jendral Wen maju kedepan dengan kuda tunggangan mereka.
Meninggalkan barisan besar pasukan mereka di belakang sana.
Tapi Xiong Xin tidak bergerak maju menyambut mereka.
Xiong Xin malah mundur masuk kedalam barisan pasukan tameng nya.
"Hei mengapa kamu begitu pengecut..!"
tanya Guo Yun sambil menunjuk kan pedang darah nya kearah Xiong Xin.
"Ha..ha..ha...ha...!"
"Itu hak ku, mau maju atau tidak..!"
"Bila kamu berdua bernyali kemarilah,..! buat apa ribut ribut seperti monyet di sana..!?"
"Aku katakan pada kalian, aku tidak akan mengulang kebodohan Fan Kuai..!"
"Kamu tidak patuh aturan perang, kenapa aku harus patuh .!"
ucap Xiong Xin lantang, sambil tersenyum mengejek.
Guo Yun sangat kesal melihat tingkah Xiong Xin yang culas dan licik.
Dia segera memberi kode agar pasukan nya bergerak maju.
Pasukan Harimau Hitam yang melihat kode dari Guo Yun, mereka mulai bergerak maju dalam bentuk formasi mereka yang rapi.
Melihat kedatangan pasukan besar yang berbaris rapi itu.
Pasukan barisan Qin terlihat agak sedikit gelisah di buatnya.
Mereka terlihat ragu ragu, ada mereka sanggup menghadapi pasukan harimau hitam yang namanya sudah sangat terkenal.
Apalagi kini di pimpin oleh Si Topeng Emas yang reputasi berperang nya sudah tidak di ragukan lagi.
Sedangkan di pihak mereka hanya di pimpin oleh seorang jendral pengecut.
Berani nya berlindung di belakang mereka, menjadikan mereka sebagai tameng dan tumbalnya.
Xiong Xin bukannya tidak sadar, ketakutan dan kekhawatiran yang menghinggapi pikiran pasukannya.
Begitu Guo Yun dan Jendral Wen bergerak maju.
Jendral Xiong Xin langsung mengibarkan bendera kode, agar Pasukan nya, segera mundur masuk kembali kedalam benteng.
Melihat hal ini, Guo Yun segera memberi kode pada pasukan berkuda nya.
Bergerak dari dua arah menjepit dari arah kanan kiri, mencegah mereka masuk kedalam benteng.
Guo Yun sendiri dan Jendral Wen, juga memacu kuda mereka melakukan pengejaran.
Di bawah komando Xiong Xin hujan anak panah, mulai ditembakkan, sambil terus bergerak masuk kedalam benteng kota Dan Yang.
Pasukan berkuda nya Guo Yun, setiap personil di lengkapi dengan senjata panah tombak dan tameng.
Mereka adalah pasukan terlatih yang serba bisa.
Anak panah yang di lepaskan oleh pihak pasukan Qin, di bawah pimpinan Xiong Xin.
Sebagian runtuh oleh tangkisan tameng di tangan pasukan harimau hitam.
Sebagian lagi meleset tidak mengenai sasaran, alias ngawur di tembakkan secara sembarang.
Karena moril pasukan itu sudah jatuh sebelum pertempuran berlangsung.
"Rapatkan barisan dan terus mundur...!"
Teriak Xiong Xin mengingatkan barisan pasukan tameng nya yang di tabrak dan di lindas oleh pasukan berkuda harimau hitam.
Mereka sambil berusaha bertahan dengan tameng dan menusukkan senjata tombak panjang mereka, baik kearah pasukan harimau hitam maupun kudanya.
Sebagian yang berlindung di balik tameng temannya, mereka mencoba mengait kaki kuda pasukan harimau hitam.
Pasukan Qin memang di lengkapi senjata tombak panjang berkait dan panah yang menjadi ciri khas mereka.
Senjata tombak berkait ini cukup efektif mengatasi pasukan berkuda lawan.
Satu persatu pasukan harimau hitam kuda dan penunggangnya, mulai jatuh bertumbangan.
Begitu terjatuh pasukan harimau hitam langsung di hujani serangan tombak oleh pasukan Qin.
Untungnya mereka cukup terlatih dan bisa bekerja sama dalam kelompok kelompok kecil, bersepuluh membentuk satu kelompok.
Sehingga bisa mengurangi resiko tewas di bawah hujanan tombak pasukan Qin.
Pasukan Qin terus bergerak mundur masuk kedalam pintu gerbang kota Dan Yang.
Setelah pasukan besar Qin mundur masuk, sisa puluhan pasukan Qin yang masih bertahan dan terlambat masuk.
Mereka terjebak di luar gerbang kota.
Karena pintu gerbang sudah tertutup rapat.
Dalam putus asa, mereka hanya bisa menerjang secara membabi buta.
Hingga mereka terkapar dengan nyawa meninggalkan badan.
Baru perlawanan berhenti.
Pasukan Qin yang berada di atas benteng menyiramkan minyak panas dan menembakkan panah berapi.
Melihat pasukannya mulai tewas terbakar.
Guo Yun buru buru memberi instruksi agar pasukan nya bergerak mundur.
Untuk memikirkan strategi selanjutnya, Guo Yun tidak menyangka.
Pasukan Qin., yang seharusnya membiarkan mereka memasuki kota Dan Yang dengan mudah.
Bisa melakukan perlawanan sengit, tidak membiarkan mereka masuk dengan mudah, kedalam kota Dan Yang yang telah di penuhi peledak.
Ini adalah suatu kejutan tidak terduga sama sekali.
Apa yang mereka pikirkan dan rencanakan Guo Yun jadi ragu sendiri.
Xiong Xin tidak mau melayani tantangan mereka, dan berkeras bertahan di kota tersebut Guo Yun juga kehabisan akal.
Sehingga untuk sementara waktu, dia dan pasukannya, terpaksa hanya bisa, membentuk tempat pertahan dan berjaga jaga di tempat, yang bebas dari jangkauan anak panah pasukan Qin.
Malam itu di kemah utama Guo Yun, terlihat Guo Yun sedang memberikan sketsa gambar, kepada Jendral Wen dan beberapa orang komandan pasukan di bawah Jendral Wen.
"Tolong siapkan benda dalam sketsa ini.."
"Juga siapkan jubah yang lebih panjang dan lebar, dengan sketsa seperti ini.."
ucap Guo Yun sambil membagi bagikan sketsa gambar di tangan nya.
Kereta ini perlu berapa, ? jubah ini perlu berapa..?"
tanya Jendral Wen.
"Jubah aku perlu 50.000, sedangkan kereta di sesuaikan saja berapa bisa di buat.."
"Makin banyak makin baik.."
"Sekalian pilihlah 50.000 pasukan terbaik kita, utamakan pasukan tameng golok sebagai senjata.."
pesan Guo Yun kepada Jendral Wen dan para komandan pasukan nya.
"Siap laksanakan Yang Mulia ."
ucap mereka tanpa banyak protes.
Tepat seminggu kemudian siaplah 50 kereta pesanan Guo Yun.
Juga ada 50.000 pasukan berjubah hitam panjang sesuai pesanan Guo Yun.
Di bawah arahan Guo Yun, mereka mulai bergerak melakukan penyerangan mendadak di malam malam buta.
Pasukan Tameng dan pasukan pemanah mulai mendekat kearah benteng.
Begitu memasuki jarak tembak di mana pasukan tameng Guo Yun, mulai menerima serangan dari pasukan Qin yang bersiaga di atas benteng kota.
Pasukan pemanah Guo Yun juga melakukan serangan balasan keatas benteng pertahanan kota.
Panah panah berseliweran saling serang, dari atas kebawah, dari bawah keatas, saling bertukar serangan.
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Korban mulai berjatuhan di antara kedua belah pihak, sebagian besar adalah korban yang terkena serangan anak panah di leher dan mata.
Sedangkan serangan di bagian tubuh lainnya, mereka semua terlindung oleh pakaian perang khusus.
Anak panah tidak ada yang bisa menembusnya.
Kedua belah pihak cukup imbang, masih terus saling serang.
Guo Yun yang melihat dari jarak jauh, mulai memberi tanda agar mesin pelontar, yang dibuat berdasarkan sketsa darinya.
__ADS_1
Mulai bergerak maju, bersiaga mengambil jarak tembaknya.
Begitu mesin pelontar siap di posisinya terompet berbentuk cangkang kulit keong, mulai di tiup dengan kuat.
Begitu mendengar suara terompet itu, pasukan panah dan pasukan tameng, pasukan harimau hitam perlahan-lahan mulai bergerak mundur.
Masing masing mundur menyamping di bagian pinggir kanan kiri.
Memberi luang dan keleluasaan kereta pelontar menembakkan pelurunya.
Jendral Wen menunggu hingga barisan pasukan tameng dan panahnya, sepenuhnya ada di posisi aman.
Dia baru mengangkat bendera di tangannya, sebagai kode pada pasukan mesin pelontar mulai bergerak.
Begitu kode dari Jendral Wen yang menggunakan bendera di lepaskan.
Salah satu mesin pelontar yang sudah siap dengan batu besarnya.
Mulai di lontarkan kedepan.
",Wusss,..!"
"Brakkkk..!"
Batu yang di lontarkan menabrak tanah, tempat barisan pasukan panah dan tameng tadi berada.
Batu pasir debu berhamburan saat batu itu menghantam tanah hingga melesak kedalam.
Melihat hal itu, Jendral Wen menggunakan bendera nya memberi kode, agar mesin pelontar bergerak maju kedepan.
Masih dengan mengira ngira posisi yang tepat, untuk melakukan serangan percobaan kedua.
Kereta pelontar kembali bergerak kedepan.
Di tempat lain di atas tembok kota, Pasukan Qin di bawah pimpinan Xiong Xin, tidak berani keluar untuk menyerang.
Pasukan harimau hitam yang di tugaskan mengurus mesin pelontar tersebut.
Karena di bagian kiri kanan pasukan tameng dan pasukan pemanah Harimau Hitam, masih bersiaga di sana.
Begitu gerbang terbuka, mereka keluar, mereka akan di serang dari arah kiri kanan dan depan.
Mereka akan terkepung, bila itu terjadi, ini berarti mereka semua akan mengalami bisa keluar belum tentu bisa masuk kembali.
Kini yang bisa mereka lakukan, hanyalah sebisa mungkin bertahan.
Mereka hanya bisa menatap pasrah pada mesin pelontar, yang sedang bergerak mendekat mencari posisi.
Mesin pelontar segera di dorong maju kedepan, mengikuti arahan bendera dari jendral Wen.
Mesin pelontar kembali melontarkan batunya,
"Wussss..!"
"Brakkkk ..!"
tapi lagi lagi gagal mencapai sasaran, hanya terlihat semakin mendekati tembok pertahanan kota Dan Yang.
Kereta lagi lagi mendapat perintah untuk maju, setelah melakukan percobaan berulang kali.
Akhirnya kereta pelontar menemukan posisinya, mengikuti arahan dari Jendral Wen, mesin pelontar kembali bergerak.
Sebuah batu besar kembali di lontarkan ke udara.
"Wussss..!"
"Duaakkkk..!"
Sekali ini batu besar itu, menghantam tembok, hingga tembok benteng melesak kedalam.
Batu besar 3/4 nya melesak kedalam dinding, sehingga menempel di sana.
Sekali lagi mesin pelontar di dorong beramai ramai, oleh pasukan harimau hitam maju kedepan.
Lalu lontaran batu besar kembali di lepaskan.
"Wusss..!"
"Duaakkkk..!"
Di pihak pasukan Qin hanya bisa diam menanti dengan harap harap cemas.
Berharap batu batu besar itu tidak akan pernah menemukan posisi pas untuk menjangkau mereka.
Tapi kelihatannya harapan tinggal harapan.
Sekali ini batu besar langsung menghantam bagian atas dinding tembok.
"Hantaman batu itu, membuat penjagaan pasukan Qin yang diatas benteng, langsung pada bubar menyelamatkan diri masing-masing.
Prajurit Qin yang terlambat menyelamatkan diri hancur terlindas batu besar tersebut.
Mayatnya tidak terlihat, hanya ceceran bekas darah yang muncrat ke mana mana yang terlihat di daerah sekitar batu mendarat.
Mereka semakin ragu ragu, niat melarikan diri, meninggalkan tempat itu, sudah mulai muncul.
Mereka tidak mau diam menunggu mati konyol dengan cara seperti itu.
Di tempat lain Jendral Wen yang melihat posisi sudah tepat, Dia segera memberi kode agar 49 mesin pelontar sisanya, segera bergerak maju, berbaris sejajar dengan mesin pelontar pertama tadi.
Sesaat kemudian 50 batu besar di lepaskan beterbangan di udara.
"Wusss,..! Wusss,..! Wusss,..!"
Wusss,..! Wusss,..! Wusss,..!"
Wusss,..! Wusss,..! Wusss,..!"
Wusss,..! Wusss,..! Wusss,..!"
"Duakkk,..! Duakkk,..! Duakkk,..!"
"Duakkk,..! Duakkk,..! Duakkk,..!"
"Duakkk,..! Duakkk,..! Duakkk,..!"
"Duakkk,..! Duakkk,..! Duakkk,..!"
Kekacauan di atas benteng terjadi, pasukan Qin panik tidak tahu harus bagaimana.
Bahkan ada yang saking paniknya, langsung melompat dari atas tembok.
Jatuh dari ketinggian belasan meter.
Mereka langsung tewas seketika.
Xiong Xin terus meminta mereka agar tetap tenang, tapi bagaimana mana mereka bisa tenang.
Batu batu besar terus berhamburan mengincar mereka, yang berlindung diatas tembok.
Pasukan tameng dan pemanah dari pasukan harimau hitam mulai kembali menempati posisi mereka.
Menembakkan anak panah ke pasukan Qin yang sedang kusut dan panik.
Karena panik, mereka berlari berhamburan kesana kemari di atas tembok kota
Sehingga mereka menjadi sasaran empuk anak panah pasukan harimau hitam, yang di tembak kan dari bawah keatas benteng kota.
Banyak pasukan Qin yang jatuh bertumbangan dengan leher tertembus anak panah.
Di tengah kekacauan yang semakin hebat, pasukan Qin mulai melarikan diri meninggalkan pertahanan tembok kota
Tanpa hiraukan perintah bertahan dari Xiong Xin, atasan mereka yang sibuk berteriak teriak seorang diri.
Di tengah tengah keputusasaan dan frustasinya, akhirnya Xiong Xin pun di evakuasi paksa oleh beberapa komandannya, untuk meninggalkan posisi mereka, yang berbahaya.
Melihat kekacauan di atas tembok kota, Guo Yun memberi perintah agar pasukan pilihannya.
Mulai bergerak masuk kedalam tempat mesin pelontar batu, setiap tempat yang di gunakan untuk melontarkan batu, mampu di isi oleh 5 orang personil pasukan harimau hitam.
Mereka masing masing mengenakan jubah hitam lebar khusus, sambil membawa tameng dan golok di tangan.
Begitu mesin pelontar di lepaskan tubuh mereka langsung terbang di udara, meluncur deras keatas tembok kota
Saat berada di udara, pasukan itu membuka kaki tangan mereka lebar lebar.
Sehingga mereka terlihat seperti bajing lompat yang melayang di udara.
Pergerakan luncuran mereka tertahan oleh jubah lebar khusus mereka.
Dalam kegelapan malam, di tambah pasukan Qin sudah kabur melarikan diri dari atas tembok kota.
Mereka satu persatu berhasil mendarat dengan mulus diatas benteng kota Dan Yang.
Susul menyusul kini yang di lontarkan oleh mesin pelontar itu bukan batu lagi.
Tapi manusia yang mirip bajing loncat lah yang mereka lontarkan kearah bagian atas tembok kota.
Pasukan khusus harimau hitam, yang berhasil mendarat dengan baik.
Mereka segera bergerak menguasai bagian atas tembok kota.
Siapapun pasukan Qin yang mereka temui, akan mereka bantai beramai ramai.
Tameng di gunakan untuk menangkis, golok di gunakan untuk membalas serangan.
Pasukan Qin yang bertemu dengan mereka, pasti tewas di bawah hujan bacokan golok.
Di mana mereka bekerja sama dalam kelompok formasi, yang terdiri dari 5 orang, setiap kelompok nya.
Dengan pengaman ini teman teman mereka bisa mendarat dengan mudah, tanpa ada gangguan.
__ADS_1
Guo Yun sendiri sudah terbang keatas benteng kota.
Untuk memimpin pasukan itu bergerak menuruni tangga benteng kota.
Di sana mereka menghadapi penghadangan dari pasukan Qin yang berjaga di sana.
Tapi dengan hadirnya Guo Yun di sana yang terus menerus melepaskan tebasan pedang pemusnah.
Pasukan Qin hanya bisa terus bergerak mundur, tidak bisa bertahan lama.
Akhirnya Xiong Xin memimpin sisa pasukan nya melarikan diri meninggalkan kota Dan Yang.
Guo Yun dan pasukan elitenya, dengan mudah menguasai pintu gerbang dan membukanya lebar-lebar.
Tapi Jendral Wen dan pasukannya bertahan di depan pintu gerbang.
Mereka sama sekali tidak bergerak untuk menyusul masuk kedalam benteng kota Dan Yang.
Sesuai rencana awal, mereka hanya akan masuk bila sudah melihat sintal yang di lepaskan oleh Guo Yun.
Setelah Guo Yun dan pasukannya memasuki kota Dan Yang, mereka langsung di sambut pasukan mata mata Jendral Nan.
Di mana setiap kelompok pasukan elite yang berjumlah 1000 orang, akan mengikuti satu mata mata Jendral Nan, untuk mengamankan lokasi penyimpanan bahan peledak.
Kedatangan mereka yang mendadak dan menyebar dengan sangat cepat.
Mengangetkan pasukan Qin yang di tugaskan secara khusus untuk menjaga.
Dan meledakkan peledak peledak yang tertanam di sana.
Bila melihat kode yang di lepaskan ke udara, oleh pimpinan mereka.
Misi mereka sangat rahasia, selain atasan mereka, tidak ada yang tahu keberadaan mereka.
Bahkan Xiong Xin sediri bersama pasukannya, tidak tahu akan hal ini.
Itu makanya Xiong Xin berusaha bertahan mati matian, mencegah kota Dan Yang jatuh ketangan musuh.
Tapi ini adalah taktik dari atasan Xiong Xin, Xiong Xin yang jelas tidak bakal mampu menahan Guo Yun dan pasukan harimau hitam nya.
Dia hanya di jadikan umpan untuk meyakinkan Guo Yun, agar membawa seluruh pasukan nya masuk kedalam kota Dan Yang.
Saat mereka semua memasuki kota, Kota Dan Yang baru akan di ledakkan secara serempak.
Pasukan Qin yang bertugas menjaga yang hanya sekitar 100 personil yang tersebar di sekitar area itu.
Mereka bukan lawan pasukan golok dan tameng, pasukan harimau hitam, yang ahli bela diri.
Baik dari segi jumlah maupun kemampuan pribadi, mereka semua kalah telak.
Sehingga dalam waktu singkat, 50 titik penyimpanan peledak di kota Dan Yang, semua sudah berhasil di amankan oleh pasukan elit Guo Yun.
Di tempat Jendral Wen begitu melihat kode dari Jendral Nan, yang memang di tugaskan sebagai pimpinan, untuk menjinakkan semua titik bahan peledak.
Jendral Wen segera memimpin pasukan besarnya memasuki kota Dan Yang.
Senjata pelontar mereka tidak dibawa ikut masuk, semua senjata itu terparkir rapi di sisi tembok kota.
Setelah memarkirkan dengan rapi senjata pelontar yang mereka urus.
Baru semua pasukan yang bertugas mengurus senjata pelontar, ikut bergerak memasuki kota Dan Yang.
Tidak lama setelah pasukan harimau hitam memasuki kota Dan Yang.
Dari sisi barat tiba-tiba terlihat kembang api kode pasukan Qin di lepaskan ke udara.
Begitu kode tersebut dilepaskan oleh atasan pimpinan puncak pasukan Qin yang berwenang di kota Dan Yang.
Dari lima puluh titik terjadi ledakan susul menyusul yang dahsyat.
"Booommm..!" Booommm..!"
"Booommm..!" Booommm..!"
"Booommm..!" Booommm..!"
"Booommm..!" Booommm..!"
Seluruh pelosok kota Dan Yang bergetar hebat.
Api mulai membakar seluruh kota Dan Yang.
Seluruh pasukan harimau hitam terlihat tergeletak malang melintang di atas tanah.
Tidak ada satupun yang berdiri, termasuk Guo Yun dan Jendral Wen dan Jendral Nan.
Mereka juga ikut tergeletak tengkurap sama seperti Guo Yun
Seluruh kota Dan Yang terjadi kebakaran hebat.
Di tempat lain Bai Qi yang mengamati keadaan kota Dan Yang, dari daerah tebing bebatuan yang terletak di lereng gunung
Ba Gong.
Begitu melihat hal itu, Bai Qi langsung tersenyum puas, tanpa memperdulikan bawahan nya Xiong Xin, yang baru kembali datang memberikan laporan, dalam keadaan menyedihkan bersama sisa pasukan nya.
Sambil tersenyum puas Bai Qi memberi kode agar 500.000 pasukannya, di tambah dengan sisa pasukan Xiong Xin, yang mencapai 200.000 personil.
Semuanya segera bergerak memasuki kota Dan Yang kembali.
Bai Qi sendiri yang memimpin di barisan paling depan, dengan penuh semangat menuruni lereng gunung.
Langsung menuju kota Dan Yang, yang terlihat sedang di kepung api, dengan asap hitam mengepul di mana mana.
Begitu memasuki gerbang kota sebelah barat, Bai Qi langsung memberi perintah ke pasukannya.
"Lekas periksa jangan sampai ada yang hidup, terutama pimpinan nya..!"
"Kepalanya di hargai 5000 Tael emas, bagi yang berhasil mendapatkan nya..!"
Mendengar perintah tersebut hampir seluruh pasukan Qin berhamburan masuk kedalam kota Dan Yang.
Untuk mencari kepala pimpinan pasukan harimau hitam.
Tapi saat mereka berjongkok membalikkan tubuh pasukan harimau hitam yang tergeletak tengkurap.
Seberkas sinar berkeredep cepat melewati tenggorokan mereka.
"Arrggghhh..!"
"Arrggghhh..!"
"Arrggghhh..!"
Terdengar suara pekik jerit kesakitan memenuhi tempat itu.
Satu persatu pasukan Qin terlihat bergerak mundur mundur kebelakang dengan kedua tangan membekap leher mereka yang berlepotan darah.
Di mana dari leher mereka yang lukanya menga nga lebar, terlihat darah menyembur bagaikan ledeng bocor.
Tidak ada satupun dari mereka yang bisa bertahan lama, satu persatu jatuh terjengkang kebelakang berkelenjotan seperti ayam di sembelih lalu terdiam di tempat.
Semua kejadian ini berlangsung dengan sangat cepat, dan mendadak.
Pasukan Qin yang kaget sesaat panik saat menghadapi serangan dadakan pasukan harimau hitam.
Di mana mereka yang tadinya terlihat terkapar malang melintang di setiap sudut kota.
Kini tiba tiba semuanya berdiri, lalu melakukan serangan mendadak dengan ganas dan cepat.
Pasukan Qin yang tidak siap langsung kocar kacir di buatnya.
Korban berjatuhan dengan sangat cepat di pihak Qin.
Bai Qi yang melihat hal ini bertindak sigap,
Dia segera berteriak lantang,
"Ini jebakan..!"
"Pasukan Tameng siaga,..!"
"Maju tahan mereka..!"
"pasukan tombak bantu pasukan tameng robohkan mereka...!"
"Rapatkan barisan kalian,..!"
"Rapat rapat..!"
"Tahan dan dorong mereka ketengah..!"
Teriak Bai Qi sibuk memberi instruksi.
Beberapa jendral bawahan nya, termasuk Xiong Sin.
Mereka buru buru bergerak, menggunakan kode bendera kepada komandan pasukan mereka.
Agar mengatur barisan pasukan mereka, mengikuti arahan dari Bai Qi.
Guo Yun dan kedua jendral nya, begitu melihat situasi, pasukan Qin mulai bisa membenahi diri.
Berlindung di balik tameng, terus mendesak pasukan mereka.
Guo Yun segera berteriak lantang, "Pasukan mundur semuanya ke gerbang timur'..!"
"Ayo ayo mundur mundur cepat...!"
teriak Guo Yun lantang menggunakan hawa saktinya.
Sehingga semua orang bisa dengar, bukan hanya pasukannya saja.
__ADS_1
Tapi pasukan Qin dan para pimpinan nya juga mendengarnya.