LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
BUSUR KUMALA


__ADS_3

Atraksi Li Ba ini membuat semua peserta lain, yang selama ini suka mengejek dan merendahkan diri nya, pada membelalakkan mata tak percaya.


Li Ba melanjutkan dengan berpindah ke ujian sebelahnya, dengan santai dia mengangkat kedua beban batu itu keatas kepalanya.


Lalu kedua beban itu dia lontar keatas, lalu saat turun dia tangkap, kemudian dilontarkan lagi keatas dan kembali ditangkap.


Hal ini dia lakukan secara berulang ulang, dibuat seolah olah itu hanya sebuah mainan anak kecil.


Di sini bahkan para murid yang duduk di baris paling bawah, mereka mulai menaruh perhatian pada kemampuan, yang di tunjukkan oleh Li Ba.


Setelah puas bermain, kini Li Ba maju menghadapi patung arca singa perunggu.


Sambil tersenyum lebar, Li Ba membungkuk memegang salah satu kaki depan patung arca singa perunggu itu.


Lalu dengan ringan dia mengangkatnya keatas kepala.


Setelah itu dengan santai, dia berjalan kesana kemari, sambil mengangkat patung Arca singa itu diatas kepala.


Sekali ini tindakan nya hampir membuat semua penonton bangkit berdiri dan bertepuk tangan untuknya.


Sambil tertawa bangga, Li Ba meletakkan patung Arca itu kembali keatas mimbar.


Dia lalu turun dari sana melanjutkan dengan ujian memanah.


Li Ba menimang nimang busur yang di sediakan di sana, dan menarik narik senarnya, untuk di jepretkan, tapi dia selalu menggelengkan kepala, seperti kurang puas.


Tiba-tiba dia berteriak kearah panitia dengan suara gagapnya,


"Ter,..Ter,.. lalu ri,.. ri,.. ngan se,..se,.muanya...!"


"A,..pa ti,..dak ada, yang,..yang,.. le,..le,..bih baik dari ini..?"


Panitia terlihat ragu ragu dan agak bingung, mereka menatap kearah Mo Zi di atas sana, meminta pendapat.


Mo Zi memberi kode dengan menganggukkan kepalanya.


Mendapatkan ijin dari Mo Zi, beberapa panitia itu saling berbisik, lalu mereka memanggil beberapa murid di dekat sana.


"Kalian berenam pergi ambil busur Kumala kemari..!"


"Siap kakak seperguruan..!"


jawab beberapa murid junior itu lalu berlari pergi dari sana.


Beberapa saat kemudian, terlihat enam orang itu menggotong sebatang busur Kumala berwarna hijau, yang ukurannya sedikit lebih besar dari busur biasa.


Melihat busur itu, sepasang mata Li Ba langsung berbinar-binar, dia langsung berlari menghampiri mereka dan berkata dengan gembira.


"Busur bagus kemarikan,.."


Saking gembiranya, suara gagapnya pun hilang.


Li Ba dengan cepat menyambar busur Kumala itu, dari pegangan tangan keenam murid junior, yang terlihat sangat kesulitan mengangkat busur itu.


Tapi bagi Li Ba busur itu normal normal saja di tangannya, setelah merentangkan berulang kali tali senar busur berat itu.


Li Ba membawa tiga batang anak panah, lalu mundur menjauhi target .

__ADS_1


Jarak pemanah dan target yang tadinya 20 langkah, oleh Li Ba di buat 200 langkah.


Setelah itu dengan gaya tenang, sambil tersenyum lebar, Li Ba melepaskan tiga batang anak panah sekaligus kearah target.


"Serrrrrrr,..!"


"Serrrrrrr,..!"


"Serrrrrrr,..!"


Tiga batang anak panah melesat dengan kecepatan luar biasa tinggi, sampai terdengar bunyi berdesing nyaring,


"Singgg,..!"


"Creppp,..!"


Ketiga anak panah itu dengan tepat menancap di lingkaran kuning kecil, yang terletak di bagian paling tengah lingkaran target.


Tepuk tangan dan sorak sorai dari arah penonton pun bergema memenuhi seluruh tempat itu.


Guo Yun diam diam melirik kearah Gongsun Li, dia ingin melihat reaksi gadis patung es itu.


Guo Yun mendapatkan Gongsun Li hanya menanggapinya, dengan tersenyum tipis.


Dia tidak terlalu memperdulikan itu, dia lebih tertarik untuk mengobrol dengan pria berwajah tampan dan dingin yang ada di sebelahnya.


Tidak tahu kenapa Guo Yun merasa sedikit iri dengan keberuntungan pria itu.


Di mana mereka berdua bisa mengobrol dengan bebas dan akrab.


Sangat berbanding terbalik dengan dirinya, di mana dia hanya bisa secara diam-diam mengagumi Gongsun Li, si gadis baju merah yang selalu membuat perasaan nya jungkir balik.


"Serrrrrrr,..!"


"Singgg,..!"


"Pyaar,..!"


Karena Li Ba lupa mengambil jarak, tembakan panahnya yang terlalu kuat, malah memecahkan papan target, yang langsung terbelah dua.


Panitia ujian menjadi bingung untuk memberi nilai, mereka setelah berunding, akhirnya mereka memanggil Li Ba dan menjelaskan sesuatu.


Li Ba tidak membantah, dia hanya menganggukkan kepalanya berulang kali.


Setelah itu, dia kembali naik keatas punggung kudanya, kali ini dia memacu kudanya mengambil arah melingkar menjauhi target.


Saat merasa jaraknya sudah cukup jauh dari target, sambil memacu kudanya melewati target, Li Ba kembali melepaskan 3 anak panahnya secara sekaligus kearah target.


"Serrrrrrr,..!"


"Singgg,..!"


"Crebbb,..!"


Sekali ini panah panah Li Ba, berhasil menancap tepat di bagian paling tengah lingkaran, yang berwarna kuning.


Li Ba pun di nyatakan lolos seleksi dengan nilai terbaik.

__ADS_1


Li Ba di persilahkan maju mengikuti seleksi selanjutnya, memanah papan yang di lemparkan keatas.


Setelah mendapatkan penjelasan ulang dari panitia, Li Ba pun bersiap dengan anak panahnya, menunggu papan target di lemparkan seperti koin berputar diudara.


Begitu melihat papan target di lemparkan keudara.


Li Ba langsung membidiknya,


"Serrrrrrr,..!"


"Singgg,..!"


'Crebbb,..!"


Lagi lagi Li Ba berhasil melewati ujian memanah dengan nilai terbaik.


Tepuk tangan semakin meriah di berikan kepada Li Ba.


Mo Zi sendiri juga ikut berdiri bertepuk tangan.


Beberapa saat Mo Zi memberi tanda agar semua nya hening.


"Semuanya, ! dalam kesempatan ini, ! melihat kemampuan Li Ba yang luar biasa.!"


"Aku akan umumkan,! barang siapa yang berhasil mengungguli kemampuan memanah Li Ba,..!"


"Dia boleh menjadi pemilik busur Kumala ini, ! bila tidak ada, maka busur Kumala akan ku berikan kepada Li Ba..!"


ucapan Mo Zi langsung mendapatkan tepuk tangan sambutan yang meriah dari semua muridnya.


Selesai Mo Zi memberikan pengumuman, dan kembali duduk di bangkunya.


Sementara Li Ba sendiri sedang melanjutkan ke ujian berikut nya.


Semua murid yang lain yang merasa mampu.


Mereka semua di ijinkan bebas, untuk mengikuti acara lomba memanah, dengan menggunakan busur Kumala.


Tapi dari seluruh murid yang hadir di sana, hanya 3 orang murid yang maju kedepan menyambut tawaran Mo Zi.


Orang pertama adalah si wajah dingin yang duduk di samping Gongsun Li..


Orang kedua adalah seorang pemuda berusia 25 tahun, bernama Bun Tek.


Orang ketiga adalah seorang pemuda bertubuh tinggi besar berusia sekitar 20 tahunan, dia bernama Song Wan.


Orang pertama yang maju adalah Song Wan, tapi setelah mencobanya berulang kali.


Song Wan hanya mampu mengangkat busur, tapi tidak sanggup menarik tali busurnya.


Keringat sampai membasahi seluruh baju dan wajahnya, yang merah padam.


Akhirnya Song Wan memilih menyerah dan kembali ketempat duduknya, dengan kepala tertunduk malu.


Orang kedua yang maju adalah Bun Tek, Bun Tek meski tubuhnya tidak sebesar dan sekekar Song Wan.


Tapi dia malah berhasil mengangkat busur, menarik tali busur, melepaskan anak panah.

__ADS_1


Tapi karena tangannya gemetaran menahan berat dan kerasnya tali busur.


__ADS_2