LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MELAWAN DEWA NAGA GURUN PASIR


__ADS_3

"Apa adik ipar tidak punya keyakinan untuk menghadapi Dewa Naga Gurun Pasir dan Ling Yun Lao Jen.?"


tanya Ying Zheng hati hati.


Dia menatap dan menunggu jawaban Guo Yun dengan serius.


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak tahu sampai di mana kekuatan kedua orang itu.."


"Dari yang aku tahu, adik seperguruan mereka masing masing sangat merepotkan ku, saat kami bertemu dulu.."


"Dari sini aku memperkirakan, minimal salah satu dari mereka kekuatan mereka imbang dengan ku.."


"Atau bisa jadi lebih diatas ku, hal ini masih tanda tanya, karena kami belum pernah bertemu."


ucap Guo Yun apa adanya.


Ying Zheng mengangguk dan berkata,


"Adik ipar kalau kamu tidak keberatan, saat kamu nanti berhadapan dengan salah satu dari mereka.."


"Ijinkan pengawal pribadi ku untuk ikut maju membantu mu.."


"Bila masing masing menghadapi satu lawan, pasukan kita bergerak dari dua arah.."


"Xian Yang pasti bisa kita ambil kembali ."


ucap Ying Zheng memberi solusi.


Guo Yun terdiam berpikir sejenak lalu berkata,


"Siapa pengawal pribadi, yang kakak ipar yakin, mampu mengimbangi salah satu dari dua dedengkot dunia persilatan itu..?"


Ying Zheng tersenyum lalu dia berkata,


"Li Ming keluarlah.."


Bagaikan bayangan hantu, tahu tahu Seorang pemuda bertubuh tinggi besar keluar dari belakang Ying Zheng.


Guo Yun yang cerdas pun sadar, Li Ming bisa keluar tiba tiba karena dia bersembunyi di balik bayangan Ying Zheng.


Pantas saja sedari Ying Zheng tiba, Guo Yun seperti merasakan adanya aura kuat terpancar dari Tubuh Ying Zheng.


Kini dia jadi paham, aura tersenyum berasal dari pemuda ini.


Melihat wajah pemuda tersebut, samar samar Guo Yun seperti pernah bertemu.


Tapi di mana bertemunya dan siapa sebenarnya pemuda di hadapannya ini, Guo Yun justru tidak ingat.


"Salam hormat Yang Mulia.."


"Salam hormat Guo Yun, apa kabar mu ? kelihatannya kamu sudah lupa dengan saya..?"


ucap Li Ming sambil memberi hormat kearah Ying Zheng dan Guo Yun secara bergantian..


Guo Yun mengerutkan alisnya mengingat ingat, tapi dia tetap tidak bisa mengingatnya.


"Tak apa apa tuan Guo, orang kecil seperti hamba mana mungkin anda bisa mengingatnya.."


"Lupakan saja, lebih baik di lanjutkan pembahasan nya yang terpotong karena kemunculan ku.."


"Saudara Li Ming, kamu bicara terlalu merendah, kemarilah ayo kita duduk dan makan minum bersama.."


ucap Ying Zheng mengundang Pemuda itu dengan penuh hormat.


Li Ming mengangguk sopan, lalu dia ikut duduk di samping Ying Zheng berhadap hadapan dengan Zhang Yi.


Zhang Yi juga ikut menatap heran kearah pemuda, yang usianya mungkin masih jauh di bawah Guo Yun itu.


Guo Yun yang merasakan ada nada sentimen dalam ucapan pemuda itu.


Seperti agak sinis terhadap dirinya, dia tidak mau banyak bertanya lagi tentang latar belakang pemuda itu.


Saat ini bukan waktu tepat untuk mencari bibit permusuhan baru.


Saat ini yang terpenting adalah bagaimana mereka nanti akan menghadapi kedua jagoan, yang berdiri menjadi pendukung Lu Bu Wei..


pikir Guo Yun mencoba bersikap sabar dan berpikir secara tenang.


"Ayo silahkan .."


ucap Guo Yun ramah sambil mempersilahkan Ying Zheng dan Li Ming untuk ikut makan.


Bahkan dia memberi kode agar Zhang Yi membantunya mengisi cawan cawan buat kedua tamunya.


Zhang Yi mengerti maksud Guo Yun, dia segera berdiri untuk membantu mengisi cawan kedua tamunya dengan arak.


"Terimakasih Jendral Zhang anda terlalu sungkan, tak perlu begini.."


"Kami bisa melakukan nya sendiri.."


"Ayo kita minum dan bersulang bersama saja.."


ucap Ying Zheng berbasa basi dengan penuh sopan.


Zhang Yi mengangguk dan berkata,


"Tidak repot, ini sudah tugas kami sebagai tuan rumah.."


"Raja Ying dan tuan Li di sini adalah tamu, memberikan pelayanan terbaik tentu adalah kewajiban hamba.."


"Silahkan.."


ucap Zhang Yi sopan, membalas basa basi Ying Zheng.


Sesaat kemudian mereka pun makan minum bersama alakadarnya.


Sesaat kemudian mereka baru kembali ke topik utama.


Ying Zheng yang memulainya dengan berkata,


"Adik ipar, bagaimana pengaturan mu saat berhadapan dengan kedua orang jagoan itu..?"


"Maaf aku sedikit cerewet, ini agar pengawal pribadi ku ini tahu, kira kira siapa yang akan di hadapinya nanti ."


"Sehingga kami bisa membantunya mengumpulkan informasi tentang lawannya.."


"Jadi sebelum berhadapan dengan lawan, dia sudah tahu, apa yang harus dia persiapkan sebelum melawan mereka.."


Guo Yun mengangguk paham dan dan berkata,


"Saudara Li Ming, apa boleh aku tahu keahlian mu dan ilmu andalan mu ?"


"Dari mana asal usul ilmu mu, siapa nama guru mu yang mulia.."


"Maaf aku bertanya ini, untuk membantu mu, menemukan siapa yang lebih cocok menjadi lawan mu nanti."


Li Ming dengan wajah datar berkata,


"Maaf sebelum kita membahas lebih lanjut, aku akan berterus terang dari awal.."


"Aku akan menyetujui untuk membantu tuan Guo menghadapi lawan lawan tuan Guo.."


"Tapi aku punya syarat, bila terpenuhi baru kita bisa berbicara lebih lanjut ."


"Bagaimana..?"


tanya Li Ming sambil menatap Guo Yun dengan dingin.


Guo Yun mengangguk tenang dan memberi kode agar dia melanjutkan berkata.


Li Ming pun kembali melanjutkan berkata,


"Aku ingin tuan Guo, memberikan sebuah janji pada ku.."


Dia berhenti sebentar menunggu reaksi Guo Yun.


Guo Yun tersenyum tenang dan berkata,


"Coba jelaskan..aku akan mempertimbangkannya.."


Li Ming menatap Guo Yun dengan serius dan berkata,


"Setelah semua ini selesai, bila aku keluar dengan selamat.."


"Aku ingin mendapatkan pertandingan hidup dan mati yang serius dengan Anda.."


"Tanpa ada ajal akalan ataupun strategi apapun, aku inginkan pertandingan adil dan jujur sesuai kemampuan.."


"Siapa menang siapa selamat ditentukan oleh kemampuan masing masing.."


"Bagaimana..?"


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Aku paham, kamu inginkan pertandingan yang jujur dan adil bukan begitu..?"


"Saudara Li Ming, putra Jendral Li Kong betul..?"


ucap Guo Yun yang setelah beberapa saat berpikir .


Akhirnya dia teringat dengan kejadian 5 tahun yang lalu di kota Cai..


Li Ming tersenyum dan berkata,


"Akhirnya tuan Guo ingat juga dengan pemeran kecil seperti hamba.."


Tapi hanya sesaat saja, sesaat kemudian wajah Li Ming pun kembali berubah sedingin es dan berkata,


"Benar sekali, yang ku inginkan adalah itu,.. bagaimana apa kamu bisa memenuhinya..?"


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku masih tetap pada nasehat ku yang dulu.."


"Aku harap saudara Li Ming bisa mempertimbangkan nya lagi dengan baik ."


"Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari,.."


"Kaki tangan tidak punya mata, senjata tidak punya perasaan.."


"Yang mati pun tidak mungkin hidup kembali.."

__ADS_1


"Setelah pertimbangkan dengan matang, bila tetap inginkan pertandingan adil.."


"Tanpa perlu membantu pun, aku pasti akan memenuhi keinginan mu itu.."


ucap Guo Yun tenang.


"Bagus, aku pegang janji mu.."


"Seperti pertanyaan tuan Guo tadi, aku akan lanjutkan menjawabnya.."


"Aku ahli pedang,..ilmu andalan ku adalah Thai San Cien Fa.."


"Asal usul ilmu ku adalah dari Thai San San Jen ( Manusia gunung Thai San.)"


"Beliau juga adalah guru ku.."


ucap Li Ming apa adanya.


Guo Yun mengangguk dan berkata,


"Kalau begitu aku rasa lawan yang paling cocok untuk mu, adalah Ling Yun Lao Jen."


"Karena Ling Yun Pai di Pai Yun San adalah partai yang ilmu andalannya adalah pedang.."


ucap Guo Yun mengemukakan analisanya..


Li Ming mengangguk dan berkata,


"Baik aku setuju, itu bukan masalah.."


"Kapan kita akan memulainya..?"


tanya Li Ming cepat.


Guo Yun menggunakan 3 jarinya memberi kode.


Ying Zheng menatap Guo Yun dan berkata,


"3 hari..?"


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"3 bulan, dari sini ke Dan Yang juga butuh waktu paling cepat 1,5 bulan."


"Belum persiapan, tapi lihat situasi lah, bila mereka bergerak lebih cepat ke Dan Yang ya mungkin saja lebih cepat.."


"Atau bila mereka bergerak ke An Yi kabarin saja, kami pasti akan membantu. "


ucap Guo Yun tenang.


"Baiklah, kalau begitu tetapkan saja seperti itu.."


"Sampai jumpa adik ipar, terimakasih jamuannya.."


"Kami permisi dulu.."


ucap Ying Zheng sambil memberi hormat.


Di ikuti oleh Li Ming yang bangkit berdiri, memberikan anggukan kecil tanpa berkata apa-apa.


Dia langsung menghilang kebalik bayangan tubuh Ying Zheng.


Guo Yun membalas penghormatan mereka.


Setelah tamu undangan pergi, Guo Yun dengan santai melanjutkan makan minumnya bersama Zhang Yi.


Bahkan dia mengajak A Xie ikut bergabung bersama mereka.


Selesai makan Guo Yun pun berkata,


"A Xie dari sini kami langsung pamit, tolong sampaikan saja ucapan terimakasih kami pada atasan mu.."


A Xie tidak banyak bertanya, dua mengangguk paham.


Dia pernah di bawah Guo Yun dia paham tabiat raja nya yang sulit di tebak.


Seperti seekor Naga Sakti, terlihat kepala tidak terlihat ekor, atau sebaliknya.


Setelah berpamit dengan A Xie, Guo Yun Zhang Yi dan barisan pasukan keluarga Zhang.


Langsung bergerak meninggalkan kota Shang Qiu.


Saat keluar dari gerbang kota Shang Qiu, Guo Yun berkata kepada Zhang Yi.


"Kakak Zhang kalian tunggu diatas bukit hutan Pinus sana.."


"Aku ada sedikit urusan pribadi, setelah selesai aku akan menyusul kesana.."


ucap Guo Yun cepat.


Zhang Yi Mengangguk, dia langsung memimpin pasukan nya, bergerak menuju bukit yang pernah menjadi kemahnya dulu.


Sedangkan Guo Yun berbelok kearah timur, menyusuri pinggiran tembok kota Shang Qiu.


Hingga akhirnya dia tiba di depan sebuah gapura yang tak terawat penuh semak belukar.


Guo Yun mengendarai kuda nya melewati gapura tersebut, menyusuri jalan setapak yang menggunakan batu batu persegi empat sebagai jalan.


Menyusuri jalan setapak itu, Guo Yun akhirnya tiba di depan halaman sebuah kuil yang tak terawat.


Tulisannya masih jelas, karena menggunakan tinta emas.


"Makam Menteri Setia Zhao Kang.."


Di pinggir kanan kiri pintu masuk masih ada sederet tulisan ukir, yang memuji jasa jasa menteri setia tersebut.


Guo Yun mengangguk puas, Raja Zheng dari Song temannya itu, kelihatannya tidak melupakan janjinya.


Sayang nya tahtanya tidak bertahan lama, batin Guo Yun, sambil menghela nafas panjang.


Lalu dia melangkah masuk kedalam kuil yang cukup mewah bangunan nya.


Hanya saja kurang terurus dengan baik.


Guo Yun berjanji di dalam hati, bila tugasnya sudah selesai dia akan mengeluarkan titah, agar kuil ini di rawat kembali.


Guo Yun berlutut di hadapan makam yang terdapat di dalam kuil itu.


Di sana Guo Yun memberi hormat dan berdoa dengan serius.


"Kakek, Ibu ayah mertua, maafkan menanti mu yang tidak berbakti ini baru datang menyembahyangi kalian.."


"Setelah urusan ini selesai, Guo Yun berjanji pasti akan membawa Zhao Meng Si istri ku dan putra ku Guo Feng datang menyembahyangi kalian.."


"Menjalani bakti mereka terhadap leluhur.."


ucap Guo Yun penuh hormat.


Selesai memberi hormat untuk yang terakhir kalinya, Guo Yun pun meninggalkan tempat itu.


Melanjutkan perjalanan untuk berkumpul dengan Zhang Yi dan pasukannya.


Kemudian mereka bergerak secepat mungkin menuju kota Dan Yang.


Tapi sebelum Guo Yun tiba di kota Dan Yang, pagi itu selagi dia hendak meninggalkan kota Chen menuju kota Cai, kota berikut nya sebelum tiba di Dan Yang.


Pagi itu Guo Yun mendapatkan kabar mengejutkan dari merpati cepat.


Guo Yun membaca isi surat itu dan meremasnya dengan wajah kesal.


"Apa yang terjadi Yang Mulia.."


tanya Zhang Yi was was, saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Guo Yun.


Guo Yun sambil menghela nafas, berusaha menahan diri untuk bersikap tenang.


Dia berkata pelan,


"Kita terlambat, Dan Yang telah hilang terlepas dari tangan kita.."


"Begitupula dengan An Yi milik Ying Zheng."


"Lu Bu Wei melakukan serangan dadakan di bantu dewa naga menyerang Dan Yang, sedangkan Ling Yun Lao Jen membantunya menyerang An Yi."


"Dalam waktu semalam, kedua kota penting telah jatuh ketangan mereka.."


"Kerugian di pihak kita cukup besar, dua jendral 5 perwira dan 200.000 pasukan kita hilang di musnahkan oleh mereka.."


ucap Guo Yun geram.


"Apa Tuan Li Ba dan Jendral kita yang lain, belum sampai kesana..?"


tanya Zhang Yi hati hati.


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Belum mereka baru tiba di kota Cai ."


"Ayo kita percepat gerakan kita, untuk berkumpul dengan mereka di kota Cai.."


ucap Guo Yun.


Zhang Yi mengangguk lalu dia bergerak pergi memberi kode, agar pergerakan pasukan mereka di percepat


Sesaat kemudian terlihat debu mengepul tinggi, saat Guo Yun dan rombongannya, terlihat melewati jalan yang di gunakan untuk menuju kota Cai.


Seminggu kemudian saat tiba di kota Cai dari kejauhan Guo Yun sudah melihat asap dan debu mengebul ngebul di depan sana.


Dari syara riuh rendah dan benturan senjata.


Guo Yun sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi didepan sana.


"Kakak Zhang kita segera kesana memberi bantuan."


"Aku jalani duluan.."


ucap Guo Yun sambil memacu kudanya kedepan sana.


"Chia..! Chia..! Chia..!"


Terdengar suara Guo Yun memberi kode agar kuda tunggangan nya, berlari lebih cepat lagi.


Sambil memacu kudanya, Guo Yun sudah mengeluarkan tombak cagak tiga nya di tangan kanan.

__ADS_1


Pedang Darah nya, ada di tangan kiri.


Guo Yun yang bermata tajam, sudah melihat pasukan lawan yang membawa Panji Panji bendera Xiongnu.


Sedang berhadapan dengan pasukannya yang membawa Panji Panji kerajaan Yue dan Panji harimau hitam.


Dari jauh Guo Yun melepaskan Tebasan sinar merah berulang ulang kearah pasukan Xiong Nu.


Guo Yun juga berteriak keras,


"Ayo saudara saudara ku, bersemangat..!!"


"Aku telah tiba...!!!"


Pasukan Harimau Hitam yang sedang berjuang mendengar teriakkan suara Guo Yun yang sedang bergerak menghampiri mereka.


Semangat mereka pun bangkit kembali, mereka dengan nekad melakukan perlawanan terhadap pasukan Xiong Nu.


"Siuuut..!"


"Brakkkk,...!"


"Siuuut..!"


"Brakkkk,...!"


"Siuuut..!"


"Brakkkk,...!"


Sinar merah yang di lepaskan oleh Guo Yun dari jarak jauh, langsung memporak porandakan barisan samping pasukan Xiongnu.


Terlihat potongan tubuh berhamburan di udara, juga ada tubuh tubuh yang terbang menabrak rekan rekan mereka sendiri.


Hingga mereka jatuh tumpang tindih.


kegaduhan ini, membuat pasukan harimau hitam yang sebelumnya tertekan kini bangkit melakukan pembantaian balas dendam.


Guo Yun sendiri terus memacu kudanya, mendekati barisan pasukan Xiongnu yang mulai tercerai-berai.


"Siuuut..!"


"Brakkkk,...!"


"Siuuut..!"


"Brakkkk,...!"


Lagi lagi Guo Yun memberikan serangan Tebasan jarak jauh berulang ulang, sebelum dia dan kudanya tiba di lokasi pertempuran.


Potongan tubuh pasukan Xiongnu kembali berhamburan di terjang kekuatan dahsyat Guo Yun.


Tapi ada yang membuat Guo Yun heran, pasukan Xiongnu yang sudah dia serang dengan begitu hebat.


Tidak ada yang terlihat menjerit kesakitan ataupun suara teriakan ketakutan.


Mereka masih terus nekad menerjang kearah pertahanan pasukan harimau hitam.


Mereka seperti kerasukan, tidak lagi memilki rasa takut.


Mereka terlihat seperti sudah tidak punya pikiran.


Selain maju dan terus melakukan pembantaian, tanpa memperdulikan luka di tubuh mereka sendiri.


Tidak ada hal lain yang ada di dalam pikiran mereka.


Melihat hal ini, Guo Yun langsung menaruh curiga, jangan jangan pasukan pasukan Xiong Nu ini sudah di beri ramuan tertentu.


Oleh Lu Bu Wei, yang licik dan tidak segan segan menghalalkan segala cara.


Pantas saja begitu cepat 200.000 pasukan harimau hitam yang bertahan di Dan Yang.


Dalam tempo waktu yang begitu singkat bisa mereka tahlukkan dengan mudah.


Guo Yun sambil berpikir dia terus bergerak melakukan pembantaian di barisan tengah pasukan Xiongnu.


Sebelum Zhang Yi dan pasukannya tiba, puluhan ribu mayat pasukan Xiongnu telah bergelimpangan di mana mana.


Di suatu tempat lain yang sedikit jauh dari tempat pembantaian yang sedang Guo Yun lakukan.


Terlihat Lu Bu Wei sedang berbisik bisik dengan seorang kakek kurus kerempeng dengan tubuh sedikit bungkuk.


Mulutnya sudah tidak punya gigi lagi, dari penampilan nya, kemungkinan kakek ini sudah berumur di atas 200 tahun keatas.


Kakek itu memakai baju jubah hijau, yang membuatnya terlihat berbeda adalah sepasang matanya yang terlihat mencorong mengerikan.


Beberapa saat mendapat bisikan dari Lu Bu Wei, sepasang mata kakek yang bersinar menyeramkan


Terlihat sedikit berbinar-binar, dengan penuh semangat, dia menoleh melihat kearah yang di tunjuk oleh Lu Bu Wei.


Begitu melihat kemampuan Guo Yun yang baru saja tiba.


Kakek itupun mengeluarkan suara tawa nya yang menggelegar.


Sambil tertawa dia terus melayang kearah Guo Yun.


"Ha..ha..ha..ha..!"


"Bagus,..! Bagus...! kamu akhirnya tiba..!"


"Aku sudah lama menunggu mu,..ayo kita main main..!"


ucap Kakek itu gembira.


Melihat kedatangan kakek itu, yang bisa di duga tentu dia lah Dewa Naga Gurun Pasir.


Guo Yun buru buru menyimpan tombak cagak tiganya, di gantikan dengan Han Kuang Cien dan Hung Sie Cien.


Bersiap menghadapi rintangan terbesar yang paling dia khawatirkan selama ini.


Dalam sekejap mata, Dewa Naga Gurun Pasir sudah tiba di hadapan Guo Yun.


Begitu tiba sepasang tangannya yang mengeluarkan cahaya biru dan merah keemasan .


Mulai melepaskan pukulan pukulan dahsyat kearah Guo Yun.


"Wutttt..!" Wutttt..!" Wutttt..!"


"Blaaaarrr..! Blaaaarrr..! Blaarrr..!"


Terjadi ledakan beruntun saat serangan serangan kakek itu di hindari oleh Guo Yun.


Kakek itu terlihat tidak perduli, mau itu pasukan Xiongnu, mau itu pasukan harimau hitam.


Demi bisa mengejar dan mengalahkan Guo Yun, dia melepaskan pukulan kemanapun Guo Yun bergerak.


Melihat hal itu, Guo Yun sengaja menghindar dengan kearah pasukan Xiongnu.


Sehingga saat pukulan tidak mengenai sasaran, pasukan Xiongnu lah yang menjadi korban.


Kondisi ini tentu membuat Lu Bu Wei kesal dan marah.


Tapi dia tidak berdaya, karena kini dia hanya seorang ahli strategi licik, yang tidak bisa bergerak dengan bebas lagi.


Lu Bu Wei langsung berteriak dalam bahasa Xiongnu, meminta beberapa Jendral Xiongnu, memimpin pasukannya bergerak mundur menjauhi arena pertempuran kakek Dewa Naga.


Akhirnya pasukan Xiongnu berpindah arah, mereka kembali menyerang pasukan harimau hitam dari sisi lain.


Li Ba dan ke 6 jendral nya ikut terjun membantu pasukan harimau hitam menghadapi pasukan Xiongnu yang tidak mengenal sakit.


Mereka hanya tahu menerjang dengan ganas seperti orang yang kehilangan akal sehat.


Bahkan setelah kehilangan kedua tangan, pasukan Xiongnu masih bergerak menerjang ingin menggunakan mulutnya untuk memberikan serangan lewat gigitan.


"Booommm..!"


"Duaarrr..!"


"Booommm..!"


"Duaarrr..!"


"Booommm..!"


"Duaarrr..!"


Berulang kali Li Ba memberikan serangan tapak petir langitnya yang dahsyat.


Membunuh ratusan orang sekali serang dengan kondisi tubuh hangus


Tapi hal ini seperti tidak membawa pengaruh apapun.


Para pengepung nya, terlihat sedikitpun tidak takut.


Mereka terus menerus menerjang tanpa henti.


Begitupula dengan keadaan Ling Tong dan Zhou Tai, mereka berdua meski sudah tidak semuda dulu


Tapi permainan sepasang pedang Ling Tong masih sangat mematikan dan gesit.


Zhou Tai yang ahli tombak juga terlihat sangat tangguh dengan permainan tombaknya, yang hampir tidak pernah meleset merengut nyawa pasukan Xiongnu yang mengepungnya.


Meski mereka berdua cukup bagus mereka tetap saja terdesak oleh pasukan Xiongnu yang sedang kesetanan itu


Keadaan Jendral Lim Guan Xing yang di bantu oleh Zhang Yi, dengan putaran pecut berdurinya yang meledak ledak.


.


Juga terlihat terdesak hebat oleh terjangan pasukan Xiongnu yang tidak waras.


Kembali ke arena pertempuran Guo Yun melawan. Dewa Naga Gurun Pasir, di mana kini arena pertempuran mereka telah kosong.


Tidak ada yang mengusiknya lagi, mereka berdua bisa bertempur dengan tenang dan fokus


Pertandingan masih berjalan cukup imbang.


Masing masing saling mendesak dengan ilmu andalan mereka.


Dewa Naga Gurun Pasir menyerang Guo Yun dengan jurus Je Ye Sen Cang, ( Tapak Matahari dan Bulan )


Sedangkan Guo Yun bertahan dengan ilmu pedang berpasangan Je Ye Sen Cien Su.( Jurus pedang matahari dan bulan.)


Setiap tebasan pedang Guo Yun ataupun pukulan tapak tangan kosong Dewa Naga Gurun Pasir, pasti akan membuat area yang terkena serangan mereka.

__ADS_1


Terkadang hangus terkadang beku, keadaan area sekitar, tempat mereka bertarung sudah rusak parah.


__ADS_2